Seminggu berlalu. Kehidupanku kembali ke rutinitas normal yang menjemukan—pergi ke sekolah, duduk menyimak pelajaran tanpa interaksi yang tidak perlu, lalu pulang ke rumah menemukan Brahma yang sudah berdiri di balik pintu, menuntut perhatian.
Kuk-kuk!
"Jangan melihatku seperti itu, Brahma. Tidak ada daging cincang hari ini—tas belanjaku kosong," gumamku lelah, melemparkan ransel ke atas sofa sementara ayam berbulu tebal itu mengikutiku dari belakang, bergumam melenguh melayangkan protes.
Meskipun aku sempat melihat si Penafsir Mimpi lagi di koridor sekolah, aku tidak repot-repot bertanya padanya tentang apa yang sebenarnya telah kualami.
Kabar baiknya, ruhku tidak lepas dan mengembara lagi ke alam lain. Namun, rasa takut dan takjub atas apa yang telah kulakukan di alam astral bersama si Jubah Hitam tak pernah memudar.
Aku tak lagi mencoba proyeksi astral secara sadar. Aku takut. Aku hanya ingin semuanya kembali normal, seperti saat sebelum aku tersedot ke dalam kegilaan itu.
"Brahma! Jangan curi lumpiaku! Kau sudah dapat jatahmu tadi pagi!" teriakku saat paruh tajamnya menerjang piring di atas meja tanpa ragu, berhasil membuat ayam itu mundur dan mengibas-ngibaskan bulunya seolah tak berdosa.
Namun, seperti biasa, aku tidak bisa memaksakan apa pun—lebih-lebih menghindarinya.
Kini, aku duduk bersama ayamku di atas ayunan kepompong gantung di halaman belakang. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah embusan angin—rumah ini selalu sepi sejak aku mulai tinggal sendirian.
Orang tuaku bercerai. Ayahku membangun keluarga baru, sementara ibuku memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri setelah Ayah menikahi wanita simpanannya.
Aku tidak mengerti mengapa Ibu memilih jalan pintas itu. Mungkin aku dan kakakku memang tidak pernah cukup baginya, sebagaimana kami juga tidak pernah cukup bagi Ayah yang lebih memilih memiliki anak dari wanita lain.
Kuk-kuk!
"Berhenti mengejekku, Brahma! Oh, kau pikir itu lucu?"
Aku tahu orang-orang masih suka bergosip: membicarakan perselingkuhan Ayah, kematian Ibu, dan bahkan rumor-rumor pahit tentang kakakku.
Mereka tidak akan pernah berhenti, dan jujur saja, aku muak. Aku benar-benar lelah.
Meratapi semua ini, tanpa sadar aku tertidur lelap—
"Kyaa!"
Sosok di hadapanku mengejutkanku—tak lain adalah refleksiku sendiri yang mengenakan gaun putih sebetis.
Tunggu, kurasa tadi aku tertidur, dan sekarang aku berubah menjadi... hantu?
Aku mendongak, memperhatikan angka-angka di indikator LCD yang terus menanjak naik.
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai 12. Dengan langkah mantap, aku berjalan keluar, menyusuri koridor yang ramai.
Mataku menangkap beberapa wajah yang tak asing, tetapi mereka sepenuhnya larut dalam percakapan masing-masing. Sementara itu, beberapa orang asing menatapku, seolah menilai penampilanku—atau menganggapku sebagai anomali yang mendadak terwujud di dunia mereka.
Masa bodoh. Aku terus melangkah dengan dagu terangkat tinggi bagaikan seorang model di atas runway.
Namun, atmosfer mendadak berubah menjadi berat dan menekan. Kerumunan seolah memudar, menyisakan satu sosok yang berdiri membeku di ujung koridor, membelakangiku.
Ya Tuhan… apa lagi ini?!
Sosok itu terlihat biasa, mengenakan setelan jas gelap yang rapi, tetapi ada sesuatu yang salah. Udara di sekitarnya terasa kering menembus tulang, seolah-olah dia menyedot setiap tetes kelembapan dari oksigen yang kuhirup.
Saat aku melintas di dekatnya, dia tidak menoleh, namun aku merasakan tarikan magnetis yang aneh jauh di dalam dadaku—seperti ruang hampa yang mencoba menyedot sisa-sisa mual dan kelelahan yang baru saja kurasakan.
"Kamu membawa aroma yang begitu manis, Fana Kecil," suaranya serak, halus namun memekakkan, serupa kertas amplas yang digesekkan pada kain beludru.
Aku terhenti, daguku tetap terangkat bahkan saat jantungku mulai berdegup kencang. "Siapa kamu?"
Dia berbalik perlahan. Wajahnya tidak buruk—bahkan dia tergolong tampan—tetapi matanya hampa—sepasang lubang hitam yang sanggup menelan seluruh sejarah duka manusia.
Dia tidak membalas tatapanku, melainkan matanya terkunci lurus ke ulu hatiku, tepat di mana dendamku pada Ayah dan duka atas kematian Ibu bersemayam.
"Hanya seorang pengembara yang lapar," gumamnya, melangkah mendekat. Setiap jejak kakinya di atas lantai melarut menjadi noda abu-abu yang memudar dengan cepat. "Rasa sakitmu... adalah kelezatan yang langka. Begitu murni, begitu kaya akan keputusasaan."
"Menjauhlah," desisku. Aku mencoba memanggil energi dingin yang diajarkan Jubah Hitam, tetapi di sini, di koridor ini, kekuatanku terasa tumpul.
Pria itu tersenyum tipis—senyum yang tak sampai ke mata. "Jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin membantumu... meringankan beban yang membuatmu ingin menyerah."
Dia mengulurkan tangan, dan seketika aku merasakan emosiku—kemarahanku pada orang-orang yang telah menghakimi keluargaku—ditarik keluar secara paksa.
Kepalaku menjadi ringan, tetapi tubuhku mendadak lemah, seolah-olah fondasi jiwaku sedang dibongkar sepotong demi sepotong oleh keharadirannya yang kelaparan.
Entitas itu melangkah maju, dan tarikan di dadaku kian menguat. Rasa jijik, amarah, dan kesedihan yang biasanya memberatiku kini diseret keluar melalui pori-pori kulitku, membuatku terhuyung.
Dia tidak menyerang fisikku. Dia sedang memangsa sisa-sisa emosiku.
"Hentikan..." Suaraku tercekat.
Aku teringat sensasi dingin dari pelukan si Jubah Hitam.
Aku memejamkan mata di tengah koridor yang kini hampa. Alih-alih melawan tarikkannya, aku membiarkan emosi itu mengalir—bukan untuk menyerahkannya padanya, melainkan untuk menancapkannya secara kokoh sebagai bagian dari diriku sendiri.
"Kau tidak bisa mengambil apa yang menjadi milikku," desisku.
Aku membayangkan energi itu berkumpul, bukan sebagai ledakan destruktif, melainkan sebagai perisai. Seketika, embus angin beraroma hutan setelah hujan berembus kencang, memutus secara paksa tali tak kasatmata yang menghubungkan dadaku dengan entitas itu.
Pria bermata hampa itu terperanjat. Senyum tipisnya lenyap, digantikan oleh seringai kelaparan yang menggantung.
Tanganku yang tadinya terkulai kini terangkat, gemetar namun mantap. Aku tidak menggunakan kekuatan untuk memusnahkannya, melainkan untuk mendorongnya keluar dari frekuensi jiwaku.
"Aku memang lelah, tapi aku bukan santapanmu!" tegasku, mengangkat daguku tinggi-tinggi sekali lagi.
Lantai 12 bergetar hebat. Tampilan LCD di atas pintu lift berkedip-kedip liar, angka-angkanya meloncat tak beraturan.
Sebelum entitas itu sempat menerjang, pintu lift di belakangku terbuka disertai denting yang memekakkan telinga.
Di balik celahnya, aku menangkap kibaran ujung jubah hitam, seolah menawarkanku jalan keluar sebelum koridor ini benar-benar runtuh oleh kelaparan entitas tersebut.
Tanpa berpikir dua kali, aku menghempaskan diriku ke belakang menuju lorong lift yang terbuka lebar.
Sosok bermata hampa itu menerjang ke depan, tetapi jari-jarinya hanya mencengkeram udara kosong saat pintu lift tertutup rapat dengan kecepatan yang tak wajar.
DUB!
Alih-alih bergerak turun atau naik seperti biasa, kabel lift seolah terputus seketika. Gravitasi lenyap, digantikan oleh dorongan ke bawah yang sangat menghancurkan.
Lift meluncur bebas, melesat jatuh menembus lorong gelap tanpa dasar.
"KYAAAA!"
Jeritanku bergema di dalam ruangan sempit yang bergetar hebat ini. Perutku seolah mencelos hingga ke tenggorokan, dan gaun putih tipis yang kukenakan berkibar liar dihempas badai yang muncul entah dari mana.
Dalam kepanikanku, aku menyaksikan angka-angka di indikator LCD meloncat acak secara tak masuk akal—dari angka 12 ke angka-angka minus yang tak masuk akal.
KREEEAK! KRRRR-KLANG!
Dinding lift mulai menjerit, mengancam akan hancur berkeping-keping di bawah tekanan atmosfer yang kian memuncak.
Brak!
Aku jatuh berlutut, mencari sesuatu untuk berpegangan, tetapi lantainya terasa seperti cairan yang tak stabil.
Tepat saat lift seolah akan menghantam dasar jurang kegelapan, sebuah tangan bersarung tangan hitam terulur dari bayang-bayang di sudut—
SRET!
Jemari panjangnya mencengkeram kuat bahuku. Rasa dingin yang menenangkan membasuh diriku—tepat sebelum seluruh lorong hancur lebur menjadi kegelapan.