Terus Terikat

1729 Words
Melihat dekapan Celine terhadap Alan, membuat Darchen tidak bisa mengontrol dirinya lagi. Dia pun ragu mengapa tidak suka saat wanita itu dekat dengan pria lain, tapi yang dia yakin, Darchen hanya ingin kalau Celine menyentuhnya seorang. "Mengapa kau terus memancing amarahku?" tanya Darchen pada Celine. Namun Celine tidak menjawab pertanyaan dari pangeran tersebut dan tetap bersembunyi dari tatapan Darchen. "Berjanjilah kau tidak akan membiarkan aku dibawa laki-laki sana," bisik Celine dengan suara pelan ketakutan. "Pangeran, ada baiknya jika kau masuk lebih dulu ke dalam," timpal Alan. "Cih," balas Darchen tidak suka. "Apa yang kau berikan padanya sampai Celine tidak berani menatapku?" tanya Darchen menyalahkan Alan. "Maaf, Pangeran. Aku tidak mengerti maksudmu?" "Alan," panggil Celine dengan nada bergetar. "Bisakah kau mengusirnya dari sini, aku … aku benar-benar tidak ingin melihatnya," sambung Celine. Alan menatap raut wajah Celine yang sedang ketakutan. Dia bisa merasakan betapa tidak inginnya wanita itu dekat dengan Darchen. Alan sangat ingin menyelamatkan wanita itu, tapi sebab dia tidak terlalu berdaya, akhirnya dia tidak bisa melakukan apapun. Alan memegang bahu Celine dan menjauhkan wanita itu dari tubuhnya. Dia melepaskan dengan pelan dekapan Celine. Meski dia sendiri tidak tega melakukannya, namun Alan terpaksa demi kebaikan Celine sendiri. "Pangeran, kau bisa membawa Celine … sekarang," ucap Alan dengan nada merendah. "Tidak!!!" teriak Celine menolak. Dia langsung memegang tangan Alan dengan erat dan tidak melepaskan sama sekali. Darchen semakin murka melihat betapa tidak inginnya wanita itu melepas pria itu. Rasanya Darchen harus menyingkirkan pria di depannya itu dari dunia, selamanya. Dengan penuh kebencian, Darchen mengambil pedang dari kekuatan magisnya, kemudian mata pedang itu di dekat leher Alan. Kilauan tajam pedang tersebut teramat tajam di mata Celine. Dia takut kalau sampai tangan Darchen lepas kendali, dapat membunuh Alan. Celine melepaskan tangannya dari Alan, kemudian melangkah mundur. "Darchen … apa yang kau lakukan?" "Menghilangkan penghalang dari dunia ini," jawabnya dengan mata yang terus menatap Alan dengan kebencian. "Apa kau ingin menyaksikan kepergiannya?" tanya Darchen dengan mata licik. "Dia tidak ada hubungannya dengan semua ini! Berhentilah berbuat sesukamu!" senggak Celine. "Wah … mendengarmu mengatakannya membuatku semakin ingin menghabisi pria ini," ucap Darchen. "Aku membencimu! Aku membencimu!!!" teriak Celine dari hatinya yang paling dalam. "Apa yang kau inginkan, ha?! Jauhkan pedang itu darinya! Aku mohon … aku mohon," rintih Celine. Karena tidak sanggup lagi melihat keadaan saat ini, Celine tersungkur lemah di atas tanah kering tersebut. Dia hanya ingin ketenangan, namun hanya beberapa saat saja dia rasakan. Sekarang kini dia harus menghadapi kekangan yang lebih menyakitkan. "Kau hanya menganggapku boneka, sementara … sementara Alan memandangku berharga. Pantaskah kau berbuat seperti itu padanya?" ucap Celine dengan putus asa. "Celine, jangan mengatakan apapun," perintah Alan. Dia takut kalau Darchen akan semakin marah. "Sekarang aku sadar … aku sadar kalau aku takut kehilangannya," tambah Celine lagi. "Diam!!!" teriak Darchen. "Jadi, jangan pernah ambil nyawa, Alan. Aku akan ikut bersamamu jika memang itu yang kau ingin. Aku siap kau sakiti jika memang itu yang kau butuhkan," terang Celine dengan rasa putus asa. Celine berdiri kemudian memegang ujung pedang itu, sampai tangannya tergores dan mengeluarkan darah. Dia menurunkan mata pedang itu agar menjauh dari leher Alan. Dengan mata tidak tergoyahkan, dia melemparkan tatapan pada Darchen. Melihat darah yang terus mengalir daru telapak Celine, Darchen langsung menghapus magisnya itu hingga pedangnya hilang seketika. "Alan, sampaikan salamku pada Nenek Zoe. Dan … katakan pada Joel, aku hanya pergi sebentar, lain kali aku akan datang mengunjunginya," jelas Celine dengan pandangan kosong. Dia berjalan dan naik ke punggung kuda dengan pasrah. Bahunya turun seolah bebannya teramat berat. Dia tidak menatap apapun selain menunduk saja. Seketika kenangan bersama Celine hilang. Kehangatan itu hanya singgah sejenak. Wanita itu meninggalkan kenangan indah yang justru menambah duka baginya. Dia yang lemah hanya bisa menatap perpisahan mereka tanpa berjuang menahannya. Kuda itu berlari pergi bersama orang lain membawa kebahagiaannya. Namun dia tidak berkutik, dia hanya bisa memendam agar semua berjalan dengan baik. Dia hanya bisa berharap wanita itu, hidup dengan bahagia meski bukan dengannya. Meski di hatinya menginginkan keberadaan wanita itu, dia hanya bisa mengurung niatnya. Dia hanya bisa berharap semua berjalan dengan baik, dan berakhir dengan indah. "Ayah," panggil Joel. Alan berbalik dan menatap anaknya. "Kenapa Ayah terlihat sedih? Dimana kakak?" tanya Joel. "Apa kau mau menemaniku pergi ke luar kota?" "Untuk apa? Lalu bagaimana dengan kakak, aku tidak mungkin meninggalkan dia sendiri di sini," jawab Joel polos. "Apa kau lebih memilih dia dari pada Ayahmu sendiri?" lempar Alan. "Baiklah, aku berpamitan dulu dengannya," tambah Joel. "Dia sedang tidur, jangan ganggu. Aku akan menyuruh pelayan menyampaikan pamitmu padanya," terang Alan menutupi kebenaran. "Baiklah. Padahal aku ingin kakak ikut bersama kita, agar dia tahu kalau kau adalah pria yang pekerja keras. Aku yakin dia akan menyukaimu, Ayah," timpal Joel. Berbeda dengan Alan yang sedang melepas, Celine kini harus kembali terkekang dalam arus yang begitu menyakitinya. Darchen membawanya ke arah Hutan Maleni, bukan Istana Athiam. Celine ingin angkat bicara namun dia takut kalau suaranya malah membuat suasana menjadi lebih tegang. Ketika di perjalanan, tidak ada diantara mereka saling menatap. Keduanya fokus pada angan masing-masing. Begitu pun Celine yang tidak ingin sama sekali mendengar suara Darchen. Dia tidak menyukai pria itu. Setelah apa yang telah diperbuatnya pada Celine malam itu. Mengingat akan kejadian lampau itu, membuatnya enggan untuk memaafkan Darchen. Hatinya begitu sakit. Untung saja Alan ada saat itu. Hingga rasa sakit itu sedikit berkurang. Mereka telah sampai di depan kastil. Darchen turun dari kuda. Dia menjulurkan tangannya untuk membantu Celine hendak turun. Namun wanita itu tidak menghiraukan dirinya. Celine tanpa menatapnya langsung masuk ke dalam kastil. "Semoga hari baik selalu menyertaiku," decak Celine dalam hati sambil menarik nafas panjang saat memasuki kastil itu. Celine langsung naik ke ruangan dimana dia tidur di hari-hari sebelumnya. Dia menutup pintu rapat-rapat tanpa mendengarkan aba-aba dari Darchen. Dia tidak peduli dengan Darchen yang sedang murka. Celine membuka gaunnya lalu memakai pakaian yang lebih ringan. Dia mencuci wajahnya dengan air lalu mengepang rambutnya agar tidak gerah. Dia membuka semua jendela dan tirai agar cahaya masuk ke dalam kastil itu. Angin yang berhembus sedikit membantunya dalam menenangkan pikirannya. Pelan-pelan dia mencoba menerima takdir yang telah dituliskan untuknya. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa segalanya akan berlalu meski harus berjuang melewatinya. Gagang pintu kamarnya tiba-tiba bergerak, seperti seseorang sedang mencoba membuka pintu tersebut. Dia yakin orang itu tidak lain adalah Darchen. Celine tidak ingin bertemu dengan pria itu. Akhirnya dia mendiami Darchen, dan tidak membukakan pintu untuknya. Dia duduk di atas ranjang sambil menekuk lututnya, sambil mencoba mengabaikan segalanya. Krek! Pintu itu terbuka. Meski pintu telah dikuncinya sedemikian rupa, tidak ada halangan bagi Darchen untuk membukanya. Dia memiliki magis yang besar, tentu saja dengan mudah dia dapat membuka pintu tersebut. Belum lagi karena memang kastil itu adalah miliknya. Membuatnya dengan mudah membuka setiap ruangan terkunci, meski rapat sekali pun. Celine tetap tidak mempedulikan kedatangan Darchen. Dia mengabaikan pria itu dan terus melanjutkan renungannya. Sementara Darchen yang tahu kalau wanita itu sangat marah padanya, hanya bisa memberi waktu untuk meredam emosinya. Dia tidak mengeluarkan suara sama sekali untuk memerintah wanita itu. Sebab niatnya hanya untuk membersihkan luka di tangan Celine. Darchen duduk di atas ranjang, menghadap Celine, lalu menggapai tangan wanita itu yang terluka tadi. Dia mengambil kasa steril yang dibawanya lalu membersihkannya dengan kain tersebut. Dia meniup pelan agar tidak terasa perih. Pelan-pelan dia menghapus darah di tangan wanita itu. Celine awalnya sedikit tersentuh. Namun sakit hatinya lebih hebat dibanding perlakuan Darchen padanya. Dia terus mengabaikan Darchen dan sama sekali tidak menatap wajah pria itu. "Katakan jika terasa sakit," ucap Darchen Valerio. Namun Celine sama sekali tidak mengeluarkan suara. Meski tampak kesakitan, tetapi dia menahan suaranya agar tidak merintih sama sekali. Setelah selesai membalut luka tersebut, Darchen langsung keluar dari kamar itu, membiarkan Celine sendiri di sana agar pikirannya kembali segar. Setelah Darchen keluar dari kamarnya, Celine langsung menatap balutan luka tersebut. Sambil meratapinya Celine pasrah dengan segalanya. "Untuk apa dia berbuat baik kepadaku, sementara tidak ada satu pun keuntungan yang dia dapat dariku," gumam Celine. Celine tidak keluar sama sekali dari ruangan itu. Yang dia lakukan hanyalah merenung tanpa memikirkan apapun. Tidak ada yang dikeluhkannya sama sekali. Senja telah menyapa, sebentar lagi silih warna akan berganti. Darchen teringat dengan Celine di sana dengan perut kosongnya. Dia yakin wanita itu pasti sudah kelaparan sejak tadi. Mengingat betapa rakusnya wanita itu, membuat Darchen harus mencari makanan untuk diberinya pada Celine. Darchen masuk ke dalam dapur dan melihat makanan di sana. Setiap lemari dibukanya dan diperiksanya satu-satu. Tetapi tidak ada tanda-tanda makanan yang dapat diberikan. Mumpung hari masih terang, Darchen menyempatkan diri untuk berbelanja ke pusat kota. Dia dengan cepat memacu kudanya. Mendengar suara kuda yang berlari, membuat Celine penasaran dengan kondisi di luar. Dari jendela dia menatap ke bawah, dan melihat Darchen tampak terburu-buru. Dia tidak tahu kemana pangeran itu hendak pergi. Namun dia sudah terbiasa dengan hal itu. "Dia bebas melakukan apapun. Ketika ingin pergi, dia pergi, dan ketika ingin kembali, dia kembali," celetuk Celine. Langit sudah menghitam, namun Darchen belum juga kembali. Sementara Celine semakin ketakutan berada sendiri di dalam kastil yang letaknya amat jauh dari pemukiman. Dia sudah terbiasa tinggal di dekat kota, membuatnya tidak nyaman jika harus tinggal di tempat sepi seperti kastil itu. Akhirnya, Celine memutuskan untuk berlatih beradaptasi dengan suasana kastil itu. Dia turun ke bawah, keluar dari kamarnya untuk mengambil air. Dia pergi ke dapur lalu menuangkan air ke sebuah gelas. Kemudian diteguknya semua hingga habis. Dia juga membuka lemari, memeriksa adakah sesuatu yang bisa dimakannya. "Aku lapar," ucapnya sambil menepuk perutnya. Sudah sedari siang tadi dia tidak memakan apapun. Perutnya kosong melompong. Ketika dia sedang mencari sesuatu untuk dimakan, tiba-tiba suara hentakan kaki kuda terdengar. Pertanda kalau Darchen telah kembali. Dengan cepat Celine membereskan semua yang telah dibongkarnya lalu buru-buru naik ke atas kamar. Dia tidak ingin berpapasan dengan Darchen. Sementara Darchen yang kebingungan melihat wanita itu berlari, hanya bisa menonton dengan perasaan bingung. Dia tidak memanggil Celine lagi, karena tampak bahwa wanita itu tengah mengindari dirinya. Lagi pula, Celine langsung menutup pintu kamarnya bahkan ketika Darchen baru dua langkah masuk ke dalam kastil. Darchen mengambil piring, kemudian diletakkannya di atas sana makanan yang baru saja dibelinya. Dia juga mengambil cangkir berisi air agar wanita itu tidak kehausan. Melihat letak benda-benda itu sedikit berubah, membuat Darchen tersadar kalau Celine baru saja membongkar lemari-lemari itu. "Ck." Darchen tersenyum melihat barang-barang itu. Tidak dalah duga, benar ternyata kalau wanita itu membutuhkan makanan. Tidak sia-sia dia pergi ke pusat kota untuk membeli makanan untuknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD