Masuk secara diam-diam ke dalam kamar Dyroth. Mengambil pisau tajam dan menyembunyikan di balik tangan. Dia melihat sekeliling, memantau dari pintu yang terbuka hanya sebatas matanya memandang saja.
Dia melihat Dyroth tidur dengan pulas. Lalu dia pelan-pelan masuk, berusaha jangan sampai menimbulkan suara baik dari langkah kaki ataupun hentakan pintu saat menutup. Dia mendekat sampai akhirnya dia berasa di depan Dyroth yang tengah pulas.
Tidak ada yang berbeda dari Dyroth. Dia layaknya manusia. Bahkan cara tidur pun menyerupai manusia.
Celine terkadang bingung, Dyroth seorang manusia atau seekor Yumiro. Ketika dipandang dari luar, rupa dan bentukannya layak bagai seorang manusia. Namun ketika disentuh tangannya sedikit berbeda. Sangat dingin sampai jari saat menyentuh merasa menggigil.
Celine mengubur kenangan indah mereka dalam-dalam. Dia tidak akan mengingat apapun lagi tentang Dyroth. Kebaikan yang dia berikan pada Celine semata dianggap sebagai ketidaktulusan Dyroth. Jika tidak seperti itu maka dia tidak akan bisa menghapus Dyroth dari pikirannya.
Dia mengeluarkan pisau lalu hendak menancapkan mata pisau ke jantung Dyroth. Dia menutup mata agar tidak melihat wajah Dyroth. Dia tidak tega. Bukan karena dia Dyroth, hanya saja Celine melihat kalau orang yang hendak dia bunuh adalah manusia. Dia tidak bisa menyakiti sesama manusia.
"Tenang … dia Yumiro, bukan manusia," ucap Celine dalam hati, meyakinkan diri untuk segera mencampakkan mata pisau ke arah Dyroth.
Dia menarik nafas, menutup mata lalu mengangkat tangannya tinggi agar tancapan pisau itu lebih dalam lagi mengoyak badan Dyroth.
Srek!
Jantungnya berdegup kencang. Tangannya lemas seketika. Tubuhnya tidak dapat menerima segala yang telah dia lakukan. Celine membuang matanya, lalu melihat ke arah tangannya.
"Dyroth …."
Pria itu membuka matanya. Dia terbangun dari tidurnya. Dia masih sempat mengelak, tapi dia tidak mencegah. Dia tetap diam di posisinya seolah menanti Celine menghunuskan pisau itu ke tubuhnya.
Bagaimanapun caranya dia mencuci otak untuk melupakan segalanya, Celine tidak bisa. Tangannya tiba-tiba terhenti dan tidak sanggup untuk membunuh Dyroth. Dia membuka matanya dan melihat dirinya yang begitu kejam karena sudah berniat membunuh orang lain. Dia merasa jijik. Entah bisikan apa yang datang, tiba-tiba Celine merasa hina dengan perbuatannya.
Celine bergetar ketakutan terhadap dirinya sendiri. Terutama sejak Dyroth melihat dirinya dengan pisau hendak membunuh pria itu. Celine terhenti. Tangannya perlahan turun ke bawah. Dia berhenti memikirkan Dyroth. Dia terus terbayang dengan dirinya yang hina itu.
"Kenapa kau tidak menusukkannya?" tanya Dyroth.
"Dy … Dyroth." Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya Celine. Dia terlalu hina untuk membuka mulutnya. Dia merasa kotor bahkan tidak bisa berkata-kata lagi.
Celine terlalu bodoh sampai berpikir untuk menghabisi nyawa orang lain. Seharusnya dia tahu dari awal kalau orang yang dia hadapi adalah seorang Pemimpin Yumiro. Celine terlalu menganggap sepele kepekaan dari Pemimpin Yumiro.
Akhirnya Celine sadar kalau Dyroth sudah mengetahui dari awal tujuan Celine. Dia sudah tahu kalau Celine masuk ke dalam kamarnya dengsn niat buruk. Hanya saja dia tetap diam menunggu wanita itu melakukannya.
"Kenapa … kenapa kau tidak mengelak?" tanya Celine dengan mata berkaca-kaca. Dia merasa kesal karena Dyroth malah berpura lemah agar dirinya bisa membunuh Dyroth. Dia akan senang jika Dyroth memberontak melindungi diri, dibanding dengan diam saja seolah tidak mengetahui apapun, padahal dia sudah tahu alurnya.
Dyroth tersenyum ke arah Celine. Seolah dia ikhlas jika harus dibunuh oleh wanita itu. Dia memegang tangan Celine yang sedang memegang pisau itu. Lalu dia mengarahkan mata pisau ke arah bawah.
Dia menuntun tangan wanita itu untuk menusukkan pisau ke tempat dimana wanita itu hendak menusuknya.
Tskkkk!
"Dyroth!!!"
Pisau itu menancap di jantung Dyroth. Dia yang melakukannya. Darah mengalir dengan deras. Bahkan di atas ranjang itu di genangani darah dari tubuh Dyroth.
Celine panik. Dia menatap Dyroth dengan kesal sebab telah membiarkan dirinya membunuh Dyroth.
"Apa yang kau lakukan?!"
Celine melepaskan genggamannya dari pisau itu, lalu dia mengambil kain tebal untuk menutupi darah yang mengalir terus tanpa henti.
Dia menangis seiring dengan darah itu mengalir. Dia tidak sanggup melihat Dyroth terluka. Dia memang ingin membunuh pria itu, tetapi dia tidak tega dan mengurungkan niatnya. Namun Dyroth yang bodoh itu menarik tangan Celine lalu menancapkan pisau itu ke jantungnya sendiri.
Celine sampai sesak nafasnya melihat kejadian itu.
"Maafkan aku … maafkan aku … maafkan aku." Celine terus menerus mengatakan hal demikian sambil menangis. Dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri jika sampai pria itu mati.
"Uhuk … uhuk." Dyroth mengeluarkan darah pula dari mulutnya. "Aku tahu kau tidak membenciku. Kau hanya marah untuk beberapa saat. Terima kasih," ucap Dyroth. Dia sambil tersenyum mengatakannya.
"Aku tidak membencimu, aku hanya benci Pemimpin Yumiro! Kenapa kau malah menancapkan pisau itu? Kenapa?! Apa kau sedang ingin menyiksaku?!"
"Bukankah kau ingin menancapkan pisau itu? Aku hanya membantumu melakukannya," balas Dyroth.
"Aku ingin melakukannya. Tapi … tapi kau Dyroth, aku tidak bisa melakukannya padamu," jelas Celine dengan isak tangis di wajahnya.
Dyroth duduk dari posisi tidurnya. Dia memaksakan dirinya walau darah terus mengalir dari tubuhnya.
"Bisakah aku memelukmu untuk terkahir kali, Celine?"
"Jangan katakan seperti itu! Kau harus hidup … tetaplah hidup. Aku ingin kau terus hidup, Dyroth. Berhenti mengatakan hal yang tidak-tidak. Kau akan tetap hidup," jawab Celine. Dia sangat sedih sampai matanya memerah karena terus menangis. Dia menahan darah Dyroth agar tidak keluar deras dari jantung Dyroth.
"Tidak … bisakah kau lebih dekat sedikit?"
Celine yang sudah panik itu tidak tahu harus berbuat apa. Dia berharap agar Dyroth tidak apa-apa. Darah yang terus mengalir membuatnya semakin takut. Belum lagi karena Dyroth berkata seolah menjadi hari terkahir baginya.
"Aku … aku akan meminta bantuan dari Salbia. Tunggu di sini, dan bertahanlah," ucap Celine. Dia hendak memanggil Salbia, wanita yang terus mengikuti Celine tadi.
Namun Dyroth langsung menarik tangannya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda kalau dirinya melarang Celine memanggil Salbia. "Dia akan membunuhmu, jika lihat aku kau tusuk begini. Kalau tidak, pergilah, lari dari sini. Aku akan matikan segel yang sana."
"Jangan pernah berpikir kalau aku akan meninggalkan dirimu sendiri di sini dengan kondisi seperti ini."
Celine perlahan membuka baju Dyroth, dia membersihkan darah dari badan pria itu. Lalu dia membantu Dyroth agar berada di posisi yang benar sehingga darahnya tidak mengalir deras.
"Celine …."
"Jangan berbicara! Jangan berbicara! Kau tidak boleh mati! Aku tidak ingin mendengar kata-kata itu dari mulutmu!"
"Bisakah kau memelukku?"
Celine melihat wajah Dyroth. Dia tampak kesakitan, hingga Celine tidak bisa menolak lagi. Dia mendekat ke arah Dyroth. Lalu dia memeluk Dyroth.
"Sangat nyaman," kata Dyroth sambil tersenyum. Dia mengangkat tangannya lalu mengelus rambut panjang Celine.
Celine yang tidak berhenti menangis. Dia merasa hina karena telah hampir merenggut nyawa orang lain. Dia merasa bersalah sekaligus menyesal.
"Selamat jalan, Celine," bisik Dyroth. Dia tersenyum sinis.
Kesadaran Celine menghilang. Tiba-tiba saja pandangannya gelap. Dia jatuh di pelukan Dyroth. Dia tidak melihat apapun dan tidak bisa merasakan apa-apa.
"Tidur yang nyenyak, sayang," bisik Dyroth lagi.
Pria itu melepaskan pisau yang masih menancap di tubuhnya. Lalu dia berdiri dari ranjangnya. Dia mengangkat Celine yang hilang kesadarannya menuju kamar wanita itu.
Seketika luka itu menghilang. Bahkan setitik luka pun tidak ada di badannya. Padahal jelas-jelas kalau dirinya telah terhunus pisau tajam.
"Wanitaku memang sangat imut. Dia kira bisa membunuhku dengan pisau," celetuk Dyroth sambil tertawa. Seperti seorang psikopat saja. "Ingin membunuh, tapi tidak tega. Kau jatuh cinta?" tanya Dyroth pada Celine yang bahkan tidak bisa mendengar suara.
Dia meletakkan Celine di atas ranjang. Lalu berbaring di sebelahnya. Dia tersenyum menikmati wajah Celine. Dia memainkan rambut wanita itu lalu mencium rambutnya beberapa kali. Dia terus melakukannya sampai dia tertawa lega.
"Apa aku perlu berpura-pura mati?"