Dihancurkan Harapan

1812 Words
Darchen tiba-tiba seperti orang berbeda lagi. Ia melangkah mundur lalu menutup sebelah mukanya dengan tangannya. Seolah ia sedang menyesali perbuatannya. Tampak kalau matanya menatap Celine dengan pandangan berbeda dari sebelumnya. Semula hangat berganti dingin. Celine dengan tampang bingung, mencoba memahami Darchen. Ia mendekati Darchen, hendak menanyakan keadaannya. Tapi Pangeran Darchen begitu saja pergi, tanpa meninggalkan penjelasan padanya. Setiap kali Darchen mencium Celine, entah mengapa ia akan berubah sembilan puluh derajat. Seolah yang menciumnya adalah orang berbeda. Atau seperti dirasuki seseorang. "Darchen …," ucap Celine dengan suara pelan dan wajah sedihnya sambil menggenggam tangan. Dalam benaknya berpikir kalau Darchen pasti menyesal karena memperlakukan dirinya dengan sangat baik. Celine kembali murung. Namun sedikit terobati karena tubuhnya yang kembali seperti semula. Wajahnya dan badannya telah pulih. Ia mengambil pakaiannya di dalam lemari. Lalu ia mengambil syal rajut tebal yang dia lingkarkan di lehernya. Ia kedinginan. Entah mengapa. Tidak lama setelah melihat Darchen keluar dari kamar Celine, Genah language masuk ke dalam dan melihat kondisi Celine. Betapa terkejutnya dia setelah melihat majikannya itu telah siuman. Itu artinya ia tidak akan kehilangan orang yang berharga lagi dalam hidupnya. "Nona?!" Genah langsung memeluk Celine dengan wajah bahagia. Ia teramat senang karena majikannya telah pulih. Seakan keresahan selama Celine dalam zona bahaya telah hancur akibat senyum majikannya yang telah kembali. "Genah, kenapa kau lebay sekali?" celetuk Celine bergurau. "Nona, hamba sangat khawatir dengan kondisi Anda," jelas Genah mengenai perasaannya. "Ya, terima kasih karena mencemaskan aku. Oh ya, bagaimana denganmu?" "Apa maksud Anda, Nona?" "Dion bilang kau jatuh terkapar karena aku," geming Celine. "Tidak perlu dipikirkan, Nona. Hamba baik-baik saja," ucap Genah sambil tersenyum. "Maafkan aku karena merepotkan kalian," murung Celine. "Tidak masalah, Nona. Sudah kewajiban hamba." "Sepertinya aku sangat berbahaya. Bagaimana bisa tubuhku memiliki sihir, padahal … padahal aku hanya manusia biasa yang datang dari zaman modern," jelas Celine bingung. "Entahlah, Nona. Bisa saja kekuatan Anda dulunya telah disegel, namun secara tidak sadar Anda mengaktifkannya kembali," terang Genah menurut pendapatnya. "Ha? Tidak masuk akal, aku lahir di zaman modern, tidak ada semacam sihir. Sudahlah, lagian kau tidak akan mengerti," pasrah Celine. Tidak akan ada yang paham dengan dirinya. Asal-usulnya yang samar, tidak akan ada yang tahu tentang semuanya. Bahkan jika dijelaskan pun tidak akan ada gunanya. Semuanya akan sia-sia. Bagi mereka, cerita Celine hanyalah sebuah bualan belaka. Seperti khayalan saja. Hingga hatinya menolak untuk menceritakan pada siapapun perihal dirinya, dan dunianya. Melihat Celine yang tampak pucat dan kedinginan, Genah langsung menutup semua jendela dengan rapat. Ia menghidupkan bara api agar menghangatkan seluruh ruangan. Ia mengambil kain tebal, kemudian memberikannya pada Celine. "Genah," sebut Celine dengan wajah bingung. "Kenapa, Nona?" tanya Genah tanpa melihat Celine. Ia terus menjaga bara api agar tetap menyala. "Ada apa denganmu?" tanya Celine lagi dengan senyum yang menyudut ke kanan. "Hahaha … tidak ada, Nona. Aku hanya menghidupkan bara ini," jawab Genah. "Bukan itu, sepertinya kau lebih aktif dan …." Genah langsung memotong kalimat Celine lalu menimpalinya cepat. "Nona, minum air hangat ini," perintah Genah sambil menyodorkan secangkir teh hangat pada Celine. Dengan tampang membodoh, Celine mengambil gelas tersebut lalu meminumnya dengan muka bingung. Ia meneguknya sambil memperhatikan tingkah Genah yang tampak berbeda. Ia seperti seorang ibu yang sedang mengurus anak saja. "Apa jantungmu sudah membaik?" tanya Celine. "Sudah, Nona," jawab Genah cepat sambil tersenyum lebar. Celine mengangkat alisnya sebelah. Dengan keheranan, Celine mendekati Genah dan menyentuh dahinya. Ia hendak mencoba merasakan suhu panas tubuh Genah. "Kau tidak panas, hmmm, tidak ada ruam," celetuk Celine sambil memeriksa setiap sudut wajah Genah. "Hamba baik-baik saja, Nona," ujar Genah dengan wajah berseri-seri bahagia. "Entahlah, aku merasa ada yang aneh denganmu," decak Celine sambil mencoba mencari perubahan pada Genah. "Hmm? Mungkin hamba lebih kurus sekarang," celetuk Genah. "Ehm? Tidak sepertinya. Sikapmu, bukan?" "Hahaha … selagi perbedaannya membawa kebaikan, tidak perlu diperdebatkan, Nona," terang Genah. Celine meneguk habis semua teh yang dibuatkan Genah padanya. Setelah gelas tersebut kosong, ia meletakkannya di atas meja yang berada di sebelahnya. "Oh, aku lupa membacanya," sambung Celine dengan mulut yang mengerucut. "Apa, Nona?" "Ini, surat dari Alan, aku lupa membacanya," ungkap Celine dengan rasa penasaran. Lantas ia langsung membukanya dan membacanya. Isi surat itu berkaitan dengan ajakan untuk tinggal di kediaman Zoe. Sebab Joel, anak Alan, setiap hari merengek meminta kedatangan Celine. Jika sekiranya tidak bisa, maka dengan mohon sangat, Alan meminta Celine untuk mengunjungi Joel sekali dua hari. "Ya ampun, sudah tiga hari berlalu. Pasti Joel sangat sedih," ujar Celine merasa bersalah. "Anda bisa mengunjunginya setelah siuman, Nona," jelas Genah. Ia tidak ingin keadaan Celine tidak stabil kembali. Sebab itu ia meminta agar Celine membahas orang lain saat setelah ia siuman. "Besok aku akan menjenguknya," celetuk Celine. "Apa tidak sebaiknya tunggu beberapa hari lagi, Nona?" "Aku akan pertimbangan besok," jawab Celine. Celine membaringkan tubuhnya, lalu memejamkan matanya. Ia tidur dengan lelap, karena semua bebannya telah selesai. *** Pagi hari yang begitu cerah, menyinari permukaan bumi dengan cahayanya yang begitu menenangkan. Kicauan burung yang saling menyahut membangunkan Celine dari tidurnya yang begitu nyenyak. Dia seolah disapa oleh dunia dengan warna yang begitu ceria. Seakan dia memulai hidup baru setelah beberapa hari lalu melewati tantangan yang begitu berat. Celine beranjak dari ranjangnya kemudian melepaskan syal yang dilingkarkan di lehernya. Tubuhnya seakan kembali segar seperti baru saja keluar dari sauna. Dia meregangkan tubuhnya dan mencoba untuk berolahraga kecil di pagi hari itu. Kemudian dia keluar dari kamarnya untuk menyapa taman yang begitu menenangkan hati dan pikiran. Dia tersenyum melihat dedaunan hijau, bunga, bunga-bunga beraneka macam dan warna. Belum lagi embun yang membasahi mereka, begitu harum ketika diendus baunya. Baru saja ia memejamkan mata sekaligus menghirup udara yang begitu segar, tiba-tiba Ratu Sibenth datang menemuinya sambil tersenyum. Ratu Sibenth menyapa celine. "Celine kau sudah sembuh?" tanya Ratu Sibenth. Dengan senyum yang begitu ceria dan ramah, Celine menjawab,"Benar Yang Mulia, terima kasih karena sudah mencemaskanku, dan maaf bila beberapa hari yang lalu aku tidak izin kepadamu saat hendak keluar dari istana." "Tidak masalah, yang penting kau baik-baik saja," sambung Ratu Sibenth. Dia tak ingin melihat Celine begitu canggung di hadapannya karena ia ingin sekali kalau wanita itu menganggapnya seperti ibunya sendiri. Karena ia bisa tahu, kalau anaknya itu, Darchen, sedang tertarik pada Celine. Dia bisa merasakan hal itu. "Terima kasih, Ratu Sibenth," ucap Celine sekali lagi. "Apa flu mu masih mengganggu?" tanya Ratu Sibenth cemas. "Sudah lebih baik, Ratu," balas Celine sambil tersenyum. "Oh yah, ngomong-ngomong apa ada yang hendak disampaikan padaku?" tanya Celine. "Aku ingin menjengukmu saja, Celine. Sekaligus memberikanmu beberapa pakaian dan perhiasan untuk kau gunakan saat festival Hyros nanti," jelas Ratu Sibenth. "Eh, tidak perlu. Gaun yang sebelumnya kau berikan, belum semua kupakai," tolak Celine merasa segan. "Tentu saja berbeda. Dua hari lagi festivalnya akan diadakan, sebaiknya jaga kesehatan. Jangan lupa memakainya, yah. Aku beberapa hari ini tidak bisa diganggu karena disibukkan dengan persiapan festival Hyros. Makanya, sekarang adalah waktunya yang tepat," jelas Ratu Sibenth. "Tapi, Ratu, aku sungguh tidak bisa menerima apapun lagi dari kalian," jawab Celine. "Sudahlah, aku pergi dulu, masih banyak kerja yang lainnya. Jaga kesehatanmu, Celine." Setelah memberikan gaun mewah padanya, dan sekotak perhiasan, Ratu Sibenth langsung pergi. "Aish," decak Celine. Ketika ia hendak berbalik ingin masuk ke dalam kamar untuk meletakkan pemberian dari Ratu Sibenth. Kepalanya terpental dari badan seseorang. Gaun dan perhiasan yang ia pegang jatuh ke lantai. "Auch," desis Celine kesakitan. Dia langsung mengambil gaun yang telah terjatuh itu, dan mengutip perhiasan yang berserakan di lantai. Ketika tangannya mengambil semua yang berjatuhan itu, langkah kaki seorang pria terlihat melewatinya begitu saja. Padahal pria itulah yang menabraknya tadi, tapi dia sama sekali tidak meminta maaf ataupun membantunya. Malahan, pria itu melewatinya begitu saja. Celine langsung menatap pria itu untuk menandai wajahnya. Terlalu lancang. Bahkan minta maaf tidak berniat. "Darchen …," sebut Celine dengan nada menurun. Pria itu adalah Darchen. Dengan acuh ia melewati Celine. Bahkan tidak menyapanya sama sekali. Menoleh pun, tidak ada. Darchen terus berjalan tanpa menghiraukan Celine. Seolah mereka tidak saling mengenal. "Ada apa dengannya?" tanya Celine dalam benak dengan perasaan tertusuk. Baru saja malam itu, pria itu bersikap romantis padanya, sekarang berubah menjadi apatis. Tentunya hal itu membuatnya semakin bingung. Seingatnya, dia tidak melakukan kesalahan semalam pada Darchen. Lalu mengapa sikapnya begitu dingin pada Celine? "Apa karena aku terlalu kurang ajar telah menggigit bibirnya semalam?" tanya Celine lagi. Melihat perubahan sikap dari Darchen, Celine akhirnya memutuskan untuk meminta maaf pada pria itu. Karena semalam ia dengan lancangnya mencium Darchen dengan nakal. Setelah melemparkan pemberian Ratu Sibenth tadi ke atas ranjang. Celine langsung berlari mengejar Darchen untuk meminta maaf padanya. "Darchen!" teriak Celine memanggil. Namun sama sekali, pangeran itu tidak berbalik, padahal jelas-jelas kalau suaranya begitu keras. Jarak mereka juga tidak terlalu jauh. Ditambah lagi mereka sedang berada di lorong istana, tentu saja suaranya akan menggema. Mustahil jika Darchen tidak mendengar panggilan darinya. "Darchen!" panggil Celine lagi. Sama seperti tadi, Darchen tidak menoleh sama sekali. Celine akhirnya berhenti memanggil Darchen lalu memutuskan untuk tidak mengejarnya lagi. Ia menatap Darchen hingga bayangannya tak tampak lagi sambil menunggu pria itu berbalik dan menatap dirinya. Namun, harapannya itu tidak terkabul. Sampai titik akhir langkah kakinya menjauh, sama sekali, Darchen tidak menoleh. "A-Apa yang salah dariku?" tanya Celine dengan wajah suram. Celine berjalan dengan pandangan kosong menuju kamarnya. Dia masih memikirkan letak kesalahannya pads Darchen. Semalam mereka sedang baik-baik saja, tapi mengapa kini Darchen bersikap acuh padanya? Kemarin malam, Darchen memanglah sangat aneh. Sebab pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata. Ia begitu saja pergi dengan wajah seolah menyesali. Dia ingin memastikan pada Darchen soal perubahan sikapnya itu. Ia mengejar kembali Darchen, hendak menanyakan kesalahannya pada Darchen. Jika memang benar ada, maka ia harus meminta maaf. Langkah kakinya berhenti saat melihat Darchen sedang bersama dengan Erica. Mereka terlihat sangat dekat. Di jembatan kolam itu, mereka terlihat sedang bercengkrama. "Apa yang ku harapkan?" Hatinya serasa dikhianati oleh prasangka sendiri. Ia seolah dibohongi oleh harapan sendiri. Dengan senyum tipis dan sinis, Celine berpura-pura tegar. Ia menatap keduanya dengan senyum paksa, seraya berkata,"Cih, ciuman palsu." Kemudian, Celine kembali ke kamarnya lalu menutup semua jendela, dan juga pintu. Sama sekali ia tidak membiarkan cahaya masuk dan menyinari kamarnya itu. Dia menghidupkan bara api, lalu menyalakan lilin lilin. Kemudian ia berjalan menuju cermin seraya membawa perhiasan yang diberikan oleh Ratu Sibenth tadi padanya. Ruangan yang begitu gelap, disinari kerlip lilin, begitu indah ketika dibayangkan. Namun saat berada didalamnya, ternyata begitu menakutkan. Seakan jiwa yang hampa telah terisi kesunyian yang abadi. "Hahaha … kenapa kau bodoh sekali Celine? Dengan beraninya kau mengharapakan pria itu? Tidak tahu diri," hina Celine pada dirinya sendiri. Dia tertawa terbahak-bahak. Meski hatinya sedang sakit saat itu. Namun dia sudah tidak tahu lagi harus mengungkapkan kekecewaannya dalam bentuk apa. Ingin menangis, hanya saja tangisannya tidak pantas cemburu. Ingin bersedih, hanya saja kepedihannya adalah milik sendiri. Berlarut-larut dalam hati yang hancur tidak ada gunanya. Namun ia membutuhkan sesuatu yang nyata. Yang dapat dijadikannya persandaran. Dunia itu terlalu kejam, hingga hidup sendiri adalah kemustahilan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD