Bab 7 | Wasi

1107 Words
Sandikala telah terlukis di antara birunya cakrawala ketika aku turun dari ojek online dan membuka pagar rumahku. Lampu beranda rupanya telah menyala. Tak sia-sia mengajari ayamku melompat dan mematuk sakelar. Begitu pintu kubuka, Brahma lekas terbang ke arahku, menyambutku dengan pelukan hangat. Yah, aku pun merindukan buntelan bulu ini. "Baik, Brahma. Bagaimana kalau kita makan kebab?" kuangkat ayam itu. Kepalanya sejenak naik turun, seolah mengiyakan. Sebenarnya, sering kali aku memikirkan nama yang indah untuknya, namun aku memilih 'Brahma' bukan semata karena itu jenisnya, melainkan karena artinya 'yang tumbuh, berkembang' mengingat ayam ini masih dalam masa pertumbuhan, sama seperti diriku. Kini, aku duduk di meja belajar, berkutat dengan buku fisika bermodalkan cahaya lampu duduk. Langit sudah sepenuhnya gelap di balik jendela dan Brahma sudah lelap di tempat tidur. Sialnya, saat berusaha merangkai jawaban, pikiranku tiba-tiba melayang pada kejadian di antah-berantah itu, pun pada perkataan Nehi. 'Jika sebuah partikel bermuatan bergerak dari satu titik ke titik lain melintasi medan magnet yang kuat, apa yang akan terjadi?' Partikel bermuatan... itu seperti ruhku yang keluar dari raga. Medan magnet yang kuat... itu adalah alam astral yang menarikku. Melintasi satu titik ke titik lain... itu adalah perjalananku dari dunia nyata ke dimensi sana. Lalu, apa yang akan terjadi? Entahlah, intinya aku tersesat dan harus berhadapan dengan entitas lain yang berkehendak menangkapku dan menahanku di sana. Jika beruntung, Jubah Hitam akan datang mengarahkanku, atau sekadar membantuku untuk kembali… Lekas kugeser buku fisika jauh-jauh sebelum aku menuliskan jawaban yang tak masuk akal itu. Aku beralih mengambil buku sketsa dan mulai mencorat-coret tanpa tujuan, mencoba mengalihkan pikiran hingga tanpa sadar aku justru tenggelam di dalamnya. Tanganku bergerak sendiri, menggambar dengan pikiran mengawang jauh sebelum kesadaranku turut terbang. Matahari dan bulan bersanding, memancarkan cahaya yang berbeda. Gemintang terserak di bawahnya, berkelap-kelip, bahkan ada yang berderet. Kilau cahaya pun tampak di antara bintang-bintang bagai debu emas. Semua telukis di atas kertas putih. Tanganku baru berhenti setelah selesai menggambar bintang di sebelah kiri yang anehnya hanya ada tiga saja. Kuletakkan pulpen hitam itu. Pandangku pun tenggelam dalam karyaku, mengamatinya dalam hening yang penuh dengan tanda tanya. "Aku bisa memberimu siang dan malam," sekonyong-konyong, suara halus nan lembut itu mengalun pelan di telinga bagai suara alam semesta itu sendiri. "Namun, aku tak bisa memberimu bintang-bintang itu." Kelopak mataku kian berat. Kepalaku jatuh ke atas lipatan tangan, tepat di atas karyaku. Detik berikutnya, aku benar-benar terlelap… ⊹ ⁛ ⊹ ​Kukuruyuk! ​Suara kepakan sayap dan kokokan nyaring di samping telingaku membuyarkan keheningan pagi. Disusul patukan lembut paruh Brahma di lenganku, menyadarkanku dari lelap yang terlalu dalam. Mataku celik, mendapati setumpuk buku pelajaran. Aku masih duduk di meja belajar. Cahaya mentari tampak menyusup masuk dari celah tirai. Punggungku pegal, terutama tanganku yang menjadi bantal untuk kepala. Leherku terasa kaku. Aku terpaksa tetap diam dalam posisi itu selama beberapa menit hingga persendianku bisa digerakkan. Kulirik jam dinding di kamar. Untungnya masih jam enam pagi. Aku menoleh pada buku sketsa yang kutindih semalaman. Mataku sontak terbelalak. Di halaman yang terbuka, gambar yang kulihat di mimpiku benar-benar nyata terlukis di sana. Pulpen yang kugunakan pun masih tergeletak di meja. Jemariku tergerak, menyentuh tekstur kertas itu. Ada yang janggal, seperti ada getaran energi yang tertinggal. Ini jelas bukan sekadar mimpi biasa, melainkan sebuah pesan. Gambar ini, pun suara yang kudengar… Aku harus mencari tahu apa maksudnya. ⊹ ⁛ ⊹ Kantin sekolah, di sinilah aku kembali berada, duduk bersama Nehi dan ketiga buntutnya—Judi, Shery, dan Lenore. Mereka yang memaksaku ketika aku hendak mengajak Nehi bicara. Tanganku perlahan memotong klappertaart, berusaha untuk tidak mengganggu obrolan mereka. Namun sialnya, mereka justru melempar umpan padaku. "Ishihara, lo bisa proyeksi astral karena ditarik, 'kan? Gimana rasanya? Tuh makhluk bisa narik gua juga gak?" Judi, bertanya dengan binar antusias yang membebaniku. "Nanti ya, lo ditariknya sama maut!" balas Shery tergelak. "Ish, gua dah ngomong baik-baik loh!" "Pakai 'aku-kamu' sayang," tegur Lenore, lalu mengalih pandangnya padaku. "Gimana rasanya? Kayak mati gak sih?" "Lebih ke seperti sedang bermimpi," jawabku jujur, meski ada rasa pusing, terutama saat kembali. Shery lagi-lagi menatap Judi. "Nah, lo mao nyoba? Siapa tau ada Mingyu versi astral, lo kagak usah balik lagi." Gelak tawa pecah di meja kami, tak terkecuali Nehi yang baru menyelesaikan makan siangnya. Aku sendiri hanya melempar senyum, terlalu canggung untuk ikut terbahak. Saat suasana mereda, kupindahkan buku sketsa di pangkuanku ke atas meja, memperlihatkan gambar itu. "Aku menggambar ini... dalam mimpiku. Dan ketika aku bangun, gambar ini benar-benar ada. Aku tak mengerti apa artinya..." Empat pasang mata di meja ini kontan memandangi gambarku. Kegugupan menyergapku kala sorot mereka seakan menilai simbolisme yang ada, sementara kernyit dahi yang timbul tampak berusaha mencari makna yang terkandung. "Ini kayak gambar yang ada di kartu tarot gak sih?" tanya Judi. Lenore mengangguk kecil. "Iya mirip, tapi gak ada deck tarot yang kayak gini." "Aku tahu apa ini," sahut Nehi, lalu menegakkan tubuhnya. "Matahari dan bulan adalah dua kekuatan yang saling bersanding—kekuatan kehidupan dan kematian. Bintang-bintang itu adalah energi dan kilau cahaya di antara mereka adalah dirimu." Kami semua terdiam menyimak penjelasannya. Kendatipun Nehi menyadari keterdiaman kami, ia justru meneguk es tehnya alih-alih menjelaskannya kembali dengan bahasa bayi. "Aku bisa memberimu siang dan malam, namun aku tak bisa memberimu bintang-bintang itu," kataku mengulang bisikan gaib semalam tanpa menutupi apa pun. "Suara itu berkata demikian." Nehi menatapku lurus, namun kali ini begitu serius. "Suara itu... adalah suara dari kekuatan yang lebih tinggi. Ia bisa memberimu siang dan malam, kehidupan dan kematian, tetapi Ia tidak bisa memberimu... dirimu sendiri," Tangannya menunjuk gambar bintang-bintang yang terserak. "Itu adalah energi, sumber kekuatanmu, dan kilau cahaya di antara mereka adalah takdirmu yang tak bisa diberikan oleh siapa pun," Lagi-lagi aku terdiam, berusaha mencerna. Baik, satu yang bisa kusimpulkan sementara bahwa itu adalah pesan dari Tuhanku, dan untuk isinya... "Wah, gila lo Nehi! Keren banget!" puji Judi heboh, disusul tepuk tangan Shery yang sukses menarik perhatian seisi kantin. "Artinya, Ishihara beruntung?" tanya Lenore skeptis. Nehi justru menggeleng. "Itu berarti Ia, dengan segala kekuasan-Nya, tidak bisa memberimu kekuatan yang sudah menjadi bagian dari jiwamu. Ia tidak bisa memberimu dirimu sendiri—karena kau harus menemukannya sendiri." Dentang bel mengakhiri penafsiran spektakuler itu, membubarkan keramaian kantin. Setelah mengucapkan terima kasih, aku beranjak kembali ke kelas dengan pikiran yang masih tersangkut di meja kantin. Saat jemariku memeluk buku sketsa di d**a, tiba-tiba kehangatan aneh merambat dari kertasnya—sketsa itu sempat berpendar lirih, menyengat telapak tanganku sebelum redup kembali. Singkatnya, Tuhan bisa memberiku kesempatan untuk hidup atau mati, akan tetapi Ia tak bisa memberiku kekuatanku sendiri, apa yang sudah Ia berikan sepaket denganku dan Ia memberiku takdir untukku menyadari kekuatan itu. Lalu, apa yang harus kulakukan dengan anugerah yang membeku di tanganku ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD