Darchen hanya bisa terdiam melihat keberanian wanita itu. Tak seorang pun berani menyentuhnya, apalagi memegang tangannya. Semua orang menganggap dirinya berharga hingga tak ada yang berani mendekatinya.
"Ayo masuk." Celine menarik tangan pangeran itu sampai masuk ke dalam kastil.
Setelah sampai di dalam, Darchen tidak melihat sesuatu yang aneh. Semua tampak normal dan tak satu benda pun bergeser dari tempatnya. Lagi pula kastil itu telah diberi segel magis hingga tak ada yang bisa masuk ke dalam, kecuali dirinya seorang.
"Mana penyusupnya?" tanya Darchen dengan mata sinis.
"Eh? Ternyata tidak ada, hehe. Hmmm, mungkin hanya halusinasi ku saja, hehe … hehe," jawab Celine dengan muka kaku dan tawa paksa.
"Apa kau sedang mempermainkanku?" tanya Darchen. Wajahnya mengeluarkan aura menyeramkan hingga Celine tidak berani menatap pangeran dingin tersebut.
"Maafkan aku, sungguh, aku hanya bosan saja dan tidak tahu harus bercanda dengan siapa," pinta Celine meminta maaf sambil memasang wajah memelas.
"Aku tidak sempat menemani orang bermain, apalagi denganmu," jawab Darchen dengan kalimat tajamnya.
"Iya, sekali lagi maaf. Oh ya, Darchen, kenapa kastil ini berada jauh dari pohon besar di ujung sana?" tanya Celine.
Sesuai dengan lukisan yang ia lihat, letak kastil milik Darchen itu berada di antara pohon rindang di sudut masing-masing. Lalu dikelilingi pepohonan lainnya. Tapi kenyataannya kastil tersebut jauh dari pohon rindang tersebut dan terletak di pinggiran hutan yang ditutupi pohon tinggi.
"Apa yang sedang kau katakan?"
"Eh? Sudahlah, kau juga tidak akan paham. Hmmm, ngomong-ngomong yang membersihkan kastil ini … siapa? Bukankah tidak ada yang bisa masuk ke sini? Itu artinya …."
"Kau yang membersihkannya," celetuk Darchen sigap.
"Hah? Aku? Kau bercanda, aku mana pernah membersihkan kastil ini," jawab Celine.
"Dari sekarang tugasmu membersihkan kastil ini," perintah Darchen dengan mata serius menatap Celine.
"A-Atas dasar apa aku harus menurutimu?"
"Kau boleh menolak, tapi masalah tembok kastil ku yang rusak …."
Celine dengan cepat memotong kalimat Darchen sambil berkata," Siap! Aku akan bersihkan, aku akan menjamin tidak ada debu di dalam kastil yang indah ini."
"Harus," balas Darchen.
Celine hanya bisa mengangguk dan menerima nasibnya yang selalu saja sial. Ia dengan berat hati mengambil kain dan memulai membersihkan kastil tersebut. Dengan kain itu Celine me-lap setiap benda yang ada di sana. Mulai dari guci, tempat lilin, sudut ruangan, dan lain sebagainya.
"Dimana saja aku jadi babu, takdir memang sedang bercanda," celetuknya sambil tersenyum jahat.
Setelah selesai membersihkan, ia merasa haus dan lapar. Ia pergi menemui Darchen di dalam kamar untuk meminta beberapa makanan padanya.
Tok-tok-tok!
Ketukan pintu terdengar.
"Darchen," panggil Celine berulang sambil mengetuk pintu.
Sementara Darchen yang mendengar suara tersebut tetap acuh dan tak menghiraukan wanita itu. "Kenapa wanita bodoh sana tidak pernah memanggilku pangeran?" decak Darchen sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Darchen … Darchen … Darchen." Karena tetap tidak ada sahutan dari dalam, Celine menggedor-gedor pintu tersebut sambil menyebut nama Darchen. Celine berharap pangeran dingin itu merasa bising lalu membuka pintu yang dikunci rapat. Perutnya sudah meraung-raung meminta asupan. Jika tidak segera diberi, bisa jadi dia akan mati kelaparan karena sejak pagi ia hanya memakan kue buatan Genah.
Sesuai harapannya, Darchen membuka pintu tersebut meski dengan sambutan muka masam melihat Celine. "Apa?" tanya Darchen ketus.
"Begini, jadi aku …."
"Langsung ke intinya," perintah Darchen yang malas mendengar Celine bertele-tele.
"Hehe, aku lapar," jawab Celine sambil tersenyum.
"Apa urusannya denganku?" tanya Darchen balik.
"Bisa tidak berikan aku makanan, perutku sudah keroncongan," pinta Celine sambil menepuk perutnya.
"Tidak ada makanan di sini," jawab Darchen singkat. Ia langsung menutup pintu ruangannya dan berusaha agar tampak acuh di depan Celine.
"Kya! Kenapa kau kejam sekali? Aku lapar, Darchen … Darchen! Aish." Celine memukul pintu tersebut terus-menerus tanpa henti sambil memanggil nama pangeran.
"Bisa tidak jangan menggangguku." Darchen membuka pintunya karena tidak tahan dengan suara bising. Ia menatap Celine dengan mata datar dan wajah kaku.
"Aku lapar … ingin makan," rengek Celine meminta.
"Kenapa aku bisa baik pada wanita ini, padahal dia hanya menyusahkan hidupku," decak Darchen dalam hatinya. "Tidak ada makanan," sambung Darchen ketus.
"Kalau gitu aku minta bahan makanan. Biar aku memasak saja," tambah Celine. Ia benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan perut yang sudah bergemuruh memanggilnya.
Darchen terus mengatakan kalau tidak ada makanan ataupun bahan makanan di kastil tersebut. Dikarenakan tempat yang cukup jauh dari pemukiman warga hingga sulit untuk berbelanja. Lagi pula kastil itu hanya tempat persinggahan baginya, tak pernah ia berniat menjadikan tempat tinggal.
"Beli sana di pasar," perintah Darchen tidak perduli.
"Pertama, aku tidak bisa menunggangi kuda. Kedua, aku tidak memiliki koin sama sekali. Ketiga, aku tidak tahu jalan di tempat ini. Keempat, sebaiknya kau yang pergi," jelas Celine mendetail. Ia menyebutkan kalimatnya tersebut sambil mengacungkan jarinya satu per satu.
Mendengar ucapan dari Celine, Darchen merasa membuang-buang waktu dengan meladeni kegilaan wanita tersebut. Ia menutup pintunya lagi.
Sebelum pintu itu tertutup rapat, Celine dengan cepat dan sigap langsung menerobos masuk ke dalam.
"Jangan bermain-main denganku, atau kau bisa kehilangan nyawa," peringat Darchen dengan wajah serius.
"Hmmm, tidak mungkin kau membunuhku. Aku sangat manis dan baik hati, ditambah tidak sombong dan rendah diri. Siapa yang tega?" balas Celine dengan tebal muka.
"Menjijikkan," sambung Darchen.
"Hahaha … aku hanya bercanda. Lagi pula jika kau ingin membunuhku, sudah dari awal kau lakukan," kata Celine.
"Aku hanya tidak ingin tangan suci ku ternodai mayat orang sepertimu," cibir Darchen dengan mulut tajamnya.
"Sudahlah, aku lapar ini," tekan Celine dengan kerut di dahinya. "Jangan sampai aku memakan mu, sialan," umpat Celine dengan suara pelan sambil mengatupkan giginya sangking kesalnya.
"Aku bisa mendengarmu," sambung Darchen.
Yakin tidak akan mungkin Pangeran Darchen membelikannya makanan, Celine pergi keluar dari kastil mencari buah di dalamnya. Ia mencari jamur di akar pohon-pohon rindang tersebut untuk dimasaknya kemudian. Ia juga mengambil beberapa lembar daun sebagai rempah-rempah alami penambahan cita rasa pada masakannya.
Dengan tekun ia menyusuri setiap pohon lalu mencabut jamur yang ada. "Aish, aku lapar sekali. Di sana ada garam tidak, yah?" tanya Celine pada dirinya sendiri sambil menghapus keringat yang ada di dahinya.
"Naik," pekik Darchen dari atas kudanya.
Celine langsung berbalik dengan girang. Sangking senangnya keranjang tempat jamur yang ia pegang terjatuh berserakan di tanah.
"Yeeeee! Aku ingin makan yang pedas," sorak gembira Celine. Ia langsung menaiki kuda tersebut dengan senyum yang tidak luput sama sekali.
"Kenapa kau duduk di depan?" tanya Darchen heran.
"Jadi?"
"Di belakang, aku tidak bisa lihat jalan," ucap Darchen ketus.
"Isss, nanti jatuh, bagaimana? Kau mau tanggung jawab?" ancam Celine dengan wajah cemberut.
"Tidak ada orang yang peduli dengan kematianmu," balas Darchen tidak peduli.
"Kenapa mulutmu tajam sekali," umpat Celine dengan suara yang amat pelan. Ia tidak mau berpindah ke belakang dan tetap mempertahankan duduknya.
"Ayo pindah," perintah Darchen.
"Tidak," geleng Celine menolak.
"Turun dan jalan kaki saja sana," tegas Darchen.
"Auch … perutku sakit, ayo, kita cari makanan," bual Celine mengalihkan pembicaraan.
Darchen dengan berat hati mulai mengalih kemudi kudanya tersebut. Dalam hatinya ia berkata," Bisa-bisanya wanita ini mengaturku."
Ketika sedang fokusnya memacu, tiba-tiba kuda tersebut berhenti mendadak. Celine bahkan hampir terjatuh akibat terkejut dengan lengkingan suara kuda itu.
Darchen langsung melompat turun dan memeriksa keadaan kudanya itu. Ia mengelus-elus kudanya agar kambali tenang. Ternyata kudanya bereaksi seperti itu dikarenakan ada ular besar yang melintas dari depannya.
Di saat situasi genting seperti itu, Celine malah asik asiknya memandangi ketampanan Darchen Valerio yang berperilaku lembut pada kudanya. Dengan dalam, tatapannya tak berpindah dari pria tersebut.
Ia juga menyempatkan diri untuk berandai-andai. "Coba saja kalau dia seperti ini terus, mungkin … sudahlah, lagian dia hanyalah manusia sementara."
Darchen yang tersadar ditatap sedari tadi langsung melemparkan tatapan sinis ke arah Celine." Ada apa dengan wajah bodohmu itu," rengis Darchen.
Celine langsung mengalihkan matanya dan berpura-pura tidak mengerti maksud Darchen. Ia bertingkah seolah tidak menyadari apapun dan bersikap biasa saja.
Sejak hatinya tergugah dengan ketampanan Darchen, Celine sekarang sering merasakan getaran dalam hatinya. Bahkan hanya dengan bertabrakan pandangan dengan Darchen, ia langsung gugup.
Apagi situasi di atas kuda itu sangat mendukung. Detak jantung Darchen terasa hangat di telinga Celine. Hembusan nafas Darchen terasa begitu tenang. Belum lagi karena aroma tubuhnya yang wangi. Membuat hati Celine semakin tak terkontrol untuk menahan diri menyukai pria dingin tersebut.
"Jangan terpesona … jangan terpesona," ucap Celine berulang dalam hatinya sambil menutup matanya.
"He, Jelek, kenapa kau diam saja?" tanya Darchen. "Ayo turun," sambungnya mengajak. Sudah sampai ke pasar raya, namun Celine masih duduk diam sambil menutup matanya.
"Eh? Iya, ada apa?"
"Apa kau tidak lapar?" tanya Darchen.
"Aku punya nama, Celine Morgithen, bukan Jelek," terang Celine memperkenalkan dirinya.
"Aku tidak peduli," sambungnya acuh.
Darchen mengambil jubah hitam yang ada di saku kudanya dan menutupi dirinya. Ia takut kalau orang lain melihat dirinya dan akan menimbulkan keramaian nantinya.
"Kau seperti teroris saja," ledek Celine.
"Bukan urusanmu," jawab Darchen singkat.
Mereka berdua berjalan menuju pedang yang menjual makanan lalu memborong beberapa jenis diantaranya. Selain itu, Celine juga membeli beberapa bahan masakan untuk persediaan di kastil tersebut. Jika ia pergi ke sana dan lapar, dengan mudah bisa memasaknya langsung dan tidak perlu pergi jauh-jauh ke pasar yang jaraknya cukup menyita waktu.
"Untuk apa belanja banyak begitu? Apa kau sanggup menghabiskannya?" tanya Darchen sedikit cerewet.
"Tentu saja, lagi pula aku akan berbagi dengamu, jadi perlu banyak," jelas Celine sambil tersenyum lebar dengan kedua tangan yang penuh dengan keranjang belanja.
Darchen merasa sedikit lega saat mendengar kalimat Celine. Ia tidak pernah diperlakukan layaknya orang biasa pada umunya. Orang lain berbondong-bondong menjilat dengan cara klasik, sementara Celine terlihat begitu tulus mengatan hal itu padanya. Ia terdiam dan tidak dapat menjawab apa-apa.
"Naik," perintah Darchen dengan tatapan arogan.
Mereka kembali ke kastil yang terletak di hutan Maleni tersebut tanpa ada yang menghambat. Sesampainya di sana, Celine langsung memindah makanan ke mangkuk perak yang terukir indah.
"Uh, kelihatannya sangat lezat," ungkap Celine semangat. "Darchen, kau tidak mau?" tanya Celine menawarkan. Pria itu tidak menyentuh makanan tersebut dan malah langsung pergi masuk ke ruangannya.
"Tidak," jawabnya singkat.
"Ayolah, tidak mungkin aku makan sendiri. Biasanya Genah menemaniku," pinta Celine mengajak.
"Tidak," jawabnya lagi. Ia naik melalui tangga ke ruangannya dan tidak memakan makanan yang mereka beli tadi. Darchen tidak pernah memakan masakan yang dibeli. Sebab itu ia tidak ingin.
Karena perut yang sudah kelaparan, Celine tidak bisa memaksa Darchen, ia tidak sempat membujuk orang lian lagi sebab perutnya lebih utama. Ia melahap semu makanan yang dibeli tadi tanpa menyisakan satu jenis pun.
Perutnya hampir pecah akibat rakus. Ia tak sanggup lagi berjalan bahkan bergerak pun susah. Selama menunggu perutnya membaik, ia mulai mengantuk dan tidak bisa menahan matanya lagi. Tanpa sadar ia tertidur di ruang makan kastil tersebut dengan posisi salah satu tangan tertimpa kepalanya.
Ia lupa kalau seorang kusir akan menjemputnya di pinggir hutan saat matahari mulai terbenam. Celine tidak mengingat hal itu lagi. Gelap sudah menyelimuti langit biru, malam telah tiba. Mungkin kusir yang ia suruh itu sudah kembali ke istana.
Tidak mendengar suara wanita itu lagi, Darchen keheranan dan langsung memeriksa kondisinya di bawah. Ia keluar dari ruangannya tersebut lalu mencari tahu kegiatan wanita itu di sana.
"Wanita jelek sana tidur sembarangan lagi," decak Darchen. Ia kemudian menggendong Celine menuju kamarnya.
"Hebat kau, Celine. Dua hari berturut-turut kau membuatku menggendongmu," celetuk Darchen sambil mengangkat tubuh wanita itu.
Tidur Celine tampak begitu pulas. Sampai mulutnya terbuka sedikit dan kepalanya mendongak ke atas. Wajahnya tampak konyol bagi Darchen, hingga membuatnya tersenyum saat menatap wajah Celine.
Perlahan ia meletakkan tubuh wanita itu di atas ranjang milikinya dan beranjak pergi dengan kaki yang sengaja ia pelankan karena takut kalau Celine akan terganggu. Bahkan dengan pelan, ia menutup kembali pintu tersebut mencoba sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara.
Darchen juga sadar tentang perubahan dirinya. Entah mengapa beberapa saat ini ia merasa menjadi orang lian. Sikapnya menjadi lembut untuk beberapa saat. Tidak pernah ia memperoleh orang lain mendekati dirinya, tapi sekarang dengan mudahnya Celine meracuni kepribadiannya.
"Apakah aku sudah melupakan Dayina?" tanya Darchen dalam hatinya.
Dayina adalah nama wanita yang ia cintai di masa lalu. Hanya Dayina seoranglah yang bisa mengatur Darchen. Tapi sekali pun mereka tidak pernah bersentuhan. Dayina begitu takut untuk menjamah Darchen. Itu disebabkan oleh sikapnya yang terlalu lembut, hingga membuat Darchen luluh pada wanita tersebut. Ia berjanji tidak akan melupakan wanita itu dan akan terus mengingatnya sampai kapanpun.
Namun kemunculan Celine di hidupnya, perlahan menghapus kenangannya bersama Dayana. Ia bimbang denga perasaannya sendiri. Ia tidak mungkin melupakan Dayina kemudian berpaling darinya. Ia adalah orang yang selalu memegang janji, tidak mungkin mengingkari.
Akhirnya Darchen memastikan perasaannya terhadap Celine dan berhenti untuk bersikap berbeda pada wanita tersebut.