Joel menarik nafas dalam-dalam lalu mengelus d4d4nya dengan pelan. Setelah itu dia membuang seluruh nafas yang ia tahan tadi.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Celine keheranan. Dia melihat anak kecil itu bertingkah aneh.
"Ayahku orang sibuk. Aku tidak suka," decak Joel dengan tampang sedih.
"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Dia banting tulang juga demi dirimu. Ayo masuk, biar kau makan," ajak Celine agar anak itu tidak murung. Baru saja pagi dia sudah mendapati anak periang itu bermuka murung sedih. Tentu saja Celine tidak menyukai akan hal itu. Seharusnya anak itu semakin periang saat bersamanya, bukan menjadi pemurung.
Celine mengambil bubur yang diletakkan di atas meja, lalu menyulangkan sendok berisi bubur pada Joel.
"Buka mulut, ayo. Katakan a!" perintah Celine sambik membuka mulutnya mempraktekkan langsung.
Joel dengan penurutnya membuka mulutnya sesuai yang diperintahkan oleh Celine padanya. Bubur itu masuk ke dalam mulutnya sedikit demi sedikit hingga tidak terasa kalau mangkok itu telah kosong melompong. Semuanya telah habis dilahap oleh Joel. Karena enaknya, dia sampai meminta tambah pada Celine. Hanya saja karena dia memasak sedikit, akhirnya Celine mengatakan kalau akan memasakkan bubur dalam porsi yang banyak besok pagi untuk Joel.
"Yah, besok berjanjilah, Kakak," pinta Joel sambil mengarahkan jari kelingkingnya sebagai tanda janji.
"Iya, aman. Tenang saja," jawab Celine santai.
"Aduh aku kenyang sekali," decak Joel sambil membaringkan tubuhnya.
"Anak pemalas! Jangan tidur, perutmu bisa bengkak," jelas Celine dengan cerewet.
Dengan muka terpaksa Joel kembali bangkit dan memaksakan diri agar tidak merebahkan tubuhnya lagi. Dia akhirnya menyenderkan badannya ke tiang penyangga ranjangnya itu.
"Kakak," panggil Joel dengan muka lelah karena kekenyangan.
"Ada apa?" tanya Celine.
"Ayahku sangat sibuk, yah?"
"Jangan tanya padaku," jawab Celine. Dia tidak ingin membuat anak itu sedih karena membahas tentang ayahnya yang tidak punya waktu bersama dengan dirinya sebab sibuk berbisnis.
"Ayahku pagi mengurus pusat perbelanjaan miliknya sendiri. Siang ayahku mengurusi pajak, kemudian ternaknya, ladangnya. Semua, dia sangat sibuk," jelas Joel.
"Astaga, dia pria idaman," celetuk Celine sambil tersenyum. "Kalau di dunia nyata, dia sudah jadi idola semua orang. Bahkan jadi istri ke sepuluh juga tidak masalah, hahaha," tambah Celine sambil tertawa terbahak-bahak membayangkan betapa kayanya Alam Jordan di kehidupan itu.
Selagi Celine masih berdecak dengan pikirannya sendiri, kondisi Istana Athiam berbeda. Ratu Sibenth yang sedang resah akibat tidak menemukan keberadaan Celine di sana. Membuatnya harus turun tangan.
Dia pergi menemui Genah, pelayan Celine, dan bisa dikatakan juga kalau dia adalah orang terdekat dengan Celine.
"Katakan dimana Celine?!" tanya Ratu Sibenth dengan nada tinggi akibat Genah tidak membuka suara dan hanya menunduk.
"Maafkan hamba, Ratu. Nona Celine tinggal di Kediaman Keluarga Zoe," jawab Genah.
"Apa?! Kenapa dia bisa sampai ke sana? Bagaimana mereka bisa saling mengenal? Jangan bilang dia dipaksa untuk tinggal di sana?" Keresahan hati Ratu Sibenth semakin menjadi-jadi. Dia takut kalau pria berbakat dari keluarga Zoe itu merebut wanita yang memiliki peluang melelehkan hati anaknya yang beku itu. Jika Celine sudah tidak tinggal lagi bersama mereka, dan bahkan tinggal di tempat orang yang amat menawan selain anaknya, sudah barang tentu kemungkinan membuat anaknya jatuh hati telah hilang.
"Tidak ada yang memaksanya, Ratu. Hanya saja malam ketika Festival Hyros itu, Nona Celine dan Pangeran Darchen bertengkar hebat," jelas Genah.
"Katakan bagaimana kejadian semalam," perintah Ratu Sibenth.
"Hanya itu yang hamba tahu, Ratu. Penyebab pertengkaran itu adalah Putri Erica," ungkit Genah.
"Kenapa kau tidak menahan Celine?!"
"Maaf, Ratu, ini adalah kelalaian hamba. Namun sebelum Putri Erica datang, Nona Celine dan Pangeran Darchen baik-baik saja. Entah apa yang membuat mereka bertengkar, hamba juga tidak yakin, Ratu," tambah Genah.
"Erica? Tidak mungkin dia sengaja membuat mereka berdebat," terka Ratu Sibenth. "Bagaimanapun juga, Celine harus kembali ke istana ini, hari ini juga!" sambung Ratu Sibenth memerintah.
"Baik, Yang Mulia Ratu," angguk Genah.
Genah langsung bergegas ke Kediaman Keluarga Zoe untuk menjemput Nona Celine sesuai yang diperintahkan oleh Ratu Sibenth padanya. Disisi lain, dia juga tidak bisa membiarkan majikannya itu pergi berkeliaran sendiri tanpa pengawasan darinya. Belum lagi karena kekuatan Celine yang tidak terkontrol, yang dapat membahayakan orang lain dan dirinya sendiri. Untuk itu, sesuai janji yang telah dia ucapkan, kalau dia akan terus melindungi Celine kapanpun itu.
Ratu Sibenth yang masih penasaran dengan kejadian malam kemarin, langsung menanyakan pada Erica. Dia seorang diri berjalan menuju kamar Erica.
Masih berada di lorong jalan menuju kamar Erica, pelayannya langsung berlari terbirit-b***t hendak menyampaikan informasi pada Erica. Dia dengan tergesa-gesa menemui Erica yang tengah bersolek di depan cermin sambil tersenyum jahat karena berhasil mengusir Celine dari istana.
"Putri, Ratu Sibenth datang kemari!"
"Apa?!" Erica terkejut. Dia langsung menghapus semua riasan di wajahnya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian biasa. "Ratu Sibenth pasti khawatir dengan keadaanku setelah mendengar kejadian malam itu, hahaha."
Menurut Erica, kedatangan Ratu Sibenth adalah untuk membesuk dirinya yang dikabarkan sakit karena dihempaskan oleh Celine. Meski memang benar tubuhnya sakit saat itu, namun telah sembuh diobati Darchen. Namun karena masih ingin mengambil simpati dari semua orang yang ada di istana, dia harus berpura-pura sakit. Selain itu dia berniat untuk menumbuhkan rasa benci dari setiap orang terhadap Celine. Dia ingin semua orang tidak menyukai Celine. Dia ingin semua orang tahu kalau Celine adalah wanita liar yang membahayakan orang lain.
Dia dengan seribu tipu muslihat, naik ke atas ranjang dengan mengubah mimik wajahnya seolah sedang sekarat. Demi mendapatkan perhatian dari ratu tersebut.
"Salam pada Yang Mulia Ratu," tunduk serentak para pelayan menyambut Ratu Sibenth.
"Antarkan aku menemui Erica," perintah Ratu Sibenth.
Ratu Sibenth melihat Erica tengah berbaring di atas ranjang dengan wajah pucat lesu. Dia berdiri di depan Erica tanpa mengatakan apa-apa. Ratu Sibenth menyuruh pelayan itu keluar dan membiarkan mereka berdua di sana.
"Ra-Ratu … uhuk … uhuk," lirih terdengar suara Erica.
"Putri Erica? Apa kau baik-baik saja?"
"Erica baik-baik saja, Ratu. Hanya saja … Erica masih sangat lemah," jawabnya membual.
"Apa kau masih sanggup duduk dan berbincang sebentar denganku?" tanya Ratu Sibenth.
Dengan gerak lambat seolah tidak bisa, Erica duduk dan bersandar. "Maaf karena tidak bisa menjamu, Ratu," ucapnya segan.
"Tidak masalah. Aku hanya ingin menanyakan tentang Celine saja," ucap Ratu Sibenth langsung ke intinya.
Benaknya tersenyum. Kesempatan bagi Erica untuk menjelek-jelekkan Celine di depan Ratu Sibenth. Hal itu tidak akan disia-siakannya. Sebisa mungkin dia harus membuat Ratu Sibenth membenci Celine. Jika harus menambah bumbu kebohongan dalam ceritanya, dia tidak masalah. Karena dia yakin kalau istri dari raja itu lebih mempercayai dirinya ditumbang Celine yang hanya orang baru dalam kehidupan kerajaan.
"Erica mendengar kalau Celine lari dari istana," tukas Erica.
"Tidak, dia hanya tahu diri dan tidak ingin tinggal di sini, sebab takut merusak kerukunan istana," sangkal Ratu Sibenth.
Jelas sekali kalau Ratu Sibenth sangat mendukung Celine, dan menyayangkan kepergiannya. Erica langsung terdiam. Diluar dari ekspektasinya. Awalnya ia mengira kalau Ratu Sibenth akan mendukungnya. Ternyata tidak. Jelas sekali dari wajah Ratu Sibenth, kalau dia teramat kesal karena Celine tidak ada di istana lagi.
"Erica tidak tahu pasal itu, Yang Mulia," jawab Erica mengalihkan pandangannya.
"Apa yang terjadi sampai Celine tidak kembali ke sini?" tanya Ratu Sibenth.
"Tidak tahu, Yang Mulia. Malam itu terjadi begitu saja. Kesadaran Erica mulai menghilang saat Celine mendorongku," jawab Erica.
"Benarkah? Kalau begitu jelaskan kejadian sebelum Celine mendorongmu," perintah Ratu Sibenth. Dia sama sekali tidak ingin mendengar cerita tentang Erica, yang dia butuhkan adalah alasan kepergian Celine.
"Erica tidak tahu, hanya saja saat itu … karena terlalu emosi melihat kelancangan Celine terhadap Pangeran Darchen, membuat Erica tidak bisa mengontrol diri. Erica menampar pipi Celine," jawabnya dengan raut wajah merasa bersalah. Padahal jelas sekali kalau dia tidak pernah menyesali perbuatannya.
"Begitu?" tanya Ratu Sibenth memastikan. Namun tampak bahwa wajah ratu itu sedang ragu.
"Be-Benar, Ratu," sahut Erica.
Ratu Sibenth beranjak pergi dari kamar Erica. Tanpa menanyakan bagaimana keadaan dirinya. Yang dibutuhkan Ratu Sibenth hanyalah informasi tentang Celine. Dia sama sekali tidak butuh dan tidak peduli dengan Erica.
Sementara Erica yang geram karena tidak berhasil mendapatkan simpati dari Ratu Sibenth hanya bisa melampiaskan kekesalannya dengan melemparkan seluruh benda yang ada di depannya. Dia dengan ganasnya mengambil vas bunga yang ada di sampingnya lalu melempar ke arah tembok. Serpihan kaca itu berhamburan di lantai.
"Kenapa … kenapa?!"
Erica menarik rambutnya karena tidak tahan lagi. Hanya sebuah perhatian dari mereka, tak pernah ia dapat. Sudah cukup lama ia bersabar. Sedikit pun tidak ada iba dalam diri mereka. Baik Ratu Sibenth maupun anaknya, Darchen Valerio.
Dia rela menjadi orang yang berbeda demi Darchen, namun tidak ada apresiasi sedikit saja dari mulut pangeran itu. Setiap hari dia mencoba menjadi orang yang sempurna agar mendapatkan perhatian dari Ratu Sibenth, namun tetap saja tampak kalau ratu itu hanya memandangnya sebagai anak, bukan menantu.
Erica bertahan di dalam istana itu, jauh dari orang tuanya, semua demi mendapatkan perhatian. Terlalu dalam rasa cintanya pada Darchen. Sampai dia muak dengan segalanya. Dia hanya butuh Darchen memuji, memberi senyum selalu padanya. Tidak ada yang dituntut oleh Erica, kecuali kasih sayang dari Darchen.
Erica tidak ingin perjuangannya selama ini terbuang sia-sia hanya karena kata menyerah. Terlalu mudah untuk berhenti mencintai Darchen jika mengingat kesabarannya dalam menunggu perasaan terbalaskan.
Meski dia tahu sejak awal kalau Darchen sendiri tidak menyukai dirinya, dia tetap teguh dengan pendiriannya, bahwa suatu saat pasti akan terbalaskan. Meski harus menjadi orang lain, dia rela, asal terus bersama dengan Darchen Valerio.
"Tenangkan diri Anda, Putri," nasehat Pelayan setianya pada Erica.
"Diam kau! Kau tidak tahu rasanya! Aku hanya ingin dia mencintaiku, kenapa sangat sulit?! Banyak orang lain yang menginginkan aku, tapi … tapi kenapa hatiku terus memilihnya. Kenapa?!"
Air mata terus mengalir membasahi pipi Erica. Hatinya terlalu sakit saat mengingat perasaannya yang tidak terbalaskan. Dia ingin sekali mundur dari pertempuran itu, tapi hatinya yang lemah, terus memaksanya agar tetap bertahan.
"Akan ada masanya nanti Pangeran Darchen melihat perjuangan Anda, Putri," ucap Pelayan itu menenangkan.
"Tentu … tentu saja. Pangeran harus melihat aku, harus melihat aku, hanya boleh melihat aku!" Teriak Erica histeris.
Di lain sisi, Ratu Sibenth yang sama sekali tidak mempedulikan Erica, hanya bisa berharap agar Celine kembali ke istana. Dia meminta Genah agar membujuk Celine datang ke istana. Sebelum dia turun tangan, langsung menjumpai Celine kemudian diajaknya untuk tinggal di istana.
"Kau tidak perlu pergi!" ucap Ratu Sibenth menarik perintahnya dari Genah.
"Ada apa, Yang Mulia?" tanya Genah keheranan.
"Biar aku saja yang menjemput Celine," usul Ratu Sibenth. Setelah berpikir keras, akhirnya dia sadar kalau Celine tidak akan mungkin mau datang ke istana lagi hanya jika seorang pelayan saja yang menjemput. Ada baiknya jika dirinya langsung ke sana, agar tidak ada alasan bagi Celine untuk menolak.