Padamnya Lilin Kastil

1713 Words
Tangannya yang tidak terbiasa memberi kenyamanan pada orang, terasa berat saat ingin menenangkan pikiran Celine. Ia berusaha mengangkat tangannya meski berat, lalu menepuk pundak Celine untuk mengurangi rasa cemas wanita tersebut. Ia mengelus-elus rambut panjang Celine sampai gemetar tubuh wanita itu berhenti. Celine melepaskan dekapan eratnya karena sudah merasa baikan. Ia tersadar dengan perbuatannya. Ia baru tahu kalau laki-laki yang memeluknya adalah Darchen. Seketika ia merasa canggung. Celine tidak tahu harus berbuat apa lagi. Wajahnya memerah karena malu. "Ekhem," deham Celine. Darchen menghidupkan lilin yang mati agar ruangan itu tidak gelap. Selain itu, lilin-lilin kecil yang ada di dalam kamar itu berguna untuk menghangatkan seisi ruangan. "Apa kau bisa tidur sendirian?" tanya Darchen. "Eh … aku … aku … bi-bisa," jawab Celine tersipu. Ia tidak berani memandangi wajah pangeran yang begitu menawan itu. Ditambah ia sangat malu karena sikapnya yang agresif tadi. Darchen kemudian pergi dari kamar itu meninggalkan Celine di sana sendirian. "Ya ampun tidak peka," celetuk Celine mengeluh. Padahal ia masih berharap agar Darchen menanami dirinya tidur malam itu, tapi pria yang dingin tanpa perasaan itu pergi begitu saja. Celine berdiri di depan lilin sekaligus menengadahkan tangan ke api yang menyala itu. Ia menatap pucuk api di lilin tersebut sambil merenung tidak jelas. "Lyn, sepertinya aku sudah melupakanmu. Sekarang aku jatuh cinta pada orang lain," ucap Celine. "Apa yang sedang kau gumamkan?" tanya Darchen yang tidak tahu kapan datangnya. Tiba-tiba saja dia masuk ke dalam tanpa diketahui oleh Celine. Bahkan langkah kaki ataupun pintu yang bergeser tidak didengar oleh Celine. "Ti-Tidak ada … kenapa kau ke sini lagi?" elak Celine. "Ini kamarku, haruskah aku meminta izin darimu?" "Hmmm, iya, tapi …." "Jangan berisik," perintah Darchen lalu duduk di kursi yang letaknya tidak jauh dari ranjang. Ia membalik buku tanpa menoleh ke arah Celine. Sementara Celine yang masih kebingungan hanya bisa terdiam melihat Darchen. Ia naik ke atas ranjang, lalu merebahkan tubuhnya di sana. Ia menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya hingga sehelai rambutnya tidak terlihat sama sekali. "Apa kau tidak tidur, Darchen?" tanya Celine dengan posisi wajah tertutup selimut. Ia berada di balik kain tebal itu dan tidak membukanya saat bertanya. "Kenapa?" Celine membuka selimutnya sehingga wajahnya terlihat. "Hanya penasaran saja," jelas Celine singkat. "Lebih baik kau tidur daripada mengurusi sesuatu yang bukan urusanmu," tukas Darchen tanpa menoleh ke arah Celine. Ia tetap membalik lembaran halaman tersebut tanpa terbesit sedikit pun untuk menatap Celine. Celine langsung menutup kain tebal itu lagi dan mencoba untuk memejamkan matanya. Meski matanya kini sedang tidak meminta tidur, namun ia memaksa. Karena ia tidak bisa lelap, akhirnya Celine menggunakan cara paling ampuh agar bisa tertidur lagi. Ia menghitung domba dimulai dari satu hingga ia tertidur. Cara itu diajarkan ayahnya dulu saat ia susah tertidur. Tidak jarang ia memakai tips ayahnya itu, dan memang manjur. "Satu domba, dua domba, tiga domba, empat domba." Ucap Celine berturut hingga seribu domba, tapi ia belum kunjung lelap. Celine terus mengucapkan mantra tidurnya sampai hitungannya mencapai seribu dua ratus. Darchen yang kebingungan mendengar suara wanita itu, mengira kalau Celine sedang mengucapkan mantra Tao. Ia mendekati Celine dengan langkah pelan dan mencoba mendengar suara Celine secara dekat. "Seribu dua ratus enam puluh domba." Mantra itu diucapkannya berulang. Karena tidak bisa tidur sama sekali bahkan sudah sampai hitungan ribuan domba, Celine membuka selimutnya lalu berdecak kesal," Aish …" Ia tidak sadar kalau Darchen sedang memperhatikan dirinya sejak tadi. Ia langsung menjegilkan matanya karena kaget, lalu melemparkan senyum pada pria tersebut. "Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Darchen dengan tangan yang disilangkan di atas ulu hatinya. "Hanya mantra supaya tidur saja," jawab Celine jujur. "Adakah mantra seperti itu?" Darchen keheranan. Ia belum pernah sama sekali mendengar kalau ada mantra tidur seperti yang diucapkan oleh Celine. "Tentu saja ada, ayahku yang mengajarkannya padaku," balas Celine sedikit mengotot. "Itu hanya tipu daya untuk anak-anak, kau sudah dewasa, tidak akan berhasil," timpal Darchen sepele. "Biasanya manjur," celetuk Celine. "Aku bisa membuatmu tertidur dengan mudah," kata Darchen, lalu mendekatkan wajahnya ke arah wajah Celine. "Umph … a-apa?" tanya Celine. "Membuatmu tidur selamanya," bisik Darchen menakut-nakuti. Celine langsung bangkit dari posisi tidurnya lalu mengambil bantal sebagai temeng perlindungan. Ia menyudutkan dirinya ke ujung tiang ranjang menjauh dari Darchen. Ia takut kalau Darchen yang berubah-ubah suasana hatinya, malah membunuhnya. Akhirnya ia menutupi diri dan mengelakkan pandangan dari mata Darchen. "Dua hari lagi, kau harus menemaniku pergi ks Bukit Teris. Ada sesuatu hal yang perlu diselidiki," perintah Darchen. "Kenapa harus aku? Aku tidak punya kekuatan apapun, pasti hanya jadi beban saja," jelas Celine dengan wajah yang masih ditutupi bantal. "Jangan banyak tanya, dengarkan saja perintahku," tegas Darchen. Ia kembali duduk ke kursinya dan melanjutkan kegiatannya, yaitu membaca. Celine dari sudut ranjang, diam-diam mengintip Darchen dari balik bantalnya. Ia teramat candu dengan wajah pria itu. Sangat mempesona hingga tidak pernah puas untuk terus memandanginya. Matanya tidak berkedip sama sekali karena ketampanan Darchen. Kulitnya yang putih mulus, matanya yang sahdu, hidung yang mancung, alis yang rapi dan tebal, bulu mata yang lentik, bibir yang merah dan ranum, ditambah jakunnya yang begitu menawan, membaut sosok Darchen terlihat sempurna. Pastinya akan sangat bahagia orang yang mendapatkan cinta dari Darchen. "Cih, otakku mulai rusak," rutuk Celine dalam benaknya sambil memukul kepalanya berulang. Dia kemudian pergi ke luar kamar menyegarkan pikirannya dan tidak ingin lagi bersama-sama dengan Darchen. Ia takut kalau perasaannya semakin dalam, tentunya hal itu menyulitkan dirinya sendiri. "Kemana kau?" tanya Darchen saat melihat Celine membuka gagang pintu. "Itu … hmmm, kamar mandi," jawabnya membual. "Pakai yang sana," tunjuk Darchen ke arah kamar mandi yang ada di ruangan itu juga. "Sekalian mengambil minum," elak Celine lagi. "Terserah," ketus Darchen tidak peduli. Ia tahu kalau wanita itu sedang berbohong. Baru saja keluar dari kamar itu, Celine langsung masuk ke dalam lagi lalu menutup pintu dengan keras. Ia terlihat panik. Dengan ekspresi ketakutan, ia menyandarkan dirinya di pintu sambil menarik nafas dalam-dalam. "Di luar … huft … di luar … sangat … gelap," desis Celine dengan nafas terengah-engah. "Mati tertiup angin," ucap Darchen datar. "Kenapa tidak bilang?" "Kau tidak tanya," balas Darchen. "Aish … aku hampir pingsan karena di luar gelap sekali," ungkap Celine menceritakan ketakutannya. "Oh," respon Darchen cuek. Batin Celine merutuki Darchen yang tidak memberikannya sama sekali respon. Padahal ia sudah bergarap mendapat perhatian dari Darchen, tapi malah diperlakukan acuh begitu. Celine dengan hentakan kaki kencang naik ke atas ranjang. Kemdian ia dengan kesalnya membungkus diri kembali, berusaha agar bisa terlelap. Sementara kabar Darchen membawa Celine ke kastilnya, telah sampai di telinga Ratu Sibenth. Ratu pencinta anak itu mendapatkan informasi dari Genah. "Dimana Celine? Sudah tengah malam begini ia tidak kunjung pulang, padahal aku menunggu dirinya dari tadi," tanya Ratu Sibenth pada Genah. "Maaf, Yang Mulia, Nona Celine dibawa pangeran Darchen tadi," jawab Genah bersengaja. Genah yakin kalau dengan mengatakan hal itu pada Ratu Sibenth, Celine akan semakin disayang dan diberi perlindungan dari Kerajaan Athiam. Tentu saja akan sangat menguntungkan bagi majikannya tersebut. "Oh Dewa, ini merupakan hal terbaik yang pernah kudengar," puji Ratu Sibenth dengan wajah syukur teramat. Ia begitu senang mendengar kalau anaknya yang telah mati rasa itu kini sudah membuka hati, dan berinisiatif membawa gadis lain pergi bersamanya. "Hamba turut senang mendengarnya, Yang Mulia," jawab Genah. "Sebentar lagi akan ada festival Hyros, sampaikan pada Celine kalau dia wajib ikut," perintah Ratu Sibenth. "Baik, Yang Mulia. Akan hamba sampaikan," balas Genah sambil menunduk. "Dia harus berpenampilan menarik agar Darchen hanya memandangi Celine," usul Ratu Sibenth tidak sabaran. "Maaf, Yang Mulia, bukankah Pangeran Darchen memang tidak tertarik melirik wanita," timpal Genah menyadarkan. "Hahaha … iya, aku baru ingat. Tapi sekarang dia sudah punya Celine, tentu saja dia akan memperhatikan Celine seorang," simpul Ratu Sibenth sambil tersenyum. Ratu Sibenth dengan hati yang dilanda hujan bunga, dengan senyum bahagia pergi meninggalkan kamar Celine. Ia kembali ke persinggahannya untuk tidur dengan jiwa yang tenang karena anaknya telah siuman dari luka lama. Akhirnya anaknya yang terjebak masa lalu itu, telah membuka lembaran baru. "Aku tidak sabar menimang seorang cucu," celetuk Ratu Sibenth. *** Denting rintihan hujan yang telah padam, membasahi dedaunan kering di luar halaman kastil. Sepoi angin menderu menerbangkan reruntuhan daun hingga bertebaran menutupi jalan. Kaki Celine menginjak gundukan daun itu sambil merenggangkan kedua tangannya. "Hua!" Celine menguap lebar. "Selamat pagi dunia palsu, semoga kalian tidak murka dengan kedatanganku di dunia kalian ini," celetuk Celine bergurau. Ia menghirup udara segar di hutan itu dengan perasaan lega karena badai telah selesai. Celine kembali masuk ke dalam berniat untuk membersihkan dirinya dari bau tak sedap yang mencuat dari tubuhnya. Kemudian setelahnya, ia pergi ke dapur untuk memasak beberapa masakan untuk dimakan. Celine berdendang dikala tangannya sibuk mengaduk kari ayam. Ia dengan hati riang gembiranya mengerjakan tugasnya. Sampai tidak sadar kalau ada Darchen di belakangnya. "Apa yang kau buat ini?" tanya Darchen. Celine langsung tersentak ketika mendengar suara itu. Jarak begitu dekat hingga nafasnya tidak bisa dikontrol. Dia gugup seketika dan tidak tahu harus berbuat apa. Hingga sendok yang ia pegang jatuh ke lantai sebab tubuhnya terlalu terkejut. "Ya ampun," ucapnya sambil mengambil sendok dari lantai. "Aku sedang memasak," jawab Celine. "Aku tidak buta," sergah Darchen dengan mata datar. "Hehe … kuberi tahu namanya pun kau tidak akan tahu, masakan ini khas duniaku," ujar Celine menyepelekan. "Katakan," desak Darchen. "Bubur ayam," jawabnya dengan nada yang semakin lama semakin rendah. "Cih, khas dunia. Di sini juga ada masakan seperti ini," sangkal Darchen. "Benarkah? Tapi aku tidak pernah lihat," sambung Celine tidak yakin. "Terserah," timpal Darchen tidak peduli. Darchen menarik bangku dari meja makan lalu duduk di sana. Ia dengan muka masamnya memperhatikan Celine dari kejauhan. Hingga membuat Celine tidak leluasa dalam bergerak. Wanita itu jadi teratur dalam mengerjakan masakannya dan tidak berani bersenandung lagi. "Kenapa kau melihatku begitu?" tanya Celine yang sudah tidak tahan lagi karena terus ditatap. "Hmmm? Aku? Melihatmu?" "Iya, aku tidak merasa diawasi," ungkap Celine. "Cih, terlalu percaya diri," ejek Darchen mematahkan pendapat Celine. Padahal jelas-jelas Darchen memandangi Celine. Namun ia dengan model arogannya tidak jujur dan menyangkal fakta kebenaran. "Aish …," decak Celine. Akhirnya Celine tidak memperdebatkan hal itu lagi dan kembali fokus pada masakannya. Ia berusaha agar tidak terusik dengan tatapan Darchen. Walaupun pangeran itu tidak mengakuinya, tapi ia yakin kalau Darchen sedang memperhatikan dirinya. Celine cepat-cepat menyelesaikan masakannya dan menuangkannya di dalam wadah. Ia dengan langkah pelan dan ragu, membawakannya pada Darchen. "Semoga kau suka," ucap Celine sambil meletakkan piring berisi bubur ayam itu pada Darchen.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD