Celine yang kesal pada Darchen karena terus mengusili dirinya, akhirnya mencoba pergi dari hadapan pria itu. Dia berjalan menjauh dari sana dengan hentakan kaki yang amat kuat. Dia sengaja melakukannya agar Darchen tahu kalau dirinya tidak suka diusili seperti yang dilakukan pangeran tersebut padanya tadi.
Namun Darchen tidak puas sampai disitu saja. Pangeran itu dengan teganya menarik kerah gaun Celine, sampai-sampai wanita itu tidak bisa berjalan lebih jauh.
"Apa lagi?!" senggak Celine dengan mata penuh kebencian.
Darchen tersenyum tipis." Masuk!" Perintahnya lagi.
Tidak bosan-bosannya pangeran dari Kerajaan Athiam itu terus menyuruh Celine masuk ke dalam sana. Entah apa tujuannya.
Celine tentunya tidak akan mau menuruti perintah Darchen, sebab dia sudah bisa merasakan keusilan lainnya yang sudah direncanakan oleh Darchen padanya. Tidak ada alasan lain baginya untuk masuk ke dalam sana. Jadi dia tidak perlu mengikuti suruhan dari Darchen. Lagi pula Celine sudah tahu apa tujuan dari pangeran tersebut, yaitu untuk menjahili dirinya.
"Aku tidak akan masuk!" tegas Celine menolak.
Karena Celine terus membangkang, Darchen akhirnya memaksa Celine masuk ke dalam. Karena tenaga pria itu sungguh tidak bisa dibandingkan dengan dirinya, secara paksa dia pun ikut terdorong.
"Hey hey!"
Pintu pun terbuka, tidak sempat baginya untuk menjauh dari ruangan tersebut. Celine tidak ingin terjebak dalam kejahilan dari Darchen.
Namun setelah melihat kondisi di dalam, Celine terkejut. Dia melihat seorang wanita yang lemah tampangnya, terbaring lesu di atas kursi rotan yang cukup besar dan panjang, bisa menopang tubuh seseorang dalan keadaan tertidur atau terbaring.
Selain dari pada wanita itu, Celine juga melihat wanita lainnya memaki-maki wanita terbaring itu. Sungguh membuat dirinya sedikit emosi karena ada seseorang yang tertindas.
Jika berada di dunia nyata, dengan mudah Celine bisa melaporkan perbuatan mereka pada pihak berwajib. Namun di jaman yang dia tempati kini, sangat sulit untuk menindaklanjuti perbuatan orang yang semena-mena.
"Hey hey hey!" Celine menepiskan wanita-wanita yang tengah berkumpul menyalahkan Noni.
"Siapa dia?" bisik seseorang pada temannya.
"Entah, kenapa dia sangat lancang. Tidak ada sopan sama sekali," sahut hina wanita lainnya.
Salah seorang yang paling membenci Noni angkat bicara dan menyindir Celine dengan mulut tajamnya. Dia dengan lantangnya memaki dan mencemooh Celine.
"Wanita jelek dari mana ini?! Minggir kau! Tidak tahu diri. Kau tidak tahu siapa kami, ha?! Dasar kampungan," cemooh wanita itu dengan lemes.
Celine dengan perasaan tidak terima terhadap ucapan wanita itu, langsung berbalik menghadapnya. Dia mendekat s**********n demi selangkah ke depan wanita itu. Dia dengan mata penuh kebenciannya melirik wanita itu.
"Kau mau mulai dari mana? Mulut? Mata? Atau wajahmu yang jelita ini?" Satu per satu bagian wajah wanita itu ditunjuk Celine dalam artian mengancam. Suara Celine teramat menakutkan, bak seperti ibu tiri yang sedang mengancam Cinderella.
Wanita itu sampai tidak bisa berkedip lagi karena merasa takut dengan perkataan Celine. Dia mundur selangkah menjauh dari Celine. Lalu menatap teman-temannya yang lain, yang berada di pihaknya.
"Berani sekali kau menyentuhku!" balas Wanita itu lagi.
Celine mencengkram dagu wanita itu keras lalu menariknya sampai ke hadapannya. Dia dengan kejamnya mengiriskan kuku pada wajah wanita itu, sampai darah keluar dengan rapi dari sela-sela luka itu.
"Perhatikan dengan siapa kau berbicara," ucap Celine membisik.
Kuku Celine bisa menyayat begitu sebab dia mengalirkan magis miliknya dan menyalurkan pada ujung jarinya. Sehingga timbul seperti pedang dari magisnya yang dia keluarkan.
Wanita yang tersayat wajahnya syok karena kecantikannya berkurang. Dengan langkah sempoyongan tidak teratur itu, dia berjalan menuju cermin untuk melihat wajahnya.
"Wajahku!" teriaknya histeris tidak bisa menerima perbuatan dari Celine.
Wanita itu kemudian berlari ke arah Celine dan menyiapkan tangannya untuk mencakar wajah Celine demi membalaskan dendam.
Untungnya Celine sigap, dengan ringan tangan, Celine menangkap tangan wanita itu, hingga langkahnya terhenti, lalu dia menampar wajah wanita itu dengan kuat. Bahkan suaranya sampai menggema didalam ruangan tersebut.
Semua penari dalam ruangan itu terkejut melihat kekejaman Celine. Mereka perlahan mundur menjauhi Celine. Mereka menjaga diri agar tidak sampai menyinggung Celine.
Kemudian Celine menjambak rambut wanita itu sampai kepala wanita itu terdongak ke atas. Sambil merintih kesakitan, wanita itu mencoba melepaskan rambutnya dari tangan Celine. Namun semakin erat dan kuat pula Celine menarik rambut Wanita itu. Dengan kejam dia tidak memberi jeda untuk wanita itu. Dia terus menyiksa dan menyiksa.
"Siapa yang membuatmu sampai terkilir begitu?" tanya Celine pada Noni yang tengah terbaring.
"Ti-Tidak ada. Aku terjatuh karena kecerobohanku sendiri," jawab Noni berbohong. Bagaimanapun juga wanita-wanita itu adalah temannya, tidak mungkin dia menjerumuskan semuanya karena hanya demi membalaskan sakitnya selama ini.
"Benarkah?"
Noni tertunduk. Dia tidak bisa berbohong. Raut wajahnya sudah menggambarkan sesuatu kebohongan. Hal itu disadari oleh Celine. Dia dengan cerdiknya memainkan trik agar wanita itu jujur. Celine akan membalas dan memberi pelajaran bagi orang-orang yang sudah menyakiti Noni, sebab dia tahu bagaimana rasanya menjadi orang lemah yang selalu ditindas dan diperlakukan tidak layak oleh orang-orang.
Karena sekarang dia memiliki kekuatan sihir, tentunya hal menghukum dan membela kebenaran adalah sesuatu yang mudah dan gampang pula baginya. Terkadang sihir yang dia anggap kutukan itu berguna juga baginya. Termasuk membela orang-orang lemah dan tertindas. Dia juga bisa melakukan hal yang tidak bisa dia lakukan dengan sihirnya itu.
"Oh yah, apa hanya kau yang menyakiti wanita yang terbaring sana?" tanya Celine pada wanita yang masih dijambaknya tersebut.
"Ah! Tidak … aku tidak tahu," jawab Wanita itu sambil meringis.
"Apa kau ikhlas jika hanya kau yang kubikin cacat. Apa kau mau wanita-wanita sana tetap cantik, sementara kau kini jelek dengan bekas luka diwajahmu," jelas Celine memprovokasi perasaan wanita itu.
Sementara wanita lainnya tidak setuju jika mereka juga harus berhubungan dengan Celine. Tentunya mereka tidak ingin berakhir seperti Diana, wanita yang sedang Celine tarik rambutnya itu.
"Maaf, kami tidak pernah menyakiti Noni. Dian seorang saja yang terus cemburu pada Noni dan berniat membuat Noni lumpuh," timpal Penari wanita itu. Demi melindungi dia dan teman-temannya yang lain, wanita itu rela menjerumuskan Dian lebih jauh lagi. Sebab dia harus mempertahankan grup mereka, agar terus bisa menghasilkan banyak uang demi kelangsungan hidup.
"Hmmm? Apa benar yang dia katakan?" tanya Celine lagi pada Dian.
"Memang benar yang dia katakan. Tapi tidak semuanya betul," jelas Dian lagi. Dia tidak sudi jika hanya dirinya sajalah yang hancur wajahnya dan dipermalukan oleh Celine.
"Siapa yang berbohong? Hahahah … jika diantara kalian ada yg berbohong padaku, siapkan mental, yah." Celine seperti seorang psikopat dalam sinetron. Dia terus tertawa seolah menikmati penyiksaan yang dia lakukan.
"Dia juga pernah membuang semua alat rias Noni. Selain itu, dia juga pernah mencampur bubuk ihgo dalam bedak Noni, sampai-sampai wajah Noni rusak," ucap Dian mengadu.
Celine melepaskan tangannya dari rambut Dian. Lalu dia mendekat ke arah wanita satunya lagi. Celine dengan muka angkuh berdiri di depan wanita itu.
"Benar yang dia katakan?" tanya Celine memastikan.
"Ti-Tidak … tidak. Aku tidak pernah melakukannya. Sungguh aku tidak pernah," sangkal wanita itu dengan panik.
Celine menarik nafas panjang lalu melipat tangannya di depan d**a. "Aku malas meladeni kalian sebenarnya. Tapi karena kurang kerjaan, aku jadi sedikit b*******h," ucap Celine. "Siapa yang berbohong diantara kalian?" tanya Celine lagi.
"Aku mengatakan sebenarnya. Jika tidak percaya, kau bisa tanyakan mereka," bantah Dian sekaligus membela diri.
Celine melirik ke arah wanita-wanita yang sudah gemetar tubuhnya. Dia menatap satu per satu dan mencari tahu kebenarannya. Namun tidak ada satu orang pun yang berani menatap matanya balik. Ketika mata mereka sudah bertemu di satu titik, semua akan mengalihkan pandangannya.
Tidak ada angin tidak ada hujan. Celine menampar wanita yang dituduh oleh Dian tadi. Sampai wanita itu terpelanting sampai ke meja rias yang letaknya tidak jauh dari posisi berdiri mereka.
"Ahhh!" jerit wanita itu kesakitan.
Celine mendorong wanita itu sampai ke sudut meja rias. Lalu bersengaja untuk menancapkan ujung atau sudut meja pada pinggang belakang wanita itu. Sampai pada tulang, wanita itu berteriak keras.
Semua orang di sana tidak ada satu pun yang berani melihat penyiksaan langsung dari Celine. Di hari bahagia itu, mereka harus mendapatkan balasan atas perbuatan mereka. Mereka tidak kuat menonton salah satu teman mereka disiksa dengan keji seperti yang dilakukan Celine.
Celine memecahkan kaca rias di depannya, lalu mengambil serpihan tersebut. Dia memilih yang paling pas di genggamannya. Kemudian dia menggoreskan kaca tersebut ke wajah wanita itu. Dengan pelan dan hati-hati, Celine menggambar dan mengukir sesuatu yang abstrak di atas kulit wanita itu.
"Sepertinya ini sudah cocok untukmu," decak Celine sambil tersenyum. Dia kemudian menolak tubuh wanita itu menjauh dari dirinya, lalu dia duduk di samping Noni berada.
"Untuk kalian semua, jika ada yang berani menyakiti dia lagi, bisa langsung berhadapan denganku," tegas Celine.
"Hey! Kau … tolong panggilkan tabib ke sini. Dia butuh perawatan," suruh Celine pada penari yang sedang menyembunyikan tatapannya darj Celine.
Segera penari itu berlari tergesa-gesa mencari seorang tabib untuk Noni.
Saat penari itu keluar dari pintu, dari sisi luarnya sudah berdiri Pangeran Darchen dengan model bersandar di dinding sebelah ruang rias tersebut.
Belum lagi karena syok dibuat oleh kekejaman Celine, penari itu kini harus jantungan lagi karena bertemu langsung sedekat itu dengan Pangeran Darchen.
"Hormat pada, Pangeran Darchen," sapa Wanita itu.
"Apa yang dia lakukan?" tanya Darchen.
Penari itu kebingungan," Maaf, Pangeran Darchen. Apa maksud Anda adalah wanita yang baru saja masuk itu?"
"Hmm," jawab Darchen.
"Mohon maaf, Pangeran Darchen. Wanita itu tengah menyiksa perkumpulan kami. Namun dia sekarang sedang menemani Noni, penari terkilir tadi," jelas Penari itu.
"Pergilah," usir Darchen kemudian.
"Hamba mohon undur diri, pangeran Darchen," pamit wanita itu lalu menundukkan kepalanya sebagai salam hormat.
Benak Darchen penasaran dengan perbuatan Celine di dalam sana. Sejauh yang dia tahu, Celine memanglah wanita yang sedikit kasar mulutnya, beberda dengan wanita pada umumnya. Sikapnya teramat susah diatur dan pembangkang. Tidak suka mendengarkan perkataan orang lain, apalagi jika dia tidak menyukai orang tersebut. Sekarang pun semakin parah. Beberapa kali Darchen melihat Celine menyiksa orang seperti pembunuh berdarah dingin. Wanita itu terlihat menikmati setiap siksaan yang dia buat sendiri. Sesungguhnya Darchen cemas dengan kebrutalan Celine, namun di sisi lain hal itu ada keuntungannya juga. Dimana jika ada yang menyakiti Celine, dia bisa melawan sendiri. Jadi Darchen tidak perlu cemas akan hal itu.
Darchen masuk ke dalam, berdiri di pinggir pintu dan tidak masuk lebih jauh lagi. Sambil berkata dia menatap Celine langsung," Apa kau sudah puas bermain?"
Serentak semua penari-penari itu tunduk memberi sapa pangeran mereka tersebut. Wanita-wanita yang baru saja di siksa itu ingin sekali mengadukan perbuatan keji Celine terhadap mereka. Tapi mereka tidak terlalu nekat mencari masalah dengan Celine. Tampak bahwa wanita itu tidak berhati, jadi mereka khawatir kalau Celine membalaska aduan tersebut. Akhirnya tidak ada diantara mereka yang jadi mengadu pada Darchen perihal Celine.