Melihat Darchen datang ke ruangan rias, Celine berhenti menjahili penari-penari tersebut. Dia memadamkan magisnya, selaku alat yang dia gunakan untuk menyiksa orang-orang.
Celine langsung sigap berjalan ke arah Darchen dan menapakkan muka takut bersalah. Sebab dia telah melakukan kekacauan di sana, di hari bahagia. Celine meletakkan tangannya di belakang badannya kemudian menunduk. Seolah dia sedang meminta maaf pada Darchen karena sudah menyakiti orang-orang.
"Bagaimana caramu memberskan semua ini?" tanya Darchen pada Celine.
Celine sontak kaget. "Ha? Maksudnya?"
"Lihatlah," suruh Darchen sambil menunjuk penari-penari yang sudah pucat ketakutan karena Celine.
Dengan batin dan wajah ketakutan seperti itu, tidak mungkin mereka bisa menari di depan banyak orang. Yang ada hasil pertunjukan mereka akan jelek hingga penduduk Negeri Seberang tertawa melihatnya. Jadi Darchen menyadarkan Celine pasal apa yang telah dia lakukan. Sungguh bukan salah niat dari Celine, yaitu membantu Noni yang mereka tindas selama mereka bersama. Hanya saja cara Celine membalaskan perbuatan mereke lah yang salah.
"Sepertinya … ehkem … aku belum memikirkan itu," jawab Celine lalu menggaruk tengkuknya lehernya.
Darchen menunjuk sebuah kotak, dimana di sana adalah tempat kostum penari-penari itu berada. Darchen menyuruh Celine mengenakannya.
"Apa maksudmu? Kau menyuruhku memakai itu? Tidak," tolak Celine.
Seketika penari-penari itu terkejut mendengar Celine membangkang pada Darchen. Pangeran itu adalah orang kejam yang tidak suka dibantah, namun wanita yang menyiksa mereka tadi, dengan lantang berani membantah perintah Darchen. Mereka semakin takut saja dengan Celine. Bahkan pangeran saja dia tidak mau dengar. Pantas saja tadi mereka disiksa tanpa ada rasa ragu dan takut akan hukum kerajaan.
Kemudian datanglah seorang tabib istana dan juga penari yang memanggil tabib tersebut. Mereka masuk ke dalam tanpa tahu kalau ada pangeran di ruangan rias tersebut.
Mereka awalnya terkejut mengapa ada pangeran di rungan tersebut, jika seandainya ada masalah, tidak pernah Pangeran Darchen turun tangan langsung, hanya pengawal saja yang datang menyelesaikan masalah. Kalau masalahnya lebih rumit lagi, hanya panglima panglima saja yang turun melerai.
Mereka memberi salam pada Pangeran. Lalu langsung mengobati kaki Noni yang terkilir.
"Sebaiknya bawa wanita ini ke ruang pengobatan," usul Tabib tersebut.
Tidak berapa lama, dua pengawal datang ke sana dan membawa Noni menuju ruang pengobatan. Dengan sebuah tandu mereka mengangkat tubuh Noni.
Darchen melihat penari-penari itu masih berdiri di sana menonton dan melihat dirinya. Karena risih dengan pandangan-pandangan wanita tersebut. Darchen mengusir mereka keluar dari sana.
"Kalian tidak peduli dengannya?" tanya Darchen bermaksud pada Noni.
Dengan sigap wanita-wanita itu keluar dari dalam ruangan lalu mengikuti pengawal yang membawa Noni ke ruang pengobatan.
Mereka kini tinggal berdua saja di dalam. Jika Darchen berbuat jahat atau menyiksa Celine, tidak akan ada orang yang mendengar. Sebab ruangan tersebut sedikit jauh dari keramaian dan letaknya yang terbilang cukup rumit.
Darchen menatap Celine sangat lama. Pandangannya terlihat seperti sedang ingin memberi Celine pelajaran.
"A-Aku … aku hanya bermaksud menolong wanita terkilir itu," jawab Celine memberi pengertian pada Darchen. Bagaimanapun juga dia masih takut pada Darchen jika pria itu tiba-tiba berubah rautnya menjadi dingin seperti sekarang ini.
Darchen berjalan mendekati Celine. Sampai Celine terpojok di sisi kursi yang terbuat dari rotan teresebut. Sudah mentok sampai di sana, Darchen masih tetap mendekat sampai tubuh mereka bersentuhan. Karena tidak seimbang, Celine terjatuh tepat di kursi itu berada.
"Aduh!" decaknya kesakitan.
Darchen tetap masih menatap Celine. Kemudian dia mengangkat dagu Celine hingga mata mereka saling bertemu.
"Apa kau jagoan?" tanya Darchen.
"Ha? A-Apa maksudmu?" tanya Celine balik kebingungan.
Darchen dari awal sudah melihat cermin retak dan tetesan darah di bekas pukulan tersebut. Darchen langsung paham dengan situasi. Dia melihat tangan Celine dan sudah melihat darah yang berteteran dari sana. Dia juga melihat gaun Celine yang berwana merah muda polos tersebut bersapuh darah. Sudah tentu berasal dari tangannya yang terluka. Darchen tahu kalau telapak tangan Celine terluka cukup dalam. Kulitnya banyak yang sobek karesn serpihan kaca yang tidak sengaja tergores dari kaca tersebut.
Celine menyuruh tabib untuk mengobati luka-luka penari tersebut, baik itu yang terkilir ataupun yang baru saja dia siksa tadi. Tapi dia tidak memikirkan tangannya yang sobek karena kaca tadi. Celine juga tampak kesakitan dengan luka itu, hanya saja karena ada Darchen di dekatnya, dia akhirnya menahankan sakit tersebut dan menyembunyikan tangannya dari Darchen. Sejak awal dia sudah menyembunyikan luka itu dari Darchen, sebab jika Darchen melihat tangannya terluka, bisa-bisa dia malah diamuki oleh pangeran tersebut.
Darchen meraih tangan Celine yang dia letakkan di belakang badannya. Kemudian Darchen melihat betapa parahnya tangan wanita itu terluka.
"Ah!" rintih Celine kesakitan karena baru saja tidak sengaja Darchen menariknya terlalu kuat.
Darchen duduk di samping Celine dengan masih melihat telapak tangan wanita itu. Dia mengambil air minum yang berada di sebelahnya lalu menyiramnya ke arah luka tangan Celine.
"Ah … perih," rintih Celine kesakitan. Dia menarik tangannya dari genggaman Darchen karena tidak tahan dengan rasa perih tersebut.
Tapi Darchen tidak memberi ampun Celine, dia kesal karena wanita itu tidak mencemaskan dirinya sendiri. Hari ini dia memberi pelajaran pada Celine agar tidak mengulangi perbuatannya yang suka sembrono tersebut.
"Sudah kukatakan perih!" senggak Celine menegaskan rasa sakitnya. Darchen teramat kasar kali ini. Biasanya dia akan meniup luka ketika mengobati dirinya. Namun kali ini berbeda. Dengan kasar Celine menarik tangannya tadi, sekarang dia menyiramkan air dengan posisi wadah jauh ke atas, sehingga tekanan air yang jatuh terasa kuat, dan menimbulkan rasa perih dan sakit sekaligus.
"Diam!" balas Darchen menyenggak.
Sudah lama sekali Darchen tidak mengucapkan hal kasar pada Celine. Namun kali ini Celine bisa merasakan kalau ungkapan tersebut menyiratkan rasa marah padanya. Celine sampai tersentak batinnya karena Darchen menyenggak dirinya.
Celine langsung terdiam tanpa berkata-kata. Tangannya sampai lemas karena suara Darchen yang amat menyakiti hatinya. Celine tersinggung dengan suara keras tersebut. Hatinya seperti disayat karena Darchen tega menyuruhnya dengan kasar.
Sementara Darchen terus menyiramkan air tersebut dengan kasar. Dia juga membersihkan luka itu tanpa rasa simpati melihat Celine yang merintih kesakitan.
Darchen mengambil kain kasa dari dalam saku bajunya, lalu menutupi luka Celine. Dia dengan kuatnya mengikat telapak tangan Celine. Sampai wanita itu teriak kesakitan.
"Ahhh …."
Setelah tangannya selesai terperban, Darchen berdiri dari duduknya hendak pergi dari ruang rias tersebut. Dia sama sekali tidak menatap Celine, hingga membuat wanita itu merasa diacuhkan. Belum lagi karena tangannya yang perih tidak berhenti berdenyut, membuat Celine tidak terima dengan sikap Darchen padanya.
Sambil menangis Celine memahan rasa sakitnya. Tapi Darchen tidak peduli sama sekali. Dia bahkan tidak menoleh. Lagi-lagi pria itu berubah menjadi dingin padanya. Padahal Celine sudah membayangkan betapa tidak mungkinnya lagi Darchen bersikap kasar padanya, tapi kini dia sadar bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi.
Celine Mengambil sebuah vas keramik di dekatnya lalu melemparkannya ke arah Darchen berjalan. Dia berharap agar pria itu berbalik menatap dirinya. Namun hal itu tidak terjadi. Darchen tetap terus berjalan.
"Darchen!
Meski dipanggil oleh Darchen, Celine sama sekali tidak menoleh. Dia terus berjalan.
"Darchen!!!" panggil Celine kuat sampai puncak batas suaranya. Sambil menangis dia memanggil pangeran tersebut.
Karena masih saja tidak peduli. Celine mengambil vas keramik lainnya kemudian melemparkannya pada punggung belakang Darchen.
Pria kemudian berhenti.
"Jangan pernah melakukan hal itu lagi padaku! Aku tidak bisa disenggak olehmu. Apa kau tahu, sungguh hatiku lebih sakit dibandingkan luka tangan ini!" kata Celine sambil berderai air mata.
Tidak ada sahutan dari Darchen. Dia tetap berdiri di sana. Dia juga sadar dengan yang dia lakukan. Dia juga sudah menebak kalau Celine akan merasa sakit jika disenggak olehnya. Namun terkadang harus dengan cara itu dia baru mau mendengarkan nasehat Darchen. Ketika dia berkata dengan suara pelan pada Celine, wanita itu malah terus membangkang. Namun jika dia berteriak keras pada Celine, wanita itu tersinggung. Serba salah.
"Aku tidak bersalah. Kenapa kau malah menghukumku?" Celine menatap perban di telapak tangannya. "Aku tidak peduli jika orang lain membenciku, tapi kau … kau tidak boleh!" sambung Celine.
Dia berdiri lalu berjalan ke hadapan Darchen. Mereka saling bertatapan kini. Darchen tepat berada di depannya.
Celine kemudian mengepal tangannya lalu memukul Darchen di sebelah d4d4nya. Berulang kali dia memukulnya untuk melampiaskan rasa sakitnya. Celine terus-menerus tanpa henti memukul dan dengan derai air mata di wajahnya.
"Aku membencimu … aku membencimu," ucap Celine berulang sambil menangis.
Darchen yang paham dengan perasaan Celine tetap diam, membiarkan wanita itu memukulnya. Dia tidak menatap sama sekali tangis wanita itu. Dia tidak menoleh sedikit pun ke arah wanita itu. Pandangannya lurus ke depan, tidak berniat melihat Celine dengan isak tangisnya.
Tidak beberapa lama Celine berhenti. Dia diam sejenak. Kemudian dia menahan tangisnya agar tidak keluar, lalu menghapus air matanya tadi.
"Aku ingin dipeluk," ucap Celine. Dia mengerucutkan bibir bawahnya meminta pada Darchen.
Ukuran tubuhnya yang hanya sampai d4d4 Darchen itu mendongak ke atas menatap pangeran dingin tersebut. Dia kemudian menunduk lagi ketika Darchen melirik sedikit dirinya.
Celine melangkah lebih dekat lagi agar Darchen memeluknya. Namun Darchen tidak melakukannya.
Celine kemudian meraih tangan Darchen lalu meletakkannya pada kepalanya sendiri. Dia menggerakkan tangan Darchen seolah sedang mengelus dirinya. Tapi tetap saja pangeran itu tidak memahaminya. Darchen hanya diam membisu tidak menuruti permintaannya.
"Hiks … hiks." Terdengar suara rintihan Celine pelan.
Darchen melirik ke arah wanita itu. Sebenarnya dia tidak tega melihat wanita itu menangis tersedu-sedu seperti itu, hanya saja jika tidak dengan begitu, Celine akan terus membangkang pada dirinya dan tidak patuh pada Darchen. Sikapnya seperti seorang anak kecil yang harus dididik keras oleh ibu. Mungkin karena memang Celine dari dulunya tidak merasakan belas kasih dari orangtua. Akhirnya kepribadiannya sedikit pembangkang.
Celine melepaskan tangan Darchen. Dia mundur satu langkah menjauh dari Darchen. Kemudian dia menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap ke atas.
"Aku tidak ingin melihatmu," ucap Celine pelan.
Celine berbalik ke arah pintu lalu membukanya. Dia pergi dengan mata memerah karena menangis. Kepalanya terus terduduk ke arah bawah seolah tidak ingin menatap dunia lagi.
Dia pergi ke kamarnya dan mengurung diri di sana. Pintu dikuncinya dengan rapat, bahkan jendela dan tirai ditutupnya. Dia juga menempelkan jimat milik genah di depan pintunya agar Darchen tidak bisa masuk ke dalam.
Dia membuka guan cantiknya lalu membaringkan tubuhnya tanpa busana. Hanya kaus tipis berwana putih saja yang menutupi tubuh Celine. Dia mengambil kain dan menutupi tubuhnya di sana.
Tidak ada orang yang datang ataupun sekedar lewat dari sana. Semuanya sedang berkumpul di aula istana. Hanya serangga kecil sajalah yang mengobati kesedihan Celine.
"Lyn … ternyata cinta sangat menyakitkan," ucap Celine.
Celine baru saja sadar, bahwa cintanya pada Lyn dan Darchen adalah berbeda. Sesungguhnya Celine terhadap Lyn hanyalah cinta karena saling membutuhkan dan saling mengasihi. Sementara pada Darchen, Celine mengharapkan kasih sayang dan terus diperdulikan olehnya.
Kini dia sadar bahwa sebenarnya dia menginginkan Darchen terus bersamanya. Dia cemas ketika pangeran itu pergi darinya. Dia tidak suka jika pria itu dekat dengan orang lain. Lalu dia tidak suka jika pria itu memperhatikan orang selain dirinya, dan dia membenci Darchen ketika pangeran itu mengacuhkan dirinya.
Celine menolak takdirnya karena telah hidup di dua dunia berbeda sekaligus. Dia sekarang tidak ingin kembali ke dunia nyata karena dia masih ingin terus bersama dengan Darchen. Namun dia juga merindukan rumah dan teman-temannya dari dunia nyata. Dia begitu egois. Hanya saja dia menginginkan semua. Dia menyesal karena merasakan dua dunia secara bersamaan. Kini hatinya bingung, harus tetap menetap di dunia fana atau kembali ke dunia nyata.