Mentari hendak turun di ufuk barat, meski zenit biru cerah. Kendatipun begitu, purnama raya samar menampakkan dirinya yang lesi. Aku tak bisa berhenti memikirkan tafsir dari pesan ilahi itu, pun sensasi dingin yang masih terasa di telapak tanganku. Keduanya merupakan bukti nyata—bukti bahwa apa yang kualami bukanlah mimpi semata.
Pet-pet-pet!
"Brahma, jangan main ke luar pagar ya! Main di halaman saja!"
Dan, di sinilah aku berada, di sudut gudang rumahku. Tempat di mana semua ini bermula. Aku mencoba memejam dan berkonsentrasi, seperti saat aku mencoba melakukan proyeksi astral secara sadar. Namun, bukan itu tujuanku kini.
Di alam sana, aku punya kekuatan yang sanggup melenyapkan entitas k*****t. Aku ingin mencobanya di alam yang berbeda—alam fana ini. Gila memang, tetapi aku akan tetap mencobanya.
Dirasa tubuhku sudah rileks, aku membayangkan energi itu mengalir dan berkumpul di telapak tanganku.
Namun, tiada apa pun yang terjadi. Sensasi dingin yang ada justru lenyap. Aku mencobanya lagi dan lagi hingga senja kala tiba. Hingga langkah kaki Brahma terdengar riang menuju dapur guna menyantap makan malamnya.
Astaga…
Aku menghela napas. Mungkin aku memang tak bisa menggunakannya di alam fana atau dengan ragaku yang utuh.
Tunggu, ada cara lain. Cara yang diajarkan si Jubah Hitam padaku, tetapi aku ragu. Aku takut tidak bisa mengontrolnya. Akhirnya aku hanya bisa termenung di bawah remangnya cahaya lampu.
Dahulu, aku tak sepercaya ini pada hal-hal berbau supranatural, bahkan saat saudara-saudaraku nun jauh di sana menyuapiku kisah demi kisah mistis—mati suri, gerbang dimensi, pengusiran setan.
Ibuku pun turut menjadikannya dongeng sebelum tidur, kisah tentang kakekku sendiri. Pria tua yang konon tak bisa dilukai dengan senjata apa pun. Namun, di akhir hayatnya, ia mewanti-wanti keturunannya agar tak menghendaki hal yang sama.
Pamanku pernah bilang punya kesaktian di zaman sekarang ialah hal yang nirguna. Apatah guna kesaktian dikala tiada lagi perang di tanah ini?
Jika ibu mulai menceritakan seberapa saktinya kakek, aku akan menyimaknya dengan saksama, walau rasa kantuk menerjang. Bagiku, kisah itu cukup menarik. Kakakku pun menyimaknya dengan ketidakpercayaan. Hal semacam itu hanya dialami oleh 'orang-orang spesial', katanya, dan kami jelas bukan salah satunya.
Kilas ingatan sekonyong-konyong menusuk benakku. Wajah ibuku, yang dulu selalu berseri-seri dihiasi senyum lembut, kini pucat pasi, kosong dan penuh keputusasaan. Aku mengingat saat ia mendongengiku dan kakakku untuk terakhir kalinya. Aku mengingat saat ia memelukku dengan wajah secerah mentari pagi, seolah semua baik-baik saja—seolah ia takkan pergi ke mana pun.
Baik aku maupun kakakku mencoba untuk menjadi jangkarnya di tengah dahsyatnya badai yang menghantam keluargaku.
Namun, semua itu sia-sia saja. Ibu justru memilih menjadi bagian dari badai itu lewat jalan pintas yang dipilihnya. Kematian atas kehendaknya sendiri.
Dengan begitu, badai pun sukses meruntuhkan rumah dan keluarga kami sepenuhnya, dan tak pernah benar-benar pergi dari rumah ini. Dari hidup dua anak yang ditinggalkan di antara puing-puing rumah mereka—kebingungan, tanpa kehadiran orang bisa mereka sebut ibu ataupun ayah, kendatipun ayah mereka masih bernapas di dunia yang sama.
Amarah serta lara menggelegak tak terkendali. Tanganku terkepal, sebelum kuhempas ke udara hampa guna mengusir nyamuk yang mendekat.
BUM!
Sebuah gelombang energi keluar dari tanganku. Itu bukan perisai, melainkan ledakan kecil yang melenyapkan kardus di hadapanku—mengubahnya menjadi debu dalam sekejap.
Aku tergemap sekaligus takut. Kekuatan ini... terlalu merusak. Sontak aku bangkit dan berlari keluar.
Aku tidak bisa. Kekuatan ini terlalu berbahaya!
Namun, kala jemariku menarik kenop pintu, daun pintu itu mendadak terhempas menutup kembali dengan kasarnya. Aku terperanjat, nyaris menabrak pintu. Jantungku berdebar saat mendapati tangan berbalut sarung tangan hitam muncul dari balik bahuku, menahan pintu.
Jubah Hitam. Ia datang.
Kendatipun begitu, aku tak berani menoleh. Rasa gentar telah memaku tubuhku, lebih-lebih saat tangannya yang lain bertengger di bahuku yang sempit. Aroma segar bagai hutan setelah hujan pun merebak memenuhi udara.
"Kendalikan amarahmu," bisiknya lembut di samping telingaku, "atau ia yang akan melenyapkanmu."
BRAK!
Detik berikutnya, tangannya menggebrak pintu hingga seluruh engselnya lepas. Pintu putih itupun roboh, dan tubuhku didorong keluar hingga terjerembap di atas daun pintu yang rebah. Aku termenung, tak menyangka baru saja diperlakukan kasar.
Makhluk sialan... lihat saja nanti!
Gelap buta menyambut begitu kepalaku mendongak. Tiada yang bisa kulihat selain bagian tubuhku sendiri—seakan akulah sumber cahaya di tempat ini. Atmosfer terasa hampa dalam senyap.
Aku menoleh, namun baik si Jubah Hitam maupun gudang rumahku sudah tak terlihat. Hanya pintu ini satu-satunya yang bersamaku, akan tetapi aku memilih bangkit dan beranjak meninggalkannya.
Tempat gelap ini terasa begitu penggah selayaknya alam semesta. Tiap langkahku yang ragu menggema jauh. Selejang teji, selejang siput mendaki bukit. Setahun jagung, setahun keledang…
Seberapa lama pun aku berjalan, aku tetap tak melihat sesuatu hingga sekonyong-konyong, kaca benggala muncul menghadang jalanku.
Kupandangi refleksi diriku di permukaan kaca. Perlahan, pakaianku berubah putih, kulitku memucat lesi, dan wajahku retak-retak, sementara mataku yang semula bingung berubah menjadi sorot penuh nafsu amarah.
"ISHIHARA!!!"
Aku terhenyak. Hendak mundur, namun tangan lesi itu lebih dulu mencekik leherku! Kuku-kukunya nan tajam berusaha menembus kulit, menekan urat merih. Anehnya, aku tak kunjung merasakan sakit ataupun sesak. Tiada rasa gentar yang hinggap. Aku justru memandang nanar refleksi diriku itu.
Tanganku pun turut terangkat, meraba kaca bening. Jemariku terasa seperti menembus angin. Tanpa ragu, tanganku maju, balik mencekik refleksi diriku. Kuremas leher ringkih itu, namun bukannya merintih kesakitan, bayangan itu justru tertawa menyeringai di bawah cengkeramanku.
"Kau membenciku, 'kan?!" pekik bayangan itu dengan suara melengking yang memetakkan gendang telingaku. "DASAR MENYEDIHKAN! TIDAK BERGUNA!"
"Diam!" desisku, meremas lehernya kian erat hingga retakan di kulitnya menjalar.
"Lihat dirimu!" cecarnya lagi, kuku-kukunya ganti meremas jemariku yang mencekiknya. "Cewek aneh penyendiri yang dibuang ayahnya dan ditinggal mati ibunya! Kau cuma sampah yang kesepian!"
"Aku tidak seburuk ini..." bisikku parau, menggeleng kuat-kuat untuk menepis bisikan iblis itu. "Aku... aku tidak seburuk ini!"
"KAU BOHONG!"
Pekikan terakhirnya pecah bersamaan dengan cengkeramanku yang memutus leher bayangan itu. Cermin itu hancur berkeping-keping, menyisakan deru napasku yang memburu di tengah kegelapan.
Langkahku berlanjut, tanpa terasa memijak serpih kaca. Aku terhenti di depan cermin kedua yang memancarkan pemdar hangat. Di sana, aku melihat ayahku—pria yang kehadirannya kini terasa seperti hantu di dunia yang sama. Ia tampak tertawa lepas, sebuah tawa yang tak pernah lagi kulihat sejak badai meruntuhkan rumah kami.
Di sampingnya, seorang anak laki-laki kecil berlari riang dengan langkah goyah, dan ayah menjaganya dengan penuh kasih seolah anak itu adalah harta paling berharga di semesta.
Dadaku sesak. Ayah membangun surga baru di atas puing-puing kehancuran kami, melupakan bahwa ada dua anak yang tertinggal di antara reruntuhan masa lalu.
Amarah sempat mereda kini menggelegak kembali, lebih panas dan lebih tajam dari sebelumnya. Bagaimana mungkin ia bisa terlihat begitu bahagia sementara aku terperangkap dalam labirin memori yang menyakitkan ini?!
Kuarahkan tanganku, dan seketika, sebuah gelombang energi dahsyat menghantam cermin itu hingga hancur berkeping-keping.
Sensasi dingin membeku itu kembali merayapi jemariku, beserta kekuatan mengerikan yang haus akan kehancuran.
Ketakutan menyergapku. Kakiku terpacu untuk melari dari sana. Namun deretan cermin lain terus muncul beruntun, memutar ulang setiap momen keterpurukanku: ketidakberdayaanku, kesedihanku, ketakutanku, hingga kebingunganku menghadapi hidup. Air mataku tumpah ruah.
Sebelum aku sempat melangkah lebih jauh, sesuatu menyandung kakiku dengan kasar. Aku terjerembap ke lantai hampa. Seluruh tubuhku mendadak lemas bagai tak bertulang. Isak tangisku pecah.
Aku tidak ingin bangkit dan berpura-pura kuat lagi. Aku tidak ingin bangkit dan harus menghadapi hal pahit itu lagi. Aku sudah tidak sanggup…
Tiba-tiba, sepasang tangan mencengkeram bahuku, menarik tubuhku yang terkulai lemah ke posisi duduk bersimpuh. Tangan itu meremas bahuku kuat, lalu beralih mencengkeram daguku—memaksa kepalaku terangkat menatap cermin di hadapanku yang beriak seperti permukaan danau yang dilempar batu.
Kali ini, aku melihat diriku sewaktu SD tengah berjalan pulang. Aku melihat tetangga-tetangga tertawa, membicarakan perselingkuhan ayah, perceraian orang tuaku, dan celaan miring pada keluargaku. Aku kecil hanya bisa menunduk dalam-dalam saat melewati mereka.
Kutangkupkan tanganku ke udara, mencoba menghancurkan cermin laknat itu dengan gelombang energi. Namun, tiada apa pun yang terjadi. Cermin itu tetap utuh berdiri.
"...Mengapa?" bisikku frustrasi.
"Karena kau tidak sedang marah," suara Jubah Hitam bergema di sekelilingku, menjawab kebingunganku. "Kau hanya takut, Ishihara."
Aku mengedarkan pandangan, namun tak menemukan sosoknya. Cermin di hadapanku kini merefleksikan diriku yang sekarang—kacau, terguncang, dan dipenuhi denai air mata.
"Sekarang kau tahu," suaranya kembali terdengar, masih sama lembutnya. "Kau hanya bisa menerimanya... dan dengan itu, kau 'kan sanggup mengendalikan kekuatanmu."
Aku berbalik cepat, namun ia tetap tak berwujud. Cermin di hadapanku justru membiaskan memori lain yang membuat jantungku berhenti berdetak.
Di sana, tampak seorang gadis kecil berbaju ungu berdiri di antara buih ombak. Ia mencoba menyambangi ayahnya hingga sekonyong-konyong, ombak besar menerjang, menyeretnya hingga tak terlihat lagi. Tiada di antara orang ramai itu melihatnya hanyut ke lautan—bahkan keluarganya sendiri.
Namun, laut tak mendekapnya. Dari dalam buih ombak yang gelap, sosok berjubah hitam merengkuh tubuh gadis kecil itu, mendekapnya erat sebelum memindahkannya dengan selamat ke bibir pantai.
Dan gadis kecil itu adalah… aku.