Permainan Licik

1726 Words
Ratu Sibenth sudah yakin dengan usulannya. Sebab dia yakin, pasti akan lebih mudah jika dia yang meminta langsung agar Celine kembali tinggal di istana. "Kenapa kau terlalu bersemangat, Ibu?" Suara Darchen terdengar. Ratu Sibenth langsung terkejut karena anaknya itu datang menghampirinya untuk pertama kali setelah sekian lama ia menanyakan sesuatu tanpa berkata kasar atau suara yang menyenggak. "Darchen, Anakku?" Ratu Sibenth karena senang tersenyum lebar. "Salam, Pangeran Darchen," sapa Genah sambil menunduk. "Tidak ada alasan baginya untuk tetap tinggal di sini," jelas Darchen pada ibunya. "Ibu menginginkan dia," jawab Sibenth dengan mata bersikukuh bahwa Celine harus kembali. "Jangan pernah terlintas di benakmu untuk mengajaknya kembali ke sini. Dimana harga dirimu sebagai seorang istri penguasa?" ucap Darchen dengan mulut tajamnya. Ratu Sibenth yang tidak bisa berkata-kata hanya bisa menelan kalimat anaknya yang begitu menusuk. Sebab dia tidak sanggup menyangkal anaknya tersebut. Ada benarnya juga, dia terlalu tidak berharga jika meminta seorang wanita tidak dikenal untuk tinggal di istana. Tapi demi anaknya, Darchen, dia rela menjadi lebih rendah dari b***k jika perlu. "Ibu akan lakukan apapun demimu, Darchen," jawab Ratu Sibenth dengan suara lirih. "Cih, omong kosong," cegat Darchen Valerio. "Maafkan Ibu karena tidak bisa menjadi ibu yang baik. Maafkan Ibu, Nak," ucap Ratu Sibenth dengan raut wajah sedih. Darchen pergi begitu saja dari sana, sambil berkata," Biar aku saja yang menjemputnya." Seketika wajah sedih yang terlukis itu hilang. Anaknya yang begitu membencinya terlihat seperti sedang melindungi dirinya dari omongan masyarakat. Darchen seakan sedang menahan dirinya untuk tidak mempermalukan diri sendiri. Hatinya yang telah terluka lama akibat rasa bersalah, seketika sirna. Anaknya telah memberikan dirinya sinar yang membawanya keluar dari kegelapan. "Terima kasih, Darchen, Anakku," balas Ratu Sibenth dengan senyum penuh harap di wajahnya. Kemudian Istri dari Sang Penguasa itu mengurungkan niatnya untuk menjemput Celine kembali ke istana kerajaan. Sebab dia sudah menyerahkan segalanya pada Darchen Valerio, ankanya. Dia yakin kalau anaknya itu sangat menginginkan Celine berada dekat dengannya, tapi gengsinya lebih keras dibanding rasa inginnya. Sudah seminggu berlalu, tetapi Darchen belum juga menjemput Celine. Tidak ada tanda-tanda kalau wanita itu akan kembali. Ratu Sibenth mulai resah, kalau anaknya itu telah membohongi dirinya. Setiap hari secara rutin, Ratu Sibenth selalu menatap kamar Celine memastikan kehadirannya. Namun tidak ada. Selalu dia menanyakan pada Genah, tetapi jawabnya tetap sama, "Nona Celine belum kembali." Ratu Sibenth tidak bisa memaksa anaknya itu untuk cepat menjemput Celine, dia takut untuk mendesak. Sebab dia tahu orang seperti anaknya itu tidak suka diperintah. Dia hanya bisa berharap agar secepatnya anaknya itu menyadari perasaannya sendiri, hingga tidak semena-mena pada Celine. Selama satu minggu berlalu, Celine hidup dengan normal. Mengurus Joel, memberinya makan, memandikannya, dan bermain bersamanya. Tampak bahwa tawanya sangatlah lebar. Sekilas. Namun ketika malam tiba, saat dirinya hanya sendiri, dia murung, berharap segalanya berlalu. Dia tidak ingin terjebak selamanya di dalam dunia itu. Jika memang benar dunia itu adalah persinggahan terakhirnya, dia ingin melihat Lyn agar bisa berpamitan. Krek! Pintu kamarnya terbuka sedikit. Di tengah malam yang gelap, bayangan seseorang terlihat baru saja menatap ke arahnya dengan sinis. Celine teramat terkejut hingga membuatnya tertegun sejenak. Risau menyelimuti benaknya. Dengan berani dia mendekati pintu tersebut kemudian menguncinya. Celine yakin kalau dirinya sudah mengunci pintu dengan benar. Namun mengapa kini terbuka lagi. Dia memeriksa keluar mengejar bayangan itu. Tadi itu sangat cepat, hingga dia hanya visa melihat kain putih yang terayun melambai. Awalnya Celine mengira kalau bayangan itu adalah Yumiro, namun dia tersangkal, bayangan itu memiliki bau yang sedap, tidak seperti Yumiro yang busuk. Selain itu, kain putih itu terlihat bersih dan rapi, tentu bukan seekor Yumiro. "Apa mungkin itu Alan?" gumam Celine. Ketika memikirkan perkara bayangan tersebut, dia tidak sengaja menatap langit dan melihat bintang bertaburan di gelapnya dunia. Dia tersenyum melihat bintang-bintang kecil di atas sana. Seketika jiwanya yang sunyi terisi kilauan bintang. Seakan dia sadar kalau obat dari luka hatinya masih tersedia diciptakan oleh Sang Pencipta. Ketika angin telah menyuruh Celine berhenti berangan-angan, ia kembali masuk ke dalam dan menyelimuti dirinya dengan kain tebal. Sudah cukup lelah ia berdiri di sana. Satu minggu penuh, dia hanya melakukan rutinitas yang sama. Tidak ada tangis di wajahnya. Kesedihan seolah berhenti saat dia tinggal di kediaman tersebut. Mungkin karena perasaannya tidak banyak disakiti saat bersama keluarga Zoe. "Celine, ayo kemari, Nak, makan bersama," ajak Nenek Zoe dengan senyum lebar. "Iya Nenek, aku panggilkan Joel dulu," sahut Celine. Bagi Nenek Zoe, Celine adalah sosok wanita polis yang penurut, sosok calon ibu yang pantas mengurus cucunya, dan sosok seorang istri yang terbaik bagi anaknya. Tentu saja fia sangat teramat senang saat Celine berada di tengah-tengah mereka. Banyak perubahan yang terjadi sejak adanya Celine. Beberapa saat kemudian, Celine datang bersama Joel diikuti oleh Alan dari belakang. "Alan, kau juga makan bersama kami siang ini?" tanya Nenek Zoe. "Iya, Bu. Tidak ada tugas sampai sore nanti," jawab Alan. Nenek Zoe tersenyum. "Aku senang mendengarnya," celetuk Nenek Zoe. "Kakak, aku satu piring dengan Kakak saja," suruh Joel. "Eh? Baiklah," angguk Celine langsung. "Apa di rumah ini tidak ada piring lagi sampai kau harus sepiring dengan Celine?" sindir Alan sambil menatap Joel. "Aku hanya ingin, Ayah. Kenapa kau tampak cemburu … Ayah," balas Joel dengan mulut ringan. "Hey hey … jangan bertengkar lagi. Ayo makan, nanti keburu dingin," ucap Celine menengahi perdebatan mereka. Dulu kediaman itu teramat sepi. Namun sejak kedatangan Celine, suara ricuh telah menghiasi tempat senyap itu. Nenek Zoe yang terus mendambakan hal itu, bisa tersenyum dengan bahagia. Akhirnya dia tidak perlu risah pasal kediaman yang akan ia tinggalkan tidak lama lagi. Usianya yang tidak lama lagi membuat dirinya harus memikirkan cara agar anaknya itu mencari orang yang dapat mengurus cucu dan anaknya. Melihat kehangatan yang datang dari Celine, membuat dia mati dengan tenang. Tidak perlu lagi Nenek Zoe mencarikan anaknya itu seorang yang dapat menjaga mereka. Sebab sekarang dia sudah menemukan orang yang tepat untuk anak dan cucunya. "Apa kau ingin Kakak Celine jadi ibumu?" tanya Nenek Zoe sambil mencubit pelan pipi Joel. Seketika Celine terdiam. Dia menatap Alan dengan mata terbelalak. "Tidak," jawab Joel singkat. "Aku yang akan menikahi Kakak, bukan Ayah," sambung Joel. "Berhentilah membuat Celine tidak nyaman, Bu," kata Alan sambil menunduk karena dia tidak ingin Celine merasa tidak enak. "Aku serius menanyakan pada Joel," jelas Nenek Zoe meyakinkan. "Bagaimana menurutmu, Alan? Apa kau ingin menjadi …." Belum sempat Nenek Zoe menyelesaikan kalimatnya, Alan langsung berdiri dari duduknya kemudian pergi dari ruangan itu. "Aku selesai," ucapnya dengan muka masam. Celine yang merasa tidak enak itu langsung mengejar Alan. Dia memanggil Alan namun tidak sedikit pun pria itu menoleh. Celine akhirnya menarik tangan Alan dan memaksa pria itu agar tetap tenang. "Nenek Zoe hanya ingin yang terbaik untukmu. Tidak perlu sampai marah begitu," nasehat Celine. "Hmmm?" Alan berjalan selangkah lebih dekat dengan Celine. "Apa kau mau menjadi istriku? Apa kau mau menerima Joel? Apa kau siap menggantikan posisi istriku? Apa kau sanggup menerima kekuranganku?" tanya Alan dengan serius. Terlihat emosi yang tidak dapat diungkapkannya. Matanya memerah seolah sedang meredam amarah. Celine baru pertama kali melihat wajah Alan yang tenang berubah menjadi amat marah. Dia bahkan sampai ketakutan. "Ayo jawab!" perintah Alan sambil memegang tangan Celine dengan kuat. "Auuu," jerit Celine kesakitan. "Sebaiknya kau jelaskan pada ibuku kalau kau tidak ingin," sambung Alan. Alan melepaskan genggaman kuatnya dari tangan Celine, lalu pergi kemudian. "Ada apa dengan Alan?" gumam Celine. Celine akhirnya kembali ke ruangan makan. Dengan senyum, Celine menutupi rasa takutnya. Meski baru saja dia bagai dipaksa untuk menjauh. "Joel, Kakak pergi sebentar, ada urusan mendesak," ucap Celine. Seakan ada keanehan yang datang dari Alan. Hatinya tidak tenang sebelum memastikan perubahan sikap itu. Semula tenang kini berubah menjadi tegang. Celine mengejar Alan yang sudah lebih dulu berada di pintu gerbang Kediaman itu. "Alan!" panggil Celine mencoba menghentikan langkah Alan. Alan berhenti dan terdiam kemudian. "Ada apa?" tanya Alan. "Apa ada yang membuatmu marah?" tanya Celine. "Maafkan aku," ucap Alan. "Aku tadi terlalu terbawa perasaan," tambah Alan. "Tidak perlu kau pikirkan. Aku tahu kau ada masalah. Katakan saja padaku," ucap Celine. "Apa kau senang tinggal di sini?" tanya Alan melenceng. "Hmmm? Kenapa kau menanyakan hal itu? Tentu saja aku senang," jawab Celine. "Hari ini, Pangeran Darchen akan menjemputmu," sambung Alan dengan muka murung. "Ha?! Apa?! Darchen?!" "Ya," angguk Alan. "Semoga kau tidak bosan datang kemari," sambungnya. "Apa yang kau katakan?" Celine seolah kehilangan arah. "Aku … aku tidak ingin jauh dari Joel, aku merasa bahagia berada di dekat kalian. Jangan biarkan aku kembali padanya, aku mohon, jangan biarkan hal itu terjadi," ungkap Celine dengan wajah ketakutan. Alan hanya bisa diam tanpa mengatakan apapun. Baginya perintah dari Darchen adalah sebuah titah. Dia tidak berani untuk membantah. Baginya, dirinya terlalu lemah dan tidak sebanding dengan kuasa Darchen. Dia pun tidak ingin jika Celine jauh dari mereka. Namun dia tahu kalau Celine bukan miliknya. Tidak lama setelah itu, Alan dengan kuda gagahnya masuk ke halaman kediaman Keluarga Zoe. Dia turun dari kuda itu lalu berdiri di depan mereka berdua, Celine dan Alan. Dia langsung menatap Celine. "Alan, aku mohon, jangan biarkan dia membawaku. Apapun akan kulakukan, bahkan aku rela menjadi b***k di sini," pinta Celine dengan sangat. Tangannya bergetar hebat. Sampai Alan sendiri ingin melindungi Celine dari Darchen. Namun dia terlalu tidak berdaya. "Salam pada Pangeran Darchen," sapa Alan sambil menunduk. Celine menarik lengan baju Alan kemudian menutupi wajahnya dari padangan Darchen. Dia menghindari matanya dari Darchen. Dia tidak ingin kembali hancur seperti dulu lagi. Dari bibirnya terus meminta agar Alan tidak membiarkan dirinya kembali ke tangan Alan. Sementara Darchen yang murka karena melihat Celine dekat dengan pria lain hanya bisa menahan emosinya agar Celine tidak semakin ketakutan. Meski dia terpancing amarah saat itu, namun dia tetap meredam emosinya. "Bisakah kau sedikit menjauh darinya?!" amuk Darchen. Dia langsung menarik tangan Celine menjauh dari Alan. Ketika melihat Darchen berlaku kasar pada Celine, dia menjadi tidak tega membiarkan Celine bersama dengan Darchen. Dia takut kalau wanita itu hancur secara mental jika berada dekat dengan Darchen. "Lepaskan aku! Jangan pernah menyentuhku!" Celine menepiskan genggaman Darchen lalu berlari bersembunyi di belakang Alan. Namun Alan yang cemas kalau Darchen lepas kendali, hanya bisa menasehati Celine agar menurut saja dengan perkataan pangeran tersebut. Sebab dia tahu kalau pangeran itu tidak akan segan-segan melakukan hal gila ketika sedang marah. Darchen kembali menarik tangan Celine. Namun wanita itu terus membangkang. Dia memegang tangan Alan agar Darchen tidak bisa menariknya. Celine benar-benar tidak ingin jika harus kembali ke istana lagi. Dia memeluk tubuh Alan dengan Erat agar Darchen tidak bisa membawanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD