Awal Munculnya Kejanggalan

1744 Words
Dion tahu kalau sebenarnya Pangeran Darchen sangatlah resah hatinya pasal Yumiro yang beredar di penjuru negeri. Terutama kekuatan mereka yang semakin besar ketika bulan purnama tiba. Dia khawatir pasal Celine yang amat pembangkang, dan tidak mahu mendengar perkataan orang lain. Meski sudah dilarang untuk tidak keluar, ia tidak akan menghiraukan orang lain. Kepalanya keras dan susah diatur. "Pangeran Darchen, ada satu yang ingin ku sampaikan," ucap Dion menahan kepergian Darchen. "Katakan." "Celine tampaknya berbeda dengan kita. Aku bisa merasakan aura yang keluar dari tubuhnya," sambung Dion mengungkapkan pendapatnya. Sebab setelah diperhatikan lebih lama lagi, ada sesuatu hal yang tampak asing dan berbeda dari pancaran tubuh Celine. Sesuatu yang kuat namun tidak bisa diukur oleh magis. Jika dikatakan kalau ia adalah orang yang genius, tetapi ia kerap ditanya selalu menegaskan dirinya hanyalah manusia biasa. "Hmmm, kau awasi dia," perintah Darchen. Darchen pun menyadari pancaran aura dari tubuh Celine. Sangat berbeda dari orang lain yang memiliki sihir magis, namun ia juga tidak bisa langsung dicap sebagai manusia biasa, sebab ia juga memancarkan aura sihir pula. Hal itu sering sekali dirasakan oleh Darchen. Hingga membuat ia bingung dengan status wanita itu. Sementara Celine yang baru saja tiba di depan kamarnya itu, bergegas melemparkan tubuhnya yang letih karena pengalaman satu hari saja di kastil milik Darchen. Belum lagi ia masih ingin membayang-bayangi Darchen. Bagaimana pesona pria dingin itu, bagaimana cara ia berbicara, bagaimana cara ia tersenyum, marah, dan sebagainya. Semuanya ia putar ulang bagai video rekaman di memori ingatannya. Dia tersenyum sendiri saat mengingat hal-hal yang berbau dengan Darchen. Hingga Genah tidak sengaja melihat majikannya bertingkah aneh kali itu. Ia mendekati Celine lalu menyapanya dengan ramah. "Nona Celine?!" Baru saja berpisah satu malam satu hari, tapi seolah waktu telah memisahkan mereka sangat lama. Genah teramat merindukan kehadiran Celine. Ia tanpa sadar juga menginginkan Celine selalu ada di sampingnya, agar dimana Genah dapat selalu melindungi sosok Celine. Sangat banyak ribuan tanya yang akan dilontarkan oleh Genah. Namun ia menyimpan pertanyaan tersebut dalam hatinya, kemdian ia menggantinya dengan ucapan syukur sebab majikannya tersebut telah kembali tanpa sebiji anggota badan pun berkurang. Genah menatap tubuh Celine dari atas ke bawah, dan dari depan ke belakang. Ia memeriksa akankah ada sesuatu yang berkurang. Namun dia tidak menemukan sesuatu. "Semuanya aman," gumamnya dengan mata yang masih sibuk memeriksa tubuh Celine. "Apa yang kau lakukan?" tanya Celine keheranan. Sudah beberapa kali Genah melakukan pemeriksaan selepas ia bertemu dengan Darchen. Padahal pria dingin itu tidaklah pernah menyakiti dirinya, namun Genah terlalu khawatir. Matanya terhenti ketika melihat tangan Celine bergores seperti tersayat benda tajam. Ia langsung menarik tangan Celine lalu meneriksa tingkat keparahan dari luka tersebut. Apakah kekuatannya yang kecil itu bisa membantu pengeringan luka pada tangan Celine. "Kenapa dengan ini, Nona?!" tanya Genah dengan mata melotot dan suara yang teramat melengking tinggi. Ia begitu shock dengan luka tersebut. Ia langsung menebak kalau pelaku sebenarnya adalah Darchen. Walau faktanya berbanding terbalik. "Oh ini, aku memecahkan guci di kastil Darchen," jawab Celine dengan datat. Genah langsung terbelalak mendengarnya. Ia setengah kaget akibat ucapannya yang begitu mendebarkan. Siapapun yang menyentuh barang milik Pangeran Darchen, biasanya tidak akan selamat dari ajal. "Bagaimana Anda masih bisa hidup, Nona?" tanya Genah dengan muka membodoh. Ia melontarkan pertanyaan asal akibat tidak mengerti lagi dengan perubahan Darchen. "Apa kau puas jika aku mati?" "Bukan begitu, Nona. Hamba hanya teringat akan wanita yang pernah menjamah barang Pangeran Darchen, lalu dengan keji, Pageran Darchen menghukum cambuk wanita itu 100 kali," ucap Genah menjelaskan kejadian yang pernah terjadi di masa lampau. Dengan kejam Darchen memberi hukuman berat pada wanita yang memegang barang milik Darchen. Namun berbeda dengan Celine, bahkan ia memecah, bukan lagi menyentuh. Sudah barang tentu dia akan terkena masalah dari Darchen. Tetapi tampaknya Celine sehat dan tidak terluka sama sekali, di wajahnya terlukis kepuasaan selepas pulang dari kastil. Bukankah artinya dia bahagia? Genah lega melihat majikannya tersebut baik-baik saja. Sekaligus ia juga senang telah mendengar bahwa Darchen telah berubah. Sifatnya yang kejam telah luntur. Kini ada sosok wanita yang mampu mengendalikan ganasnya Darchen. Ia girang, singa telah menemukan kandangnya. Banyak usaha yang mereka lakukan agar pangeran dingin itu tidak kejam lagi. Namun satu pun dari usaha mereka tidak ada yang berhasil. Kedatangan Celine adalah berkat dari Yang Kuasa. "Nona!" "Hmmm? Ada apa?" tanya Celine. "Apa Anda dan Pangeran Darchen …." "Ada apa? Kenapa?" "Tidak ada," sangkal Genah yang tidak jadi bertanya. Ia merasa terlalu mengurusi hidup Celine dan Pangeran Darchen. Dia mendiamkan Celine sendiri di kamar. Ia paham akan situasi yang terjadi. Dilihat dari gambaran wajah Celine, Genah tahu betul dengan hanya melihat mimiknya saja. Ia tampak bahagia dengan raut senangnya. Genah meninggalkan kamar dengan niat membiarkan majikannya itu menikmati waktu sendiri dalam mengenang cintanya. Ia paham dengan pikiran Celine yang terbagi. Meski tampak sedang baik-baik saja, sebenarnya dalam pikirannya adalah orang lain. Hanya raga saja yang tampak di depan mata, sesungguhnya hati dan rasa masih tertinggal di dalam ilusi kejadian kemarin. Ketika Genah menutup pintu majikannya itu, tiba-tiba Dion muncul di belakangnya tanpa suara sama sekali. Ia terperanjat dari lamunannya seputar Celine, lalu tersadar akan kenyataan. "Ada apa, Panglima Dion?" "Adakah sesuatu yang aneh tampak dari Celine?" tanya Dion langsung ke intinya. Ia tidak berbasa-basi dengan Genah, karena memang ia adalah prajurit khusus Darchen yang terkenal akibat ketelatenannya. Namun sayangnya, ia mendapat tugas untuk meneliti Celine dengan berpura-pura sebagai pelayan. Sebenarnya Dion juga heran dengan keputusan Darchen tentang Genah. Ia merasa kalau Genah terlalu disepelekan dengan tugas tersebut. Namun, Darchen lebih mengetahui segalanya dibandingkan dirinya. Kemudian ia diam dan menyetujui perintah dari Darchen untuk menurunkan Genah langsung mengawasi Celine dengan berpura-pura menjadi seorang pelayan. "Tidak ada, ia adalah manusia biasa yang berhasil merubah sikap Pangeran Darchen," jelas Genah dengan bangga hati memamerkan majikannya tersebut. "Itu masalahnya. Tidakkah kau heran dengan hal itu?" "Heran kenapa, Panglima?" tanya Genah bingung. Dalam benaknya berpikir kalau perubahan yang terjadi pada Darchen adalah sesuatu yang baik pula bagi mereka. Bukan hanya mereka saja, bahkan perubahan itu menyangkut dunia Athiam juga. "Tidakkah ia sedang menggunakan sihir semacamnya pada Pangeran Darchen?" Dion yang belum bisa memastikan kenyataan bahwa Celine adalah manusia seutuhnya, masih menaruh curiga terhadap Celine. Tentu saja hal itu dapat dimaklumi, sebab Darchen sangatlah keras orangnya, mengapa Celine dengan mudahnya masuk dan merubah sikap Pangeran Darchen? Pertanyaan itu yang selalu muncul di dalam benaknya. Setiap kali ia memikirkan Celine, ia hanya terbayang akan sihir kuat yang dapat menembus segel magis Darchen, yang bahkan dirinya tak dapat menembus segel tersebut. "Tidak, Panglima. Aku menjamin kalau dia adalah manusia biasa. Hanya saja ia memiliki kelebihan," tambah Genah menjelaskan situasi Celine. "Katakan!" "Ia teramat tulus, Panglima, dan tidak semua orang memiliki hal itu. Kita dapat merasakan kehangatan yang ia berikan, hanya itu keistimewaan yang ia punya," jelas Genah sambil membayangkan betapa berharganya dirinya dipandang Celine. Tidak satu pun manusia di negerinya menganggap ia sebagai keluarga, ia adalah prajurit khusus di mata para terdekat. Ia adalah bawahan bagi para tertinggi. Ia adalah musuh dalam perlawanan. Tidak ada yang menganggapnya sepenting yang dilakukan Celine padanya. Ia merasa dianggap dan diakui. Dari situ Genah mengambil kesimpulan bahwa Darchen juga mendapatkan hal itu darj Celine, kemudian dengan diiringi sikap tulus Celine, Darchen belajar dari kehidupan bahwa ia juga bisa mendapatkan sesuatu yang berbeda di dunia itu. Tidak hanya monoton tentang perang, musuh, harta, tahta dan lainnya. Kekejaman yang melekat pada dirinya seolah hancur sebab hangatnya perhatian dari Celine. "Aku tidak mengerti tentangnya, namun Genah, ada satu hal yang harus kamu perlu perhatikan," ucap Dion dengan wajah serius. "Apa itu, Panglima?" "Jangan menjadi pelayan untuk selamanya, cukup hanya sebagai tugas saja, selepas dari itu, kembali menjadi wanita yang kukenal dulu," jelas Dion dengan wajah sedikit memerah. Entah mengapa raut rupanya tidak seperti biasanya. Sejarahnya Dion Moghet tidak pernah menampakkan tampang seperti itu. Ia adalah orang yang percaya diri dengan setiap ucapannya. Namun mengapa tadi ia memasang wajah tersipu? Tidak mungkin ia malu pada Genah. Sebab perasaan terhadapnya pun tidaklah ada. "Panglima!" panggil Genah. Tiba-tiba saja Dion pergi setelah mengatakan hal itu padanya. Aneh sekali, hingga Genah tidak mengerti dengan Dion. Jika dipikir lagi, ia adalah orang yang dingin. Tidak jauh beda dengan Darchen. Hanya saja Dion bukan orang yang kejam, melainkan pria lembut dan baik hati. Hingga tak jarang banyak wanita yang mengidolakan dirinya. Banyak wanita yang menginginkan dirinya. Namu tidak satu pun yang ia terima menjadi pendamping hidupnya. Meski Darchen telah memberi ia izin untuk berkeluarga, namun ia menolak, dengan alasan belum memiliki calon. Tetapi jika dilihat, banyak sekali wanita yang berjejer menunggu dirinya. "Panglima!" teriak Genah lagi. Ada satu hal yang terlupakan olehnya dan belum ia sampaikan pada Dion. Tetapi Dion Moghet tidak mau berhenti, meski sudah dipanggil berkali-kali. Dikejar pun langkah kaki pria itu sangat panjang dan cepat, hingga Genah tidak bisa menyamai Dion. Menggunakan sihir pada Dion, bisa dikatakan tidak sopan. Sebab cara itu menunjukkan sesuatu kekangan bagi orang lain, menurut Genah. Jadi ia terus mengejar hingga ia sampai di sebuah jembatan di atas kolam ikan yang indah. Mereka berdiri di perpijakan yang sama, dan saling berhadapan. "Ada apa kau mengejar?" tanya Dion. "Begini, Panglima, aku melihat bercak darah Yumiro menempel pada kening Nona Celine, tentu saja itu baru saja dihapus oleh Pangeran Darchen, namun muncul kembali," jelas Genah. Ketika ia memeriksa tubuh Celine, ia bisa tahu kalau majikannya itu mendapat cipratan darah Yumiro. Namun telah hilang dari tubuhnya dibantu dengan magis Darchen yang begitu kuat dan ampuh. Lalu beberapa menit kemudian ia melihat bercak itu kembali menandai wajahnya. Pelan-pelan seluruh tempat bercak darah itu kembali berwarna. Penyebabnya tidak pasti. Namun setahu Genah, jika darahnya telah hilang oleh magis, maka tidak akan kembali lagi. "Mustahil terjadi," jawab Dion. Dion pun tidak pernah mendapat ataupun mendengar kasus seperti yang dikatakan Genah padanya. Baru pertama kalinya ia mendengar ada kasus Yumiro seperti yang terjadi pada Celine. Namun jika hal itu tidak segera ditindaklanjuti bisa bahaya bagi Celine. "Kenapa kau baru katakan?" "Maaf, Panglima, aku baru mengingatnya," tunduk Genah meminta maaf atas keterlambatannya dalam menyampaikan berita. Sudah tidak sempat lagi menyampaikan pada Darchen, kuda pangeran itu telah jauh pergi ke arah perbatasan. Jika harus mengejar jauh ke sana, namun ia dilarang untuk meninggalkan Celine. Ia diperintahkan untuk mengawasi Celine dengan ketat. "Apakah perintah mengawasi Celine ada hubungannya dengan darah itu?" gumam Dion dalam hatinya. Akhirnya ia mengetahui maksud dari perintah Darchen. Ternyata ia meminta Dion secara langsung untuk menjaga dan mengawasi Celine adalah karena hal itu. Darchen telah mempertimbangkan dan telah mengetahui yang akan terjadi pada Celine, sebab itu ia mempercayai Dion untuk menjaga Celine.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD