Setelah bercak darah di tangan Celine hilang, barulah ia sadar kalau darah itu tidak hanya berada di bagian itu saja. Namun sampai pada wajah, leher, bahkan bagian balik bajunya.
"Ehm, Darchen," panggil Celine ragu.
"Hmm," angguknya mendengar.
"Anu … itu … maksudku …."
"Apa? Katakan."
"Bagian perut ke atas leher, juga … juga ada bercak darah," ucap Celine dengan suara yang semakin pelan dan hilang dari pendengaran Darchen.
"Apa yang kau katakan?!" Darchen sama sekali tidak jelas mendengar perkataan Celine.
"Ada bercak darah di balik bajuku ini!" ucap Celine dengan keras dan cepat. Karena malu ia mengucapkannya sambil memejamkan mata, dan sama sekali tidak berani menatap pangeran itu.
Darchen sejenak tidak mengerti maksud dari Celine. Kebingungannya terlihat jelas dari pandangannya yang tampak linglung. Ia menaikkan sebelah alisnya, lalu mencoba menyimak tujuan dari ucapan Celine.
"Ada sedikit masalah," kata Darchen dengan nafas putus asa. Ia seakan tidak bisa mengatakan kebenarannya pada Celine. Mulutnya secara tiba-tiba kaku untuk memberi tahu pada Celine kalau darah itu bisa hilang jika berkenaan langsung dengan sihir magis yang dikeluarkan oleh orangnya langsung.
Jika ingin menghapus darah dari kaki, maka orang yang memiliki sihir tersebut harus menyalurkan kekuatannya pada air yang akan dialirkan ke bagian kaki. Ketentuannya pun harus terus disalurkan terus-menerus tanpa ada jeda. Sebab darah daei Yumiro begitu pekat pada tubuh manusia biasa, hingga apabila terkena tidak akan bisa hilang, kecuali dibersihkan dengan kekuatan magis langsung.
Dari kebanyakan kasus, orang yang tidak memiliki kekuatan sihir, apabila terkena darah Yumiro, akan sangat sulit untuk kemungkinan hidupnya. Para Yumiro dengan mudahnya akan mendapatkan sinyal dari darah tersebut, hingga sukar lari dari buruan Yumiro. Jika darah tersebut tidak hilang, maka Yumiro lain akan mencium darah tersebut lalu menandainya sebagai mangsa. Tidak akan bisa lepas dari genggaman para Yumiro, hingga hidupnya tentu saja sangat terancam.
"Apa?! Jangan menakuti aku," kaget Celine ketakutan. Ia merasakan sesuatu yang janggal dari Darchen.
Darchen menyuruh Celine naik ke atas bak mandi yang biasa digunakan para bangsawan dan anggota kerajaan untuk berendam pada jaman dulu. Kemudian ia dengan hati yang ragu menyuruh Celine untuk membuka gaunnya.
"Ha?! A-Apa yang kau katakan?!" Celine menjegilkan matanya sangking kagetnya, lalu menutup bagian tubuhnya dengan tangan yang sengaja ia silangkan.
"Jangan paksa aku mengulang untuk kedua kalinya," jawab Darchen. Sebenarnya ia pun juga tidak yakin dengan perintahnya itu, namun harus bagaimana lagi. Tidak ada jalan lain.
Sementara Celine yang kebingungan harus memilih antara hidup dan matinya. Jika ia tidak mau mendengar suruhan Darchen, maka nyawanya bisa terancam akibat Yumiro yang siap menanti dagingnya. Selain itu, darah Yumiro yang ada di badannya cukup mengganggu, baunya yang tidak sedap, merusak penampilan, dan yang terpenting adalah membuat dia sangat terganggu. Tetapi, jika ia mendengar perintah Darchen untuk membuka gaunnya, itu artinya, pria itu akan melihat lekuk tubuh Celine.
Belum lagi bagian atasnya yang ia balut dengan kain itu, membuatnya ragu untuk membukanya. Terlebih lagi karena miliknya teramat datar, hingga ia takut kalau diejek oleh Darchen. Celine tidak khawatir kalau Darchen melakukan hal buruk padanya, karena ia yakin, pria itu tidak akan berminat. Selera pria itu sangatlah tinggi, lekuk tubuhnya tidak satu pun yang pantas untuk dilirik oleh pangeran tersebut.
"Ba-baiklah … tapi menghadap belakang dulu," ucap Celine malu. Pipinya memerah karena tidak kuasa jika membayangkan betapa memalukannya hal tersebut.
Darchen kemudian berbalik sesuai dengan yang dikatakan oleh Celine. Ia menunggu sampai Celine selesai membuka gaun.
"Su-Sudah," tukas Celine dengan mata menatap ke bawah. Ia merunduk di dalam air, sampai hanya sebatas kepala saja yang tampak. Untungnya saja bak tersebut ditaburi kelopak mawar, jadi badan Celine tidak membayang, dan tidak terlihat oleh Darchen.
Darchen berjalan dengan langkah pelan menuju bak tersebut. Lalu ia memasukkan sebelah tangannya ke dalam baik air itu untuk menyalurkan kekuatannya. Cahaya berwarna biru tipis muncul dari air tersebut sesaat setelah Darchen memasukkan tangannya ke dalam. Secara otomatis, bercak darah yang ada di tubuh Celine hilang satu persatu. Hingga pada bagian wajahnya tersisa.
"Masukkan kepalamu," perintah Darchen.
"Aku takut tenggelam," balas Celine.
"Apa kau bodoh?! Baknya dangkal begini, bagaimana bisa tenggelam," hina Darchen.
"A-Aku tidak mau," jawab Celine menolak. Ia tidak mau menatap wajah Darchen karena takut kalau pria dingin tersebut melemparkan sinis mengerjakan padanya. Ia terus menunduk menghadap air dan tidak melihat sekitar sama sekali.
"Di wajahmu masih ada darah," tunjuk Darchen.
"Ta-Tapi … lukaku terasa perih jika terkena air ini," ucap Celine mengadu. Saat magis yang disalurkan Darchen menyatu dalam air, seketika goresan luka pada kulitnya terasa amat pedih.
Kemudian Darchen baru tersadar. Ternyata Celine sedari tadi tidak ikut merendam kedua tangannya. Sebab karena lukanya akan terasa perih jika terkena air bak itu.
Dengan inisiatif lain, Darchen mengusap wajah Celine langsung, kemudian membersihkan darah tersebut dari letaknya. Dengan penuh kehati-hatian, ia menghindari agar magis yang ia keluarkan tidak mengenai luka pada wajah Celine.
"Auch …," desis Celine kesakitan.
Darchen langsung meniup luka tersebut dengan pelan untuk mengurangi rasa sakitnya. Ia menjamah wajah Celine semakin lembut agar lukanya tidak tersentuh olehnya lagi.
Celine yang merasa canggung dengan situasi itu, sama sekali tidak bisa mentap Darchen. Wajahnya memerah dan terasa panas sebab karena tersipu. Seakan perasaannya tidak dapat ditutupnya lagi. Perlakuan kecil dari Darchen tersebut sangat mempesona baginya.
Muka mereka saling berdekatan. Darchen begitu jelas dimatanya. Sangat dekat sampai bernafas pun takut. Bibirnya yang ranum itu tampak jelas di mata Celine. Seketika ia ingin menyentuhnya dan merasakan betapa lembutnya bagian dari tubuh pria itu.
Hingga mata mereka saling bertabrakan. Kini Celine dan Darchen saling bertatapan satu sama lain. Mata mereka bertemu di satu titik yang sama. Cukup lama, hingga hasrat untuk saling kasih pun sampai mengetuk pintu hati.
Semakin dekat, semakin dekat, hingga Darchen tidak tersadar dengan yang ia lakukan. Tanpa ia sadari kalau dirinya telah dilumuri sesuatu yang begitu kuat dari sihir. Ia mencondongkan tubuhnya, hingga bibirnya mengenai kulit bibir Celine. Ia mengatupkan kedua bibirnya, hingga milik Celine terkatup di dalamnya. Ia memejamkan matanya dan menikmati setiap irama nafas yang dikeluarkannya. Ia menyeimbangkan lantunan detak jantungnya dengan milik Celine. Ia menyentuh wajah wanita itu dengan kedua tangannya, ia mulai membelai rupa gadis itu dengan mata yang masih terpejam menikmati segalanya. Seirama dengan desiran suara kejut Celine membuatnya semakin kuat mengatupkan bibirnya.
Celine yang kala itu masih tidak yakin dengan kejadian tersebut, masih terperosok dalam bingungnya. Ia tidak dapat berkata-kata. Seolah semua bagai mimpi indah. Ia tidak bisa menutup matanya sama sekali. Ia begitu terkejut sampai bergerak pun tidak sanggup. Hingga Darchen melepaskan katup bibirnya dari Celine.
Darchen langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata pun. Seolah tidak terjadi apapun diantara mereka. Baru saja ia bertindak impulsif pada Celine, dan sekarang ia malah meninggalkan wanita itu di sana tanpa penjelasan sama sekali.
"A … a … a … tolong bangunkan aku," ucap Celine dengan batin yang masih shock. Ia tidak dapat memalingkan pikirannya. Bahkan matanya saja masih seperti awal ketika Darchen melakukan hal mengagetkan itu, ia sama sekali tidak berkedip sudah lama kejadian itu berlalu.
Celine berjam-jam tidak keluar dari rendaman air. Ia sama sekali tidak sanggup untuk menghadapi kenyataan yang begitu mengejutkan. Seorang pria tampan dan terpandang secara sadar mencium dirinya. Jika dipikir lagi, sungguh tidak mungkin, tetapi begitu nyata. Ia merasakan langsung hangatnya sentuh tersebut.
"Apakah ini mimpi?! Ha?! Tidak! Ini nyata. Sadarlah, aku dici … ah … manis sekali," celote Celine tidak jelas. Dengan reaksi berlebihnya, Celine menyentuh bibirnya lalu mempercikkan air bak tersebut kemana-mana. Ia dengan girangnya menggoyangkan badannya sambil membayangkan kejadian tadi.
Celine kemudian keluar dari bak air tersebut lalu mengambil handuk yang tergantung di sebelahnya. Ia dengan bahagianya menjatah handuk penutup tubuhnya sambil menari-nari dan bersenandung. Ia tersenyum tidak henti-hentinya, ia juga tertawa kecil saat membayangkan wajah Darchen saat mencium durinya.
Celine yang dari dulu tidak pernah diajak berpacaran oleh orang lain, kini bersama keajaiban telah merasakan kasih sayang dari seorang kekasih. Ia untuk pertama kalinya jatuh cinta sesungguhnya dengan laki-laki.
Pertanyaan muncul di kepala Celine. Bagaimana bisa Darchen menyukainya? Bagian mana yang disukai Darchen dari dirinya? Mengapa pria setampan itu bisa tertarik padanya? Apa alasan dibalik ciumannya? Sejuta pernyataan yang tidak akan bisa dijawab itu bermuculan di benaknya. Jika dipikir lagi, hal itu tidak akan mungkin. Kenapa bisa terjadi? Sepintas seperti mimpi, tapi nyata.
Celine membalut tubuhnya dengan handuk tersebut, lalu mengeringkan diri. Setelah itu ia memakai gaun pengganti untuk menutupi seluruh tubuhnya.
"Argh! Kau terus muncul!" decak Celine.
Celine berbaring di atas ranjang dengan posisi telungkup lalu menutup wajahnya yang memerah itu dengan bantal. Ia tidak sanggup menatap dunia untuk beberapa saat. Terlalu indah untuk dilupakan, namun terlalu sulit untuk dibayangkan.
Wajah Darchen terus menghantuinya. Ketika bercermin hanya gambaran kejadian tadi yang muncul dipikirnya. Ketika sedang bersisir, hanya mata indah dari Darchen yang ada dihadapannya. Tidak luput sejenak saja dari Darchen. Ia sungguh benar-benar gila sekarang kini.
Namun tiba-tiba, semuanya terhenti sejenak saat telinganya mendengar suara teriakan dari luar kastil. Namun bukan lagi Yumiro. Suara tersebut begitu tidak asing.
"Celine!"
Namanya disebut dari luar sana. Sangat jarang orang mengenalnya di dunia itu. Ia langsung keluar dengan berlari lalu menerima orang tersebut.
Ternyata pria yang memanggil namanya sedari tadi adalah Alan Jordan. Ia meneriakkan nama Celine dari atas kudanya dengan pakaiannya yang begitu menawan.
"Alan? Ada apa?" tanya Celine.
"Maafkan aku, tapi Joel," ucap Alan.
Celine langsung paham dengan situasi Alan. Ia yakin kalau Joel yang memaksanya untuk membawa Celine ke kediamannya.
"Oh, aku paham … hahaha."
"Terima kasih atas pengertiannya. Maaf jika merepotkanmu, Celine," tambah Alan bersungkan hati.
"Tidak masalah, aku juga senang jika bisa dekat dengan Joel," jawab Celine.
"Aku tidak senang," timpal seseorang dari belakang Celine. Darchen. Dia datang tiba-tiba dari sudut yang tidak pernah disadari.
Kemunculan Darchen membuat Celine canggung kembali. Apalagi ditambah dengan kalimat penuh arti yang baru saja diucapkan Darchen, membuat Celine benar-benar tidak habis pikir lagi.
"Eh? Da-Darchen? Kenapa … kau …."
"Kau tidak ku izinkan pergi dari sini," perintah Darchen dengan tegas. Matanya menatap Alan dengan wajah masam. Hingga Alan sendiri pun merasa tidak nyaman dengan Darchen. Alan pun akhirnya melemparkan tatapan tajam satu sama lain.
"Mengapa Pangeran Darchen sempat mengurusi rakyat biasa seperti Celine ini, bahkan memberinya tumpangan di kastil yang sama sekali tidak pernah diperizinkan untuk orang lain," sindir Alan dengan silat lidah yang begitu tajam.
"Kenapa pebisnis seperti Tuan Alan sempat-sempatnya menghabiskan waktunya yang singkat hanya untuk menjemput wanita biasa ini," balas Darchen menyindir.
Mendengar kalimat mereka, Celine merasa tertusuk. Dari tidak ada yang menyebutkan dirinya tentang yang baik-baik. Kedua pria aneh itu terus-terusan mengatakan kalau dirinya hanya wanita biasa. Untungnya saja ia sudah sadar diri sejak awal, kalau ia hanyalah wanita biasa saja, tanpa kelebihan sama sekali.