Terlihat Berbeda

2079 Words
Fajar menyingsing dari ufuk timur menyinari bumi. Kicauan burung yang bersahutan begitu merdu di telinga. Rintik embun yang halus membasahi dedaunan. Sapaan pagi begitu indah membanguni tidur Celine. "Huah! Sudah pagi?! Bagaimana bisa?" Baru saja bangkit dari ranjang, Celine sudah berteriak keras. Ia terkejut melihat matahari yang tampak begitu cerah melalui jendela. Ia langsung turun ke bawah dan keluar dari kastil tersebut. Darchen yang tidak tahu-menahu tentang keresahan hati Celine hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia menutup sebelah matanya dan menjauhkan pandangannya dari Celine. "Pagi, Darchen," sapa Celine dengan muka gelagapan sambil menunduk lalu bergegas pergi keluar. "Hey," panggil Darchen. "Ya, ada apa? Aku sedang buru-buru, Genah pasti khawatir karena aku tidak pulang semalaman," jelas Celine dengan muka paniknya. "Cemaskan dulu bajumu, lalu cemaskan orang lain," celetuk Darchen ketus dengan mata yang terus menghindar dari Celine. "Kenapa?" tanya Celine kebingungan. Ia kemudian memeriksa bajunya. Sekarang ia sadar kalau kancing gaunnya terbuka hingga sebagian dadanya terlihat jelas. Kebiasaan Celine memanglah begitu. Ketika malam tanpa sadar suka membuka kancing bajunya. Sudah terbiasa sejak di dunia nyata. Ia tidak bisa memakai gaun saat tidur, dulunya selalu memakai kaos longgar. Namun di dunia Athiam itu tidak ada baju wanita seperti itu. Terpaksa ia harus memakai gaun. Pipi Celine memerah karena malu sampai wajahnya terasa panas. Ia langsung memasang kancing gaunnya lalu membenahi rambutnya yang acak-acakan. "Ekhm," deham Darchen menghilangkan kecanggungan yang menyelimuti mereka berdua. "Eh, itu, aku cuci muka du-dulu," pamit Celine gugup. Ia berbalik masuk ke dalam kamar tempat ia tidur kemarin malam. Sempat terjadi adegan salah jalan akibat kecanggungan yang terjadi. Dengan langkah tidak teratur, Celine pergi sambil menutup wajahnya yang memerah. Setelah masuk ke dalam kamar, ia langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuk tersebut. Ia memukul kepalanya berulang kali lalu merengek tidak jelas. Ia melampiaskan pada dirinya sendiri. Untuk beberapa saat ia tidak sanggup menatap Pangeran Darchen tersebut karena terus terngiang dengan kejadian memalukan tadi. "Huah! Aku memang bodoh, dia melihatnya. Dimana lagi kuletakkan mukaku ini. Aku ingin mengubur diri dalam lubang," celoteh Celine kesal sambil merajuk tidak jelas. Hari sudah terik tapi dia belum juga keluar dari persembunyiannya. Ia sama sekali tidak berani menatap Darchen. Darchen merasa aneh melihat Celine tidak keluar dari kamar tersebut. Ia takut terjadi sesuatu hal pada wanita itu. Ia mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk untuk memeriksa keadaan Celine. Ketukan pintu terdengar keras di telinga Celine. Jantungnya langsung bergetar. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Jika dibuka, ia masih merasa malu. Jika tidak dibuka, takutnya pangeran dingin tersebut marah. "Argh! Aku ingin pulang," rengek Celine sambil berjalan dengan badan membungkuk karena berat hati. Ia perlahan membuka pintu tersebut dengan posisi badan setengah tertutupi pintu. Ia menyembunyikan sebagian tubuhnya di balik pintu. "Ada … apa?" tanya Celine dengan suara pelan. "Tidak," jawab Darchen lalu pergi langsung setelah melihat Celine baik-baik saja. Celine mengernyitkan dahi melihat betapa tidak jelasnya pria tersebut. "Kupikir ada hal apa dia datang. Dasar plin-plan," umpat Celine kesal. Tidak lama kemudian, Darchen datang lagi menghampiri Celine. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu. "Ada apa lagi?" tanya Celine. "Apa kau baik-baik saja?" "Ha? A-Apa?" tanya Celine memperjelas. Ia terkejut mendengar pertanyaan Darchen. Tidak pernah sekalipun ia mendengar pria kejam itu mengatakan hal yang berbau perhatian. "Lupakan," balas Darchen. Ia pergi dari hadapan Celine dan masuk ke ruangannya. "Kenapa dengannya? Apa jangan-jangan … dia menyukaiku?" sangka Celine. Ia memegang wajahnya sambil mengeluarkan ekspresi berlebihan. "Tidak bisa … tidak bisa. Aku harus segera pergi dari sini," kata Celine. Ia diam-diam keluar dari kamarnya berniat untuk pergi dari kastil itu. Namun disaat tangannya sudah menutup kembali pintu kamar itu, tiba-tiba Darchen lebih dulu menghampirinya. "Astaga!" Celine terkaget-kaget sampai ia mundur selangkah akibat terkejut. "Ada apa?" sambungnya menanyakan sambil menepuk-nepuk jantungnya yang hampir pecah. "Kau tunggu di sini sampai Dion datang," perintah Darchen. "Kenapa? Kau mau kemana?" tanya Celine keheranan. Ia melihat pangeran itu memakai pakian lengkap. "Bukan urusanmu," jawab Darchen singkat. "Ternyata dia tidak menyukaiku," ucap Celine dalam benak. "Tunggu saja Dion datang kemari menjemputmu," jelas Darchen. "Iya," angguk Celine paham. Darchen kemudian pergi entah kemana tujuannya dengan kuda miliknya. Dia meninggalkan Celine di sana seorang diri tanpa mengatakan alasan kepergiannya. "Kemana dia?" tanya Celine pada dirinya sendiri. Dengan sabar, Celine menunggu hingga ada seorang yang bernama Dion menjemputnya. Ia duduk di depan kastil itu sambil memandangi sekeliling. Siapa tahu ia tanpa sengaja menemukan jalan pulangnya. Tidak berapa lama kemudian, seorang pria tampan berdiri di depan Celine. Terlihat kalau orang tersebut merupakan suruhan Darchen. Pria tampan tersebut adalah Dion. "Kau, Dion?" tanya Celine. "Benar, Nona," angguknya. "Hmmm, jadi kau suruhan Darchen. Ganteng," decak Celine sambil tersenyum dan tak bisa melepas pandangannya dari Dion. Meski wajahnya tidak setampan Darchen, tapi sikapnya tampak lembut. "Terima kasih pujiannya, Nona," balas Dion sambil menunduk. "Itu fakta, hehe. Jangan panggil nona, panggil saja, Celine." "Baiklah, Celine," angguk Dion menuruti permintaan Celine. "Kita balik ke istana, bukan? Genah sudah pasti cemas di sana," ucap Celine risau. "Tidak perlu khawatir, aku sudah memberitahu padanya kalau kau berada di kastil," kata Dion menenangkan Celine. "Eh, terima kasih. Kau baik sekali, sangat berbeda jauh dengan Darchen," celetuk Celine sambil mengumpat Darchen. Wanita itu tidak tahu kalau Darchen lah yang menyuruh Dion untuk menyampaikan pada Genah perihal hal tersebut. Tapi ia tidak sadar dan terus berburuk sangka pada Darchen. Karen memang pada dasarnya, Darchen sangat ketus padanya. Hingga membuatnya selalu berpikiran negatif. "Aku hanya menjalankan tugas," tambah Dion. Celine kemudian disuruh naik oleh Dion ke dalam kereta yang ia bawa tadi. "Eh, kupikir kau bawa kuda tadi," ucap Celine heran. Ia tidak mengira kalau seorang panglima mengendarai kereta. Biasanya para panglima biasanya menggunakan kuda masing-masing. "Pangeran Darchen menyuruhku memakai kereta," jelas Dion. Celine lagi-lagi semakin bingung dengan tingkah Darchen. Ia tidak tahu tujuan pria dingin itu bersikap baik padanya dan terkadang sudah jahat padanya. "Kenapa tidak naik kuda saja?" tanya Celine lagi. "Tidak tahu. Mungkin demi keselamatan," tebak Dion asal. Padahal Celine sudah berharap bisa berdekatan dengan panglima yang amat jelita wajahnya dan juga lembut hatinya. Tapi ia tidak bisa karena ulah Darchen. Celine sempat curiga kalau Darchen sengaja menyuruh Dion menjemputnya dengan kereta dikarenakan takut kalau Celine jatuh hati pada Dion. Darchen tahu dengan hobi wanita itu, Celine sangatlah suka memandangi pria tampan dan amat mudah terpesona akan sesuatu hal. "Dion, berapa umurmu sekarang?" tanya Celine berbasa-basi. "Dua puluh tujuh tahun," jawab Dion. "Wah wah, apa sudah menikah?" tambah Celine bertanya. "Tidak," jawab Dion singkat. Dikala ia fokus pada jalan dan kudanya, Celine berkali-kali menanyainya. "Apakah …." "Maaf, Celine aku harus fokus pada jalan saat ini. Kau bisa tanyakan nanti ketika sudah sampai di istana," jelas Dion. "Hehe … iya iya. Aku terlalu bersemangat berkenalan," sambung Celine menjawab sambil menggaruk tengkuknya. Celine sama sekali tidak berbicara atau mengajak Dion mengobrol selama perjalanan pulang ke istana. Dia hanya merenung di dalam kereta sambil memperhatikan jalanan. Hingga dia tidak sadar kalau mereka sudah sampai dengan selamat. "Celine, kita sudah sampai," ucap Dion Moghet lalu membuka pintu kereta untuk Celine. "Hmmm, terima kasih sudah menjemput ku. Aku masuk ke dalam dulu," balas Celine sambil menunduk. Ia kemudian berjalan masuk dengan perlahan menuju kamarnya. Tidak sengaja ia bertemu dengan Ratu Sibenth di lorong istana. Ia dengan senyum ramah menyapa Ratu Sibenth dan memberi hormat padanya. "Celine, aku mendengar bahwa kau tidak di istana semalam," kata Ratu Sibenth. "Iya, Yang Mulia. Maaf karena tidak mengatakannya terlebih dahulu. Aku juga tidak tahu kalau hal ini akan terjadi. Aku tidak merencanakannya sama sekali," jelas Celine panjang lebar. "Tidak masalah. Yang penting kau tidak apa-apa. Erica memberitahu kalau kau pergi ke arah hutan yang ramai akan perompak, aku khawatir," ucap Ratu Sibenth. "Erica? Kenapa ia bisa tahu? Aku memang ke hutan, tapi tidak ada satu perompak pun di sana. Aku pergi ke hutan Maleni bersama dengan Darchen," terang Celine. Ia heran mengapa Erica mengetahui kalau dirinya pergi ke hutan. Bahkan ia dengan busuknya melaporkan pada Ratu Sibenth kalau dirinya pergi ke hutan tempat persinggahan perompak. "Bersama Darchen? Ya Tuhan, benarkah? Apa yang kalian lakukan di sana?" tanya Ratu Sibenth kegirangan. Ia senang sekali mendengar kalau anaknya itu berduaan dengan Celine. Dalam bayangannya telah tergambar kejadian intim yang mungkin saja terjadi diantara mereka berdua. Tidak mungkin dua orang berbeda jenis kelamin dalam satu tempat yang sepi hanya berdiam diri saja. Minimal mereka akan merasakan momen spesial bersama-sama. "Tidak ada. Dia hanya menyewa ku untuk membersihkan kastilnya," jawab Celine dengan wajah masam. "Hahaha … aku sudah berburuk sangka mengira kalian sedang …." "Tidak terjadi apa-apa antara aku dan Darchen. Tenang saja, Ratu. Aku juga tahu diri," timpal Celine langsung. "Aku malah senang jika kalian melakukan hal yang lebih lagi, hahahah." Ratu Sibenth tertawa kecil sambil menutup mulutnya agar tetap anggun meski dalam keadaan bahagia. "Hehe … oh yah, apa yang dikatakan Erica pada, Ratu? Kalau boleh tahu," tanya Celine. "Tidak perlu dipikirkan, dia memang terus saja suuzon. Sikapnya masih sangat labil, wajar saja," tanggap Ratu Sibenth memaklumi Erica. Sementara Celine sudah naik darah mendengar fitnah dari Erica hanya bisa menahan diri untuk beberapa saat lalu kemudian melampiaskannya pada Erica secara langsung. Ia begitu kesal karena namanya hampir jatuh di mata Ratu Sibenth. Ia tahu kalau Erica sengaja melakukannya dan sudah direncanakan. Niat busuk wanita itu tercium jelas bagi Celine. Belum puas mencoba mempermalukan Celine kemarin, sekarang ia mulai beraksi untuk mempermalukan lagi. Dalam hati Celine hanya bisa menunggu waktu tepat untuk membalas perbuatan Erica. Ia akan membuat Erica lebih malu dari pada yang dilakukan wanita itu padanya. Ia akan membalas wanita busuk berwajah peri itu dengan keji. "Hmmm, Ratu, aku kembali ke kamar dulu. Aku ingin beristirahat," ungkap Celine dengan santun. "Iya, pergilah beristirahat. Mungkin kau sangat lelah. Nanti aku akan kirimkan pelayan untuk memijat," sambung Ratu Sibenth perhatian. "Terima kasih atas niatannya, Ratu. Tapi aku hanya butuh tidur saja, tidak perlu repot-repot," tolak Celine. Ia sebenarnya tidak ingin tidur, dia hanya ingin mencari tahu kegiatan Erica untuk membalaskan kekesalannya. "Iya, tidak apa-apa. Pergilah." Celine kemudian pergi menuju kamarnya. Ia mencari keberadaan Genah dan memberitahu kalau dirinya telah pulang. Ia tidak ingin kalau Genah sampai khawatir dengan dirinya. "Genah … Genah," panggil Celine berulang. "Nona Celine? Anda sudah pulang. Hamba mencemaskan keadaan Anda, Nona," ungkap Genah. Ia langsung memeriksa keadaan majikannya itu dari ujung rambut sampai kaki. Ia memastikan kalau Pangeran Darchen tidak melakukan hal yang menyakiti Celine. "Oh aku sudah yakin, kau pasti khawatir padaku. Aku merindukanmu," celetuk Celine sambil memeluk Celine dengan manja. "Apa ada bagian tubuh Anda yang terluka?" tanya Genah cemas. "Tidak, aku baik-baik saja. Tapi ada yang membuatku jengkel," cerita Celine dengan muka kesalnya. "Ada apa, Nona? Katakan padaku," balas Genah. "Erica memfitnahku dengan mengatakan kalau aku pergi ke hutan tempat perompak singgah," jelas Celine. "Itulah permasalahannya, Nona." "Kau sudah tahu?" "Semalam ketika kusir yang Anda minta untuk menjemput, dihadang oleh Putri Erica. Ia melarang kusir tersebut untuk menjemput Anda dan membayarnya sebagai imbalan," kata Genah dengan wajah serius. "Apa?!" Emosi Celine semakin bertambah. Ia sangat ingin menjambak rambut Erica dan mencabik-cabik mulutnya agar tidak bisa lagi berbicara. "Benar, Nona. Ia kemudian mengatakan pada Ratu Sibenth kalau Anda pergi ke hutan untuk menggoda para perompak," tambah Genah. "Apa?! Sialan itu! Aku akan memberimu pelajaran, sialan!" umpat Celine yang emosinya telah diujung puncak. Kesabarannya sudah habis menghadapi kelakuan kotor wanita itu. Celine sama sekali tidak pernah mengusik Erica. Tapi entah mengapa wanita itu terus saja mencari masalah dan memancing amarah Celine selalu. Sudah cukup bersabar ia menahan diri untuk tidak membalasnya, tapi tetap saja, Erica selalu mencari bahan untuk memanasi amarahnya. "Karena hamba tahu kalau kusir itu tidak akan menjemput Anda. Hamba pergi ke hutan berniat untuk menjemput Anda. Tapi Panglima Dion datang menyampaikan kalau Pangeran Darchen ada di sana bersama Anda. Jadi hamba meminta agar Panglima Dion yang menjemput Anda," jelas Genah secara rinci. "Benarkah? Dia tidak ada semalam di sana," ucap Celine sambil mencoba mengingat. "Ketika sampai, Pangeran Darchen mengatakan kalau Anda tidur di sana malam itu. Jadi Panglima Dion kembali ke istana dan menyampaikan pada hamba kalau Anda baik-baik saja," sambung Genah. "Uh, Genah. Kau memang orang paling baik padaku," ucap Celine lalu memeluk Genah lagi. Malam di saat Dion hendak menjemput Celine, Darchen yang dingin itu menyuruh agar Dion kembali ke istana dan membiarkan wanita itu berada di istana semalam. "Apa Anda tidak masalah kalau ia berada di sana?" tanya Dion. "Tidak, dia seperti menghiburku malam ini," ucap Darchen pada Dion. Dion yang setengah bingung mendengar perkataan Darchen, hanya bisa mengangguk dan kembali ke istana. Meski banyak pertanyaan yang ingin ia sampaikan, tapi tetap disimpannya. Ia ikut senang karena tuannya itu sudah mulai membuka diri lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD