Takut kena semburan kata-kata tajam dari Darchen, membuat Celine harus tergesa-gesa menjumpai pria tersebut di gerbang kediaman Zoe. Ia dengan cepatnya berlari hingga nafasnya keluar terengah-engah.
"Huft … capek, bisa-bisa aku jadi kutilang di sini," decak Celine lelah.
"Telat satu menit." Sambutan yang begitu tidak sopan membuat Celine ingin menjambak rambut pangeran dingin tersebut. Sama sekali pangeran itu tidak memaklumi kondisi Celine.
"Kenapa kau mengajakku pulang bersama?" tanya Celine bingung.
"Kastilku belum kau bersihkan," jawab Darchen mengelak. Padahal alasan sesungguhnya bukanlah itu, ia takut kalau Alan dapat merebut hati wanita itu.
"Aish … dasar," kata Celine mencoba mengumpat.
"Apa? Kenapa tidak dilanjutkan?"
"Aku hanya lelah saja di sini, hanya ingin pulang saja," celetuk Celine sambil membayangkan betapa ramainya hidupnya dengan keberadaan Lyn dan Paman Sam.
Darchen teringin untuk mencari asal-usul Celine bagaimanapun caranya, ia harus mendapatkan jawabannya. Namun karena ada tugas dari ayahnya, Raja Erogha, keingintahuan itu harus diundur. Ia akan membawa Celine ke bukit Teris menemui Tuan Jing.
"Jangan mulai lagi," celah Darchen.
Mereka pergi ke kastil berdua dengan duduk di satu pundak kuda yang sama. Lagi-lagi mereka sangat dekat, sampai membuat Celine tergugah untuk memeluk Darchen. Namun ia menahan diri dan langsung menyadarkan pikiran nakalnya itu.
"t***l sekali kau Celine, dia psikopat mengerikan, tahan diri, tahan … tahan," ucap Celine berulang dalam hatinya sambil menutup mata dengan harap tidak berpikiran jorok lagi.
"Jangan dekat-dekat dengan …." Belum selesai berbicara tiba-tiba Celine menegakkan tubuhnya dan berusaha agar menjauh dari Darchen.
"Maafkan aku, maaf," ungkapnya merasa bersalah. Ia beranggapan kalau Darchen risih dengan jarak mereka saat itu. Ia mengira kalau Darchen hendak mengamuki dirinya karena dengan sengaja menempelkan badannya ke tubuh Darchen.
"Ada apa denganmu?" tanya Darchen keheranan.
"Bukankah kau menyuruhku untuk bergeser," ujar Celine dengan mata memelas.
"Aku menyuruhmu untuk menjauhi Alan," tegas Darchen.
"Kenapa?" tanya Celine bingung.
Tiba-tiba Darchen menarik tali pengendali kuda hingga hewan gagah itu terhenti dan mengeluarkan lengkingan.
"Jangan banyak tanya," tegas Darchen dengan muka masam. Ia tampak tidak senang dengan kebodohan Celine.
Percakapan akhirnya terhenti. Celine tidak berani untuk memulai debat dengan pangeran tersebut. Ujung-ujungnya yang kalah adalah dirinya. Dari pada menghabiskan tenaga untuk berpikir dan mencari cara melawan Darchen, lebih baik ia tetap diam dan tidak banyak tanya.
Sesampainya di kastil kepunyaan Darchen, Celine langsung menyandarkan dirinya di bangku. Ia lelah sekali setelah melewati hari di Kediaman Zoe. Sejenak ia butuh sesuatu yang membuatnya rileks.
"Auch … pegal sekali," decak Celine sambil meregangkan tubuhnya.
"Tidak sopan," rengus Darchen dengan mimik masam.
"Aku capek, tahu tidak? Kau tidak akan tahu rasanya," balas Celine mengumpat.
Darchen kemudian naik ke atas kamarnya melalui tangga kastil tanpa sepatah kata pun untuk menghakimi Celine.
"Huh … semuanya salah di matamu, aku tidak pernah benar sekali saja. Sabarlah Celine sesuatu yang baik sudah menantimu," umpat Celine sekaligus memberikan semangat pada dirinya.
Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba Darchen datang sambil membawa candle klasik dengan lilin yang begitu menyegarkan ketika dihirup. Sesuatu seakan membuatnya nyaman. Lilin tersebut seakan merelaksasi pikiran hingga rasa letih hilang.
"Wah … harum sekali lilinnya," puji Celine sambil menghirup aroma terapi dari lilin tersebut. Matanya sengaja ia pejamkan agar pikiran ikut rileks.
Darchen meletakkan candle klasik itu di atas meja yang tepatnya berada di samping Celine duduk.
"Wangi sekali, di duniaku juga ada lilin aroma terapi, tapi tidak sewangi ini," ujar Celine dengan wajah segar karena mencium aroma lilin.
"Setelah ini, kau lanjut bersihkan kastil," perintah Darchen kemudian pergi langsing.
"Kurang ajar! Dia baik begini ternyata ada tujuannya! Aish … argh! Ingin mencabik bibirmu, Darchen psikopat!" umpat Celine setelah Darchen jauh dari hadapannya.
Celine jadi tidak memiliki semangat lagi untuk merilekskan pikirannya. Ia menampakkan wajah muramnya karena tidak berselera lagi. Baru saja ia merasakan nikmat dunia, akhirnya dihancurkan oleh Darchen.
Celine mengira kalau pangeran itu memberinya lilin aroma terapi karena perhatian dan peduli padanya. Ternyata simpulannya terbantahkan.
"Aku tidak akan membersihkan kastil ini! Tidak akan pernah!" jerit Celine dengan muka kesal.
Beberapa menit setelah ia mengumpat tidak jelas, ia mengambil kemoceng dan kain untuk membersihkan kastil. Ia mengkhianati ucapnya sendiri. Ia tidak berani untuk membantah perintah Darchen, dirinya terlalu lemah.
"Nasib … nasib," decak Celine sambil membersihkan debu dari guci pusaka yang begitu cantik.
Karena tempat guci kaca itu susah untuk digapai, Celine berjinjit untuk mengambilnya lalu membersihkannya di bawah. Niatnya awalnya memanglah begitu.
Ketika tangannya mulai menjatah guci tersebut, tiba-tiba lengannya terasa keram hingga menyebabkan genggaman tidak kuat. Tubuhnya terjatuh bersama guci cantik tersebut.
"Ahhhh!" jerit Celine kesakitan bersamaan dengan suara kaca yang pecah.
Darchen dengab kuat mendengar suara jeritan Celine dan kaca yang terjatuh. Dia langsung berlari memeriksa keadaan di bawah.
Sementara Celine yang ketakutan karena memecahkan guci cantik itu mengumpulkan beling kaca untuk dibuangnya kemudian. Ia tidak mementingkan luka pada tubuhnya karena takut dimarahi oleh Darchen. Ia sudah membayangkan betapa kejamnya nanti perbuatan Darchen jika tahu kalau dirinya memecahkan guci milik Darchen. Ia tidak ingin menambah masalah lagi, sudah cukup dalam beberapa waktu silam dirinya tersiksa. Sekarang ia hanya butuh kedamaian.
Tangannya yang bercucuran darah terus membersihkan lantai agar tidak ada satupun serpihan kaca tertinggal. Ia gemetar sehingga darah itu semakin deras menetes dari tangannya. Ia mulai ketakutan sampai air matanya keluar dengan sendirinya. Ia menyesal karena tidak memperhitungkan hal tersebut. Seandainya ia ikhlas mengerjakan segala sesuatu mungkin saja kejadian tadi tidak akan terjadi.
Ketakutannya semakin bertambah ketika mendengar langkah kaki menuju ke arahnya. Ia langsung berbalik meski tahu kalau orang tersebut jelaslah Darchen. Tangannya yang penuh dengan darah dan tumpukan serpih kaca hanya bisa berharap agar Darchen memaafkan dirinya dan tidak menyiksa dirinya.
"Maafkan aku …," ucap Celine dengan suara gemetar dan tangis yang membasahi pipinya.
Darchen menarik tangan Celine dan membersihkan tangan gadis itu dari serpihan kaca. Ia mengambil kain bersih di saku bajunya dan menghapus darah yang ada di tangan Celine.
"Kau sampai tidak sadar kalau wajahmu terluka," ucapnya dengan suara lembut dan pelan. Ia membersihkan darah di wajah Celine dengan perlahan agar tidak menimbulkan perih.
Seketika hatinya yang kacau pulih karena merasakan kehangatan dari tangan Darchen. Celine tidak akan mengira kalau Darchen akan berlaku selembut itu padanya. Luka di tangan dan wajahnya tidak terasa sakit lagi akibat Darchen yang begitu lembut membersihkannya.
Air matanya berhenti mengalir karena merasa tenang. Tidak ada kerisauan lagi dalam lubuk hatinya setelah tahu kalau Darchen tidak mengamuki dirinya.
Matanya tidak luput memandangi wajah Darchen. Untuk pertama kalinya ia merasa aman berada di dunia asing itu. Tidak pernah sekalipun ia merasakan kehangatan dari orang lain. Awal ia bisa merasa berharga di dunia itu. Ada orang yang memperdulikan dirinya dengan cemas. Baru dia rasakan sejak sekian lama ia tinggal di dunia Athiam.
Darchen dengan lembut menuntun Celine menuju kamarnya. Darchen hendak menutupi luka pada wanita itu dengan perban.
"Duduk," perintahnya.
Darchen mengambil sebuah salap rempah-rempah alami untuk dioles ke luka yang ada di tubuh Celine. Ia juga mengambil gulungan kain kasa untuk dibalut ke luka tersebut.
Sama sekali Celine tidak merasakan sakit ketika dioleskan salap pada tangannya. Ia tidak bergeming sama sekali. Ia tidak menyangka kalau masih ada sisi baik dari Darchen. Ia begitu kejam sampai semua orang takut padanya. Tidak disangka sikap dinginnya tersebut tersembunyi kehangatan yang membuat Celine merasa aman.
Ketika tangannya yang halus tersebut hendak mengoleskan salap di wajah Celine, ia meniup dengan pelan. "Katakan jika sakit," perintah Darchen dengan nada suara yang amat lembut.
Namun Celine sama sekali tidak mengeluarkan suara. Ia sudah merasa baikan ketika Darchen menyentuh dirinya. Bahkan hembusan nafas yang ia dengar, sudah memberinya pengobatan terbaik.
"Lyn," ucap Celine tanpa ia sadari. Ia teringat akan kehadiran Lyn di kehidupannya dulu. Ketika ia terluka yang mengobati dirinya adalah Lyn. Sambil mengumpat Lyn mengamuki kecerobohan Celine lalu memberinya pengobatan. Sekarang, Lyn tidak ada. Kehangatan itu ia dapat dari Darchen.
Mendengar Celine mengucapkan nama Lyn, Darchen langsung berdiri dari posisi duduknya, kemudian menyimpan semua peralatan yang ia pegang.
"Istirahatlah," tukas Darchen dengan muka masam dan kakunya.
Celine dapat merasakan kalau perubahan raut wajah tampak jelas ditunjukkan oleh Darchen, tapi ia tidak yakin penyebabnya adalah ucapannya baru saja. Tidak mungkin Darchen cemburu. Bagaimana mungkin seorang Darchen Valerio cemburu buta hanya karena nama orang lain disebut.
"Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?" tanya Celine dalam hatinya.
Ia tidak memikirkan hal itu terlalu jauh, karena ia tahu kalau Darchen memanglah bertemperamen buruk. Suasana hatinya terus berubah-ubah. Lagi pula ia terlalu sibuk untuk membayangkan sikap Darchen yang begitu hangat padanya.
Ia memutar ingatannya tentang sikap perhatian Darchen padanya, hingga tanpa sadar bibirnya mulai tersenyum sendiri ketika mengingat hal tersebut. Sangat manis hingga sedetik saja tidak luput dari wajah Darchen. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil membayang-bayangi Darchen.
"Definisi kebahagiaan diatas kesedihan," decak Celine sambil tersenyum. Ia memejamkan matanya dengan hikmat lalu tidur beristirahat dengan sukur. Meski tangannya sudah mulai terasa pedih, ia tidak terlalu mengeluh. Sebab ia sudah merasakan betapa baiknya Darchen padanya.
Dalam hati ia berharap dapat mengisi hati Darchen meski ia tahu kemungkinannya sangat kecil. Bagaikan mimpi jika terlalu menantikan hal tersebut. Dia hanyalah gadis biasa yang tidak memiliki bakat sama sekali. Ditambah dirinya selalu membuat masalah. Yang dia punya hanyalah sifat bodoh, ceroboh, dan konyol. Tidak ada selain daripada itu.
Tidurnya begitu pulas karena perasaan yang begitu tenang. Ia dengan lelapnya tertidur hingga tidak sadar kalau malam telah datang. Senja telah berlalu.
Celine terbangun di tengah malam ketika aungan serigala terdengar. Hujan begitu deras disahut oleh petir yanh menjalar menghantam. Angin yang begitu kencang membuat dirinya terbangun dari tidur pulasnya. Lilin sebagai penerang mati seketika dihempas angin. Ruangan itu begitu gelap. Sangat menakutkan. Apalagi petir yang menyambar dengan keras.
"Darchen!" panggil Celine ketakutan.
Dia tidak dapat melihat sekeliling. Ingin menghampiri Darchen di ruang baca, tapi ia tidak bisa berjalan karena sama sekali tidak melihat apapun dikarenakan gelap.
Celine mulai resah. Ia mulai membayang-bayangkan sesuatu yang menyeramkan berada di dekatnya. Ia berhalusinasi kalau ada setan di pundaknya. Bulu kuduknya berdiri karena pikiran sendiri.
"Darchen!" panggil Celine berulang. Suaranya tidak akan terdengar oleh Darchen karena rintihan hujan yang begitu kuat. Suaranya menggema di dalam ruangan dan tidak keluar sama sekali.
"Ih … seram sekali. Tidak ada yang bisa dengar. Kalau keluar dari sini, nanti ada hantu di loron," ucap Celine. Ia mulai meraba-raba sekitar mencari korek api untuk menyalakan lilin. Sayangnya tangan Celine tidak peka dengan sentuhan. Perban di tangannya menghalangi perasanya untuk meraba.
"Darchen!!!" teriak Celine dengan keras sampai suaranya benar-benar hampir habis.
Celine menunggu sampai ada sahutan atau tanda kalau Darchen mendengarnya. Bahkan Celine tidak mendengar kalau ada tanda-tanda keberadaan Darchen di kastil.
"Jangan-jangan dia meninggalkanku lagi?" resah Celine.
Tiba-tiba suara petir yang amat kencang seakan mencambuk telinga Celine. Ia terkejut sejadi-jadinya sampai jantungnya berpacu kuat. Ia dengan spontan menutup telinga dan bersembunyi di balik selimut sambil merengkuh tubuhnya.
Ia ketakutan sampai tidak ingin membuka mata melihat gelapnya dunia. Ia tidak sanggup membuka telinga mendengar jeritan yang begitu pedih. Ia tidak mampu menampakkan tubuhnya karena takut dilanda bahaya. Rasa takutnya begitu membunuh. Ia takut kalau sekarang ia sedang benar-benar sendiri.
Gemetar tubuhnya tidak bisa ditutupi. Dingin begitu menusuk hingga tulang. Kain tebal itu tidak memberinya kehangatan sama sekali. Kakinya sedingin bongkahan es yang beku. Tangannya membeku, dan wajahnya pucat pasih.
Dalam hidupnya ia tidak pernah merasakan kepedihan. Ternyata kesendirian adalah hal yang paling menakutkan. Tidak ada ketenangan dalam resah jika hanya seorang diri.
Setelah pasrah dengan keadaan, tiba-tiba dekapan hangat merangkul tubuhnya. Dibalut dengan selimut beku itu, ia seakan dipanasi matahari di pagi hari. Begitu hangat.
"Maaf karena terlambat," ucap Darchen dengan nada bergetar.
Celine langsung membuka kain tebal yang ia gunakan untuk menutupi tubuhnya. Ia mencium aroma tubuh Darchen yang begitu khas. Meski dia tidak bisa melihat wajah Darchen, tapi Celine merasakan kalau pangeran dingin itu berusaha memberi rasa aman padanya.
Celine memeluk Darchen dengan erat. Ia tidak sadar lagi siapa orang yang sedang ia dekap. Celine begitu takut sampai bibirnya tidak mampu menyahut Darchen.
Celine sama sekali tidak melepaskan Darchen sama sekali, hingga pria itu untuk bergerak pun susah. "Celine," sebut Darchen.
Namun Celine tidak menyahut sama sekali.
"Aku hidupkan lilinnya dulu," ucap Darchen lalu mencoba untuk berdiri.
Tapi Celine langsung menarik tubuh Darchen dan terus mendekapnya erat. Ia tidak membiarkan Darchen jauh darinya barang selangkah saja. Ia teramat takut tadi hingga menyebabkan trauma.
"Jangan tinggalkan aku," rintih Celine.