Celine kini masih tidak bisa membayangkan betapa mengerikan dirinya. Urat tersebut begitu jelas di kepalanya. Terasa saat diraba. Begitu menakutkan hingga ia sendiri saja tidak sanggup untuk menatapnya.
Dunia yang begitu aneh itu telah mendorongnya ke dalam kutukan yang mengerikan. Ia cemas, bagaimana dia akan kembali jika dengan kondisi mengerikan. Bahkan Lyn sekalipun tidak akan mengenal dirinya. Apalagi orang lain di dunia nyata. Sungguh ia begitu putus asa, hingga bernafas pun terasa tidak berharga sama sekali. Ia berada diantara ingin tetap hidup dan lebih baik mati. Ia begitu depresi hingga berpikir jernih tidak bisa. Yang ia inginkan hanyalah kembali ke posisi awal dimana ia tidak perlu mengenal dunia aneh itu, dan tidak perlu bertemu dengan Yumiro yang membuatnya tampak mengerikan seperti sekarang kini.
"Aku ingin kembali, aku ingin kembali," ucap Celine berulang dengan muka yang begitu suram dan menggambarkan keputusasaan. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Dunia asing itu tidak mengerti dengan kondisi jiwanya. Memanglah biasa menurut mereka, namun baru bagi Celine. Sedangkan bisa masuk ke dalam dunia itu dari lukisan, sudah membuatnya ternganga, apalagi dengan sihir yanh begitu mengerikan itu. Kini ia malah menghadapi masalah yang sangat serius. Perubahan tersebut tidak dapat diterima oleh Celine. Ia harus kembali ke keadaan semula.
Dalam tekadnya, ia menantang takdir sebab tidak tahu lagi harus berbuat apa. Ia berniat mati jika dalam tiga hari ia belum juga kembali seperti sedia kala. Tanpa ada pembuluh darah baru di tubuhnya. Sampai semua bercak merah pekat kehitaman itu hilang dari tubuhnya. Jika dalam waktu tiga hari belum juga hilang, maka ia tidak bisa melanjutkan hidup lagi. Ia lebih memilih mati daripada hidup dengan segala keanehan yang begitu mengerikan.
"Tenanglah, Nona. Hamba yakin semua akan ada solusinya," ucap Genah menenangkan. Ia mengusap punggung Celine yang terduduk di atas ranjang dengan kaki yang ditekuk untuk menopang dagunya. Celine tampak sangat muram, hingga Genah merasa iba. Ia tahu bagaimana perasaan Celine sekarang, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa selain memohon agar majikannya itu bisa bertahan dalam menghadapi ujian. Ia ingin Celine terus bersabar sampai Dion menemukan jalan keluar untuk mengatasi masalahnya.
"Bagaimana aku bisa tenang?! Bahkan hidup saja aku tidak ingin lagi!" tegas Celine dengan air mata penuh ketakutan. Ia gemetar sebab masih belum menyangka dengan apa yang telah terjadi.
"Maafkan hamba, Nona, karena tidak bisa membantu Anda." Rangkul Genah. Tidak ada yang bisa dilakukan Genah, bahkan ia sendiri tidak paham dengan situasi yang dihadapi Celine. Namun meskipun begitu, ia tetap yakin kalau majikannya akan segera berubah seperti semula.
Dion yang telah mengetahui segalanya, langsung bergegas menuju kamar Celine. Ia hendak memanggil Genah untuk segera keluar dari sana. Sebab sihir magis Celine tidak bisa ia kendalikan. Jika berada dekat dengannya, bisa saja kekuatan yang dimiliki ikut terhisap juga olehnya. Tentunya hal itu sangatlah membahayakan orang disekitarnya. Oleh sebab itu, dengan sigap Dion harus menjauhkan orang lain darinya.
~kamar Celine~
Dion melihat Genah sedang memeluk Celine. Betapa takutnya ia jika terjadi apa-apa pada Genah. Ia langsung menarik Genah dari Celine, lalu memerintahkan Genah agar tidak mendekati Celine untuk beberapa saat, selama kondisi Celine masih dalam keadaan bahaya.
"Aku tidak menyangka kalau Nona Celine memiliki kekuatan sebesar itu," decak kagum sekaligus heran Genah saat mendengar penjelasan Dion tentang sihir yang dimiliki oleh Celine.
"Benar, aku juga berpikir begitu. Pantas saja Pangeran Darchen selama ini terus mempertahankan Celine berada di dekatnya. Ternyata beliau sedang melakukan observasi pada Celine," simpul Dion.
Mereka berbicara di balik pintu yang memisahkan antara luar kamar Celine dengan bagian dalamnya. Namun Celine yang masih penasaran dengan kondisinya itu, mencoba menguping dari dalam. Ia mendengar semuanya yang dikatakan oleh mereka. Mulai dari sihir yang ia miliki sampai dengan Darchen yang menjadikannya objek observasi.
Batinnya yang telah remuk sebab perubahan pada tubuhnya, bertambah hancur ketika mendengar kenyataan begitu menyakitkan itu. Ternyata selama ini Darchen hanya menganggap dirinya sebatas objek observasi. Semua yang dilakukannya tidaklah tulus dari hatinya. Perhatian itu hanyalah bentuk keresahan, dan takut kehilangan barang observasinya. Ia bukan sedang mengkhawatirkan Celine yang terluka, tapi ia sedang mengkhawatirkan objek observasi yang sedang terluka.
Mental Celine semakin kacau. Ia tidak dapat membendung kesedihannya lagi. Terlalu sakit hidup di dunia Athiam yang mengerikan itu. Ia terkekang sekarang kini. Hatinya bagai tertusuk berjuta jarum tajam. Air mata bahkan tidak mampu menunjukkan kesedihan yang ia rasakan.
Jika saja dari awal dia tahu akan begitu, ia tidak akan sudi hidup di dunia aneh tersebut. Perasaannya telah hancur sejadi-jadinya. Lantai telah penuh dengan basah dari tetesan kesedihan. Jika harus memilih, lebih baik ia sengsara di dunia nyata daripada hidup bahagia di Athiam.
Kini ia sadar diri, ia telah bangun dari mimpi yang terlalu ia khayalkan. Jelas harapan dicintai Darchen adalah harapan yang tidak mungkin. Namun dengan bodohnya, perasaan itu muncul dengan sendirinya. Celine tersakiti ekspektasi sendiri.
***
Genah dan Dion masih berada di luar memantau kondisi Celine. Mereka terus mencari cara agar dapat mengatasi persoalan yang terjadi pada Celine. Hingga mereka dihadapkan dengan kedatangan Ratu Sibenth secara tiba-tiba.
"Apa Celine telah kembali?" tanya Ratu Sibenth. Ia teramat bersemangat untuk menemui Celine. Karena ia mendengar kalau Celine semalam lusa tidur di kastil berdua dengan Darchen. Sungguh, ia ingin sekali mendengar ceritanya langsung dari Celine. Ia ingin menanyakan hal apa saja yanh mereka lakukan di sana.
"Su-Sudah, Yang Mulia," jawab Genah sambil menunduk memberi salam.
"Biarkan aku masuk ke dalam," pinta Ratu Sibenth dengan senyum bersemangat.
Genah langsung menghadang jalan Ratu Sibenth. Ia tidak ingin Ratu Sibenth melihat kondisi Celine. Bisa saja, Ratu Sibenth berbalik haluan malah membencinya.
"Sebentar, Yang Mulia, mohon maaf sebelumnya, tapi Nona Celine sedang tidak enak badan, dia sedang beristirahat saat ini," jelas Genah berbohong. Bagaimanapun caranya, Genah harus melindungi Celine.
"Astaga?! Benarkah?! Biarkan aku melihat kondisinya," desak Ratu Sibenth. Ia panik dengan Celine yang sedang dalam masa rawat. Kedatangannya untuk memberikan perhatian pada Celine, agar ia lekas sembuh.
"Yang Mulia, Nona Celine terkena flu yang mungkin bisa menular. Jika Yang Mulia tetap masuk, hamba khawatir terjadi penyebaran di istana ini. Ada baiknya Yang Mulia datang menjenguk Nona Celine saat kesehatannya telah membaik," ucap Genah. Ia berharap Ratu Sibenth tidak mempersulit dirinya lagi. Semoga saja Ratu Sibenth tidak bersikeras untuk masuk ke dalam. Ia tidak ingin rupa Celine terbongkar.
"Aku hanya ingin melihatnya saja," jawab Ratu Sibenth. Ia tidak peduli dengan penyebaran atau apalah itu, yang ia inginkan hanyalah melihat Celine saja.
"Maaf, Yang Mulia, namun benar yang dikatakan oleh Genah. Lagi pula hamba telah diutus Pangeran Darchen secara langsung untuk memantau kesehatan Celine. Selain itu, Pangeran Darchen juga memerintahkan hamba untuk tidak membukakan pintu pada siapapun, melihat kondisi Celine yang berpotensi menularkan penyakit pada orang lain," jelas Dion.
Ketika mendengar nama anaknya disebut, ia langsung mendengarkan. Terutama Dion yang telah menyampaikan padanya. Tentu Ratu Sibenth sangat patuh. Sebab ia tahu, kalau Dion adalah kepercayaan Darchen. Itu artinya pesan itu benar adanya.
"Baiklah, kalau begitu kalian sampaikan padaku jika Celine telah siuman," pinta Ratu Sibenth.
Ratu itu kemudian pergi dari hadapan mereka dan tidak jadi masuk ke dalam kamar Celine. Untungnya saja Dion dan Genah berhasil membatalkan niat Ratu Sibenth untuk masuk ke dalam. Jika saja ratu tersebut masuk dan melihat Celine, mereka tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Bisa jadi Celine akan dipersulit. Sudah barang tentu Celine akan diusir dari istana.
"Syukurlah," decak lega Genah. Jantungnya telah berdegup tak berirama saat tahu kalau Ratu Sibenth ingin menemui Celine tadi. Sekarang ia sudah bisa menarik nafas dengan ringan kembali. "Oh ya, Panglima, bagaimana dengan Nona Celine? Apa yang harus kulakukan?"
"Tidak ada, kita hanya berharap agar ia dapat mengendalikan sihirnya. Jika dalam waktu satu minggu ia belum juga dapat memadamkan magis dari Yumiro itu, kita hanya punya satu cara mengatasinya," jelas Dion.
"Katakan! Apa?!" desak Genah.
"Membunuhnya," jawab Dion.
Genah langsung terbelalak mendengar perkataan Dion. Bagaimana bisa ia tega melihat Celine harus dibunuh padahal tidak berbuat salah. Ia belum yakin dengan solusi yang diberikan oleh Dion.
"Pasti ada cara lain," ucap Genah tidak putus asa. Ia yakin masih ada cara lian untuk memulihkan kondisi Celine, selain harus dengan membunuh.
"Tidak ada," jawab Dion lagi.
Seketika jantung Genah terasa sakit. Ia tidak tahu apa sebabnya. Namun secara tiba-tiba jantungnya seakan ditusuk belati yang tajam.
"Argh!" rintih Genah kesakitan. Ia terjatuh tiba-tiba, karena tidak dapat menahan rasa sakit lagi. Akibatnya ia terjatuh ke lantai dengan posisi bersimpuh dan tangan yang memegangi d4d4nya.
"Panglima, tiba-tiba jantungku terasa … terasa sakit. Seakan susah menarik nafas," kata Genah.
Dion langsung paham dengan resksi yang ditunjukkan oleh Genah. Ia mengalami kelemahan akibat sihir yang terserap oleh Celine. Mereka sudah sempat berkontak fisik, hingga memudahkan Celine menghisap magis yang ada di dalam tubuh Genah. Akibatnya, Genah mengalami lemah magis, dimana penderita akan merasa tidak bernyawa karena sumber kekuatannya telah rusak terhisap sihir serap.
Untungnya saja Genah adalah orang yang berkekuatan sihir yang tinggi. Hingga ia masih memiliki pemulihan magis yang cukup baik. Dalam beberapa jam kemudian, Genah akan kembali ke keadaan awal. Jantungnya akan baik-baik saja.
Pantas saja saat Ratu Sibenth datang, Genah merasakan sesuatu yang berbeda terjadi padanya. Tidak biasanya ia mengalami degup jantung karena ketakutan. Ia dengan berani akan menyelesaikan setiap masalah tanpa ada rasa takut sama sekali. Namun saat Ratu Sibenth datang tadi, entah mengapa keberaniannya terasa menghilang. Ternyata penyebabnya adalah sihir magis yang telah tersedot sebagian oleh Celine.
Dion memapah Genah pergi ke ruang pengobatan di istana. Ia membaringkan tubuh Genah di ranjang lalu memberikan beberapa pengobatan dari sihir yang punya.
"Lain kali kau jangan berdekatan dulu dengan Celine, sebab ia masih dalam kondisi tidak stabil. Ia tanpa sadar bisa menghisap magis yang kau miliki," jelas Dion sambil mengobati Genah.
"Terima kasih, Panglima, " jawab Genah dengan raut tersipu. Pipinya memerah hingga telinga. Ia merasakan sesuatu di dalam lubuk hatinya.
"Beristirahatlah di sini, aku harus mengawasi Celine," ucap Dion. Dengan sikap acuh, Dion pergi ke tempat Celine untuk meneliti, dan mencari solusinya.
"Semoga Nona Celine baik-baik saja," decak Genah. Ia berharap masih bisa hidup lebih lama lagi bersamanya Celine.
***
Sejak magis Genah terhisap oleh sihir serap Celine, Dion melarang siapapun untuk masuk ke dalam kamar Celine. Apapun alasannya. Ia melarang keras.
Selain merugikan orang yang berada di dekatnya, Celine juga akan terancam pula nyawanya. Jika terlalu banyak magis yang ia serap, maka tubuhnya akan terbakar hingga menjadi debu.
Tiga hari sudah berlalu, namun Celine belum juga pulih. Dion yang setiap harinya mengantarkan makanan padanya, masih melihat urat itu berada di tubuhnya. Mata Celine juga semakin tampak seperti pupil reptilia. Sekilas Dion tahu, kalau Celine sekarang semakin memburuk keadaannya.