Hari Kematian

2006 Words
Darchen dengan terpaksa mengatakan pada Dyroth agar melepaskan Genah, dan akan menyerahkan Celine padanya. Meski begitu, Darchen telah mempertimbangkan segalanya sampai-sampai bisa memutuskan untuk melepaskan Celine dari genggamannya. Terlihat kejam, namun hanya itu yang bisa dilakukan Darchen agar segalanya tetap berada di rotasi yang tepat. "Pangeran, jangan biarkan Nona Celine berada di sini. Hamba ikhlas jika harus mati demi kalian," ucap Genah. "Genah! Jangan terlalu bodoh! Aku tidak akan bisa memaafkan diriku jika kau mati karena berkorban!!" teriak Celine. Meski Genah hanya samar-samar mendengar teriakan Celine, tetapi Genah hanya bisa terdiam. Genah melihat kalau Darchen sudah pasarah dengan keadaan. Terlihat jika pangeran tersebut serius dengan keputusannya. Tidak seperti biasanya, dia bijak dan bisa mengatasi segala hal, tapi Darchen tampak ragu dan menyerah. Genah tahu hal itu disebabkan karena lawan yang begitu kuat, sehingga Darchen harus bertindak hati-hati dan memilih jalan yang aman agar segalanya tidak rusak oleh keputusannya apabila gegabah. Genah mengeluarkan magisnya kemudian menusuk ke arah perut Dyroth. Sebelumnya dia menepiskan tangan Dyroth dari jangkauannya lalu menusuk Dyroth. Tapi pria itu dengan cepat menghindar. Meski Celine sangat cepat dalam meloloskan diri, Genah kalah lihai dibandingkan Dyroth. Pemimpin Yumiro itu langsung membalas serangan Genah. Tangan pria itu mencekik leher Genah lalu memasukkan racun yang apabila terjadi sentuhan dari tangannya ke kulit lawan dapat menghancurkan tubuh orang tersebut. Sialnya tangan Dyroth menyentuh bagian perut Genah. Tiba-tiba saja terdapat bolongan di bagian sentuhan tersebut. Darah bertumpahan, dan bagian dalam dari tubuh Genah terllihat sedikit karena daging yang terbuka hingga bagian dalam. "Argh!" rengis Genah kesakitan. "Genah!!!" Tidak sampai di situ saja, Dyroth juga memasukkan tangannya ke arah jantung Genah, lalu dia menarik organ dalam milik Genah, dan membuangnya di atas lantai. Seolah dia sedang menarik benda tidak berharga sama sekali. "Genah!!!" teriak Celine histeris. Genah terjatuh lemah di atas tanah dengan darah yang bersimbah di sekitarnya. Matanya tertutup rapat dan tidak bisa dibuka untuk selamanya. Jantung dan orang vitalnya telah dicabut oleh Dyroth. Orang yang dianggap berharga oleh Celine secara tidak disangka berakhir dengan kondisi mengenaskan. Cerita dari Genah berakhir sampai di pulau Yumiro itu saja. Dengan terpaksa mereka harus melihat kejadian menyakitkan. Celine belum percaya dengan kematian Genah. Dia tidak bisa berpikir sama sekali. Terlalu mudah Genah pergi untuk selamanya. Semua yang terjadi seperti mimpi. Celine menutup matanya mencoba bangkit dari tidurnya. Dia memukul wajahnya berkali-kali memastikan rasa sakit yang dia rasakan. Namun dia menjerit. Dia bisa merasakan pukulan tersebut. Segalanya adalah sebuah kenyataan. Genah tidak bergerak sama sekali. Dia tersungkur lemah di atas lantai tanpa nafas kini. Genah yang hebat itu telah tiada. "Genah?" Celine mendekat dengan langkah tidak teratur. Dia dengan ketidakpercayaan atas segalanya berjalan ke arah Genah tersungkur. Mata Celine tidak berkedip sama sekali, namun memerah karena air mata yang dia tahan. Celine bersimpuh di depan Genah. Dia menyentuh wajah Genah dengan perasaan hancur sejadi-jadinya. Dia masih belum menyangka. Dia tidak percaya jika Genah benar mati. Celine terus memanggil nama Genah, dan membangunkan wanita itu dari matinya. Celine seperti orang gila yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa Genah telah mati. Dia bertindak seolah tidak percaya, walau sebenarnya Celine tahu jika Genah sudah tiada, tapi dia terus berpura-pura bodoh karena berharap jika Genah hidup kembali. "Genah … Genah … Genah." Berkali-kali Celine memanggil Genah. Suaranya yang lirih bergetar itu terdengar menyedihkan dan dipenuhi rasa sakit. Celine mengelus wajah Genah, berharap agar wanita itu menyahut dirinya. Namun tidak ada jawaban sama sekali. Jangankan bersuara, bahkan mata Genah tidak terbuka sama sekali. Air mata Celine satu persatu keluar. Dia menangis karena kehilangan meski sudah dipaksanya agar tidak mengalir. "Dia tidak mati, bukan? Dia hanya seperti ini untuk sementara? Benarkan, Darchen?" Darchen yang murka dengan kematian Genah, langsung mendorong Dyroth dengan sihirnya, sampai tubuh Dyroth terlempar jauh dan merusak banyak guci kaca. "Genah!!!" Suara Celine menggema dengan keras. Jeritan itu terdengar menderita. Bahkan sampai pita suaranya hampir putus karena rasa putus asa yang dia alami. Celine menatap jasad Genah dengan isak tangis tidak rela kehilangan wanita itu. Dia menggoyangkan badan Genah, tapi tidak ada yang berubah, Genah tetap mati dan tidak sadarkan diri. Celine sangat tidak menyangka dengan segalanya, namun semua terjadi tepat di depannya. Percaya tidak percaya tapi kenyataannya begitu menyakitkan. "Bangun Genah! Bangun! Genah! Kau tidak boleh berhenti bernafas. Kau harus hidup! Genah! Genah!" Air mata terus bercucuran dari mata Genah. Dia putus asa dan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dia melihat luka di tubuh Genah sungguh parah. Bahkan kulitnya melepuh karena luka bekas serangan Dyroth. Celine memeluk tubuh Genah lalu menciumi mata wanita itu berharap agar kembali hidup lagi. Dia menjadi orang paling menderita saat melihat Genah mati di depannya. Semua terjadi karenanya. Kematian Genah adalah kesalahan darinya. "Mengapa kau meninggalkanku, Genah? Kenapa?!! Bangun kau!! Aku tidak mengizinkan kau mati!!" Celine terus-menerus berteriak histeris tidak bisa menerima kematian Genah. Celine mengingat kebengisan Dyroth dalam menyakiti Genah. Dia teramat benci bahkan sampai membunuh Dyroth adalah tujuannya. Dia harus membalaskan perbuatan Dyroth sebab tidak bisa terima dengan kematian Genah akibat Dyroth. Dia mengepal tangannya lalu menatap ke arah Dyroth. Emosinya naik seketika. Hasrat ingin menghabisi Dyroth sudah bulat. Matanya yang memerah karena air mata tiba-tiba berubah tajam karena tidak rela. Celine berdiri, membusungkan d4d4nya lalu menatap Dyroth yang tengah kewalahan mengatasi Darchen. Mata Celine berubah sinis tajam dan memerah. Urat pada bagian pelipisnya tanpak jelas. Aura berbeda terpancar dari tubuh Celine. Tanpa sadar bayangan hitam yang entah dari mana datangnya itu, tiba-tiba mendekat ke arah Dyroth. Kemudian menahan dirinya seolah mengikat tubuhnya kuat, sampai dia tidak bisa menggerakkan badannya. Kemudian secara singkat dan cepat Celine dengan wajah yang telah berubah yang semula lemah terlihat menjadi ganas. Dia memancarkan aura negatif dadi tubuhnya. Seolah telah dipenuhi kebencian, sampai hanya ada aura gelap saja menyelimuti dirinya. Celine dengan tenaga kuat memegang kerah baju Dyroth, lalu mencekiknya sesuai dengan yang diperlakukan Dyroth pada Genah. Celine mencekik hingga pria itu kewalahan. Hendak menepiskan Celine, tapi Dyroth tidak tega melakukannya. Dia bisa saja menyingkir Celine dalam jetikan jari, tapi dia tidak bisa melakukannya, karena orang yang menyentuh dirinya adalah Celine. Akhirnya Dyroth tetap diam tidak melawan sama sekali. "Kembalikan Genah padaku!" Perintah Celine. Matanya tidak berkedip sama sekali dan terus mempelototi Dyroth dengan kebencian. Dyroth sudah tahu apa yang terjadi pada tubuh Celine. Aura dan urat di pelipisnya muncul akibat emosi tak terkendali. Dia paham jika yang mengontrol dirinya adalah magis di dalam tubuh Celine, tapi bukan dirinya yang sejati. "Dia telah mati, tidak akan hidup lagi," jawab Dyroth. Mendengar perkataan Dyroth, membuat Celine murka. Dia menghempas tubuh Dyroth dengan keras. Lalu dia menarik kembali lalu mencekiknya lagi. Dia menyerap magis milik Dyroth, hingga pria itu sampai kehabisan tenaga. "Magis Celine terlalu kuat menyerap sihirku," decak Dyroth dalam hati. Dia tidak menyangka jika magisnya banyak terserap oleh Celine. Padahal dia awalnya hanya mengira kalau Celine bukanlah sesuatu yang harus dikhawatirkan, ternyata wanita itu pula yang lebih berbahaya bagi dirinya. Ditambah Darchen yang terus menerus menyerangnya, membuat Dyroth susah memulihkan kondisi tubuhnya yang melemah. Dia harus bertahan sekaligus memperbaiki kualitas magisnya. Mustahil jika dia terus melakukan hal tersebut. Terlalu berisiko. Belum lagi karena banyak Yumiro yang mati karena peperangan, membuat kemenangan hanyalah omong kosong baginya. Dia memutuskan untuk undur dari perang bersembunyi karena tidak ada persiapan lainnya. Lalu membuat penyerangan lainnya beberapa tahun yang akan datang, setelah segalanya telah matang . Untuk saat ini Dyroth tidak bisa melakukan banyak hal berat, sebab dia baru saja pulih, hingga kekuatannya belum seutuhnya pulih. Dia mengangkat tangannya, seolah sedang membuat sebuah portal untuk lari dari dunia tersebut. Cahaya dari arah langit turun dan tepat berada di bawah Dyroth. Seketika lingkaran putih dengan lanbang indah memutar di perpijakan Dyroth. Tiba-tiba Dyroth menghilang seiring dengan hilangnya lingkaran cahaya tersebut. Baru saja Celine siap untuk menghabisi nyawa Dyroth, tapi pria itu menghilang. Dia telah kabur dari pertumpahan darah tersebut. Saat Dyroth telah pergi dari hadapan mereka, tiba-tiba langit yang gelap menjadi terang seketika. Burung yang berhenti berkicau, kembali bersuara menyanyikan lagu indah bagi umat manusia. "Darchen," ucap Celine dengan isak tangis. Dia terjatuh dari kakinya yang tidak sanggup lagi menopang tubuhnya. Dia syok dengan segala yang telah terjadi. Dimulai dari pengkhianatan Dyroth padanya, sampai kematian Genah, membuat dia tidak bisa menenangkan diri. Pikirannya terbebani sampai-sampai menatap dunia dia tidak sanggup. "Celine." Dengan panik Darchen langsung membantu Celine tetap tegar. "Genah … dia … dia meninggalkan aku selamanya. Bisakah … bisakah kau menghidupkan dia lagi?" Celine memeluk tubuh Darchen karena tidak tahu garus menyandarkan masalahnya pada siapa lagi. "Celine … semuanya berakhir. Kita sudah terbebas dari Yumiro. Mereka musnah," jawab Darchen. Celine meneteskan air matanya. Tanpa suara tangisan sama sekali, air mata tersebut mengalir tiada henti. "Darchen … apakah Genah benar-benar sudah mati?" "Ya," jawab Darchen mengangguk. Celine yang tidak kuasa mendengar jawab Darchen meremas tangannya karena kerelaan yang dipaksakan. Dia memegang erat tubuh Darchen. Gemetar tubuhnya dirasakan oleh Darchen. Meski tidak banyak yang bisa dilakukan oleh Darchen, tapi kenyataannya memang menyakitkan. Genah telah pergi untuk selamanya menghilang dari dunia. Banyak sekali pengabdian dari wanita itu, bahkan kematiannya adalah suatu kegagalan bagi kerajaan Athiam, sebab kehilangan emas seperti Genah adalah kerugian besar bagi istana. Namun apa yang harus dikata. Memang takdir telah merenggut segalanya. Genah telah tercatat sebagai seorang yang hanya mengabdi sampai di hari itu saja. "Menangislah," ucap Darchen. Celine yang tidak sanggup berdiri bahkan membuka mata membayangkan wajah Genah, hanya bisa memeluk Darchen berharap kepedihan itu dapat dia bagi dengan Darchen. Dia yang awalnya menahan tangis, kemudian mengeluarkan seluruh kesedihannya. Dia menangis tersedu-sedu sambil menyebut nama Genah berulang kali. "Dia terus menghiburku, dia menyelamatkan aku, dia membantuku. Dia bukan siapa-siapa, tapi kenapa dia berkorban banyak untukku? Kenapa? Kenapa?" Celine tidak rela saat kematian Genah terjadi. Dia merasa kalau takdir tidak adil bagi mereka. Mengapa secepat itu Genah direnggut? Padahal masih banyak cara lain saat mengambil nyawa Genah. Setidaknya lebih layak dan tidak sekejam yang terjadi sebenarnya. "Aku tidak pernah berlaku baik padanya, namun dia selalu ada untukku. Kenapa harus Genah? Kenapa harus Genah?" "Kita harus kembali," ucap Darchen. Dia menggendong Celine keluar dari istana tersebut. Dia tidak ingin jika Celine terus berlarut-larut dalam kesedihannya. Untuk itu Darchen membawa Celine ke Istana Athiam langsung agar bisa membuat wanita tersebut tenang hatinya. "Pangeran Darchen," panggil Dion. Mereka telah merayakan kemenangan bersama oara prajurit yang masih hidup. Bersorak ria mengabarkan kebahagiaan yang tidak terganti. "Ada apa dengan Celine?" tanya Dion saat melihat Celine menangis tidak henti-hentinya. "Urus jasad yang ada di dalam," jawab Darchen. "Bukankah hanya Anda yang ada di sana, Pangeran?" "Aku akan kembali ke istana lebih dahulu," balas Celine Darchen membawa Celine ke istana Athiam. Lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang tempat tidurnya. Dia tidak meletakkan Celine di kamarnya agar dia tidak terlalu teringat dengan Genah. "Darchen … jangan pernah tinggalkan aku," ucap Celine saat Darchen menurunkan tubuhnya ke atas ranjang. "Tidak akan," jawab Darchen. Sembari menunggu perintah dari Darchen, Dion memutuskan untuk menyatukan pasukan dan pemimpinnya pada Negeri Seberang. Seharusnya Darchen dan Pangeran dari Negeri seberang adalah pemimpinnya. Namun karena dia tahu bahwa Celine dalam bahaya, akhirnya dia menutup pemerintah dari Pangeran Darchen. Lalu kemudian memberinya pada Pangeran dari Negeri Sebarang. "Hidup Negeri Athiam, hidup Negeri Seberang!" teriak Pangeran dari Negeri Seberang tersebut. Lalu serentak seluruh pasukan bersorak ria membalas takbir dari Pangeran Negeri Seberang. Sebagian mereka diperintahkan untuk mengkremasi setiap korban jiwa, menunggu bantuan dari istana. Lalu sebagian lagi diperintahkan untuk menyampaikan kabar pada Raja Erogha dan Sendas atas kemenangan mereka. Sementara Celine yang tidak membiarkan Darchen melangkah pergi darinya hanya bisa terus menangis menyesali perbuatannya yang bodoh. Andai saja dia tidak pergi ke taman bersama Dyroth, mungkin nyawa Genah tidak akan melayang. Dia menginginkan upacara kematian spesial bagi Genah. Dia terus berumpat entah untuk siapa. Dia terus menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Genah. Sebab karena dirinyalah Genah sampai kehilangan nyawa, dan mendapatkan kematian tidak layak. Meski dia tidak menyangka jika Genah tidak ada lagi di hidupnya, tapi dia tidak bisa hanya berhenti dalam kesedihan. Dia tahu pasti Genah semakin sedih jika melihat Celine terus meratapi kematiannya. Celine bersumpah akan terus mengenang Genah seumur hidupnya bahkan meski dia telah pindah dari dunia sekalipun. Dia akan terus mendoakan Genah agar selalu bahagia. Meski mereka tidak bersama lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD