"Pangeran, berjanjilah saat perayaan festival Hyros nanti, Erica ditemani Pangeran," paksa Erica sambil merengek meminta Darchen menemaninya. Dia tidak mau melepaskan dekapannya dari tangan Darchen apabila pangeran itu tidak menyetujui permintaan darinya. Ia bersikukuh untuk mendapatkan anggukan setuju dari pangeran tersebut.
Meski Darchen sudah risih dan menepiskan tangan Erica darinya, namun wanita itu masih saja memaksakan kehendaknya. "Jauhkan tanganmu!" tegas Darchen dengan risih.
Erica sama sekali tidak mendengarkan perkataan Darchen. Setiap kali pangeran itu mencoba menjauhkan diri darinya, semakin kuat pula tekadnya untuk menempel ke tubuh Darchen. Ia dengan tebal mukanya meminta agar Darchen menemaninya pada saat malam festival Hyros.
"Erica tidak mau! Erica tidak mau! Erica hanya ingin Pangeran Darchen untuk malam festival saja," ucap Erica dengan desakan. Wajahnya yang polos itu berubah menjadi iblis seketika. Kerut dahinya menggambarkan haus akan perhatian dari Darchen.
"Erica, aku sibuk, tidak sempat bermain-main denganmu," terang Darchen mencoba memberikan alasan padanya.
"Tidak! Erica tahu Pangeran hanya mengelak bersama denganku! Erica tidak mau, pokoknya Pangeran harus menemaniku!" rengek Erica mendesak.
"Kenapa kau berubah begini?"
"Erica tidak tahan lagi berpura-pura baik di depan semua orang. Erica melakukannya hanya untuk mencari perhatian dari Pangeran saja. Tapi selama ini, Erica tidak mendapatkan apapun," ungkap Erica sambil menangis. "Erica selalu diam jika diacuhkan. Tapi kenapa … kenapa Pangeran begitu peduli pada Celine. Erica tidak suka dengannya, Erica tidak akan membiarkan wanita itu mencuri perhatian Pangeran!" teriak Erica dengan tangis.
Untuk pertama kalinya, Darchen melihat wujud asli dari Erica. Setahunya, Erica adalah wanita polos yang tidak pernah memaksa kehendak pada siapapun. Dia bagai anak kecil yang hanya butuh perhatian saja, tapi ia salah. Ternyata wanita itu tengah berpura-pura selama ini. Erica hanya bersandiwara. Dia adalah wanita yang haus perhatian dan juga penuh keegoisan.
"Berhentilah membahas dia!" senggak Darchen tidak senang. Kala hatinya sedang buruk. Terutama bersangkutan dengan Celine. Seolah amarahnya sedang dipancing jika wanita itu disebut di depannya.
"Auch …," desis Erica kesakitan. Darchen menghempaskan tangannya hingga Erica terjatuh dan tubuhnya terbentur pagar kolam.
Sayang sekali, Darchen sedang berada di suasana hati yang begitu buruk. Dia kini adalah singa buas yang sedang terluka tubuhnya. Dengan acuh, ia meninggalkan Erica. Padahal tangan wanita itu lecet akibat tergesek dengan pagar kolam tersebut.
"Pangeran Darchen!" teriak Erica memanggil. Dia langsung bangkit dan mengejar Darchen. Setelah itu, dia langsung mendekap Darchen dari belakang. Erica menahan langkah Darchen. Sama sekali ia tidak melepaskannya meski sudah diperingati Darchen dengan lembut.
"Katakan kalau Pangeran akan menemani Erica!"
Karena tidak tahan lagi bermain-main dengan Erica, sekaligus ia begitu bising mendengar rengekan Erica. Darchen lantas mengabulkan permintaan wanita itu. Meski ia tidak sepenuh hati ingin melakukannya. Tapi ia mengingat betapa lembutnya dahulu Erica padanya. Siang malam, Erica selalu menemani dirinya. Untuk itu, ia mengabulkan permintaan Erica hitung-hitung untuk membalas budi kisah masa lalu.
"Yeee! Erica senang sekali!" girang Erica tersenyum lebar. Dia menghapus air matanya lalu berterima kasih kepada Darchen karena sudah mau menemaninya.
"Bisa lepaskan aku sekarang?"
Erica melepas rangkulannya dari pinggang Darchen dan membiarkan Pangeran itu melanjutkan urusannya. Sebab keinginannya telah terpenuhi.
Darchen kemudian kembali ke kamarnya untuk mengambil beberapa berkas yang tertinggal di sana.
Ketika ia baru saja hendak melangkah lebih dekat lagi ke arah pintu kamarnya. Ia telah ditampakkan oleh Celine yang sedang berjongkok sambil menekuk lututnya. Wanita itu terlihat menyedihkan.
Langkah kakinya yang semakin dekat itu, langsung terdengar oleh Celine. Sontak wanita itu langsung mengangkat kepalanya yang tertunduk. Lalu ia berdiri ketika melihat wajah Darchen.
"Darchen," sapa Celine dengan suara pelan dan wajah muram. Dia seakan tidak memiliki semangat hidup lagi. Suaranya teramat lesu. Matanya sembab akibat menangis.
Darchen sama sekali tidak menghiraukan dirinya, dan terus berjalan mengacuhkan Celine.
"Jika aku mempunyai salah, tolong katakan. Hanya kau satu-satunya orang yang bisa membantuku menemukan jalan pulang, jadi … aku mohon, jangan pernah membenciku," ucap Celine dengan perasaan sakit teramat dalam.
Darchen terhenti ketika mendengar perkataan Celine. Dia menggertakkan giginya hingga rahangnya tampak menonjol dari luar.
"Aku minta maaf jika punya salah, tapi … bisakah kau … kau memberitahu padaku dimana letak kesalahanku," pinta Celine dengan mata berkaca-kaca. Dia gemetar ketakutan saat mengatakan pada Darchen.
Darchen tidak berkutik sama sekali. Dia diam membisu. Tidak menjawab pertanyaan Celine. Matanya seolah tidak sudi menatap Celine. Bahkan untuk berbalik menoleh ke arah Celine, Darchen tidak ingin.
"Ja-Jangan membenciku, Darchen. Aku tidak tahu cara melanjutkan hidup di dunia ini jika …."
Belum sempat Celine menyelesaikan perkataannya, Darchen langsung masuk ke dalam kamarnya dengan pintu yang dibanting keras, hingga Celine tersentak.
" … jika kau tidak ada," sambung Celine dengan suara pelan melanjutkan kalimatnya yang terpotong.
Celine dengan hati yang hancur kembali menenangkan diri. Tidak berhasil di ruang gelap. Akhirnya ia memutuskan untuk menghirup udara segar di kolam balik tembok milik Darchen yang begitu indah itu.
Celine menengadah ke atas langit dan memejamkan kedua matanya. Ia mulai menenangkan pikirannya dengan membuang semua kegundahan yang bersarang di benaknya. Sudah cukup di hari lalu ia menjadi orang paling hancur. Kini dia tidak ingin. Dia ingin menjadi sosok yang kuat dan tidak mudah pantang menyerah. Sebab semua yang dia alami adalah bagian dari tantangan untuk mengambil langkah menuju kebebasannya. Dia yakin, jika semakin sakit tekanan di dunia itu padanya, lebih tegar pula ia menghadapi cobaan lainnya.
"Lyn … seandainya kau ada di sini, mungkin semua tidak akan seberat ini," renung Celine dengan air mata yang mengalir meski sudah dipaksanya agar tidak keluar. Dia terus menengadah sambil menutup mata, meski deru kesedihan membasahi wajahnya.
Sungguh dia teramat hancur, tapi tidak ada tempatnya mengadu selain mengandalkan diri sendiri. Di dunia yang begitu sepi itu, Celine hanya bisa berharap agar semua akan segera berlalu. Dia berharap semua yang dia alami di negeri Athiam adalah mimpi.
Hanya saja setiap sakit yang dia alami terasa nyata dan membekas. Tidak akan mungkin sekedar mimpi saja. Semua adalah kenyataan pahit. Ditolak pun tidak akan berguna. Semua telah ditakdirkan untuknya. Sekeras apapun dia menganggap semua adalah mimpi, rasanya mustahil. Sebab semuanya adalah kenyataan.
Celine bersandar di batang pohon kokoh yang besar lalu menyerahkan masalahnya terurai bersama angin yang berlalu. Untuk beberapa saat ia tidak ingin mengingat lagi. Sekarang ia harus fokus menemukan jalan pulang saja.
"Semoga saat terbangun, aku sudah berada di ranjang apartemenku," decak Celine sambil berkhayal tinggi.
***
Senja telah berpamitan, namun Genah sama sekali tidak melihat Celine seharian. Dia mencari kemana-mana, tapi nihil hasilnya. Setiap pelayan yang ada dia tanyai, tetap tidak ada yang melihatnya. Genah kembali cemas, sebab majikannya itu tidak tampak sejak tadi. Malam segera hadir, namun Celine entah dimana rimbanya.
Akhirnya Genah memutuskan untuk menanyakan pada Darchen soal keberadaan Celine. Siapa tahu Pangeran Darchen Valerio dapat membantunya. Atau bisa saja mereka sedang bersama.
"Pangeran tidak bisa diganggu," larang seorang Prajurit menahannya masuk ke ruangan Darchen.
"Ada yang ingin ku sampaikan pada Pangeran, sangat mendesak," jelas Genah.
"Akan saya sampaikan nanti, katakan saja," ucap Prajurit itu.
"Kau bisa katakan sekarang?"
"Tidak, nanti akan saya sampaikan."
"Apa kau melihat Pangeran Darchen dan Nona Celine bersama hari ini?" tanya Genah.
"Tidak ada. Pangeran Darchen terus sendiri dari tadi. Sudah sejak siang beliau berada di sini. Tidak keluar sama sekali," terang Prajurit yang menjaga pintu ruangan Darchen.
Ketika Genah sedang bertanya-tanya. Dion datang menghampiri mereka dan menanyakan maksud kedatangan Genah.
"Genah?"
"Panglima," sapa Genah sambil membungkuk.
"Ada apa?" tanya Dion.
"Dari tadi pagi aku tidak melihat Nona Celine. Sama sekali tidak melihatnya," cakap Genah cemas.
"Benarkah? Akan ku tanyakan Pangeran Darchen langsung."
Dion masuk ke dalam ruangan tanpa dihadang oleh prajurit. Ia menanyakan pada Darchen Valerio perihal kecemasan Genah.
"Tidak," jawab Darchen singkat dan ketus.
"Celine tidak terlihat sejak pagi, Pangeran. Aku juga resah …."
"Tidak mau tahu," timpal Darchen memotong kalimat Dion.
Darchen terus melanjutkan urusannya. Dia terus membalik lembaran buku dan tidak mengacuhkan Dion. Dia tidak ingin dengar apapun.
Melihat respon dari Darchen, Dion langsung paham. Ia tidak lagi menanyakan seputar Celine. Dion keluar dari dalam yang sebelumnya ia telah berpamitan pada Darchen.
"Genah, pangeran tidak tahu," kabar Dion.
"Baiklah, Panglima. Terima kasih sudah tanyakan," tunduk Genah lalu pergi.
Genah terus mencari keberadaan Celine. Dia menunggu di dalam kamar, semoga majikannya cepat datang.
Sementara Celine yang masih lelap tertidur di kolam indah itu, tiba-tiba terbangun saat kumpulan burung terbang di atas langit sambil mengeluarkan kicauannya.
"Astaga! Kya … bodohnya aku sampai tidur di sini." Celine setelah membuka matanya langsung terjungkal sanking kagetnya. Dia langsung bangun dan membersihkan kedua tangannya yang kotor akibat tanah yang tersentuh olehnya.
Dia langsung berlari keluar dari kolam itu dengan terbirit-b***t. Dengan jantan, dia mengangkat gaunnya hingga lutut terlihat, lalu berlari dari sana. Bulu kuduknya terasa berdiri karena takut hari akan gelap. Namun senja terpajang indah. Dia ingin sekali menikmati tenggelamnya sang senja. Tapi karena takut keluar saat malam, dia mengurungkan niatnya dan bergegas keluar dari kolam.
Saat dia coba menembus segel tersebut, tiba-tiba tubuhnya tidak bisa keluar dari sana. Dia terkurung di dalam kolam tersebut dan tidak bisa berbuat apa-apa.
"Sialan! Bagaimana ini?! Kya!!!" teriak histeris Celine panik. Dia memaksa keluar dari segel itu meski tidak bisa. Ia menjerit-jerit keras meminta seseorang mendengarnya dan segera menolongnya keluar.
Dia memukul segel itu dengan keras, tapi tidak bisa. Ketika dia melempar tubuhnya keluar segel, yang ada dia malah terpelanting tersungkur ke tanah.
"Mampuslah aku," celetuk Celine ketakutan.
Dia pasrah di dalam. Sebab ia tahu takkan ada orang yang mengetahui kolam tersebut. Hanya Darchen sajalah yang akan datang ke kolam. Tidak ada orang yang bisa dimintainya untuk menolong dirinya.
"Jika dia tidak datang … maka … oh my god. Jangan katakan kalau aku akan terkurung di sini!"
Prasangka Celine semakin tidak enak. Malam telah tiba, namun dia belum juga bisa keluar dari sana. Resah hatinya itu terobati seketika. Ketika gelap telah menyelimuti langit. Sekumpulan kunang-kunang datang menerangi kolam tersebut. Seakan mereka sedang menari di atas air. Sangat indah sampai mata terperosok ke dalamnya. Hati terasa tenang saat menatapnya.
Celine serasa terpanggil. Dengan sendirinya, kaki Celine melangkah mendekati kumpulan kunang-kunang tersebut. Seakan mereka sedang menari menyambut kedatangan dirinya.
Dengan sendirinya, bibirnya tersenyum. Dia begitu gembira saat melihat tarian dari kunang-kunang tersebut. Tumpukan bunga itu seakan menerima dirinya. Mereka bermekaran dan mengeluarkan wangi yang sedap dicium.
Setelah ia menikmati segalanya yang ada di dalam. Tiba-tiba ia berhenti tersenyum. Celine diam seketika. Sebab, saat ia berbalik, tiba-tiba Darchen telah berdiri di pintu masuk kolam itu sambil memandangi dirinya.
"Kau?!" Celine muram seketika.
Celine langsung membuang mukanya, tidak ingin menatap Darchen. Hatinya begitu sakit saat melihat dirinya bercengkrama dengan Erica. Setelah apa yang dia lakukan pada Celine malam itu, paginya ia malah bergandengan dengan wanita lain. Seolah hati Celine sedang dipermainkan.