Kekesalannya terhadap Erica sudah berada di ujung kepala. Tidak ada alasan baginya untuk tidak membalas perbuatan rendah wanita berwajah dewi berhati kotor itu. Dengan kebencian amat dalam, Celine mengumpulkan ide untuk membalas wanita tersebut.
"Nona, kemana Anda hendak pergi?" tanya Genah. Baru saja pulang ke istana, majikannya itu pergi lagi tanpa mengatakan sesuatu padanya. Padahal ia berharap agar Celine beristirahat walau hanya sejenak. Karena ia tahu kalau majikannya itu sudah dipersulit di kastil oleh Darchen.
"Tidurku tidak akan nyenyak jika belum membungkam mulut wanita busuk sana," pekik Celine dengan mata penuh amarah.
"Nona, lebih baik Anda istirahat sejenak. Lalu memikirkan perihal Putri Erica," nasehat Genah dengan kekhawatiran.
"Wah! Aku sudah tidak tahan menjambak rambut Erica. Jadi tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Apalagi istirahat," jelas Celine yang tidak mendengarkan sama sekali. Ia sangat sulit diingatkan padahal Genah mengatakan demi kebaikannya sendiri.
"Biar hamba menemani Anda," ujar Genah. Ia tidak ingin kalau sampai terjadi apa-apa pada majikannya itu. Secara Celine belum tahu-menahu tentang kejamnya dunia kerajaan. Apalagi permusuhan itu dimulai karena harem. Belum lagi musuhnya adalah anak seorang yang penting di istana. Tentu saja Celine dalam zona bahaya. Untuk itu, Genah harus mengawasi dan membantu Celine dalam segala tindakannya.
Genah akhirnya mengikuti Celine dari belakangnya. Ia berharap agar Celine tidak gegabah dengan menjumpai Putri Erica dan mengajaknya bertengkar. Yang ada, Celine akan buruk dipandang oleh orang lain. Khusunya di mata Ratu Sibenth. Genah tidak ingin kalau istri penguasa Kerajaan Athiam itu menaruh rasa tidak percaya lagi pada Celine. Sudah cukup besar dukungan Ratu Sibenth padanya. Genah tidak ingin kalau sampai kepercayaan itu hilang dari Celine.
Celine dengan jalan langkah seakan sedang ketinggalan sesuatu, mengangkat gaun panjangnya agar semakin cepat sampai ke paviliun milik Erica yang bisa dikatakan tidak terlalu jauh dari kamarnya.
"Nona, pelan-pelan saja," peringatan Genah sambil memegang tangan Celine agar memperlambat jalan Celine.
"Cepatlah," jawab Celine tak menghiraukan sama sekali. Ia terus berjalan dengan cepat.
Genah terus mengejar Celine dengan langkah mengikuti majikannya. Hingga mereka sampai di gerbang paviliun milik Erica.
"Dimana Erica?" tanya Celine dengan suara tinggi pada pelayan yang berada di depan gerbang Erica.
"Putri Erica sedang tidak menerima tamu," jawabnya.
"Apa? Jangan sampai aku membongkar seluruh isi tempat ini dan membuatmu mati tanpa dikenali," ancam Celine dengan murka sebab Pelayan itu tidak mengizinkan mereka masuk. Mereka dihadang pasca di luar. Seberapa keras pun ia membentak, Pelayan itu tidak mengizinkan mereka masuk.
Hingga akhirnya Genah turun tangan. Ia membisikkan sesuatu ke telinga pelayan itu dengan suara pelan, tidak terdengar sedikit pun oleh Celine. Entah apa yang dikatakan oleh Genah padanya sampai pelayan tersebut mempersilahkan mereka berdua masuk.
"Apa yang kau katakan?" tanya Celine dengan wajah bercampur heran dan salut.
"Hanya mengatakan kalau Nona Celine bermalam di hutan bersama Pangeran Darchen semalam," jelas Genah sambil tersenyum.
"Ha? Tidak masuk akal, dia dengan bodohnya mempersilahkan masuk. Hebat sekali
Tapi kau juga kurang ajar karena sudah mengarang cerita yang tidak benar," ungkap Celine.
"Maafkan hamba, Nona Celine," balas Genah yang merasa bersalah dengan cerita yang ia katakan pada pelayan itu. Padahal yang dikatakannya benar. Genah tidak mengarang sama sekali, bahwa Celine dan Darchen semalam bermalam di hutan Maleni berdua saja tanpa seorang pun di sekitar mereka.
Genah dan Celine berjalan masuk untuk menemui Erica di dalam. Genah tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Celine. Namun ia berharap itu sesuatu yang tidak merugikan Celine sendiri.
"Tenang saja, aku hanya memberinya peringatan keras saja," terang Celine pada Genah.
Ketika mereka sedang berbincang-bincang, mereka melihat Erica sedang duduk sambil meminum teh di teras paviliunnya. Dengan sigap dan langkah anggun, Celine mendekatinya sambil tersenyum palsu menyapa Erica.
"Putri Erica," sapa Celine dengan senyum paksa yang tidak terlihat sama sekali. Ia terlihat natural dalam menutupi kebenciannya.
"Celine? Ada apa datang kemari?" tanya Erica langsung. Ia takut kalau kebohongannya pada Ratu Sibenth telah diketahui oleh Celine. Ia gelagap dan sedikit takut.
"Hanya ingin duduk bersama Putri Erica dan meminum teh bersama," jawab Celine dengan senyum yang tidak luput dari bibirnya.
"Hahaha … tentu saja. Duduklah jika berkenan," sambung Erica yang ikut tersenyum pula.
"Terima kasih. Oh yah, sebenarnya aku datang kemari hanya ingin menanyakan beberapa hal padamu tentang … ehm, kau tahu lah," timpal Celine. Ia memulai untuk menyindir dan memanas-manasi Erica.
"A-Apa itu?" respon Erica gagap.
"Sebenarnya aku malu untuk mengatakannya tapi ini soal Darchen," tambah Celine. Ia membuat mimik seolah malu.
"Kenapa dengan Pangeran Darchen?" tanya Erica cepat. Ia selalu merasa tertarik dengan kisah tentang Darchen dan yang berhubungan dengan pangeran tersebut. Sekecil apapun ceritanya, ia akan sangat senang mendengarnya.
"Semalam aku pergi ke hutan, ternyata Darchen mengikuti kereta kuda yang ku tumpangi …."
Belum juga selesai menceritakan kejadian itu, Erica langsung memotong pembicaraan. "Apa kau yakin Pangeran Darchen mengikutimu?" Dalam hatinya ada keraguan. Ia berharap hal itu tidak terjadi karena ia sangat cemburu saat itu. Ia mencoba untuk tidak mempercayai cerita Celine tapi ia terus saja terngiang.
"Tentu daja benar. Lalu kami masuk ke dalam kastil miliknya dan makan berdua semalam. Ia sedikit marah padaku di sana, karena disitu aku membahas tentang Lyn, pria yang kusukai. Ia tampak cemburu dan mogok bicara padaku untuk beberapa saat," karang Celine dengan skenario cerita yang bagus.
Hati Erica semakin panas mendengar ceritanya dan ingin sekali menutup mulut Celine agar tidak bisa melanjutkan ceritanya yang begitu tidak ingin ia dengar lagi.
"Lalu kau tahu? Aku kemudian hendak pulang, tapi Darchen tiba-tiba melarangnya dan menahanku di sana. Ia dengan paksa mengangkat tubuhku dan menggendongku masuk ke dalam kamarnya," lanjut Celine menceritakan kebohongan.
"Sebenarnya aku tidak ingin menyampaikan ini, tapi, Nona Celine, Pangeran Darchen tidak pernah berbuat seperti itu sebelumnya," kata Erica dengan wajah tidak senang. Ia teramat benci mendengar suara Celine dan ingin sekali mengusirnya dari persinggahannya.
"Yah, aku tahu. Sebab itu aku datang kemari. Katanya kau sangat dekat bukan dengan Darchen. Jadi aku bersengaja datang kemari," terang Celine dengan wajah serius.
"Benar kami sangat dekat," jawabnya langsung.
"Jika Darchen melakukan hal itu padaku, artinya dia menyukaiku, bukan?" tanya Celine dengan sengaja.
"Ti-Tidak tahu," timpal Erica sambil memalingkan wajahnya.
Meski hati wanita itu teramat busuk dan kotor, namun jika menyangkut Darchen, ja begitu lemah. Bahkan baru saja dipanasi saja, wajahnya langsung terlihat jelas sedang cemburu.
"Semalam Darchen sedikit bercerita tetangmu," celetuk Celine.
"Benarkah? Apa yang Pangeran Darchen katakan?" Dengan antusiasnya, Erica kembali mendengarkan cerita Celine karena ada sedikit menyebut dirinya.
"Kata Darchen, kau dan dia sudah lama berkenalan. Dia juga sudah menganggapmu adik sendiri dan menyayangi layaknya adik kandung. Awalnya aku mengira kalau Darchen menyukaimu tapi ternyata dia baik karena memang menganggapmu adik," sindir Celine sekaligus mengingatkan.
"Apa maksudmu mengatakan hal seperti ini?" tanya Erica dengan raut wajah muramnya.
"Tentu saja ingin menyadarkan mu, hahaha. Apalagi kalau bukan untuk mengingatkan kalau Darchen tidak menyukaimu sama sekali, jadi kau tidak perlu bekerja keras mencari muka dengannya. Apalagi sampai menyebarkan cerita palsu pada Ratu Sibenth agar namaku tercoreng," perintah Celine dengan nada serius. Ia tampak sangat percaya diri mengatakan pada Erica. Tidak terlukis di wajahnya rasa takut kalau Erica menimbulkan masalah padanya. Ia tidak perduli, dalam pikirannya hanya ingin membalas dendam pada Erica.
"Apa yang sedang kau katakan? Ingat, kau berada di wilayahku, jangan berani macam-macam," ancam Erica.
"Dasar sampah kau! Sudah tahu bikin salah masih pura-pura tidak tahu. Heh, sadar diri saja, kau bukan tandinganku. Kau bilang ini wilayahmu? Buka mata lebar-lebar, istana ini hanya menampungmu saja, statusmu tidak jauh beda denganku, jadi tidak perlu sok bergaya jadi putri dari Kerajaan Athiam," sambung Celine dengan mulut lemesnya. Ia menciptakan keributan di sana. Ia tidak tahu kalau perbuatannya itu sangat tidak boleh dilakukan.
Genah yang sedari tadi menonton kelakuan majikannya tersebut hanya bisa diam menggelengkan kepalanya. Ia sekarang tahu mengapa Darchen bersikap berbeda terhadap Celine. Ternyata dikarenakan oleh sikap Celine yang berterus-terang dan tidak takut dengan apapun.
Jika dipikir-pikir, Erica adalah putri seorang bangsawan kaya dan terkenal yang amat disegani oleh masyarakat. Bahkan ayahnya begitu dihormati oleh Raja Erogha disebabkan kelihaiannya dalam berdagang yang dapat menaikkan derajat kerajaan. Mereka juga menjalin hubungan bisnis dengan kerajaan sehingga bisa dibilang cukup dekat. Apapun yang diminta oleh ayah Erica, sebisa mungkin selalu dipertimbangkan oleh Raja Erogha. Selain itu, mereka juga memiliki hubungan darah satu nenek anatara Raja Erogha dan ayah Erica.
Mengetahui status dari Putri Erica, Celine tidak peduli sama sekali. Ia tetap saja menggali lubang kemarahan pada anak bangsawan kaya raya itu. Yang ia pikirkan hanyalah untuk membungkam mulut Erica agar tidak terus mencari masalah padanya.
"Apa kau sadar dengan yang kau ucapkan?" Tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan memalukan dari Celine, Erica tercengang melihat keberanian wanita itu.
"Aku sadar, kenapa? Kau ingin mengadukannya? Silahkan, aku tidak takut sama sekali. Tapi jika sampai mulut kotormu menyebarkan cerita bohong lagi, siapkan saja mentalmu akan terganggu. Aku akan menghunus pedang ke jantungmu. Jangan pernah memancing amarahku," ancam Celine.
Karena tidak terima dengan perlakuan Celine, Erica berdiri dari duduknya, lalu kemudian menampar wajah Celine dengan keras. Sangking kerasnya, tamparan tersebut mengeluarkan suara.
"Cih," decak Celine kesal.
Ia dengan tangan ringan dan hati yang penuh dendam menampar balik wajah Erica dengan sangat keras. Ia menarik rambut panjang Erica sampai muka gadis itu mendongak ke atas.
"Auuu … lepaskan tanganmu dariku," pinta Erica kesakitan. Ia mencoba melepaskan tangan Celine dari rambutnya karena ia sungguh tidak tahan lagi. Tidak pernah sekali pun ada orang yang selancang itu padanya. Untuk pertama kali ia diperlakukan rendah oleh orang lain.
"Rasakan, mampus kau! Untung saja aku berbaik hati tidak merobek mulutmu, sialan!" umpat Celine sambil menarik rambut Erica dengan keras. Semakin memberontak Erica, semakin keras pula ia menarik rambut Erica. Ia sama sekali tidak peduli jika mendapatkan hukuman jika diketahui telah berlaku kasar pada Erica. Toh yang lebih dulu menampar adalah wanita itu sendiri.
"Nona Celine, sudah … lepaskan saja Putri Erica," pinta Genah. Ia sebenarnya juga senang karena melihat Celine yang begitu amat berani hari itu. Namun karena mereka juga salah karena mencari keributan di wilayah Erica, tentu saja yang pantas disalahkan adalah mereka.
"Huh, untung saja Genah menyuruhku," decak Celine lalu melepaskan tangannya dari rambut Erica. "kalau tidak, sudah ku botaki kepalamu," sambung Celine.
Setelah sudah puas dalam melampiaskan kekesalannya, Celine kembali ke kediamannya dan beristirahat di sana. Ia cukup lega karena separuh kebenciannya telah tersalurkan. Ia hanya perlu menunggu waktu lain untuk mengeluarkan sisa kebenciannya terhadap Erica.
"Nona, hamba tidak menyangka kalau Anda dengan beraninya membungkam mulut Putri Erica," ucap Genah salut.
"Aku sudah terbiasa melihat model orang seperti Erica. Jadi untuk menghadapinya tidak susah sama sekali," jawab Celine. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dan mencoba menikmati betapa enaknya rebahan di atas ranjang dengan kondisi hati yang telah plong. Sekilas ia lupa dengan keresahannya tentang cara pulang ke dunia nyata.
"Tapi hamba juga takut kalaj Anda melakukan itu terhadap diri hamba," tambah Genah bercanda.
"Tidak, jika kau berubah jadi jahat sekali pun, aku tidak akan membalasnya. Karena hanya kau orang yang paling dekat denganku saat berada di dunia ini untuk pertama kalinya," jelas Celine.
"Nona, Apakah Anda tidak takut kalau Putri Erica mengadukan pada Ratu Sibenth?" tanya Genah.
"Tidak," jawabnya singkat sambil menggelengkan kepalanya.
"Bisa saja Putri Erica mengadukannya," ucap Genah khawatir.
"Biarkan saja. Lagian Ratu Sibenth tidak akan berani mempersulitku. Ia malah ingin membuatku betah di sini," jawab Celine tidak peduli.
Genah yang tidak dapat berkata-kata karena merasa bangga dengan majikannya itu, hanya bisa mengacungkan kedua jempolnya pada Celine. Ia ternyata tidak salah memilih orang yang pantas ia layani. Memang murni awal kesalahan adalah karena ulah Erica. Tak dapat dipungkiri bahwa Celine juga bersalah. Namun semakin didiamkan Erica bertambah jadi perangainya. Tentu siapa yang akan tahan terus bersabar dan menahan diri untuk tidak memberi pelajaran wanita itu.
Celine berharap setelah peringatannya pada Erica, tidak ada lagi gangguan darinya. Pertengkaran terjadi tidak tahu sebabnya. Tiba-tiba saja Erica mencari masalah. Mulai dari awal ia datang ke kerajaan itu, sambutan Erica sudah tidak enak. Berbagai jenis rencana busuk ia lakukan, Celine memakluminya dan tidak berbuat apa-apa. Dua kali ia merencanakan hal bodoh lain, Celine tetap diam saja. Untuk ketiga kalinya ia berbuat kotor lagi, kesabaran Celine telah habis. Kemarahannya sudah dipancing sejak awal namun selalu dipendam. Tapi tidak untuk ketiga kalinya, ia benar-benar memberi pelajaran kepada Erica dengan harap agar wanita itu tahu kalau Celine bukanlah orang yang dapat ia injak-injak harga dirinya.