Keesokan harinya, dengan perasaan campur aduk antara berharap dan putus asa—serta berbekal izin dari kakakku dengan dalih kelelahan setelah kompetisi—aku melangkahkan kaki ke perpustakaan nasional.
Pikiranku masih terbayang oleh kegagalan semalam. Aku tidak bisa memahaminya. Jika proyeksi astral semudah yang dijelaskan dalam buku, mengapa tubuhku menolaknya secara ekstrem?
Tak butuh waktu lama bagiku untuk menemukan bagian okultisme. Setelah menyisir puluhan jilid buku usang yang penuh dengan tafsir mimpi klise, mataku tertuju pada sebuah buku berdebu yang terselip di rak paling bawah. Halamannya sudah menguning dan rapuh.
Aku membalik-balik alurnya hingga jariku terhenti pada sebuah catatan bertulisan tangan di halaman terakhir. Tinta kecil yang pudar itu berbunyi:
'Untuk perjalanan, bukan teknik. Kau harus menemukan orang yang tepat. Mereka yang bisa menarikmu keluar. Ikuti mereka, dan kau akan keluar. Jika tidak, kau akan selamanya terjebak.'
Aku tertegun.
Jadi, bukan teknikku yang salah. Aku tidak bisa menyeberang sendirian. Aku membutuhkan orang lain.
Seseorang yang bisa menarikku keluar...
Kilasan bayangan melintas di benakku. Sebuah siluet berjubah hitam, senyum hangatnya yang berbahaya, dan tangannya yang terulur…
Jubah Hitam. Dia adalah kuncinya.
Proyeksi astral pertamaku terjadi secara tidak sengaja saat aku sendirian, dan aku hanya berhasil melintasinya karena si Jubah Hitam menemukanku.
Masalahnya sekarang adalah, bagaimana caranya aku bisa menghubunginya?
Akhirnya, aku pulang dengan pikiran yang sepenuhnya kacau. Rasa lelah menggerogotiku, baik secara fisik maupun mental.
Klek.
Saat aku mengunci pintu di belakangku dan kakiku menyentuh dinginnya ubin ruang tamu, serangan itu datang tanpa peringatan.
"Ugh… Brahma…"
Sensasi vertigo yang ganas menghantam bagian belakang tengkorakku. Rasa dingin yang membekukan meluncur deras melalui pembuluh darahku—begitu ekstrem hingga lututku seketika terlipat.
Brak!
Penglihatanku mengabur menjadi sapuan abu-abu yang samar. Gelombang mual membakar tenggorokanku. Aku bahkan tidak sempat meraih tepi sofa sebelum kegelapan total menelan kesadaranku secara utuh—
Pekikan menggema di tengah gemuruh ratusan langkah kaki yang tergesa-gesa.
Aku membuka mata. Bulevar kacau. Orang-orang melarikan diri tak tentu arah dalam ketakutan.
Di sepanjang trotoar terbaring tubuh-tubuh nan tak berdaya dan membeku—wajah mereka sepenuhnya tanpa ekspresi, mata mereka terkuras habis dari ceceran bara kehidupan.
Drap, drap, drap…
Langkah kaki yang berat mendekat dari belakang. Aku berbalik.
DOR! DOR!
Letupan tajam suara tembakan mengirimkan rasa merinding ke tulang belakangku. Beberapa sosok berjubah abu-abu arang dengan topeng porselen tanpa mata berlari kencang ke arahku, mengacungkan senapan gelap yang berasap.
"TARGET DITEMUKAN! SEORANG GADIS FANA—TANGKAP DIA!!"
Panik, kakiku secara refleks berlari kencang hingga batasnya. Aku tidak tahu siapa para pengejar tanpa wajah ini, tetapi mereka jelas sedang memburuku!
Aku melompati dinding, memanjat ke atas atap, dan terus berlari, melompati satu atap ke atap lainnya dengan kelincahan yang bahkan tidak kuketahui kubisa lakukan.
Tiada lagi atap untuk dipijak, aku meluncur jatuh ke sebuah lahan terbuka rimbun yang dipenuhi ilalang tinggi, mendarat keras dengan tangan dan lututku.
Ini buruk—mereka mengepungku, topeng-topeng hampa mereka menatap ke bawah ke arahku dengan senjata yang diarahkan tepat ke dadaku.
Saat salah satu dari mereka menerjang ke depan, tanganku secara refleks menampar udara kosong.
BOOM!
Sebuah kekuatan tak kasatmata meledak dari telapak tanganku—cukup kuat untuk menghempaskan mereka hingga terpelanting, membuat mereka mengerang dalam frustrasi yang menyiksa.
Aku terengah-engah, menatap tanganku yang gemetar. Aku mencoba mengulangnya, memukul udara lagi, tetapi tidak terjadi apa-apa. Kekuatan itu lenyap secepat kedatangannya.
Melihat ketidakberdayaanku, para pemburu bertopeng itu merangkak naik dan menerjang kembali.
CIEEEET!
Raungan mesin memecah udara. Sebuah sedan hitam yang anggun menerobos semak ilalang tinggi entah dari mana, berputar hebat sebelum berhenti mendadak di sampingku.
Pintu belakang terbuka lebar. Sebelum aku sempat mencernanya, sebuah lengan panjang terulur dari kabin yang gelap dan menarikku masuk secara paksa.
"KYAA! LEPASKAN AKU!"
Aku berbalik dengan cepat. Di depan, dua sosok duduk membeku di balik kemudi, mata mereka hampa seperti cangkang kosong.
Di sampingku duduk pria berjubah hitam. Tudung jubahnya membayangi wajahnya, tetapi senyum hangatnya menyambutku seperti seorang kawan lama.
"Kau…"
Aku tetap membeku, bahkan saat dia membungkuk mendekat, napas dinginnya mengusap telingaku.
"Mereka yang berburu dalam kegelapan tidak tahu apa yang mereka tangkap," bisiknya lembut di atas lolongan angin. "Mereka bahkan tidak tahu bahwa mereka sedang menyambut Kematian."
PRANG!
Seluruh kaca mobil hancur berkeping-keping menjadi jutaan pecahan. Dua pengemudi di depan tak sempat menjerit saat serpihan kaca tajam menembus tubuh mereka. Mereka dengan cepat larut menjadi abu yang berputar-putar.
Tanpa membuang waktu, si Jubah Hitam melangkah keluar dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Jubahnya mengembang seperti sayap bayangan, menelan langit dalam kabut tebal yang menyelimuti.
Kabut itu menjadi begitu pekat hingga aku tidak bisa melihat apa-apa selain siluet tubuhnya.
AAARRGH! TIDAK—TOLONG!
KRAK! SREK!
Jeritan yang membekukan darah merobek kabut, diselingi suara mengerikan dari tulang-tulang yang hancur dan erangan kesakitan.
Aku menekan kedua tanganku ke telinga saat bayang-bayang menari liar di dalam kabut putih. Dalam hitungan detik, kesunyian mutlak melingkupi, dan kabut itu menguap ke udara tipis.
"Bantu aku," katanya, berbalik menghadapku kembali dengan tangan terulur. Senyumnya tidak pudar, bahkan saat gelombang lain dari sosok-sosok bertopeng itu muncul dari batas pepohonan.
"Tapi... aku tidak bisa mengontrolnya! Energi itu hanya keluar sekali!" teriakku panik.
Jubah Hitam mencengkeram pergelangan tanganku, menarikku keluar dari mobil untuk berdiri menghadapnya.
"Kendalikan instingmu, Ishihara," gumamnya tenang. "Rasakan amarahmu, ketakutanmu… dan ubah mereka menjadi kekuatan."
Aku memejamkan mata, membiarkan gejolak frustrasi dan teror membakar dadaku, menyalurkan setiap tetesnya ke ujung jari-jariku.
Saat mataku terbuka lebar, aku menghentakkan pergelangan tanganku ke depan.
KABOOM!
DESSS!
Lingkaran cahaya putih membara yang menyengat meledak dari telapak tanganku. Ledakan itu merobek area terbuka dengan raungan yang memekakkan telinga, mengubah gerombolan pengejar tanpa wajah menjadi bara api yang menyala sebelum mereduksinya menjadi abu.
Beban efek sampingnya menguras energiku dalam sekejap mata. Lututku terlipat, dunia miring ke samping, dan penglihatanku mengabur menjadi bintik-bintik gelap yang berat.
"J... Jubah... Hitam..." bisikku lemah, bibirku nyaris tak sanggup membentuk namanya saat gravitasi menarikku jatuh.
Namun, sebelum aku benar-benar menghantam tanah, sepasang lengan yang kuat menangkapku, mendekapku erat di dadanya.
"Istirahatlah," bisiknya di sela-sela rambutku. "Aku akan menjagamu."