Senyum Pangeran

1714 Words
Kedua pria tersebut saling melemparkan kata-kata sindiran tajam satu sama lain dengan niat menyinggung. Tidak ada diantara mereka yang berniat untuk mengakhiri perdebatan mereka yang terasa dingin tersebut. Aura tempat menjadi beku karena tatapan mereka yang begitu mengerikan. Bulu kuduk seakan ikut berdiri ketika menonton perbincangan mereka. "Aku masih menunggu akhir ceritanya dari percakapan kalian," celetuk Celine dengan mata yang lelah. Ia teramat bising dengan perbicangan kedua pria itu. Ditambah di dalam percakapan mereka menyangkut pautkan dirinya. Tidak masalah baginya, hanya saja mereka terdengar seperti sedang mengejek dirinya. Meskipun memang benar semua yang dikatakan oleh mereka tentang dirinya yang tidak memiliki sesuatu hal yang bisa dibanggakan. "Kau tidak boleh pergi!" Tegas Darchen dengan muka masamnya. "Tapi Joel …." Belum sempat ia menjelaskan kalimatnya, Darchen langsung menimpal. "Apa dia anakmu?!" tanya Darchen dengan suara keras. "Bukan, tapi dia …." "Tidak ada alasan untukmu pergi mengunjungi Kediaman Zoe." Lagi-lagi Darchen memotong kalimat Celine. Ia sama sekali tidak memberikan kesempatan bagi Celine untuk menuangkan alasannya. Semua dipotong dan tidak diberikan tempat untuk memperjelas. "Aku berharap kau sudi membantu Joel, Celine. Sebab ia menjadi murung jika tidak dituruti," ujar Alan. "Bukankah dia anakmu? Urus sendiri, dan jangan sangkut-pautkan padanya," serang Darchen dengan kalimat begitu menusuk. Alan yang sudah tidak tahan lahi dengan kalimat menusuk darj Darchen, memilih untuk meninggalkan hutan itu, dan kembali ke kediamannya untuk menyampaikan kabar bahwa Celine tidak dapat datang dikarenakan ada urusan mendadak. Ia berharap semoga anaknya yang susah diatur itu, dapat memakluminya. "Sampai jumpa, Celine. Semoga lain waktu kau bisa menemui Joel." Sementara Darchen yang sudah cemburu buta sejak tadi, terus-terusan menatap Alan dengan mata jahatnya, padahal Alan telah jauh dari penglihatan, tapi ia masih saja mempelototi Alan. Hatinya begitu terganggu dengan kedatangan Alan. Ia merasa kalau Alan memiliki niat mengambil hati Celine. "Semoga tidak ada lagi waktu dimana dia datang menemuimu," sumpah Darchen dengan ketus. Celine menatap Darchen dengan kejut karena mendengar pangeran itu mengumpati seseorang. Ia langsung mengalihkan pandangannya cepat agar Darchen tidak menyadari tatapannya itu. "Anu … Darchen …," panggil Celine dengan nada gemetar karena gugup. "Hmmm?" "Bukankah kau terlalu kejam padanya? Sebenarnya Alan melakukannya demi Joel. Secara tidak langsung, kau sedang …." "Aku memang kejam dari dulu," jawab Darchen cepat. Ia membungkam mulut Celine secara langsung. "Oh, baiklah," balas Celine dengan nada suara yang melemah. Celine berbalik ke belakang dan melangkahkan kakinya menuju kamar. Ia merasa tidak ada hal yang perlu diperbincangkan dengan Darchen. Memohon agar diperbolehkan menemui Joel, juga tidak ada gunanaya. Darchen akan tetap melarang. Sampai nangis darah di depannya pun tidak akan diizinkan. Hatinya yang begitu keras, tidak akan pecah hanya karena permintaan. Alasan dia melarang Celine bertemu Joel masih tidak pasti. Perasaannya yang belum ia mengerti menjadi misteri. Terkadang ia teramat marah pada Celine, karena wanita itu sama sekali tidak mengerti maksud dari ungkapan tubuhnya. Terkadang pula, ia teramat candu menjahili Celine. Ia senang sekali apabila wanita itu terkejut atau merasa terancam. Entah apa penyebabnya, Darchen sendiri tidak tahu. Sebab dari sana, Darchen bisa melihat, wajah ketakutan dari Celine. Begitu lucu, hingga Darchen merasa kejut Celine adalah kekonyolan yang bisa membuatnya tersenyum. Baru dua langkah kakinya menapak di lantai itu, Darchen tiba-tiba menarik tangan Celine. Ia mensejajarkan diri mereka, hingga tatapan mereka berada di satu garis. "Ada apa?" tanya Celine keheranan. "Aku …" "Ada apa?" tanya Celine lagi. "Pulang," ucap Darchen sepatah. Celine menaikkan alisnya sebelah karena tidak paham sama sekali dengan ucapan Darchen. Ia sama sekali tidak memahami dua kata yang diucapkan oleh Darchen. "Oh! Aku tahu maksudmu, pulang ke istana? Benarkan?! Hahaha … aku ini peka sekali," teriak Celine dirang berbangga hati. Ia sudah merasa jadi orang cerdas karena berhasil memahami isi pemikiran Darchen. Jarang sekali ia bisa paham dengan kalimat yang diucapkan oleh Darchen. Tapi sekarang ia paham, walaupun bisa dikatakan hanya sebuah kebetulan saja. "Cih, peka dari segi mana," decak Darchen dengan suara pelan. Ia langsung mengambil kudanya untuk mereka tunggangi. "Cepat," perintah Darchen mendesak. Raja Erogha telah memberikan dia tugas membasmi Yumiro yang ada di perbatasan antara negeri. Tentu saja perintah itu langsung diberikan pada Darchen Valerio, sebab festival Hyros akan segera diadakan seminggu kemudian. Sementara para Yumiro telah meratakan pemukiman warga yang berada di pinggir perbatasan. Tidak ada satu pun yang selamat dari mereka. Yumiro yang haus darah itu, meratakan setiap tempat. Meski di perbatasan ada beberapa ahli sihir, namun tetap saja Yumiro merajalela. Sebab kebencian dan keserakahan terus-menerus muncul dari lubuk hati manusia. Tidak akan ada hentinya Yumiro muncul, selagi masih ada manusia yang memprioritaskan kebencian dan keserakahan. Terutama saat bulan purnama tiba, kekuatan Yumiro semakin membuas. Banyak manusia yang akan menjadi korban. Jika tidak diberantas, nasih warga akan melarat. Terjadi banyak kerusakan, khususnya mental manusia itu sendiri. Perintah itu diberikan langsung oleh Raja Erogha mengingat jumlah Yumiro yang terbilang sangat banyak. Belum lagi akibat kekuatan mereka yang bertambah akibat bulan menjelang purnama. Kebuasan dan hasrat haus darah akan menjolak dalam diri Yumiro. Manusia sendiri yang harus menanggung. "Beberapa hari aku tidak akan berada di Athian," ucap Darchen memberitahu pada Celine. "Hmm? I-iya," balas Celine sedikit sedih, tetapi ia menutupi rasanya tersebut. Untuk beberapa hari dia tak akan bisa menatap wajah Darchen. Rindu bisa saja melanda. Namun, ia terlalu menjijikkan jika Celine menahan Darchen. "Kau tidak perlu datang ke kastil," perintah Darchen. "Kenapa? Apa tidak perlu dibersihkan?" "Dengarkan saja," tegas Darchen ketus. Mendengar hal itu, Celine langsung memikirkan hal yang teramat jauh. Ia mengira kalau Darchen melarangnya lagi datang ke sana akibat melakukan semua kesalahan. Namu. Jia diingat lagi, ia tidak melakukan apapun di sana. "Mungkinkah Darchen akan membawa wanitanya ke sana?" Tebak Celine merasa terasingkan. Ia merunduk akibat hati yang sedang bersedih. Ternyata Darchen tidak membutuhkan dirinya lagi. Padahal ia tidak masalah jika harus membersihkan kastil itu setiap harinya. Namun kini ia tidak diperbolehkan lagi untuk datang ke kastil. Ia yakin kalau kehadirannya telah terganti dan tidak diperlukan lagi. Wajahnya yang muram tersebut terasa oleh Darchen. Pangeran tersebut tidak mendengar suara dari Celine. Ia bingung dengan sikap diam Celine. Seakan itu bukanlah sosok wanita itu. Bahkan mereka hampir sampai ke istana, tapi Celine tetap merundukkan kepalanya dan senyap tanpa suara. Biasanya Celine akan recok di kursinya. Tapi kini ia tidak di dalam suasana hati yang baik. "Yumiro berkeliaran di sana, kau jangan pergi," ucap Darchen meluruskan perkataannya agar tidak ada kesalahpahaman. Darchen sadar dengan perubahan sikap Celine. Wanita itu murung sebab larangannya. Padahal ia berniat untuk menjagakan keselamatan Celine. Tetapi, mengingat Celine yang begitu lambat menangkap, Darchen baru tersadar, wanita itu sedang salah paham. "Eh? I-Iya," angguk Celine. Ternyata pemikirannya salah tentang Darchen. Hatinya membaik seketika. Bagaimana tidak, secara tidak langsung Darchen telah memberikannya kepedulian. Dia teramat senang sampai bibirnya tidak dapat menahan senyum. Telinganya memerah karena malu, seakan ada asap yang keluar dari sana. Tibalah mereka ke istana dimana ia seharusnya tinggal. Sudah terasa lama sekali ia tidak melihat istana tersebut. Padahal ia meninggalkannya baru sehari saja. Celine berpamitan pada Darchen untuk lebih dulu pergi ke kamar, sebab ia hendak menanyakan beberapa hal pada Genah. Selagi Darchen memasukkan kudanya yang gagah itu ke dalam kandang, ia mengatakan sesuatu pada Darchen dengan suara pelan. "Cepatlah pulang, atau kolam indah di belakang tembok, sebelum semuanya menjadi padang gersang," bisik Celine dengan mata seperti pembunuh. Kelopak mata Darchen seketika melebar ketika mendengar bisikan Celine terkait kolam yang ada di belakang tembok. Namun bukan itu yang terpenting, ada seorang wanita lemah mengancamnya. Terlalu berani hingga Darchen tertawa dalam batin. "Apakah dia sedang mengancam?" Celine kemudian tersenyum manis setelah membisikan kata-kata mengancam tersebut pada Darchen. Ia melambaikan tangannya dengan ramah lalu berjalan pergi menuju kamarnya. "Cih, tunggu saja bagianmu," celetuk Darchen sambil tersenyum sinis. Ia menikmati ancaman Celine. Darchen juga menanti tingkah amburadul dari wanita itu. Mungkin akan sangat seru jika kolam di belakang tembok itu berubah menjadi padang tandus. Begitulah pikiran Darchen kini. Ia menantikan pertunjukan Celine selanjutnya. Ia tidak sabar mendengar cerita tentang Celine dalam tiga hari. Jika satu hari saja ditunggal, Celine bisa menghancurkan segalanya, apalagi dalam jangka waktu tiga hari. Bisa jadi ancamannya itu terjadi. *** "Darchen menghadap, Baginda," sapa Darchen lalu memberi salam pada Ayahnya tersebut. "Darchen, anakku," balas Raja Erogha dengan senyum. Ia pun begitu menyayangi anaknya tersebut. Meski anaknya bukanlah hanya Darchen seorang, tapi ia begitu menyayangi anaknya yang satu itu. Baik karena sikap, perilaku, ataupun bakat. Ia selalu bisa diandalkan. "Darchen siap melaksanakan tugas dari, Ayah," ucap Darchen langsung pada intinya. "Semoga kau berhasil," pinta Raja Erogha. Darchen memberi salam, lalu pergi langsung untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh Raja Erogha. Tapi ia terhenti, akibat Raja Erogha memanggil dirinya. "Ayah dengar kau sedang dekat dengan tamu wanita itu." Darchen tidak menjawab sama sekali. "Ayah berharap kau bisa memilih yang terbaik," pinta Raja Erogha lagi. Ia begitu cemas dengan masa depan anaknya itu. Bukan mengekang, namun ia terlalu berharga jika diberikan pada wanita yang tidak diketahui asal-usulnya. "Tenang saja, Ayah. Aku tidak akan memperlakukan dirimu karena masa depanku," balas Darchen tidak senang. Ia tersinggung dengan ucapan Raja Erogha. Secara tidak langsung ia sedang menghina Celine. Ia tidak suka jika wanita itu dipandang sebelah mata. Sebab yang ia lihat berbeda dari mereka. Celine begitu berharga. Hanya saja ia sedikit bodoh karena tidak peka pada orang lain. Jika Raja Erogha tidak merestui hubungan mereka, namun Ratu Sibenth begitu mendesak agar keduanya segera menjalin hubungan yang lebih Serius lagi. Dengan langkah cepat, Darchen meninggalkan ruangan dimana Raja Erogha berada lalu menemui Dion. "Ada apa, Pangeran?" tanya Dion Moghet. "Perhatikan gerak-gerik dari wanita itu. Jangan biarkan ia pergi dari istana selama aku pergi," perintah Darchen. "Mengapa aku tidak ikut membasmi para Yumiro itu, Pangeran?" "Tidak perlu, tugas ini tidak berat," jawab Darchen. "Tapi, Pangeran. Jumlah mereka sangatlah banyak, mungkin lebih banyak daripada jumlah manusia di Athiam ini," terang Dion. "Kau hanya perlu mengawasi wanita itu saja," ulang Darchen mengingatkan. "Kekuatan mereka bertambah besar, Pangeran. Tenagamu banyak terkuras jika begitu caranya," ucap Dion resah. "Apa kau sedang menyepelekanku?" "Maaf, Pangeran. Bukan itu maksudku," jawab Dion sambil membungkuk memohon maaf. Dalam benak Dion berisi asumsi. Ia tahu alasan mengapa Darchen menyuruhnya agar tetap berada di istana untuk mengawasi Celine. Ia tahu kalau Darchen sebenarnya sedang mengkhawatirkan wanita itu. Padahal biasanya Darchen selalu mengandalkan Dion dalam berbagai hal. Terutama jika membahas Yumiro. Namun berbeda kini, ia lebih memperhatikan Celine dibandingkan keselamatannya. "Baiklah, Pangeran. Hamba akan menjaga Celine dengan baik, Pangeran," ucap Dion. "Mengawasi, bukan menjaga," tegas Darchen mengulang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD