"Darchen?" ucap Celine dengan kaget.
Darchen masuk ke dalam kamar dan mendekati Celine dengan wajah kakunya. Ia menarik tangan Celine dan menyudutkan tubuh wanita itu hingga ke tembok ruangan.
"Katakan, dari mana kau?" tanya Alan dengan paksa.
"Argh! Bisa tidak jangan mendesak begini? Kasar sekali," decak Celine kesakitan. Ia menepiskan tangan Pria itu dari tubuhnya. "Dengar baik-baik. Aku tidak tertarik padamu sama sekali dan tidak ingin berhubungan denganmu!" tegas Celine lalu berjalan dengan langkah cepat keluar dari ruangan yang amat mencekam itu.
Saat melihat betapa keras kepalanya Celine, ia terbayang dengan wajah gadis yang ia cintai dahulu. Ia teringat betapa bahagianya dirinya saat melihat tingkah gadis nakal itu padanya.
Darchen dengan kondisi setengah sadar menarik tangan Celine dan menatap wajahnya dengan tatapan amat dalam. Matanya tampak berkaca-kaca entah apa artinya.
Celine yang masih shock melihat raut Darchen malah semakin takut. "A-Apa yang kau lihat?" tanya Celine gugup. Ia mengalihkan pandangannya dan menghindari mata Pangeran yang sedari tadi memandangi wajahnya.
Tidak disangka, Darchen tanpa basa-basi melingkarkan tangannya di pinggang wanita bertubuh ramping itu. Ia sedikit mencondongkan wajahnya ke arah Celine seraya mengelus pipi gadis itu dengan pandangan kosong.
"Da-Darchen? A-Apa yang kau lakukan?"
Bukannya mendapatkan penjelasan, Pangeran Darchen malah memberikan ciuman hangat padanya. Bibirnya yang ranum dan lembut membuat Celine terbelalak. Tidak pernah sekalipun ia merasakan kecupan dari seorang pria.
Pelukan erat itu semakin ketat merangkul pinggangnya. Dadanya terasa sesak karena jarak yang terlalu dekat. Irama nafas Darchen yang tidak teratur membuat Celine susah untuk mengikuti harmonisnya. Ini baru pertama kali baginya. Sebelumnya tidak pernah ada pria yang melakukan hal itu padanya.
Celine sama sekali tidak bisa bernafas dan susah bergerak akibat dekapan dari Pangeran Darchen. Karena tidak tahan lagi, ia menggigit bibir Pangeran tersebut dengan kuat lalu menjauh darinya.
Darchen menatap Celine dengan wajah penyesalan dan menampakkan mata tidak percaya kalau ia melakukan seorang wanita seperti itu. Sudah lama sejak terakhir kali ia mau dekat dengan wanita. Untuk pertama kalinya ia dengan ganas memburu bibir wanita itu.
Sementara Celine yang ketakutan akibat keberingasan Darchen hanya bisa terdiam dan mencoba menutupi dirinya dari Pangeran Darchen.
"Hey ...," ucap Darchen dengan nada suara yang pelan.
Namun Celine masih terbayang dengan kejadian tersebut dan tidak bisa melupakan apa yang dilakukan Darchen padanya.
"Jangan katakan apa pun kalau masih ingin hidup. Kau ... kau mengambil ciuman pertamaku! Huaa ... susah payah aku menjaganya dan kau ... kau mencurinya!" umpat Celine kesal.
"Aku tanpa sadar melakukannya," jawab Darchen.
"Apa?! Kau kira aku akan percaya? Pergi dari hadapanku sekarang juga!" senggak Celine dengan nada yang amat tinggi.
Pangeran itu kemudian dengan mudahnya mendengar perintah Celine. Ia keluar dari ruangan tersebut dengan kebingungan terhadap dirinya. Selama ini ia tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada wanita, namun baru saja ia melepaskan gairah setelah sekian lama ditahannya.
Kebetulan saja, pelayan Agren yang merupakan kepercayaan Ratu Sibenth, mendengar kejadian baru saja. Ia langsung menghampiri Ratu Sibenth untuk menyampaikan informasi hangat tersebut.
Agren lupa kalau ternyata Ratu Sibenth sedang mengadakan rapat keluarga, sehingga tak bisa diganggu sama sekali. Ia menunggu majikannya itu dengan harap cepat selesai. Ia tak sabar menyampaikan kabar panas itu pada Ratu Sibenth.
Tak beberapa lama, rapat keluarga kerajaan telah selesai. Ia langsung menghampiri Ratu Sibenth. Namun ketika hendak menyampaikan kabar tersebut, Agren dicegat oleh Darchen.
"Katakan apa yang pantas dikatakan," ucap Darchen dengan wajah kakunya.
"Ampun, Pangeran, hamba terlalu lancang," tunduk Agren meminta maaf.
Darchen langsung pergi dari hadapan pelayanan tersebut tanpa menjawab sepatah kata pun padanya.
Pelayan kepercayaan Ratu Sibenth tersebut mengurungkan niatnya untuk menyampaikan informasi itu. Ia takut jika Darchen mengamuk padanya, yang berujung masalah pada Ratu Sibenth.
Di lain sisi, Celine yang masih terngiang dengan kecupan dari Darchen hanya bisa merenung di dalam kamarnya. Seharian ia tak keluar dari peristirahatannya itu dan menutup pintu rapat-rapat. Bahkan tak seorang pun diperbolehkannya masuk walau hanya pengantar makanan.
Melihat hal itu, Ratu Sibenth merasa ada yang aneh dari tingkah Celine. Tidak biasanya ia begitu. Akhirnya ibu suri tersebut mencoba menanyakan langsung pada Celine. Ia secara langsung mendatangi kamar Celine dengan penuh kekhawatiran.
"Mengapa Celine melarang orang lain masuk?" tanya Ratu Sibenth pada Agren.
"Maaf Yang Mulia, menurut hamba, perubahan sikap beberapa hari ini dari Celine dikarenakan Pangeran Darchen," jawab Agren.
"Apa maksudmu?" tanya Ratu Sibenth keheranan. "Apa Darchen, anakku, menyulitkan Celine lagi?" lanjut Ratu Sibenth cemas.
"Tidak Yang Mulia, ini merupakan hal berbeda," balasnya lagi.
"Ceritakan seakurat mungkin," perintah Ratu Sibenth dengan penuh penasaran.
Agren kemudian menceritakan tentang kejadian yang ia lihat semalam pada Ratu Sibenth. Secara detail ia menjabarkan setiap alur yang tak sengaja ia dengar.
"Mengapa tidak mengatakannya dengan cepat?" tanya Ratu Sibenth sedikit kesal.
"Maafkan hamba sebelumnya, Yang Mulia. Ketika hamba ingin menyampaikannya, Pangeran Darchen langsung menghentikan hamba," terang Agren.
Mendengar hal tersebut Ratu Sibenth langsung tersenyum bahagia. Sekian lam ia menantikan anaknya itu membuka hati lagi dan akhirnya hari yang ia nantikan pun terjadi.
Segera ia membatalkan niatnya tersebut dan memerintahkan seorang pelayan untuk mengabdi pada Celine.
Dua jam kemudian, seseorang mengetuk pintu kamar Celine dari luar. Ketukan itu terdengar beberapa kali, meski ia tidak membuka pintu tersebut sama sekali.
Karena merasa bising dan terganggu, akhirnya ia membuka pintu untuk memeriksa orang yang sedari tadi tak hentinya mengusik ketenangannya.
"Siapa kau?" tanya Celine kebingungan.
Seorang wanita muda berkisar umur 18 tahun menunduk padanya. "Hamba adalah seorang b***k yang dikirim oleh seseorang untuk mengabdi pada Anda, panggil saja Genah, " kata b***k tersebut dengan sopan.
"b***k? Siapa yang mengirimmu?" tanya Celine kebingungan.
"Maafkan hamba, Nona. Namun orang tersebut melarang hamba untuk membuka identitasnya," jawab b***k tersebut sambil bersimpuh.
"Asal kau baik aku tak akan mempermasalahkan hal ini. Lagi pula aku tak membutuhkan pelayan," tolak Celine.
"Nona Celine bisa memanggilku ketika butuh. Namun hamba tetap mengerjakan tugas untuk menjaga Anda," terang b***k itu lantang.
"Aih, kenapa kau keras kepala sekali. Aku tidak butuh," tolak Celine lagi dengan sedikit menekan suaranya.
Ketika Celine mati-matian menolak pelayanan dari b***k tersebut, tiba-tiba seorang wanita lainnya datang menghampiri Celine. Ia mengenakan baju yang sama persis dengan yang digunakan b***k tersebut.
Dengan sopan, wanita itu memperkenalkan diri." Nona Celine, hamba adalah pelayanan yang disuruh oleh Ratu Sibenth langsung untuk melayani Anda."
"Kenapa bisa ada dua?" Celine semakin bingung dengan situasi tersebut. "Siapa yang mengirim mu, Genah?" tanya Celine memperjelas.
"Maafkan hamba, Nona Celine. Namun hamba harus merahasiakan tentang identitasnya," jawabnya lagi. Genah sama sekali tidak memberitahukan padanya orang yang telah mengirim Genah.
"Sudahlah, kalian pergi saja. Aku tidak butuh pelayanan dari semua orang," usir Celine.
"Nona, hamba berharap Anda mempertimbangkan ini lagi. Kerajaan merupakan area pertempuran, sebaiknya Anda diberikan keamanan," jelas Genah dengan harap bisa melayani Celine.
"Benar, Nona, selain itu, Anda bisa mendapatkan pelayanan dari kami," ucap pelayan yang dikirim oleh Ratu Sibenth.
"Apa tujuan Ratu Sibenth memperkerjakan kau di sini?" tanya Genah dengan niat melindungi Celine.
"Hamba disuruh untuk memberikan pelayanan terbaik pada Nona Celine" jawabnya ringkas.
"Nona Celine sudah memiliki pelayanan dan tidak membutuhkan tambahan lagi. Jadi pergilah dan jangan pernah datang kembali," terang Genah dengan lantang.
"Hey hey hey! Aku tak butuh pelayan, jadi kalian boleh pergi dari sini," perintah Celine.
Celine kemudian menutup pintunya kembali agar dua pelayanan tersebut tidak menggangu ketenangannya. Sudah cukup lelah dalam beberapa hari ia disiksa terus-menerus tanpa henti. Ia hanya ingin ketenangan dan kedamaian.
Malam pun tiba, Celine yang sudah bosan terus mengurung diri akhirnya keluar juga. Ia merindukan bulan dan bintang yang amat indah. Ia mengambil kain tebal penghangat tubuh dari malam yang mencekam lalu keluar dari kamarnya.
Ketika Celine membuka pintu, ia mendapati Genah berdiri di depan kamarnya.
" Astaga! Kenapa kau ada di sini? Mengagetkan saja," teriak Celine terkejut.
"Maafkan hamba, Nona. Hamba hanya menjaga pintu Anda, agar tidak seorang pun mengusik," jelas Genah.
"Apa?! Kau dari tadi berdiri di sini?" tanya Celine terkagum-kagum.
"Benar, Nona." Genah mengangguk kepalanya.
"Aku sudah katakan tidak butuh masih saja keras kepala. oh ya, dimana pelayan satunya lagi?"
"Hamba mengancam agar dia tak berani lagi datang menemui Anda, Nona," jawabnya tanpa merasa bersalah.
"Apa?! Wah ... aku suka gayamu. Kau boleh menjadi pelayan ku, hahaha." Celine tertarik dengan sifat Gehna yang terus terang dan jujur padanya. Selain itu, ia membutuhkan teman bercerita disaat sedih. Lalu memutuskan untuk mengizinkan Genah mengikut dirinya dan mengabdi padanya.
Setelah Genah hadir di hidup Celine, ia merasa kalau hari-harinya tidak terlalu berat seperti biasanya. Ketika ia merindukan Pamannya dan Lyn, ia bisa meluapkan kesedihannya pada Genah.
Bukan hanya itu saja, Genah juga sangat membantu dalam berbagai hal, mulai dari mengajarkan tata krama dalam istana, peraturan-peraturan di dalamnya, memperkenalkan orang-orang penting di kerajaan dan membawanya berkeliling tempat yang ada Athiam.
Dalam satu minggu penuh ia sudah banyak mempelajari banyak hal dari Genah. Ia sudah memiliki pengetahuan tentang zaman di kerajaan Athiam.
"Nona Celine, ada yang bisa hamba lakukan untuk mempermudah pekerjaan Anda?" tanya Genah yang dari tadi melihat Celine sedang membongkar buku-buku tua yang ada di perpustakaan istana.
"Tidak ada, kau tidak akan paham tentang apa yang sedang kucari," jawab Celine sambil membolak-balik lembaran buku tebal di tangannya.
"Nona Celine, Anda sudah menghabiskan waktu selamat dua hari mencari-cari di sini. Mungkin hamba bisa membantu," jelas Genah.
"Huh, sudahlah, mungkin buku tentang lukisan itu tak ada di sini," hela Celine kecewa. Ia berhenti mencari buku tersebut lalu menyenderkan tubuhnya ke rak buku teramat besar dan diisi dengan buku-buku yang tersusun rapi.
"Buku tentang lukisan?" tanya Genah memperjelas.
"Yah," angguk Celine dengan wajah lelahnya.
"Untuk apa buku itu, Nona?" tanya Genah lagi.
"Aku ingin pulang, kuncinya ada pada buku itu," jawabnya sambil menguap.
"Akan hamba cari, Nona Celine bisa beristri di kamar," ucap Genah dengan niat memperingan beban nona-nya itu.
"Tidak perlu lagi, aku lapar," jelas Celine.
"Hamba akan bawakan makanan buat Anda," sambung Genah lalu beranjak langsung untuk mengambil cemilan bagi nona-nya tersebut.
"Genah!" panggil Celine sambil bangkit dari posisi duduknya. "Kita pergi ke pasar saja cari makanan, temani aku," lanjut Celine mengajak.
"Baik, Nona," angguknya menyetujui.
Genah adalah orang yang paling dekat dengan Celine. Berbagai hal sulit selalu diperingan oleh Genah. Sampai-sampai Celine menganggap Genah sebagai sahabatnya sendiri. Meski ia sudah menyuruh Genah untuk memanggilnya dengan sebutan informal, tetap saja pelayan yang setia itu tak menyetujui permintaan Celine.
"Kita jalan kaki saja, tidak perlu kereta kuda," ucap Celine.
"Terlalu bahaya jika tidak ada yang mengawasi perjalanan Anda, Nona," kata Genah memperingati Celine. Ia khawatir jika terjadi suatu hal buruk pada tuannya itu. Apalagi pada saat itu rawan sekali perompak dan penculik wanita.
Celine yang keras kepala itu tak menghiraukan perkataan Genah dan tetap memilih untuk berjalan kaki tanpa ada pengawasan dari prajurit istana. Ia rindu berjalan-jalan dengan bebas tanpa diawasi oleh orang lain.
Mereka pun akhirnya melakukan perjalanan sekitar setengah jam menuju pusat perbelanjaan di kerajaan Athiam. Suasana di sana sangatlah ramai akan pedagang yang berjejer rapi dengan barang dagangan beraneka ragam. Mulai dari aksesoris, makanan, pakan dan pangan.
"Aku baru tahu kalau pusat perbelanjaan di sini sangat bagus. Ih, tempatnya bersih dan rapi. Besok kita kemari lagi," decak kagum Celine.
Ia menjajali setiap dagangan yang berbau makanan. Setiap makanan yang menarik baginya, dibeli lalu dimakannya dengan lahap.
"Nona, apa perlu ku beli yang sana juga?" tanya Genah menunjuk pedagang yang menjual makanan lainnya.
"Iya, perlu sekali. Aku beli yang ini dan kau belikan yang sana," jelas Celine.
Genah kemudian pergi ke ujung gang untuk membelikan makanan pada Celine. Sementara Celine pergi berkeliling untuk mencuci mata melihat perhiasan yang diperdagangkan di tenda-tenda penjual.
Tak sengaja ia mengunjungi dagangan seorang pria berusia kisaran 30 tahun untuk melihat-lihat benda kuno yang ia jual. Sekaligus ia menanyakan perihal lukisan yang telah membawanya menuju dunia Athiam.
"Apa di sini ada lukisan kastil yang dikelilingi pepohonan rindang?" tanya Celine.
"Tidak ada, kau hanya bisa beli apa saja yang kau lihat di sini," jawab pedagang itu.
"Hmmm, kalau buku tentang lukisan-lukisan kuno, ada?" tanya Celine lagi.
"Tidak ada, Nona. Kau bisa beli barang yang ku sediakan saja," jawab Pria itu lagi.
"Ya sudah, aku tak jadi beli," ucap Celine lalu pergi dari hadapan pedagang tersebut.
"Sebentar, Nona!" teriak Pedagang itu memanggil.
"Apa? Kenapa? Kau menjual lukisan seperti itu?" tanya Celine.
"Tidak tapi aku ingin menawarkan sesuatu padamu," ucap Pedagang tersebut.
"Katakan, aku sedang sibuk," jawab Celine ketus.
"Aku memiliki kenalan yang menjual lukisan-lukisan kuno. Tapi aku hanya akan memberitahumu jika diberikan kalung yang kau pakai itu," terang Pedagang tersebut.
"Kalau kau bisa lepaskan ini dari leherku, gratis pun akan kuberikan," jawab Celine sambil menarik rantai kalung tersebut dengan kuat.