Bab 6 | Tafsir

815 Words
Seminggu, dua minggu, sebulan berlalu. Kehidupanku kembali ke porosnya. Aku tak lagi melakukan proyeksi astral secara tidak sengaja ataupun iseng mencobanya secara sadar—meski aku ingin. Tentu itu terasa janggal, seperti ada sesuatu yang menahanku. Mungkin aku memang belum siap untuk kembali. Namun, ada yang berbeda saat aku menunggu ojek di beranda rumah. Bisik-bisik tetangga soal perceraian orang tuaku tak lagi menusuk telingaku. Aku tak peduli lagi. Aku memiliki kekuatan dan si Jubah Hitam—makhluk tak tahu diri yang seenaknya muncul, mengatakan hal aneh, lalu menghilang begitu saja bagai setan. ​Sumpah demi apa pun, aku membencinya. Dia terlalu misterius, suka mengatur, dan ajaibnya, hanya sisi menyebalkannya saja yang bisa kupahami. Namun, suka atau tidak, keberadaannya di balik bayanganku memberikan semacam perisai dingin yang membuatku merasa tak tersentuh. Kantin belum terlalu ramai saat aku duduk di pojok, menikmati klappertaart dan es teh. Belakangan aku suka bersandar di sini, menyimak rumor seputar penghuni sekolah sebelum angkat kaki sekolah ini. Tentu saja, aku tetap tak mencoba berinteraksi dengan orang lain. "Nehi, Nehi! Bisa gak sih kasih warning dulu kalo artinya bakal serem kek gitu?!" Suara pekikan itu mencuri perhatianku. Si Penafsir Mimpi. Aku butuh bicara dengannya tentang si Jubah Hitam, kekuatanku, dan belati itu. Sudah tiga minggu aku mengincarnya, namun ia selalu dikelilingi pengawalnya. Hari ini, aku bertekad. Aku bangkit, menghampiri mejanya dengan sekotak pizza di tangan—umpan terbaik untuk menyingkirkan gangguan. Mataku terkunci padanya, bahkan saat aku berdiri di sisi mejanya sampai ia mendongak. Pandang kami bersua. Manik gelapnya menatapku sedikit terkejut, sementara teman-temannya mendadak bungkam. Salah satunya bahkan nyaris tersedak es jeruk, menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan mata melotot. Ya, tentu saja. Cewek penyendiri yang baru saja memenangkan kompetisi nasional minggu lalu, yang biasanya mematuhi mode 'gaib' di sekolah, kini berdiri tegak di samping meja mereka membawa pizza mahal. ​"I-Ishihara, kan?" bisik cewek berambut gelombang di sisi kiri, kikuk. "Ada... apa, ya?" ​Aku menaruh kotak pizza itu di tengah meja tanpa memedulikan tatapan aneh mereka. Mataku terkunci hanya pada satu orang. "Neharika, bisa bicara sebentar?" Neharika Praatyusha Omkara—biasa dipanggil Nehi. Putri peramal kondang yang dikenal sebagai si Penafsir Mimpi di sekolah dan punya banyak pelanggan dalam penafsiran gratisnya itu, bahkan jajaran guru saja pernah konsultasi dengannya. Nehi mengamati pizza itu sejenak sebelum kembali menatapku. Manik gelapnya memancarkan rasa ingin tahu yang dalam. Ia menggeser duduknya, memotong canggung yang merebak. "Duduklah. Ada mimpi yang menganggumu?" Aku mengangguk kecil, lalu duduk di hadapannya. Tanpa membeberkan detail yang berisiko, aku menceritakan garis besar pengalamanku di alam astral. "Jika kau sadar kau tengah bermimpi, itu berarti kau memang sedang tidak bermimpi," sahut Nehi tenang. Gadis di sebelahnya yang tadi terperanjat kini menjentikkan jari. "Proyeksi astral!" "Gila, lo bisa proyeksi astral?!" timpal yang lain, mencondongkan badan. Aku tak mengacuhkan kehebohan itu, tetap bergeming hingga ketiganya kikuk dan memilih sibuk mengunyah pizza pemberianku. "Aku pun ingin bertanya tentang sesosok pria berjubah hitam," potongku datar. Napas mereka tercekat, tak terkecuali Nehi yang kini menggeser gelas es tehnya. Ia menatapku dengan pandangan yang sarat pemahaman. "Jadi, ia datang padamu." Aku mengangguk mantap. "Dalam masalahmu ini, ia bukanlah malaikat maut… setidaknya untukmu. Dan ia tidak pernah datang tanpa alasan," Nehi bersandar, jemarinya bertaut di atas meja. Aku mengernyit, namun aku tetap mencoba untuk puas dengan jawaban singkat dan membingungkan itu. "Lalu, mengapa ia menyuruhku memilih antara dua hal?" kejarku. Nehi membelalak, seolah ia tahu betul hal apa yang kumaksud. "Itu adalah simbol dari jalan yang kau pilih. Satu-satunya, tiada yang lain," katanya seraya memandangku penuh selidik. Matanya seakan tengah melihat jauh ke dalam diriku. "Jadi, aku harus mengikuti jalan yang sama dengannya?" "Kau sudah memilihnya," tegas Nehi, "itu adalah simbol dari kekuatan yang melenyapkan, dan ialah yang membimbingmu. Kau sudah menggunakannya, 'kan? Kekuatan itu kini menjadi tanggung jawabmu untuk dikendalikan." Teman-temannya di sekeliling meja mematung, menghentikan kunyahan pizza mereka. Hawa di sekitar meja kantin itu mendadak terasa berat. ​"...Aku tak mengerti," bisikku parau. Nehi menghela napas, tampaknya ia pun terlalu kaget dengan semua ini. Tangannya kembali meraih gelasnya, menyedot es teh sebelum menambahkan. "Meskipun kau memilih jalan itu, hal yang tidak kau pilih tetap menjadi takdirmu. Kau tetap akan menemuinya di masa mendatang." Selaras. Itu persis dengan ucapan Jubah Hitam sebelum tempat itu runtuh. Satu untukmu dan satu untuk takdirmu. Sekonyong-konyong, rasa dingin yang tajam menusuk telapak tangan kananku—sensasi es yang membeku, persis seperti saat jemariku memegang hulu belati bersarung hitam itu. Refleks, aku meremas jemariku sendiri di bawah meja, mencoba mengusir rasa ngilu yang merambat ke pergelangan tangan. Artinya, aku telah memilih jalan yang gelap, tidak mudah, dan—mungkin saja—berunsur jahat bersama si Jubah Hitam sebagai pembimbingku. Namun, belati bersarung putih yang kutinggalkan... kelak akan menagih haknya. Sensasi membeku di telapak tanganku kian merajam, seolah mengingatkanku bahwa ikatan itu nyata. Masalahnya kini, apa yang harus aku lenyapkan dengan anugerah ini? Dan… takdir macam apa yang tengah menantiku?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD