Ciuman Hangat

1771 Words
Selama tiga hari penuh, Celine terkurung di dalam kamar . Tidak ada satupun orang yang diperbolehkan masuk menemuinya, karena dikhawatirkan sihir yang ia miliki menyerap magis milik orang lain. Ia sudah jenuh terus-terusan berada di sana, namun tidak ada satupun orang yang menemuinya, baik itu Genah , atau pelayanan lainnya. Hanya ada Dion yang setiap harinya memberikan dia makanan dan minum. Sebab ia telah mengetahui kondisi tubuhnya yang membahayakan orang lain, dia sadar dan tidak memaksakan agar terus ditemani. Lagi pula ia juga ingin sendiri untuk beberapa saat. Dalam beberapa hari ,ia terlalu banyak menghadapi rintangan yang begitu menyakitkan. Hari-harinya begitu sepi dan suram. Ketika pagi, dia terbangun dari tidur pulas, dia hanya bisa menatap sang fajar dari balik jendela. Ketika siang ia hanya bisa mengambil secarik kertas dan meluaskan isi hatinya dengan gambar-gambar abstrak. Ketika senja telah tiba dan hendak berpamitan, dia hanya bisa berdoa agar segalanya cepat berlalu, agar dirinya bisa kembali lagi pulang ke dunia nyata. Dia hanya bisa berdoa agar segalanya cepat berlalu. Dia sudah teramat tidak tahan lagi berlama-lama hidup di dunia asing yang begitu mengekang dirinya . Belum lagi karena kondisi tubuhnya yang begitu mengerikan membuat batinnya semakin melemah, dia begitu depresi. Apalagi setelah dikecewakan oleh ekspektasi yang terlalu tinggi. Celine bisa dikatakan orang yang cukup tegar dan kuat karena bisa menghadapi semuanya. Meski dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti-henti di wajahnya, namun dia terus berusaha agar tetap hidup. Meski kemarin lalu dia sempat berfikir untuk mengakhiri hidupnya, tetapi sekarang dia tahu dan menyadari kalau semuanya pasti akan berlalu. Sebab ia yakin dan percaya bahwa hidupnya dan matinya berada di dunia nyata, dia tak akan mungkin mati di dalam dunia yang begitu fana. Selain itu masih banyak orang yang merindukannya di dunia nyata, dia yakin dengan doa-doa dari mereka, dia bisa kembali ke dunia di mana dia tinggal sebelumnya. Hari-hari berlalu begitu saja namun tubuhnya tidak terjadi perubahan sama sekali. Pembuluh darah itu tetap timbul dan kasat ketika disentuh, matanya seperti reptilia yang begitu menakutkan apabila dipandang, ditambah bercak darah yang pekat begitu menakutkan. Tiga hari sudah dilaluinya terkurung di dalam kamar ditemani oleh kesunyian dan kesepian. Hatinya yang begitu hancur sesalu membuatnya tidak ingin tampak di dunia. Beban yang dia pikul sendiri tidak ada satu pun yang paham dengan situasinya. Dia selalu diiringi dengan air mata yang begitu deras mengalir. Hanya itu yang bisa dilakukannya untuk meluapkan kesedihannya. Sementara Genah dan Dion yang mati-matian mencari obat ataupun solusi untuknya, tidak ada jeda waktu untuk berdiam diri. Mereka tidak menyia-nyiakan waktu, siang-malam mereka hanya mencari penawar untuk memadamkan sihir yang tidak terkendali oleh celine. Genah merasa bersalah sebab ia tidak bisa menemani hari-hari Celine begitu menyedihkan. ia ingin terus berada di samping Celine saat itu namun dikarenakan sihir yang melekat pada celine begitu berbahaya baginya. Oleh karena itu ia hanya bisa berharap agar segalanya cepat berlalu dan kembali seperti sedia kala. Dimana majikannya itu menjadi orang yang periang lagi. Dia rindu bersenda gurau bersama celine, dia juga menantikan masakan yang begitu lezat buatan celine, dia juga rindu mendapatkan perhatian dari celine. Semuanya amat dia nantikan. "Sudah tiga hari berlalu, namun belum juga menemukan penawar," decak Genah kesal. Ia menyalahkan dirinya sendiri, karena tidak bisa diandalkan saat Celine membutuhkan dirinya. "Tenanglah, pasti akan ketemu," ucap Dion menenangkan. "Aku harap juga begitu, tapi hanya saja aku cemas. Aku takut jika Nona Celine tidak bisa diselamatkan," resah Genah dengan wajah ketakutan. Untuk pertama kalinya, Dion melihat wanita itu merasa takut. Seakan orang yang di depannya bukalah Genah yang pemberani itu. Wanita itu begitu terlihat lemah, jauh sekali dengan Genah yang kuat. "Kenapa kau terlihat sangat khawatir?" tanya Dion keheranan. "Mungkin aku hanya takut jika kehilangan orang yang kusayangi … lagi," jawab Genah sambil menunduk. Ia terbayang seketika tentang masa lalunya yang begitu kelam. Meski dia tidak ingin mengingat kejadian tersebut, tapi ia sekilas terbayang. Dia tidak ingin kehilangan orang yang dia sayangi. Sebisa mungkin dia akan melindungi. Dia tidak ingin masa lalunya terulang kembali. "Lagi?" decak Dion bertanya-tanya dengan suara yang pelan. Dia mencoba memaknai maksud perkataan Genah. "Apakah ada kaitannya dengan masa lalu?" decak Dion dalam hati. *** Celine berdiri di depan cermin memandangi wajahnya yang begitu mengerikan. Dia menyentuh dengan pelan tengkuk lehernya dan merasakan aliran yang berada di dalamnya. Dia mencondongkan wajahnya lebih dekat lagi dengan cermin. Celine membuka matanya lebar-lebar lalu memperhatikan pupilnya yang begitu menyeramkan. Rambutnya yang terurai menutupi wajahnya, ia tepiskan. Dia mengambil pengikat rambut lalu mengepangnya. Dia mencoba menerima keadaan yang dia alami saat ini, sekarang dia sadar bahwa tidak ada gunanya berlarut-larut dalam kesedihan dan keputusasaan. Kini saatnya dia mencari solusi dan tidak perlu mengandalkan orang lain untuk menyelesaikan masalahnya. Dia pergi menuju kamar mandi dengan perasaan yang begitu kosong. Pandangannya yang tidak bertujuan itu menuntunnya untuk berendam di dalam bak yang telah ditaburi kelopak mawar sebelumnya. Dia melepaskan seluruh pakaiannya, hingga sehelai benang pun tidak ada menempel di dirinya. Ia masuk ke dalam dengan perasaan hancur. Dia memenangkan dirinya di dalam rendaman air tersebut. Ia menutup matanya dan mencoba melupakan masalah yanh ia hadapi. Celine merilekskan pikirannya agar tetap tenang. Hingga ia tidak sadar kalau malam telah menutupi cahaya senja. Sekitar lima jam ia berendam di sana. Hingga mulutnya membiru, kulitnya mengerut, dan darahnya memucat. Namun ia masih belum merasakan sesuatu. Ia tetap saja kosong. Ketenangan tidak ia dapatkan sama sekali. Sudah mencoba melupakan segalanya, tapi bayangan kehancuran telah menghantui dirinya. Mata Celine terbuka lebar saat mendengar pintu kamarnya terbuka. Sudah tiga hari berlalu, tidak ada satu pun orang yang mendatangi dirinya. Tidak bisa dipungkiri, ia ingin sekali diberi semangat dan membutuhkan seseorang untuk menemaninya, tapi karena tidak mau mengusahakan orang lain, ia menutup diri dan berpura-pura tidak membutuhkan orang lain berada di sisinya. Celine berdiri dari bak tempat ia berendam, lalu mengambil baju mandi untuk menutupi tubuhnya. Dengan kaki yang basah, ia melangkah keluar dari bilik mandi tersebut. "Darchen …" ucapnya dengan perasaan yang hancur. Ketika melihat Celine, Darchen langsung marah besar, dia kesal karena Celine berubah menjadi orang yang menyedihkan. Baru saja ditinggal selama tiga hari, tapi wanita itu sudah menjadi mayat hidup yang begitu memprihatinkan. Tubuhnya yang semakin kecil dan kurus, bibirnya yang membiru, kulitnya yang begitu pucat, wajahnya yang pasih. Semua hal itu membuatnya murka. "Apa yang kau lakukan!!!" Celine langsung tersentak ketakutan. Seolah hatinya yang hampa telah diisi dengan rasa kembali. Akhirnya setelah beberapa waktu terkena dalam kesunyian, kini ia bisa merasakan lagi. "Darchen …," ucap Celine lagi. Pandangan yang begitu kosong, amat menarik simpati Darchen. Entah mengapa dirinya ikut merasakan kehancuran yang dialami Celine. Seakan perasaan wanita itu adalah bagian darinya. Kesedihan wanita itu seakan adalah miliknya. Kehancuran wanita itu seakan adalah miliknya. Datchen berjalan mendekati Celine dengan langkah cepat. Ia memegangi wajah Celine yang begitu dingin akibat terlalu lama berendam di air. Ia memandangi matanya yang begitu menggambarkan kesedihan. Ia bisa merasakan segala keputusasaan yang dialami oleh wanita itu. "Apa yang kau lakukan saat tidak ada aku?" tanya Darchen dengan suara begitu menenangkan. Tangan Darchen yang begitu hangat, sangat nyaman. Hingga Celine ingin menahan agar pria itu tetap memegangi wajahnya. Suara nafasnya yang terdengar panik, membuatnya merasa aman. Seketika bercak darah yang memekat ditubuhnya hilang perlahaan. Pembuluh darah baru itu menipis kemudian. Matanya kembali berwarna coklat tua, dan pupilnya kembali melebar. Celine mengangkat telapak tangannya, lalu meletakkannya di d4d4 pria itu. Ia ingin mendapatkan kehangatan dari detak jantung Darchen. Perlahan ia menutup matanya bersamaan dengan air mata yang jatuh dengan sendirinya. Seakan dunia telah kembali padanya ketika merasakan degup jantung milik Darchen. Ia bahagia bercampur kecewa. Sebab dunianya itu hanyalah tempat sementara saja. Pria itu tidak mencintainya, dia yakin akan hal itu. "Maafkan aku," ucap Darchen merasa bersalah karena meninggalkan Celine sendiri menghadapi masalahnya sendiri, padahal Darchen sudah tahu sejak awal kalau Celine akan seperti itu. Namun ia tetap meninggalkannya karena tidak bisa membiarkan negeri rata oleh Yumiro. Mendengar ucapan Darchen, Celine semakin hancur. Dia tidak ingin lagi perhatian dari Darchen, ia takut perasaannya semakin dalam, yang nantinya akan semakin membuatnya tersakiti. Celine menurunkan tangannya lalu mundur ke belakang menjauhi Darchen. Ia membuang mukanya agar tidak perlu melihat wajah Darchen. Ia tidak ingin lagi terus berputar di tempat yang salah. Ia cukup sadar untuk mencinta orang lain. Ia harus segera mengubur dalam-dalam cintanya itu. Darchen pastinya heran dengan tingkah Celine. Wajahnya yang suram tentu saja membuatnya khawatir. Darchen menatap Celine dan tidak sengaja melihat makanan yang tidak disentuh sama sekali. Darchen juga melihat tumpukan kertas yang berserakan di atas ranjangnya. Kemudian ia mengambil beberapa kertas dan melihat isinya. Lembaran kertas itu berisi gambaran aneh dan sebuah oret-oretan di atasnya. Dia mencoba mendalami gambar tersebut dan mendapat arti. Intinya semua kertas itu menggambarkan perasaannya yang begitu hancur. Jiwanya seakan hilang, hingga hanya raga saja yang hidup. Semuanya terasa mati, baik perasaannya, hidupnya, bahkan air matanya telah mati. Melihat tumpukan kertas itu, Darchen langsung paham dengan perasaan Celine. Ia dengan sigap menghampiri wanita itu, kemudian menarik tangannya. Ia mendekap erat tubuh Celine. Entah mengapa hatinya didorong untuk terus melindungi wanita itu. Ia tidak ingin wanita itu terluka sama sekali. Sekarang dan seterusnya. Celine yang sudah tidak ingin lagi terlalu jauh jatuh dalam menganggap perhatian Darchen, mendorong Darchen menjauh dari tubuhnya. "Berhentilah membuatku salah paham," decak Celine dalam hatinya. Ia menunduk langsung saat Darchen sudah melepaskan dekapannya. Darchen dengan cepat meraih wajah Celine lagi, lalu memberikannya kehangatan yang sesungguhnya. Ia melampiaskan kerinduannya pada Celine. Dengan ganas Darchen menggigit bibir Celine lalu melumatnya dengan lembut. Ia secara intens melumuri bibir wanita itu dengan gairah. Tak sedetik pun ia biarkan mengambil nafas wanita itu. Ketika menghirup udara Celine merasa sesak karena Darchen yang tidak memberinya irama yang teratur. Karena tidak tahan lagi, Celine menggigit bibir Pangeran Darchen dengan keras hingga terluka. Namun Darchen tidak menghiraukan luka itu dan terus menciumi Celine. Meski darah telah mengalir dari bibirnya, ia tidak peduli. Celine mengangkat tangannya dan bersiap melemparkan pukulan pada Darchen. Namun, pangeran itu telah dipenuhi dengan napsu, dengan cepat Darchen menangkap tangan Celine dan meletakkannya kembali, sembari bibirnya terus melumati bibir Celine. "Apa dia sudah gila?!" gumam Celine dalam benak. Matanya terbelalak karena terkejut. Pria itu begitu bringas memberinya ciuman. Sampai bernafas pun tidak ia berikan kesempatan. Celine mengangkat kembali tangannya dengan pelan. Ia menyentuh wajah Darchen dengan lembut. Lalu ia menutup matanya dan menikmati setiap detik yang terlewatkan bersama dengan Darchen. Seketika hatinya menjadi tenang. Ia terdorong untuk melanjutkan ciuman itu. Seakan ia ingin waktu berhenti agar mereka lebih lama melakukannya. Celine melingkarkan tangannya di leher Darchen lalu memainkan bibirnya. Dengan nakal ia mengatupkan mulutnya lalu menahan ciuman dari Darchen. Kemudian ia mengecup bibir Darchen berulang kali. Ia tidak membiarkan Darchen mengambil alih kendali dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD