Saingan Kecil

1996 Words
Seorang pelayan yang diutus Ratu Sibenth kemudian menuntun Celine untuk memilih kamar. "Sepertinya di sini lebih nyaman," ucap Celine sambil memandangi seisi kamar yang akan dia pilih. "Tentu saja, Nona. Tapi ada baiknya Anda memilih yang terbaik, karena ...," Tiba-tiba Ratu Sibenth datang dari belakang mereka dan memotong pembicaraan dari pelayanan istana. "Apa kau suka kamar ini?" tanya Ratu Sibenth pada Celine. Kemudian dia menyuruh pelayan istana pergi dan meninggalkan mereka berdua dengan Celine. "Hem, aku sangat suka. Apalagi kamar ini berhadapan langsung dengan taman belakang istana," jawab Celine dengan senyum yang tidak luput dari wajahnya. "Tidak masalah, nanti pelayan akan antar pakaian padamu juga makanan sekalian. Sekarang kau istirahat, mungkin sangat letih sehabis dijahili Pangeran Darchen," kata Ratu Sibenth dengan penuh peduli. "Hmmm, baiklah. Maaf kalau aku terlalu merepotkan," tutur Celine berbasa-basi. Wajahnya menggambarkan rasa bersalah akibat terlalu merepotkan, walau faktanya berbanding terbalik. Dia masih kurang puas untuk meminta sesuatu pada Ratu Sibenth, yaitu beberapa komik romansa komedi dan sebuah musik box. Celine kemudian masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Sudah cukup rasanya badannya dipaksa terus-menerus digerakkan. Kiranya dia perlu juga membaringkan tubuh sejenak. Tidak henti-hentinya masalah mendatangi dirinya. Baik saat pertama kali datang ke dunia fana ataupun hari-hari berikutnya. Selalu saja kesialan menghampiri Celine. Sementara di lain sisi, Ratu Sibenth yang pergi menemui kepala pelayan yang sekaligus pesuruhnya berbincang tentang Celine. Terdapat beberapa dugaan baginya yang dapat membawa keberuntungan. Terutama bagi putranya. "Agren, aku merasa kalau Celine berbeda di mata Darchen, " kata Ratu Sibenth pada pelayan yang begitu dia percayai. "Mengapa demikian, Ratu?" tanya Pelayan itu dengan santun. "Darchen tidak membunuhnya, bahkan memberi dia gaun indah. Yang anehnya dia membiarkan gadis manis itu ikut menunggangi kudanya," sambung Ratu Sibenth bercerita. "Hamba juga berpikir demikian, Ratu. Tapi apa yang membuat Pangeran berlaku berbeda?" tanya Pelayan itu lagi. "Aku juga tidak tahu, hanya saja aku merasa ada sesuatu yang menarik dari gadis itu. Mungkin saja Darchen sudah menyadarinya. Atau dia tertarik pada pandangan pertama," lanjut Ratu Sibenth mengarang cerita. "Hamba sependapat dengan Anda, Ratu." "Aku harus membuat mereka bersama. Aku tidak ingin anakku terus dalam keterpurukan. Saatnya aku menebus dosaku. Darchen harus melupakan wanita dari Negeri Seberang itu," tambah Ratu Sibenth. Dia begitu menyayangi Darchen Valerio, hanya saja karena kenangan masa lalu, membuat hubungan mereka kian renggang. Suatu waktu, ketika Pangeran Darchen hendak menikahi seorang wanita yang bukan dari keturunan bangsawan, membuat Ratu Sibenth sebagai ibu kandungnya tidak setuju. Baginya asal usul pendamping anaknya sangatlah penting. Berbagai cara dilakukan agar wanita itu menjauh dari putranya. Niat baik yang dia lakukan ternyata dianggap salah oleh putranya. Beberapa perdebatan kerap terjadi. Namun Ratu Sibenth tidak peduli dengan cinta yang dijalin oleh putranya, dia begitu egois. Tidak ingin putranya hidup dengan wanita tidak berbakat dan lemah itu, akhirnya Ratu Sibenth mengancam wanita yang disukai pangeran. Ratu Sibenth mengatakan pada wanita itu, "Jika tidak meninggalkan putraku, maka dia akan dikucilkan karena menikah dengan wanita lemah seperti dirimu. Bahkan raja juga akan memutuskan hubungan anak dengannya. Kau tidak boleh terlalu egois hanya memikirkan perasaan. Dia adalah penerus negeri ini, jika kau terus memaksakan pernikahan dengannya, maka bersiaplah negeri ini hancur." Mendengar kalimat Ratu Sibenth, wanita itu kemudian berpikir seribu kali saat Darchen membawanya ke kastil yang dia bangun sebagai bukti kasihnya pada wanita itu. "Aku tidak ingin menikah denganmu, dan aku sama sekali tidak mencintaimu. Aku sebetulnya adalah pembunuh bayaran yang diutus untuk membunuhmu," ucap wanita itu dengan nada gemetar. Lalu dengan hati yang tidak tega, wanita itu menusuk perut Pangeran Darchen dengan pedang yang sudah ia siapkan agar drama pemutus hubungan mereka lebih meyakinkan. Wanita itu sangat terpaksa melakukan itu. Hanya saja jika bukan dengan cara seperti seperti itu, Darchen akan tetap bersikukuh untuk menikahinya dan tidak akan mendengar perkataan ibunya. Setelah kejadian haru itu, wanita yang dicintainya kemudian menghilang tidak pernah muncul. Darchen Valerio hancur sejadi-jadinya untuk beberapa saat. Dia menjadi seorang yang dingin dan kejam. Tidak segan-segan membunuh orang yang menurutnya salah, tidak perlu mendengar pembelaan. Melihat kondisi mental anak yang begitu disayanginya, Ratu Sibenth diam-diam mencari informasi tentang wanita yang dicintai oleh pangeran. Terdengar kalau wanita itu ternyata dari negeri Seberang. Setelah kabar itu terdengar, Raja Erogha mengeluarkan pengumuman pada penduduk Negeri Athiam (nama negeri yang dimasuki Celine). Tentang "Siapapun yang dapat menemukan wanita itu akan diberikan seribu koin emas dan dijamin kesejahteraan hidupnya dan keluarga." Banyak masyarakat yang berdatangan membawa gadis dari Negeri Seberang, namun tak seorang pun yang berhasil membawa wanita itu. Semua palsu. Berbagai cara dilakukan Ratu Sibenth agar putranya dapat melupakan wanita itu, tetapi semua gagal. Beberapa kali dia mengirimkan wanita cantik jelita dan berpendidikan tinggi, namun tak seorang pun dipandang oleh Pangeran Darchen. Bukannya mengapresiasi usaha ibunya itu, Darchen malah semakin membenci Ratu Sibenth. Setiap wanita yang dikirim olehnya akan mati mengenaskan dibunuh Pangeran Darchen. Hingga akhirnya Ratu Sibenth sadar kalau hubungan mereka tidak akan bisa akur lagi. Sejak saat itu, dia tidak pernah mengirim gadis lagi pada Pangeran Darchen . Dia hanya berharap kalau putranya memaafkan dirinya. Dia benar-benar merasa bersalah atas apa yang telah dia lakukan terhadap anaknya. Namun penyesalan selalu tiba di akhir, tidak ada gunanya lagi untuk meratapi kehancuran hubungan mereka. Dia hanya bisa berdoa dan meminta ampunan setiap saat. *** Tok-tok-tok Suara ketukan pintu terdengar dari balik kamar Celine. Seorang pelayan datang menjumpainya. Segera dia membukakan pintu. "Apa kau orang yang disuruh Ratu Sibenth?" sapa Celine saat pertama melihat pelayan yang berdiri di depan pintu dengan tangan membawa peti kecil. "Benar, Nona. Ini adalah pemberian dari beliau. Hamba hanya mengantarkan ini saja," jawab pelayan itu lalu memberikan Celine peti kecil. Setelah dibuka ternyata isi dari peti itu sendiri merupakan setumpuk perhiasan emas yang menyilaukan mata. "Astaga, kenapa dia memberikan aku ini? Pulangkan saja pada Ratu, katakan aku tidak bisa menerimanya," balas Celine yang menolak untuk menerima peti berisi perhiasan. "Maaf, Nona. Hamba harap Anda menerimanya, jika tidak Ratu Sibenth akan memberi perhitungan pada hamba," sambung Pelayan itu yang terlihat bersikukuh memberi pada Celine. Kemudian dengan langkah tergesa-gesa, pelayan itu pergi meninggalkan peti pada Celine. Karena merasa ada sedikit segan di hatinya, Celine mengejar pelayan itu. "Hey! Bisakah kau tidak berlari, aku lelah dari semalam mengejar orang gila," teriak Celine memanggil pelayan yang tidak hentinya berlari. Bruk! Seorang wanita yang teramat cantik bertabrakan dengan tubuh Celine, hingga dirinya terjatuh. "Auh ... aish," decak Celine kesal kemudian berdiri langsung. "Apa kau baik-baik saja?" tanya wanita yang baru saja ditabrak Celine. "Tidak, maafkan aku. Aku sedang buru-buru. Maafkan aku sekali lagi," ucap Celine berulang lalu pergi berlari mengejar pelayan yang sudah menghilang dari pandangannya. Seketika jejak kakinya pun tak terlihat lagi. Karena tidak melihat jejaknya, Celine kembali dan menjumpai wanita yang baru saja ditabrak olehnya. "Apa kau lihat pelayan yang berlari ke arah sana?" "Tidak, aku hanya melihat kau seorang berlari," jawab wanita itu. "Oh ya, sebelumnya aku tidak pernah melihatmu," sambung wanita itu. "Iya, aku baru saja tiba," jawabnya singkat. "Perkenalkan, aku sepupu Pangeran Darchen. Panggil saja, Erica," tuturnya memperkenalkan diri. Celine yang kala itu tidak perduli dengan wanita itu, hanya bisa mengangguk dan kemudian memperkenalkan diri juga. Dia heran mengapa wanita di depannya sangat ramah. Saat-saat seperti itu, dia malah curiga. Sesuai dengan komik yang pernah ia baca dulu, harus berhati-hati dalam segala hal, terutama dengan wanita cantik dan muda. "Kalau begitu aku permisi dulu," pamit Celine lalu pergi. ~Kamar Celine~ "Celine, bisa buka pintu." Ratu Sibenth dan beberapa pengawal datang menemuinya. Sekaligus pelayan dan Erica yang belum lama ditemuinya. Dengan cepat Celine membuka pintu. "Kenapa ramai-ramai datang menemuiku?" tanya Celine kebingungan sambil tersenyum menatap kerumunan. "Dimana kau letakkan peti perhiasan Ratu Sibenth," ucap salah seorang pelayan wanita yang memberinya peti itu. "Oh ada di dalam lemari," jawab Celine singkat. "Benar dia yang mencuri perhiasan Yang Mulia Ratu, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri," sambung Pelayan itu. "Aku juga sempat melihat Celine berlari dan tidak sengaja menabrakku. Dia terlihat tergesa-gesa," timpal Erica. Sesuai dugaan Celine, mereka memang sudah merencanakan jebakan untuknya. Untung saja Celine sudah mempersiapkan diri menghadapi fitnah murahan yang dilakukan Pelayan yang dikepalai oleh Erica sendiri. "Apa benar begitu?" tanya Ratu Sibenth dengan raut berharap kalau tuduhan pelayan itu adalah salah. "Mencuri? Hahahaha ... bahkan kamar ratu saja aku tidak tahu. Bagaimana caranya?" ucap Celine. "Kau bisa saja menyuruh seseorang untuk mengambilnya," balas pelayan itu lagi. "Wah ... secepat itu aku sudah punya orang kepercayaan? Kau mengada-ada. Kalau memang ingin mencuri, barang yang akan ku ambil bukan milik ratu, tapi punya orang lain, dasar tukang tuduh," umpat Celine kesal. "Tapi aku melihatmu berlari tergesa-gesa bahkan lari dan menabrakku tadi," timpal Erica yang tampak ketakutan kalau rencananya terbongkar. "Oh, aku awalnya ingin mengembalikan gantungan baju milik pelayan yang memberikan aku peti perhiasan ini," jawab Celine. Dari awal sebenarnya Celine sudah curiga. Bagaimana mungkin Ratu Sibenth mempercayai seorang pelayan untuk mengantar perhiasan sebanyak itu. Jika memang ingin memberi, maka Ratu Sibenth yang akan langsung menyerahkannya, bukan malah menyuruh pelayan rendahan. "Ratu komik dilawan," celetuk Celine dalam hati sambil tersenyum jahat. "Siapa yang memberikan peti itu padamu?" tanya Ratu Sibenth. "Pelayan berisik sana," tunjuk Celine. Gantungan ini miliknya, dia tidak sengaja menjatuhkannya . Memang ini bukanlah apa-apa, hanya saja bisa menjadi bukti kalau kami baru saja bertemu. Dia mengatakan kalau Ratu yang menyuruhnya memberikan peti padaku," ungkap Celine dengan tegas. "Ternyata kau yang memfitnah Celine, beri hukuman yang sepantasnya pada wanita itu, Pengawal," titah Ratu Sibenth dengan amarah di d**a. "Putri Erica tolong aku! Kau yang menyuruhku melakukan ini semua, kenapa tidak bertanggung jawab?" teriak Pelayan itu meminta perkara pada Erica. "Setelah memfitnah Celine, sekarang kau ingin memfitnahku? Dasar pelayan tidak tahu malu. Untung saja kau tidak dihukum mati," amuk Erica menghina pelayan itu. Muak dengan drama yang dilakukan Erica, Celine masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil peti perhiasan Ratu Sibenth, lalu menyerahkannya langsung. "Semoga tidak ada yang hilang, Ratu," ucap Celine. "Aku tidak akan meragukan mu, Celine. Meski kau mencuri sekali pun, aku tetap yakin padamu," sambung Ratu Sibenth yang tampak puas kalau bukan Celine yang mencuri perhiasan itu. Saat mendengar kata-kata manis Ratu Sibenth pada Celine, Erica tidak terima kalau Ratu itu menyukai wanita yang baru saja datang ke istana belum sempat dua hari. "Darchen akan datang sebentar lagi, ada baiknya Ibu Ratu kembali ke ruang pertemuan. Raja mungkin sudah menunggu," timpal Erica. "Iya betul juga. Baiklah Celine, aku pergi dulu. Aku akan menemuimu lagi nanti," pamit Ratu Sibenth. Erica yang sudah cemburu pada perhatian Ratu Sibenth terhadap Celine, langsung pergi mengikuti istri penguasa negeri Athiam, sekaligus mengambil hatinya. "Mengapa Ibu Ratu begitu percaya pada wanita yang bahkan tidak jelas asal usulnya?" tanya Erica yang kala itu sedang berjalan bersama Ratu Sibenth. "Entahlah, aku juga tidak tahu. Rasanya dia bisa dipercaya dan memang pantas dipercaya. Apa kau tidak lihat betapa tenangnya dia saat dituduh tadi? Dengan bijak dia menyelesaikan masalah tuduhan itu," puji Ratu Sibenth. Mendengar betapa kagumnya Ratu Sibenth, Erica malah menyesal sudah membuat rencana jebakan. Awalnya hanya ingin menghilangkan kepercayaan Ratu Sibenth pada Celine, ternyata kejadian sial itu malah menguntungkan wanita yang baru saja datang. Erica begitu panik saat tahu betapa sukanya Ratu Sibenth melihat Celine. Ia takut kalau saingan mendapatkan Darchen Valerio semakin sengit. Tidak berhasil mendapatkan perhatian dari Darchen sekarang dia juga tidak mendapatkannya dari Ratu Sibenth. Sesegera mungkin dia ingin menyingkirkan wanita itu dari istana kerajaan. Apa pun yang harus dilakukan, dia harus hilang dari pandangannya. Setelah kejadian itu, Erica semakin ingin menjatuhkan Celine. "Sedikit pun kau tidak akan ku lepaskan. Kalau tidak mati, setidaknya kau harus ku singkirkan dari istana," ucap Erica dalam hati. Sementara dengan Celine yang merasa bangga dengan keberaniannya tertawa hingga menangis karena kagum pada diri sendiri. "Hahaha ... tidak sia-sia aku membaca komik siang dan malam, ternyata berguna di sini," ucapnya sambil memegang perut yang sudah sakit karena tertawa tak henti-hentinya. Sampai dia tak sadar kalau seseorang yang tidak asing baginya datang masuk tanpa seijin darinya. "Ka-Kau?" Celine yang tidak menyangka akan bertemu secepat itu dengannya. Bahkan setelah terjadi banyak masalah dalam satu waktu, sekarang harus menghadapi cobaan lagi. BERSAMBUNG ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD