Semua Akan Pergi

2039 Words
Celine memegang Darchen tidak membiarkan pria itu pergi darinya. Dia terus menarik tangan Darchen saat pangeran itu bergerak. Dia bahkan terlalu cemas saat Darchen berniat pergi dari dirinya. Hanya meninggalkan sebentar saja, Celine tidak mengizinkan. "Kau tidak boleh pergi," ucap Celine. Dia memeluk Darchen dan tidak membiarkan pangeran tersebut jauh dari dirinya. Darchen yang simpati melihat Celine menderita, terpaksa harus menenangkan hati wanita itu terlebih dahulu. Dia mengerti perasaan Celine yang tengah hancur karena kehilangan Genah. Bahkan dia sendiri pun tidak menyangka bahwa Genah akan secepat itu perginya. Darchen terus mengelus kepala Celine sampai wanita itu berhenti tangisnya. Meski air matanya telah padam, namun pikirannya terus memikirkan Genah. Matanya terlihat kosong akibat tangis yang membuat kedua kelopak matanya membengkak. Bahkan suaranya menjadi serak akibat tangis tiada henti. Pakaian Celine yang terbuka itu, kemudian ditutupi Darchen dengan kain agar cuaca dingin di hari itu tidak menambah kesedihan dirinya. Dia berkeringat meski cuaca sangat dingin. "Beristirahatlah, aku akan tetap di sini," kata Darchen. Dia membantu Celine membaringkan badannya. Saat Darchen berniat berdiri untuk membasuh tubuhnya yang berlumuran darah sekaligus mengganti pakaiannya, Celine langsung memegang tangan Darchen. Dia menatap Darchen dengan mata menyedihkan itu. "Jangan pergi," tahan Celine. "Tidak," balas Darchen. Kemudian Darchen duduk kembali. Dia mengelus rambut Celine sampai wanita itu memejamkan matanya. Menunggu sampai dia terpejam lalu kemudian pergi membersihkan diri dari darah nkotor saat perang tadi. Ketika mata Celine terlihat terpejam, Darchen langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia melepas baju yang perang yang dia pakai, lalu kemudian pergi ke aula besar Kerajaan Athiam untuk menjelaskan kejadian sebelumnya. Dia juga perlu memberikan laporan pada setiap raja. "Celine," panggil Darchen dengan suara pelan. Dia sedang mencoba memastikan wanita itu benar tidur atau tidak. Sebab jika Darchen meninggalkan Celine dalam keadaan sadar, dia takut jika sampai wanita histeris saat mengingat Genah. Untuk itu dia harus benar-benar memastikan Celine benar tidur atau tidak. Tidak ada sahutan, bahkan mata Celine terus terpejam. Artinya Celine benar-benar sudah terlelap. Setelah memastikannya, dia kemudian pergi ke aula besar untuk melaporkan segala yang terjadi pada Raja Erogha. Pintu kamar Darchen tertutup rapat. Tidak ada cahaya bantuan yang menerangi ruangan itu. Celine yang sebenarnya tidak tidur sama sekali kemudian membuka matanya. Dia berdiri lalu menghidupkan lampu berwarna kuning redup itu. Lalu dia membuka jendela kamar agar udara segar masuk ke dalam ruangan. "Genah, maafkan aku. Karena aku, nyawamu melayang. Maafkan aku," ucap Celine terus meminta maaf. Dia meneteskan air mata tanpa henti. Meski sudah dipaksanya agar tidak keluar, tapi tetap saja air mata itu mengalir membasahi pipinya. Seolah dia tidak bisa menghentikan pikirannya dari Genah. Banyak sekali kenangan bersama Genah. Awal mereka bertemu sampai hari terkahir mereka bersama, tidak ada kesan buruk yang diperbuat Genah padanya. Bahkan sehari sebelum mereka berpisah, Genah mencarikan jalan pulang bagi Celine. Sungguh mulia wanita itu, hingga Pencipta mengajaknya untuk tinggal bersama. Celine yang sedih itu hanya bisa berharap jika Genah ditempatkan di sisi sang Pencipta. Dia berdoa agar Genah menjadi bagian dari hiasan surga di langit. Celine hanya bisa menangis mengingat segala memori kenangan saat bersama Genah. Hari-harinya yang suram terus ditemani oleh Genah. Bahkan sampai kesedihannya hilang, Genah terus bersama dengan dirinya. Orang pertama yang mengkhawatirkan dirinya adalah Genah. Tidak ada yang sesempurna Genah bagi Celine, tapi ternyata Pencipta berkehendak lain. "Apa mungkin semua yang ada di sini akan meninggalkan aku juga?" Entah mengapa Celine merasa kalau dirinya telah dikutuk. Dia terus kehilangan orang-orang yang dia sayangi. Mulai dari ayahnya yang meninggalkan dia, kini Genah. Semua yang dia sayangi juga menghilang dari hidupnya. Pamannya dan juga Lyn. Celine menjadi sedikit menutup dirinya dari orang lain. Dia merasa kalau orang yang dia sayangi akan terus pergi dari hidupnya. Bagaimanapun caranya dalam menjaga orang tersebut, ujung-ujungnya jyga akan tetap meninggalkan Celine. Sudah malam, Celine masih tetap di dalam kamar terkurung. Dia tidak bisa keluar dari sana karena Darchen meletakkan segel di sekitar kamar. Langkah kaki terdengar mendekati kamar Darchen. Dia membuka pintu itu dengan berlari. "Darchen!" teriak Celine girang sambil membuka pintu. Ketika dia membuka pintu, wajah yang dia lihat bukanlah Darchen melainkan Erica. Putri busuk itu berdiri di sana dengan muka keheranan. Erica tidak menyangka jika Celine bisa berada di dalam kamar Darchen. Tidak ada yang berani memasuki kamar Darchen, bahkan Ratu Sibenth tidak berani melakukannya. Namun dia melihat Celine berada di bagian dalam kamar Darchen. Sungguh membuat dia terkejut sekaligus iri. "Celine?" Saat melihat wajah Erica, Celine langsung mendeham malas melihat wanita itu. Dia malas meladeni Erica karena memang hari ini dia tidak berselera meladeni orang heboh seperti Erica. Dia masih berduka atas kepergian Genah. "Kenapa kau bisa ada di dalam?" tanya Erica keheranan. "Bukan urusanmu!" jawab Celine judes. Dia langsung memutar bola matanya tajam menjauhi arah Erica. "Keluar dari sana!" amuk Erica. Ketika dia mencoba menarik tangan Celine, tiba-tiba saja dia terpental. Dia tidak bisa masuk ke dalam kamar tersebut. Dia baru tahu kalau di sekitar ruangan itu telah di batasi Darchen dengan energi magis. Hingga hanya Darchen sendiri yang bisa masuk ke dalam sana. Lalu Celine bisa masuk tanpa ada Darchen di dalamnya. Bahkan magis itu lebih kuat membatasi ruangan tersebut. Tidak seperti biasanya. Hari-hari lain magis itu tidak sekuat sekarang. "Keluar dari sana!" teriak Erica tidak rela jika Celine berada di kamar Darchen. Hatinya tidak tenang bahkan ingin mencabik-cabik Celine karena rasa cemburunya. "Aku malas sekali meladeni orang sepertimu. Pergi dari sini dan jangan ganggu Darchen. Dia milikku. Kau sebaiknya jaga jarak darinya," jelas Celine. "Apa?! Dasar j*lang!" hina Erica murka. Dia tidak bisa menahan dirinya lagi. Rasa ingin menjambak rambut Celine meningkat. Dia benci sekali dengan sikap Celine yang sok dicintai oleh Darchen. Baginya hanya dialah yang pantas berada di sisi Darchen. Tidak ada orang lain selain dirinya. Bahkan meski Darchen tidak menyukai dirinya, tapi Erica akan memaksakan apapun sampai Darchen menjadi miliknya. "Hus hus … jangan di depan sana. Kau membawa polusi," ejek Celine. Dia mengusir Erica dari depan pintu tersebut. Lalu dia menutup pintu langsung setelah mengatakan hal menyakitkan itu pada Erica. Sementara Erica yang tidak terima dengan perlakuan Celine padanya, langsung menggedor-gedor pintu kamar Darchen, berteriak keras memanggil Celine. Dia memaksa wanita itu agar keluar dari kamar, dan kemudian bisa dia cabik mulut Celine yang sudah menghina dirinya. "Berisik sekali," decak Celine. Dia duduk di atas papan jendela. Dia menikmati hembusan angin sambil menunggu Darchen datang. Waktu sudah berlalu, tapi Darchen belum juga datang. Bahkan dia sudah lelah menunggu pangeran itu, namun tidak juga datang. Celine kembali ke ranjang. Dia ingin mengganti pakaiannya, tetapi keluar dari kamar itu dia tidak bisa. Dia juga ingin membersihkan dirinya, tapi dia tidak memiliki pakaian ganti. Akhirnya Celine hanya bisa duduk diam lalu tidur. Namun karena bau badan yang terpancar dari tubuhnya amat menyengat, akhirnya Celine memutuskan untuk mandi agar badannya bersih. Dia masuk ke dalam kamar mandi, kemudian menyiramkan air ke tubuhnya. Dia mulai menggosok badannya dengan sabun. Menumpahkan pewangi ke dalam air agar tubuhnya menjadi wangi. Setelah selesai dia membuka lemari pakaian Darchen. Mengambil pakaian lain dari sana. "Yang mana, yah?" Di dalam lemari semuanya seukuran dengan Darchen. Tidak ada yang pas di tubuh Celine. Bahkan celana yang tergantung di sana sangat besar. Pinggang yang terlalu lebar, panjang celana yang menimbun dirinya. Tidak ada yang bisa dia pakai. Akhirnya Celine melihat ke lemari baju. Dia membuka pintu penutup lemarinya untuk memeriksa sesuatu yang bisa dia kenakan. "Nah, ini," decak Celine. Baju kaus berwarna putih tergantung di lemari. Celine langsung mengambil dan memakainya. Ukurannya sangat besar namun tetap lebih layak dibanding dengan pakaian lainnya. Ukuran tangan baju yang sampai di ujung lengan Celine, panjang baju yang sampai di paha Celine. Teramat besar sampai dia terbenam saat memakai pakaian tersebut. Namun ada untungnya pula, dia tidak perlu memakai celana lagi karena pahanya tertutupi oleh baju tersebut. Celine membaringkan tubuhnya kemudian. Sebab menunggu sampai Darchen datang pun tidak ada gunanya. Pria itu tidak akan datang. Celine sudah sangat lapar, tapi dia tidak bisa keluar dari kamar tersebut. Darchen tidak menyiapkan makanan untuknya. Teriak perutnya saling bersahutan. Namun Celine tidak bisa mengganjal perutnya. Tidak ada sesuatu yang bisa dia konsumsi. Hanya ada air putih di sana. Celine terus meminum air ketika perutnya lapar, agat dia tidak terlalu lemah karena kekurangan karbohidrat. Tok- tok- tok! Ketukan pintu terdengar dari luar. Celine langsung membuka pintu tersebut berharap Darchen datang ke sana. "Darchen!" teriak Celine girang. Ternyata orang yang mengetuk pintu itu adalah Darchen. Dengan tangan mambwa makanan, dia tersenyum ke arah Celine. "Apa kau lapar?" tanya Darchen. "Hmmm," angguk Celine. Celine langsung mengambil wadah itu dari tangan Darchen lalu meletakkannya di atas meja. Dia melahapnya satu persatu tanpa meninggalkan sisa di atasnya. Dia terlalu lapar karena dari pagi hari dia sama sekali tidak makan. Perutnya disiksa habis-habisan oleh Darchen. Tidak tahu disengaja atau tidak, tetapi Celine hampir mati kepalaran karena dikurung oleh Darchen. "Baju siapa yang kau kenakan?" tanya Darchen keheranan. "Bajumu. Aku tidak bisa mengambil pakaianku," jelas Celine. "Cantik sekali," puji Darchen. Dia terpanah dengan Celine saat memakai pakaiannya itu. Terlihat manis dan menggoda. D4d4nya yang rata, kakinya yang kecil, dan tingkahnya yang sembrono, membuat Darchen melihat sesuatu yang berbeda dari Celine. Dia teramat spesial sampai wanita lainnya tidak bisa menyamai Celine. Darchen menjelaskan pada Celine alasannya datang lama. Dia bercerita pada Celine tentang segalanya. Dimulai dari rapat besar atas kemenangan mereka sampai selesai melakukan kremasi jenazah seluruh insan yang mati di medan perang. "Bagaimana dengan Genah?" tanya Celine. "Dia telah dikremasi," jawab Darchen. "Mengapa kau tidak katakan padaku? Aku ingin melihat dia untuk terkahir kalinya," rungut Celine kesal. Dia ingin melihat Genah untuk terakhir kalinya, tetapi dia tidak bisa menghadiri acara pemakaman Genah. "Apa kau sanggup melihatnya?" Tanya Darchen. Celine menunduk." Hmmm." Celine memang tidak akan kuasa saat melihat jasad Genah. Dia pasti tidak akan sanggup melihat Genah dikubur. "Aku harap Genah bahagia selalu, dimanapun berada," ucap Celine. "Ya," jawab Darchen sepaham dengan Celine. " Kemarilah!" panggil Darchen. Celine mendekat ke arah Darchen. Dia duduk di samping Darchen. Darchen kemudian memeluk Celine sambil mencium kening wanita itu. Dia mengelus rambut Celine berulang lalu tersenyum memandang wajah Celine. "Apa kau masih sanggup hidup di dunia ini?" tanya Darchen. "Entahlah," jawab Celine. "Jika kau ingin pergi dari sini, katakan padaku. Aku akan membantumu untuk pulang ke asalmu," sambung Darchen. Celine membalas pelukan Darchen. Dia memegang wajah Darchen. Tangannya yang dingin itu menyentuh kedua pipi Darchen. Kemudian dia menatap mata Darchen. "Sejak kapan kau selembut ini?" tanya Celine. Darchen yang sudah berusaha keras agar menjadi orang yang halus pada Celine tiba-tiba tidak bersemangat lagi untuk berubah. Dia menepiskan tangan Celine pelan menjauh dari wajahnya. Kemudian dia melepaskan dekapannya. "Aku mengantuk," ucap Darchen. Celine berdiri lalu meminta pada Darchen agar membuka segel di depan pintu kamar Darchen. "Untuk apa?" tanya Darchen. "Aku ingin tidur di kamarku," jawab Celine. "Tidak bisa, tidur di sampingku!" perintah Darchen. "Darchen …," Celine memelas. "Buka pintunya, yah." Melihat Celine yang sudah tampak ingin sekali keluar dari kamarnya itu hanya bisa menuruti permintaan Celine. Meski dia tidak terlalu tenang saat Celine jauh dari pantauannya langsung. Darchen belum bisa memastikan Dyroth telah mundur dari pertempuran merebutkan Celine. Dia masih khawatir jika Pemimpin Yumiro itu kembali lagi lalu mencuri Celine darinya. Selain demi keselamatan Celine, Darchen mengurung Celine di kamarnya adalah untuk memantau wanita itu. Agar jangan sampai Dyroth kembali lagi dan membawa Celine darinya. Darchen mengantarkan Celine sampai di depan kamar wanita itu. Dia memastikan keselamatan wanita itu. Lalu dia membatasi orang lain dengan membuat magis di depan pintu. "Apa aku masih bisa keluar mengambil makanan?" tanya Celine. "Tidak," balas Darchen. "Panggil aku jika ada apa-apa," perintah Darchen. Celine mengangguk lalu menutup pintu kamarnya. Dia sudah lelah. Dia butuh istirahat. Beberapa saat kemudian seseorang datang mengetuk pintunya. Padahal baru saja kakinya naik ke atas ranjang. "Ada apa?" tanya Celine. Darchen datang lagi ke kamarnya Celine, padahal baru saja pria itu pergi. Darchen menatap Celine, lalu kemudian masuk ke dalam kamar Celine. "Apa perlu kutemani di sini?" tanya Darchen. Celine tertawa merasa lucu dengan tingkah Darchen. "Tidak … tidak perlu," balas Celine. "Kau baik-baik saja, kan?" tanya Darchen lagi. "Aku tidak apa-apa dan baik-baik saja," balas Celine. Celine mendorong Darchen agar Keluar dari kamarnya. Dia sudah mengatakan berkali-kali pada Darchen kalau dirinya tidak masalah jika tidur sendiri. Dia tidak takut sama sekali dengan ancaman Dyroth, hanya saja Celine belum terbiasa dengan kehampaan kamar sebab tidak ada Genah bersamanya di sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD