Ranjang Dingin

2176 Words
Tidak peduli dengan ribuan tanya yang ada di kepalanya, Celine sudah sangat lelah untuk memusingkan hal tersebut. Karena sudah menghabiskan hari dengan berlari dan menyusuri, dia memejamkan mata dan tidur dengan pulas di atas ranjang yang amat nyaman. Ketika dia sudah terjun ke dalam mimpi indahnya, tiba-tiba jendela kayu yang diukir indah terbuka, hingga angin masuk ke dalam meniup tirai. Angin tersebut menusuk hingga ke tulang. Bukannya terbangun dari tidurnya, Celine malah semakin lelap saja dan menarik selimut menutupi tubuhnya. "Dari mana wanita jelek ini berasal?" Terdengar decakan seorang pria yang kesal melihat Celine ada di kamarnya. Kemudian pria itu menarik selimut dari tubuh Celine dan langsung mencekik leher Celine demi berjaga-jaga. Tentu saja Celine langsung terbangun dari tidur indahnya. "Wah ... kenapa ada orang setampan ini dalam mimpiku," celetuk Celine sambil tersenyum dan memegang wajah pria tidak dikenal itu. Celine yang masih setengah sadar dan mengira kalau dia sedang ada di alam mimpi. Dia malah menatap wajah pria tampan itu dengan senyum puas. "Katakan siapa kau?" tanya Pria itu sambil mencekik leher Celine dengan kuat. "Uhuk uhuk ... aku akan mati kalau kau tidak lepaskan tanganmu," desis Celine dan mencoba melepaskan cekaman pria itu. "Siapa yang mengirimmu?" tanya Pria itu lagi dengan penuh curiga. "Aku bisa jelaskan, tapi lepas dulu, dasar pria kasar," umpat Celine yang hampir mati karena cekikan Pria tampan bak pangeran negeri dongeng. Kemudian Pria itu melepaskan genggamannya dari leher Celine dan menyuruhnya agar menjelaskan kedatangannya. "Jika beruntung, kau bebas dari kematianmu," kata Pria itu dengan wajah arogan. "Kenapa pria tampan selalu cuek, dingin, dan kejam," gerutu Celine dengan suara pelan dan bibir yang menyudut. "Aku berasal dari dunia yang berbeda denganmu. Aku masuk dari lukisan yang baru saja ku dapat semalam." Celine menceritakan semua pada Pria itu. "Apa menurutmu aku seperti candaan? Sekali lagi kau membual, jangan salahkan kalau nafasmu harus terhenti detik ini juga," ancam Pria itu. "Aku mengatakan yang sebenarnya. Kalau tidak percaya, kau bisa ikut ke duniaku besok," sambung Celine meyakinkannya. Karena tidak puas dengan jawaban Celine, Pria itu kemudian mengambil belati di sakunya, lalu menyayat leher Celine tipis. Darah mengalir dari lehernya. Karena panik Celine menjerit keras lalu menangis tersedu-sedu. "Aku tidak mau mati di sini, aku ingin pulang! Paman Sam, Lyn, dimana kalian? Ada psikopat yang akan membunuhku!" teriak Celine ketakutan. "Diam!" senggak Pria itu. Seketika Celine terdiam dan tidak berkutik sama sekali. "Aku tanya terakhir kalinya. Siapa kau?" "Aku juga tidak tahu harus menjawab apa padamu, tapi aku benar-benar bukan berasal dari dunia ini," jawab Celine ketakutan. Pria itu kemudian menghempaskan tubuh Celine ke sudut dinding ruangan itu. "Ah ..." rintihnya kesakitan. Badannya seolah remuk. Belum lagi karena darah yang mengalir dari lehernya. Berdiri pun dia tidak sanggup lagi. Pria itu mengangkat tubuh Celine dan mencekiknya. "Kau membuatku muak dengan bulananmu, sungguh menjijikkan," pungkas Pria itu dengan tatapan hina menatap Celine. Karena darah terus mengalir dari lehernya, Celine harus memikirkan cara agar tidak terlalu banyak kehabisan darah. "Aku mohon padamu untuk melepaskan ku. Aku ... aku," belum sempat Celine menyelesaikan kalimatnya, Pria itu mendorong tubuhnya hingga ke sisi dinding. "Bagaimana kau bisa masuk ke kastil ini?" tanya Pria itu heran. Ia telah menyegel kastil itu dengan kekuatan magis, dimana tidak seorang pun dapat memasukinya kecuali dirinya dan orang yang ia izinkan masuk. "Aku ... aku masuk dari pintu tentunya," jawab Celine terengah-engah. "Yang kutanya bagaimana bukan dari mana," jelas Pria itu dengan geram. "Ahh ... lepaskan aku," ucap Celine. Lalu kesadarannya pun hilang. Terlalu banyak darah yang keluar dari tubuhnya. Ditambah karena seharian itu dia tidak berhenti dan tidak pernah beristirahat sama sekali. Belum lagi akibat dehidrasi ringan yang ia alami hari itu. "Wanita yang merepotkan," decak kesal Pria itu. Pria kejam itu lalu mengobati luka Celine dan membiarkannya tidur di ranjang dengan tenang. Butuh beberapa hari agar luka sayatan sembuh. Pria itu menyiapkan makanan di samping Celine lalu pergi entah kemana. Hingga pagi hari Celine tersadar dari malam buruknya. "Astaga pinggangku, aish ... sakit sekali," decak Celine kesakitan sambil mencoba bangkit dari tidurnya. Seketika dia teringat dengan kejadian malam itu, dimana nyawanya sangat terancam. Dia kemudian melihat ke sekeliling dan mencari pria itu. Namun dia tidak menemukan apa pun di sana. Yang dia lihat adalah setumpuk makanan dan air putih di sebelahnya. Karena memang dia sangatlah lapar dan haus, lantas dia langsung melahap habis semua makanan tanpa menyisakan apa pun. "Hmmm ... ngomong-ngomong dimana psikopat itu?" tanya Celine penasaran. "Aish, baguslah dia tidak ada, aku juga khawatir kalau dia ada di sini," sambung Celine mengabaikan pria itu. Karena sesak untuk buang air kecil, Celine dengan pelan berjalan keluar kamar dan mencari kamar mandi di kastil itu. Setelah setiap ruangan yang ada dibuka lalu diperiksanya, akhirnya Celine menemukan kamar mandi. Meski berbeda dengan kamar mandi zaman modern, yang terpenting hanyalah bagaimana dia bisa membuang air kecil saat itu. "Wah ... lega sekali," ungkapnya. Celine melihat pembatas tirai di dalam kamar mandi itu. Ia membukanya dan mendapati bak kayu besar seperti kolam di sana. Dia mendekat dan menyentuh air itu. Ketika tangannya menyentuh air, tiba-tiba buih terlihat dari dalam air. Celine kemudian menggapai buih itu dan mencoba memecahkan gelembung itu. "Airnya begitu tenang tapi ada buih," kata Celine kebingungan. Saat sedang asik memandangi kamar mandi yang begitu luas itu, tiba-tiba seseorang keluar dari bak kolam itu. Ternyata dia adalah pria yang hampir membunuhnya tadi malam. "Kau! Mengapa bisa ada di sini? Tolong tutupi tubuhmu," ucap Celine sambil berteriak lalu menutup matanya. Bagaimana tidak, Pria itu bertelanjang bulat di depannya. "Dasar wanita jelek," decak Pria itu kesal lalu menutupi setengah badannya dengan handuk hitam di sebelahnya. "Apa yang kau lakukan?" tanya Pria itu. "Aku hanya ingin buang air saja," jawab Celine yang masih menutup matanya agar tidak melihat tubuh proporsional milik pria di depannya. Pria itu keheranan saat melihat luka di tubuh Celine sudah mengering, bahkan bekasnya hampir menghilang. Jika karena pengaruh obat yang ia berikan, tentu saja tidak secepat itu proses penyembuhannya. Pria itu semakin ingin mengetahui identitas sebenernya dari Celine. Pria itu kemudian mendekati Celine untuk memastikan sesuatu. Ia merasa ada sesuatu yang unik dari wanita itu. Selain bisa masuk ke dalam kastil yang sudah di segel, dia juga proses penyembuhannya sangat cepat. Ia berpikir kalau Celine adalah wanita yang istimewa. "Buang baju busuk mu itu dan ganti dengan gaun di sana," perintah Pria itu sambil menunjuk gaun yang terletak di sebelahnya. "Ha? Baik," angguk Celine patuh pada perintah Pria itu. Dia langsung pergi ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Gaun berwarna rose gold ditambah dengan aksesoris manis membuat model baju itu sangat mewah. Gaun itu begitu cantik saat dikenakannya. Baik ukuran pinggang ataupun panjangnya pas di tubuhnya. Ditambah dengan kalung berlian yang dia pakai, membuat tatanannya begitu indah. Saat itu, dia sangat cocok menjadi putri dari negeri dongeng. Ketika melihat rupa Celine, Pria itu langsung terdiam. Matanya yang dingin berubah menjadi sedih. Dia mendekati Celine. "Siapa kau sebenarnya? Penyihir, summoner atau ...," belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya Celine langsung menimpal," Aku bukan siapa-siapa. Ditanya seribu kali pun jawabanku tetap sama." Meski ketakutan, Celine tetap menunjukkan raut tenang. Dengan kejam Pria itu menarik tangan Celine menuju istana kerajaan. Awalnya Celine mengira kalau Pria itu akan menyerahkan dirinya pada Ratu Sibenth, seperti warga yang berkerumun saat itu. Kemudian Pria itu naik ke atas kuda putih yang gagah dihiasi pelindung yang menawan. Ketika pria yang hampir membunuhnya itu naik ke atas kuda, Celine langsung terpanah. Wajahnya yang rupawan itu sangat mempesona hingga pipi Celine memerah seketika. "Dia seperti pangeran negeri dongeng," celetuk Celine dalam hati. "Meskipun dia bukan pangeran, aku rela menjadi istrinya," sambung Celine berkhayal. "Jalan dan ikuti aku dari belakang," perintah Pria itu. "Ha? Berjalan?" tanya Celine sekali lagi untuk memperjelas. Bukannya menjawab pertanyaannya Pria itu malah pergi lebih dulu meninggalkannya bersama kuda. Sementara Celine harus berjalan mengikuti Pria itu. Setelah jauh berjalan Celine kewalahan hingga tertinggal jauh di belakang. Dia tidak sanggup lagi melanjutkan perjalanannya. "Aku dehidrasi ringan, hufft," kata Celine sambil mengipas badannya. Ditambah dengan gaun yang dipakainya membuat dirinya tidak bisa leluasa bergerak. Saat di dunia nyata dulu, Celine tidak pernah memakai gaun bahkan tidak berharap memiliki gaun. Celine berhenti berjalan akibat kewalahan mengejar pria kejam itu. Ia beristirahat di bawah rindang pohon sambil merenggangkan kakinya. Setelah beristirahat lama di bawah pohon yang rindang tersebut, tiba-tiba Pria yang hampir membunuhnya tadi malam datang menjumpainya. "Naik," perintahnya. Ketika mencoba berdiri, Celine tiba-tiba tersungkur jatuh. Ia tak mampu mengangkat tubuhnya lagi. Kakinya lemas tak dapat di gerakkan. "Aku tak bisa menggerakkan badanku lagi," ucap Celine sambil mencoba bangkit dari ketidakmampuannya. Pria keji itu kemudian turun dari kuda gagahnya dan mengangkat tubuh langsing Celine menaiki tunggangan kuda tersebut. "Sekarang aku tahu kalau pria tampan tidak semuanya baik, mereka keji dan tidak punya hati" kata Celine dalam benak. Beberapa saat kemudian tibalah mereka di istana kerajaan. Para pengawal yang menjaga gerbang memperbolehkan mereka masuk tanpa menanyakan apa pun. Bahkan saat sudah sampai di pintu istana, para pelayan menunduk menyapa pria itu. "Astaga, jangan katakan kalau dia adalah pangeran," celetuk Celine dalam benak. Dia takut akan dijadikan selir atau b***k Pria di istana. "Salam pada Pangeran," sapa seorang pelayan sambil menunduk. Jantung Celine langsung berdetak kencang saat tahu kalau dia adalah pangeran. Tangannya bahkan basah karena ketakutan. Bukan karena alasan apa pun, dia hanya tidak ingin dijadikan sebagai b***k di istana. Pangeran itu kemudian membawa Celine menemui ibunya yang berada di taman istana. ~Halaman istana~ "Untuk terakhir kalinya aku memperingati mu, jangan pernah mengirim wanita padaku," ancam Pangeran itu lalu mendorong Celine ke depan Ibunya. "Putraku, kau tidak boleh kasar pada wanita," ucap Ratu Sibenth pada Pangeran. "Aku tidak butuh nasehat darimu," sambungnya ketus. "Ibu tidak pernah mengirim gadis ini padamu," elak Ibunya. "Benar, aku bahkan tidak mengenal ibumu. Aku tidak mengenal kalian sama sekali," tambah Celine membela Ibunya pangeran itu. "Aku muak melihat drama kalian," hina Pangeran tersebut. "Jangan biarkan aku melihat wanita jelek ini, kalau tidak dia akan menghadapi kematian," sambung Pangeran tersebut mengancam. Kemudian dia pergi meninggalkan ibu dan Celine di sana. Wanita alias Ratu Sibenth kemudian membantu Celine berdiri dan membiarkannya duduk di bangku bersebelahan dengannya. Dengan lembut dia membersihkan tangan Celine dari tanah yang sempat dia sentuh saat terjatuh. "Apa putraku menyakitimu?" tanya Ratu Sibenth cemas. "Dia hampir membunuhku tadi malam dan menghempaskan tubuhku ke sudut kamarnya. Siang tadi dia menyuruhku mengejarnya hingga aku dehidrasi," jelas Celine mengadu. "Dia memang sedikit arogan dan kejam, jadi aku atas namanya meminta permohonan maaf darimu," tutur Ratu Sibenth merasa bersalah. "Sedikit arogan bagaimana? Dia memang arogan dan kejam, tidak perlu diragukan lagi," umpat Celine dalam benak. Dia mengira kalau wanita kerajaan sangatlah kejam dan haus kedudukan. Mereka tidak menyukai orang luar dan berhati dingin. Namun kenyataannya, Ratu Sibenth sangat baik dan perhatian. "Oh ya, siapa namamu?" tanya Ratu Sibenth. "Celine Morgithen, panggil Celine saja," jawabnya sambil tersenyum. "Nama yang cantik seperti orangnya," puji Ratu Sibenth berniat untuk mendekatkan diri. "Cantik bagaimana, aku sangat jelek sampai tidak ada seorang pun yang mendekatiku," elak Celine. "Tidak ada wanita yang jelek di dunia ini, hanya saja bagaimana kita mensyukuri pemberian itu," nasehat Ratu Sibenth padanya. "Iya juga, kalau aku cantik artinya kau sangat cantik," puji Celine balik. "Mulutmu sangat manis," balas Ratu Sibenth. "Dari kerajaan mana kau berasal? Aku akan antar 'kan kau pulang," tutur Ratu Sibenth ramah. "Aku bukan siapa-siapa, aku hanyalah rakyat biasa," jawab Celine. "Tidak perlu merendah, bahkan kalung berlian mu mengatakan kalau kau adalah keturunan bangsawan," sangkal Ratu Sibenth. Tidak tahu harus menjawab apalagi, terpaksa Celine harus memutar otaknya untuk mengarang cerita. Untungnya dia adalah pecinta komik sejati, jadi dia sangat ahli dalam mengarang. "Sebenarnya aku berasal dari negeri yang sangat jauh. Suatu hari sekelompok perompak datang menculik ku. Untungnya saat diperjalanan mereka lengah dan akhirnya aku bisa kabur dari mereka. Kemudian aku melihat kastil dan bersembunyi di dalam dan ternyata itu adalah milik putramu. Dia mengira kalau aku adalah suruhan mu," terang Celine dengan sedikit bumbu kebohongan dalam ceritanya. "Pantas saja kau tidak tahu kalau kastil itu terlarang. Lagi pula kastil itu tidak bisa dimasuki oleh siapapun kecuali Darchen dan seseorang yang dia cintai," sambung Ratu Sibenth. "Ternyata namanya adalah Darchen," timpal Celine. "Apa sihirmu kuat sampai bisa menembus segel kastil itu?" tanya Ratu Sibenth. "Hmmm? Sihir? Apa di sini mempercayai adanya sihir?" tanya Celine keheranan. "Tentu saja, semua orang memiliki sihir hanya saja karena tidak bisa mengontrol akhirnya sihir itu mati dan tidak bisa digunakan. Hanya keturunan raja dan bangsawan saja yang dapat mempertahankan sihirnya," jelas Ratu Sibenth. "Aku tidak punya sihir," ucap Celine keheranan. "Bahkan Raja Erogha, suamiku, tidak menembus segel kastil itu," kata Ratu Sibenth. "Benarkah? Apa aku lebih hebat dari raja?" tanya Celine polos. "Hahaha ... bisa jadi. Jadi sekarang kau akan tinggal dimana?" "Aku tidak punya kenalan, bahkan uang tidak punya," jawab Celine dengan raut wajah menyedihkan. "Bagaimana kalau tinggal saja di sini, dan selama itu kita cari dimana asal negerimu," saran Ratu Sibenth. Mendengar itu, Celine langsung senang tak karuan karena bisa tinggal di istana yang megah. Bagaimana dia tidak senang, bahkan makan dan pakaian tidak perlu dipikirkan. Selama tinggal di istana dia akan aman dan lebih mudah untuk mencari cara agar bisa keluar dari dunia fana itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD