Belati

1149 Words
Celine hampir saja muak melihat Dyroth, orang itu terlalu menjijikkan bagi Celine. Dia benar-benar tidak menyukai Dyroth yang kini ada di depannya. Tapi jika Dyroth terus menutupi dirinya dan tidak memperkenalkan dirinya yang sesungguhnya, mungkin Celine akan tertipu selamanya. Dia akan berpikir kalau pria itu adalah seorang yang baik. "Apa kau tidak ingin istirahat?" tanya Dyroth pada Celine. "Agar kau bisa membunuhku, iya?" Dyroth tertawa. "Celine … begini, logikanya jika aku ingin membunuhmu, dari dulu sudah kulakukan. Aku dengan mudah bisa menghabisi nyawamu. Tapi … kau masih bernafas, kan? Tentu aku tidak ingin membunuhmu," jelas Dyroth. Tidak ada guna jika harus takut kalau sampai dibunuh oleh Dyroth. Seperti yang dia katakan, jika ingin membunuh Celine, sudah sejak lama pula dia bunuh wanita itu. Tetapi sampai sekarang Dyroth terus melindungi Celine. Celine juga yakin kalau pria itu tidak akan macam-macam padanya. Celine menduga kalau pria itu tengah mengharapkan sesuatu dari diri Celine. Pria itu terus melindungi, dan selalu mencoba agar lebih dekat dengan Celine. Pasti ada yang sedang diincar oleh Dyroth dari Celine. Jika Celine langsung menanyakan pada Dyroth. Dia takut jika pria itu semakin waspada menjaga tujuannya terhadap Celine. Untuk itu dia akan terus memantau Dyroth sekaligus mencari jalan keluar dari tempat tersebut. Dia harus pulang ke Kerajaan Athiam sebelum matahari terbit. Sebelum perang terjadi. Dia tidak ingin sampai Darchen menjadi orang gila sibuk mencari dirinya dan melupakan persiapan perang. Ketika Celine menatap ruangan tersebut, tidak ada tanda-tanda kalau mereka mempersiapkan sesuatu untuk perang besok. Tampak bahwa Dyroth terus di kamar tanpa ada seorang pun di sisinya. Bahkan dia terlihat santai seolah tidak memiliki masalah lain. "Mereka tidak tahu? Syukurlah," decak Celine dalam hati. Celine berjalan keluar dari kamar hendak kembali ke tempatnya. Dia pergi begitu saja tanpa berpamitan dengan Dyroth. "Kau masih di sini?" Celine masih melihat wanita itu menjaga mereka di depan pintu. Melihat wanita yang terus membuntuti dirinya, membuat Celine merasa kesal. Dia masuk lagi ke dalam kamar lalu meminta pada Dyroth agar dia memerintah wanita itu untuk berhenti mengikuti dirinya. "Suruh dia menjauh dariku!" perintah Celine sedikit merengek. "Salbia?" "Siapapun itu, aku risih terus diikuti. Belum lagi karena matanya. Apa kau takut kalau aku mencuri sesuatu dari sini makanya menyuruh orang untuk mengawasiku?" umpat Celine. "Dia menjagamu," jawab Dyroth membenarkan. "Tidak perlu. Aku akan aman jika jauh darimu," timpal Celine. Kemudian Celine pergi dari kamar itu. Wanita yang terus membuntuti dirinya tidak lagi mengikuti Celine. Dia sudah diperintahkan oleh Dyroth untuk tidak mengawasi Celine lagi. Salbia sendiri merasa aneh melihat rajanya itu diperbudak oleh wanita. Tidak pernah dia melihat pemimpin mereka direndahkan oleh orang lain, terutama manusia. Salbia tidak tahu perasaan rajanya itu hingga bisa menuruti permintaan wanita itu. Padahal jika diperhatikan tidak ada yang spesial dari Celine. Salbia merasa kalau dirinya lebih pantas di dekat rajanya dibandingkan dengan Celine. Dia bahkan tidak merasa kalau diri mereka disamakan, mereka bukan dalam taraf satu level. Andai saja dia bisa berbicara, mungkin saja saat itu04dia sudah mengatakan pada Dyroth untuk segera menyadarkan diri dari kebodohannya. Mulutnya tidak bisa berbicara, hanya ekspresi wajah yang dapat dia tunjukkan pada rajanya itu. Tapi pria itu tidak pernah mengerti dengan dirinya. Untuk pertama kalinya dia tidan setuju dengan pilihan rajanya itu. Dia benar-benar tidak suka saat rajanya dekat dengan wanita itu. Mereka tidak cocok menurut Dyroth. Bahkan wanita itu tidak pantas menjadi babu bagi Dyroth. Yang paling membuat Salbia semakin sakit hati adalah ketika Dyroth menghempaskan tubuh Salbia demi membela wanita itu. Padahal Salbia hanya berniat melindungi Dyroth dari Celine. Namun apa jadinya, niatannya itu dianggap salah oleh Dyroth. Mungkin karena memang Dyroth sudah terlalu buta dengan wanita itu. Dia tidak bisa berkutik apalagi membantah rajanya. Dia ingin sekali membunuh wanita itu, bangsa manusia. Tapi karena Dyroth melarangnya, dan sangat murka ketika dia hendak menyentuhnya, sungguh membuat dirinya tidak bisa melakukan apapun. "Kamar sebagus ini baru aku yang masuki, haeduh … dasar zaman edan," decak Celine saat melihat kamar yang teramat bagus dan mewah itu. Dia baru sadar saat melihat kerajaan Athiam dan kerajaan tempat Dyroth berada. Dunia mereka sangat berbeda dengan dunia Celine berasal. Dimana di dunia paralel tersebut banyak orang kaya dan tampan, tapi tidak pernah dihargai. Terlalu sedikit lapangan kerja di dunia itu. Mungkin karena digital belum ditemukan, seperti dunia nyata. Saat berjalan menuju kamarnya tadi, Celine sudah memperhatikan setiap sudut dari tempat tersebut. Dia melihat bahwa penjagaan di sana tidaklah ketat. Hanya ada satu penjaga di sekitar lorong tersebut. Ketika malam telah larut, Celine menjalankan misinya untuk kabar dari tempat tersebut. Bukan tidak yakin kalau besok akan dipulangkan oleh Dyroth, tapi dia lebih panik jika sampai Darchen gila karena dirinya tidak terlihat selama seharian. Celine sudah membayangkan bagaimana kacaunya Darchen dalam mencari keberadaannya. Ketika dia sudah keluar dari sana, Celine melihat lempang sepanjang lorong tidak ada menjaga. Dia jadi curiga. Tidak mungkin tempat seperti itu tidak ada satu pun penjaganya. Celine terus berjalan, dan mengawasi sekitar, memastikan kalau dirinya tidak ada yang lihat. Hingga kakinya terhenti ketika berada di ujung lorong. Ketika kakinya melangkah, tiba-tiba sebuah kaca tipis mengahalangi jalannya. Celine memukul hendak memecahkan kaca tersebut, tetapi tidak bisa. Ternyata keca tersebut hanya tipis kelihatan saja, tetapi sangat sulit bahkan tidak bisa dipecahkan. Bahkan Celine sudah menyepak dengan kakinya, tetapi tidak bisa juga. "Syalan!" umpat Celine kesal lalu memukul dan menendang kaca tersebut. Sangking kesalnya Celine tidak tahu harus berbuat apa. Dia berlari dengan tangan terkepal ke tempat Dyroth berada. Dia benar-benar sudah muak dengan pria tersebut. Celine tidak tahan lagi jika harus berlama-lama dengan Dyroth, si pembunuh. Pikirannya yang kacau itu langsung berniat menghabisi nyawa Dyroth. Dia yakin kalau Dyroth hanyalah membawa keburukan bagi mereka, manusia. Jika Dyroth masih hidup maka umat manusia akan hancur kehidupannya. Manusia akan terus merasa terancam karena keberadaan Yumiro. Untuk itu, demi menyelamatkan banyak orang, Celine memutuskan untuk membunuh pria itu. Selain itu, ketika Dyroth telah mati sebelum esok hari, mungkin perang tidak perlu dilanjutkan. Artinya banyak orang yang akan selamat dengan hal tersebut. Meski Celine sudah tahu konsikuensi dari perbuatannya. Dia akan mati dibunuh oleh Yumiro jika membunuh Dyroth. Tapi dia ikhlas demi keselamatan banyak orang. Khusunya Darchen, Genah dan Dion, mereka terlalu banyak berkorban demi dirinya. Sampai Celine tidak tahu harus dengan cara apa berterima kasih. Mungkin dengan kematiannya banyak orang selamat, dapat membuat beban hidup dari dunia itu berkurang. Dia tidak masalah jika harus menghilang selamanya. Bahkan tidak melihat Lyn dan Paman Sam. Dia rela. Sebab dia sudah yakin kalau masuknya Celine dari lukisan itu sudah ditakdirkan dari awal. Mungkin pertemuannya dengan Dyroth sudah diatur oleh penguasa. Mungkin kedatangan Celine ke dunia tersebut adalah untuk menyelamatkan bangsa manusia dari Yumiro. Setelah kematian Pemimpin Yumiro, otomatis kekuatan dari para Yumiro akan berkurang, sehingga bangsa manusia lebih mudah dalam membasmi kehidupan dari Yumiro. Tekad Celine untuk membunuh Dyroth sudah kuat. Dia hanya bisa berharap agar pembubuhnya itu tidak termasuk ke dalam dosa, sebab dia dalam keadaan untuk membantu banyak nyawa. Meski tangannya harus dikotori oleh lumuran darah, Celine harus melakukannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD