Kerikil Kecil

2021 Words
Genah khawatir jika terjadi hal buruk pada Celine di dalam perpustakaan karena kebetulan saja Darchen berada di sana. Ia tahu kalau Darchen akan mempersulit Celine dengan pertanyaan. Jika tidak mendapatkan jawaban yang logis, pangeran tersebut tidak segan-segan melakukan hal kejam. Genah ingin sekali memanggil kembali majikannya itu, tapi ia juga segan pada Darchen. Akhirnya ia mengurungkan niatnya dan berharap agar Celine baik-baik saja. Sementara Celine yang belum sadar tentang keberadaan Darchen di sana, tetap berjalan masuk. Ia memilih setiap buku yang bersangkutan dengan lukisan ataupun kalung yang ia pakai. Setiap rak ia jelajahi dengan teliti dan terus mengulang-ulangnya, siapa tahu ada yang terlewat. "Aish, dimana buku itu? Punggungku sakit," decak Celine sambil memukul pundaknya yang sudah pegal akibat terlalu memaksakan diri. Wanita itu memilih buku dan menumpuknya hingga hampir menutupi wajahnya. Lalu Celine mengangkatnya untuk diletakkan ke atas meja yang tidak jauh dari rak itu berada. Dengan langkah tak teratur akibat beban berat yang ia bawa, akhirnya ia menabrak tiang penyangga bangunan itu. Buku-buku yang ada di tangannya berserakan jatuh ke lantai. Kepalanya pun terbentur dan mengenai hidungnya. "Auh … aish, sialan!" umpat Celine kasar. "Pantaskah seorang wanita mengumpat seperti itu?" kata Darchen yang asal suaranya teramat jelas di telinga Celine. Pangeran itu mendekati Celine lalu mengambil salah satu buku yang bergeletakan di lantai. "Eh, jangan dibaca!" teriak Celine lalu menarik buku yang sudah sempat dibuka Darchen. "Untuk apa buku sebanyak ini?" tanya Darchen keheranan. "Tidak ada, lagian tidak ada hubungannya denganmu," balas Celine sambil mengutip buku-buku tersebut. Ia kemudian mengangkatnya dan meletakkan ke atas meja. Ia kemudian berniat pergi dari perpustakaan itu karena terganggunya dengan keberadaan Darchen. "Kemana kau?" tanya Darchen. "Aku tidak jadi membaca. Takut disiksa oleh psikopat," jawab Celine mengejek. Dengan magisnya, Darchen menghentikan langkah kaki Celine. "Jawab pertanyaanku dengan benar," perintah Darchen. "Kenapa kau terus menyiksaku, ha? Banyak orang di dunia ini, kenapa harus aku yang kau siksa?" ungkap Celine kesal. "Kau tak akan ku siksa kalau jawab dengan benar," balas Darchen sambil membalik lembaran buku yang diletakkan Celine di atas meja. "Untuk apa buku ini?" tanya Darchen penasaran. "Aish, lepaskan aku dulu. Nanti akan ku beri tahu," tawar Celine memohon. "Jawab dulu, setelah itu akan ku lepas. Kalau tidak mau, kau bisa memilih untuk tetap seperti itu sampai pagi hari," celetuk Darchen sedikit menekan. "Huh … jadi begini. Aku ingin pulang," kata Celine setengah-setengah. "Lalu?" "Masalahnya aku tak tahu caranya. Aku sedang cari tapi tak pernah kutemukan," tambah Celine mengeluh. "Apa yang sedang kau bicarakan?" "Kau tidak akan percaya dengan ceritaku. Lepaskan aku sekarang," perintah Celine. Darchen tak menghiraukan Celine dan terus membolak-balik lembaran halaman dari setiap buku yang ada di meja itu. "Kenapa semua membahas seni lukis?" tanya Darchen bingung. "Aish … sudah kubilang padamu, aku terhisap melalui lukisan, kenapa kau terus-terusan menanyakan hal yang sama?" keluh Celine. "Kalau saja kau membual lebih baik, mungkin aku tak perlu mengulang pertanyaan yang sama," sambung Darchen. "Lyn!!! Bisakah kau jemput aku? Ada psikopat di sini," teriak Celine memanggil Lyn dengan suara keras. "Kau kira ini hutan, melolong seperti bintang.Aku rasa suaramu juga perlu disegel," hina Darchen dengan wajah tak suka karena bising. "Paman Sam, Lyn, aku rindu kalian. Aku tidak ingin lagi di sini, dunia aneh ini sangat mengekang," keluh Celine dengan sedih yang amat dalam. "Aku hanya ingin pulang, kenapa susah sekali? Aku tidak tahan lagi tinggal di sini," ucap Celine. Air matanya dengan sendirinya mengalir. Sudah sekian lama ia mencoba untuk menahan air matanya dan sekarang tak dapat dibendung lagi. "Ada apa dengan gadis itu," decak Darchen yang masih fokus membalik lembaran kertas. Namun celine tidak henti-hentinya menangis sampai mengambil simpati dari pria dingin tersebut. Darchen Valerio mendekat ke arah Celine lalu membuka segelan yang ia buat pada gadis itu. "Kau pangeran, bukan? Tolong carikan cara pulang ke dunia ku, aku mohon," pinta Celine dengan isak tangis. Darchen mengambilkan kain kecil di sakunya lalu memberikan kain tersebut pada Celine untuk menghapus air matanya. Darchen mengira kalau kejiwaan wanita itu sedang kacau, sebab itu ia selalu membahas tentang dua lain yang berbeda dengan dunianya sekarang. "Aku akan carikan caranya," jawab Darchen menenangkan Celine. Ia takut kalau wanita itu depresi. "Huaaa …" Tangisnya semakin menjadi-jadi. Bahkan suara raungannya terdengar keras di telinga Darchen. "Kau tidak akan tahu caranya, jangan bercanda. Aku sedang sedih ini," ucap Celine sambil menangis seperti anak kecil. "I-Iya." Darchen yang semakin bingung harus melakukan apa hanya bisa terdiam. Ia yakin kalau wanita di depannya memanglah depresi. Tingkahnya berubah-ubah dalam sekejap. "Lyn!!!" teriak Celine lagi dengan tangis yang masih mengalir. "Jangan teriak begitu, seperti anak kecil saja," nasehat Darchen sambil menutup telinganya akibat suara lengkingan Celine. "Huaaa … kau jahat sekali. Tidak tahu kalau aku sedang sedih, ha? Coba saja kau tidak kejam padaku, mungkin aku akan betah tinggal di sini sebulan," rengeknya mengadu sekaligus mengumpat. Karena merasa bising, Darchen pun mencoba pura-pura tak mendengar celotehan dari Celine dan melanjutkan tugasnya mencari buku. Merenungi nasibnya yang kelam, Celine akhirnya bertekad untuk tidak mengharapkan bantuan orang lain dalam mencari jalan pulang ke dunianya. Ia tahu kalau tidak ada yang mempercayai ceritanya. Akhirnya ia duduk di bangku perpustakaan istana sambil membaca semua tumpukan buku dengan sesenggukan yang belum hilang. Baru saja membaca setengah halaman buku, Celine pun tertidur di sana. Ia begitu pulas hingga tak menyadari kalau tempat tersebut belum tentu aman bagi wanita. "Kenapa dia sangat suka tidur sembarangan?" decak Darchen keheranan dengan tingkah amburadul dari Celine. Darchen memperhatikan wajah Celine lama dan terpaku di dalamnya. Ia seakan ditarik untuk mendekati wanita tersebut. Perlahan ia berjalan ke arah Celine dan melihat air mata yang belum kering di kantung cairan matanya. Tanpa sadar tangannya menyentuh wajah wanita itu dan menghapus air mata tersebut. "Apa yang sedang kau pikirkan?" ucap Darchen bertanya-tanya dalam benaknya. Darchen kemudian menggendong Celine menuju kamar wanita tersebut. Entah mengapa hatinya begitu iba saat menatap Celine. Tidak tahu penyebabnya. Mungkin saja karena hanya wanita itu yang berani lancang terhadapnya dan memperlakukan dirinya berbeda dari orang lain. Semua menganggap dirinya Sang pangeran, tanpa mengerti kalau ia juga terkadang membutuhkan sosok teman bergurau tanpa harus memikirkan derajat keluarga yang harus disegani. Genah dan Dion yang masih menunggu majikan mereka masing-masing, melihat kejadian langka bahkan tak pernah terjadi sebelumnya. Seorang Darchen Valerio yang dingin dan kejam berlaku lembut pada seorang wanita. Mereka saling menatap satu sama lain sambil mengangkat bahu. Dalam benak mereka bertanya," Apakah dia Darchen yang kejam itu?" Mereka kemudian bersembunyi dan memperhatikan dari kejauhan." Kemana Pangeran akan membawanya?" tanya Genah yang masih memperhatikan majikannya tersebut. "Entahlah, aku bahkan tidak mengenal Pangeran Darchen karena sikapnya yang berbeda," balas Dion serius. Darchen menaruh Celine di atas ranjang dan mengambilkan selimut agar tubuh wanita itu tetap hangat. Ketika hendak pergi kembali ke perpustakaan, ia tak sengaja melihat tulisan di kertas yang tergeletak di samping Celine. Kertas itu bertuliskan nama seseorang yang sering ia panggil panggil. "Lyn? Siapa dia?" tanya Darchen dalam kebingungan. Setelah melihat sekeliling, ternyata banyak kertas yang dicoret oleh Celine di kamarnya. Tulisannya sangat asing bagi Darchen hingga tak satupun ada diketahui maksudnya. "Psikopat? Bukankah dia sering memanggilku seperti itu?" celetuk Darchen. Ia mulai membaca setiap lembaran kertas oretan tersebut dan mencoba memahami setiap kata yang ditulis oleh wanita itu. Beberapa saat terlintas di pikirannya tentang ucapan wanita tersebut perihal dirinya yang berasal dari dunia berbeda. Ia menatap wajah Celine dan memperhatikannya. Selintas ia sadar kalau wajah wanita tersebut terlihat sedikit berbeda dengan wanita lainnya. Baik bentuk rahang dan warna kulit. Meski hal tersebut tak dapat menjadi patokan, sekarang ia semakin bingung tentang identitas Celine. Asal muasal pertemuan mereka pun sangatlah tak terduga. Sampai pada saat wanita itu tinggal di dalam istana dengan mudahnya diterima oleh keluarga kerajaan. Semua terjadi seperti direncanakan. Begitu mulus sampai terasa ada yang janggal. Banyak teka-teki yang perlu ia selesaikan demi membongkar rahasia hidup wanita itu. Ia harus segera memastikan kebenaran Celine. Jika benar cerita yang disampaikannya pada Darchen, itu artinya ada dua dunia dalam satu waktu yang bersamaan. Darchen semakin tertarik dalam mengungkap misteri dua dunia tersebut. Ia ingin tahu sihir apa yang dapat membuka kunci dunia lain, jika memang benar cerita yang dikatakan oleh Celine. Darchen kemudian pergi kembali ke perpustakaan untuk mencari buku yang memuat informasi perihal dunia paralel. "Pangeran, apa yang terjadi?" tanya Dion pada Darchen selepas melihat tuannya tersebut masuk ke dalam ruangan buku-buku dengan menyegel setiap sudut agar tak seorang pun dapat masuk. Tidak ada sahutan dari Pangeran Darchen. Ia terus mengabaikan pertanyaan dari Dion dan fokus mencari buku seputar dunia paralel. Pagi menjelang, Darchen sama sekali tak beristirahat malam itu. Ia tak henti-hentinya membalik lembaran buku satu demi satu. Panglima kepercayaannya sampai heran. "Sebenarnya apa yang sedang dicari oleh Pangeran Darchen?" *** Setelah terbangun dari tidur pulasnya, Celine langsung membenahi diri untuk bergegas pergi ke hutan tempat ia terlempar dari dunia nyata ke dunia Athiam. "Genah, aku pergi ke kastil Darchen nanti," kata Celine pada Genah. "Apa perlu hamba temani, Nona?" "Tidak perlu, aku bisa sendiri," sahut Celine sambil mengoleskan pewarna pada bibirnya. "Baiklah, Nona," angguk Genah. Ia tahu tidak ada gunanya melarang majikannya itu. Ia kenal betul dengan sikap Celine yang keras kepala. Demi keamanan Celine, Genah menemui Darchen dan menyampaikan padanya kalau majikannya akan pergi ke kastil di hutan Maleni. "Dimana Pangeran Darchen?" tanya Genah pada Dion. "Pangeran ada di dalam dan tidak bisa diganggu untuk beberapa saat," jelas Dion. "Ada sesuatu yang penting untuk disampaikan pada Pangeran," balas Genah. "Akan aku sampaikan. Katakan saja." Tiba-tiba Darchen dengan sendirinya keluar dari ruang buku dan menghapus segelnya dari sana. "Ada apa?" timpal Darchen menanyai. "Hamba menghadap, Pangeran Darchen. Jadi begini, Pangeran, Nona Celine berencana berangkat ke kastil yang berada di hutan Maleni. Tidak tahu ada urusan apa, Pangeran," terang Genah. "Baiklah. Dion, pergilah ke persinggahan Nenek Zoe dan sampaikan kalau beberapa hari lagi aku akan menemuinya," perintah Darchen sigap. "Baiklah, Pangeran." Darchen langsung mengambil kudanya dan bergegas mengejar Celine yang sudah pergi tak lama sebelum dirinya. Dengan pacuan cepat Darchen dapat mengejar kereta Celine lalu mengikutinya perlahan dari belakang. Sebelum masuk terlalu jauh ke dalam hutan, Celine turun dari kereta dan meminta kusir agar menjemputnya ketika matahari akan terbenam. Celine menyusuri hutan dengan langkah kaki cepat. Ia tak ingin membuang waktu dan berlama-lama tinggal di dalam dunia yang sangat mengekang tersebut. Setiap sudut ia susuri dengan harap menemukan pintu menuju dunia nyata. "Aish … pintunya dimana, aku sudah cakep ini. Pintu!!! Terserahlah, aku sudah bosan mencari yang tidak pasti." Celine berteriak keras karena bosan seharian hanya mencari portal kembalinya. Di balik pohon besar, di balik kastil tua, bahkan ia memeriksa bebatuan besar demi hanya mencari portal tersebut. Karena kesal Celine mengambil kerikil kecil lalu melemparkannya ke arah kastil itu berada sambil meraung-raung tidak jelas. "Pulangkan aku, pulangkan aku!" ucapnya berulang sambil melempar kerikil yang ia pegang. Ketika tangannya sudah bersiap melemparkan kerikil terakhir, tiba-tiba Darchen datang dari belakang dan menahannya agar tidak terus melempari kastil miliknya dengan kerikil. "Da-Darchen?" "Jika ada kerusakan pada kastil itu, bersiaplah …." "Eh, tidak akan ada terjadi apa-apa. Aku bisa jamin. Jangan marah dulu," potong Celine dan langsung menimpali. Darchen dengan muka masamnya berjalan memeriksa keadaan kastil dan mencari bekas lemparan yang dilakukan oleh Celine. "Sudah kukatakan tidak terjadi apa-apa," celetuk Celine sambil menutupi batu yang lecet akibat kerikil yang ia lempar tadi. "Minggir," perintah Darchen. Celine sama sekali tidak mau berpindah dan tetap menutupi lecet pada kastil tersebut. Ia takut kalau pangeran di depannya itu akan mengamuk dan menyusahkannya lagi. Ia tidak ingin menambah masalah lagi. Untuk beberapa hari ke depan ia bertekad berubah menjadi wanita baik-baik agar terus betah di dalam dunia itu. "Darchen, sebaiknya kau masuk ke dalam kastil. Aku melihat ada orang asing masuk ke dalam," kata Celine membual. "Hmmm?" "Aku tidak bercanda, aku melihat … penyusup masuk ke dalam, ayo kita periksa," ajak Celine semangat. Ia langsung menarik tangan Darchen. Ia melakukan hal tersebut agar Pangeran dingin itu tak melihat lecet yang ada di kastil tersebut. "Berhenti," perintah Darchen dengan wajah kakunya. "Ada apa lagi? Jangan buang-buang waktu, penyusup itu bisa mencuri barang-barang mewah di dalam," jelas Celine mencoba meyakinkan. "Tidak ada yang bisa masuk ke dalam sana," jelas Darchen. "Eh?" Celine terdiam seketika. "Tidak, ayo kita periksa dulu," sambungnya lagi lalu menarik Darchen Valerio masuk ke dalam kastil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD