Di Balik Misteri Kota Mati

1025 Words
Istri Paron membuka sebuah tas. Yang diinginkan memperlihatkan segenap emas tapi yang ada malah peralatan sisa dari zaman modern. Hal inilah yang membuat banyak orang di sana kebingungan sebab mereka belum pernah melihat benda tersebut. “Maaf, maksudnya yang ini.” Amut meletakkan tak yang dibawa si adik ke atas meja. Beberapa perhiasan emas diperlihatkan. “Cukup, silahkan ambil rumah yang paling ujung.” Beberapa perhiasan emas diambil petugas tanpa menghitung terlebih dahulu. Sebuah catatan dan kunci ditaruh di atas meja. Paron dan keluarga keluar dari tempat tersebut. Perjalanan kembali dilakukan. Setiap rumah diperiksa dengan seksama terutama nomor dan bentuk rumah sesuai dengan catatan yang ada. Rumah berlantai tiga yang berada di pojok menjadi sebuah perhatian. Bentuk memang sama tapi tak ditulis ada sedikit halaman depan. Nomor yang tertera juga sama. Anak kunci dikeluarkan Paron dan dimasukkan ke dalam lubang yang ada di daun pintu. Anak kunci diputar dan pintu pun terbuka. Paron dan segenap keluarga masuk ke dalam rumah tersebut. Barang bawaan ditaruh di sebuah kursi sederhana. Mereka beristirahat sejenak melepaskan rasa Lelah. Tenaga sudah sedikit pulih, Paron dan keluarga melihat seisi rumah, mulai lantai satu hingga lantai teratas. Dia sendiri yang mengatur letak kamar tidur bagi anak-anak. Kaki terus melangkah menuju ke dapur. Pintu dibuka dan halaman belakang rumah terlihat dengan penuh semak belukar. “Ayah, kita tak membeli hutan. Sebaiknya kita babat saja,” kata Amut. “Benar katamu, tapi lebih cepat jika kita bakar. Buat batas agar api tak merembet ke tempat yang lain.” Paron menyalakan api melalui sebuah pemantik. “Terlalu basah, api tak akan bisa menyala.” “Itu jika tak ada rumput atau kering. Lihatlah bawah kakimu.” Mata maut mengarah pada kaki. Banyak rumput yang menyering entah terkena apa. Selain itu juga terdapat lembaran daun yang berguguran. Bagian sekira batas wilayah tanah yang dibeli dibabat dengan pedang hingga mencapai tanah. Dia melakukan hal itu hingga membentuk batas yang sempurna tanpa ada rumput atau apapun yang terkoneksi dengan tempat lain. Setelah itu tugas sang ayah untuk membakar tempat tersebut. Di siang hari Amut tak betah jika berada di rumah saja. Apalagi semua anggota keluarga sedang beristirahat dan melakukan pekerjaan orang besok hari. Sebab itulah dia keluar dari rumah. Kerumunan para penjaga kota menjadi tempat tujuan. “Pak, jika saya boleh tahu mengapa tempat ini dijaga dengan ketat?” tanyanya. “Dik, tempat ini merupakan wilayah ular besar. Jika mutan itu bergerak maka kita yang akan memberikan peringatan pertama kali,” kata seorang penjaga. “Apakah aku boleh masuk ke dalam sana?” “Kalau mau mati silahkan, hahaha,” tawa seorang penjaga. Beberapa orang juga ikut ketawa. Amut kembali ke rumah. Sepasang peang diambil. Beberapa pisau disematkan di pinggang. Tak lupa tali dan sebuah tombak. Dia pun kembali menemui para penjaga. Akses ke dalam kota sangat mudah sekali. Tak perlu registrasi atau apapun. Kaki melangkah begitu saja memasuki kota yang sudah lama ditinggalkan oleh manusia. Sepi, sunyi tiada suara yang terdengar dari gedung yang sudah berubah warna. Malah yang di dengar suara dari para penjaga. Kaki terus melenggang si atas dedaunan kering mulai membusuk. Tetiba terdengar suara sebuah benda bergerak. Kedua pedang yang berada di punggung diambil. Mata terus mengawasi setiap sudut area tersebut. Tiada apapun hal yang mencurigakan. Tubuh berbalik ke belakang, baru Amut menemukan seekor ular mutan. Hewan berwarna hijau keemasan terhilang di dengan wajah Amut. Kilau mata indah memantulkan cahaya mentari. Hewan yang bisa dikategorikan berbisa tersebut memiliki ukuran kepala sebesar setengah meter dengan tinggi kepala sejengkal orang dewasa. Sepasang taring keluar dari mulut hewan tersebut. Panjang hewan tersebut tertutup oleh bangunan yang ada di sana. “Hai, cacing mutasi.” Amut langsung melompat ke sebuah gedung. Pedang digunakan sebagai alat bantu untuk memanjat bangunan tersebut. Sebuah lubang terlihat dan dia memiliki untuk memasuki gedung yang telah lama ditinggalkan manusia itu. Amut yang pernah mengira jika hewan beracun tersebut memiliki kecepatan lari yang hampir sama dengan kecepatan tertinggi yang bisa dia lakukan. Tak mungkin bisa berhasil jika dia lari terus. Amut pun berbalik arah. Kedua tangan bersiap untuk menebas ke hewan mutasi tersebut. Namun dia harus menghindar terlebih dahulu dari mulut ular yang sudah siap untuk menelannya sebagai sebuah makan siang. Amut bergegas berlari. Sepasang pedang ditusukkan ke tubuh ular tersebut. Sebuah lompatan dilakukan agar bisa terhindar dari hewan tanpa anggota gerak tambahan tersebut. Sebuah tombak dipegang dengan tangan kiri. Si ular sedikit kesakitan dengan serangan yang dilakukan Amut. Indra penciuman yang super tajam digunakan untuk melacak setiap langkah yang diambil dari Amut. Kepala telah bergerak menuju ke sumber bau. Mangsa dengan ditemukan, mulut di buka sangat lebar. Gigitan hendak dilakukan, tapi ia malah menerima balok kayu. Si ular sedikit terkecoh dengan kayu yang digunakan sebagai ganti tangan kiri yang seharusnya menjadi mangsa dari hewan mutasi. Tombak diarahkan ke bagian mata hewan sangat berbahaya tersebut. Namun Amut sedikit meleset sehingga hanya mengenai kelopak mata si ular. Sebuah pukulan dilayangkan pada mata kiri yang sudah terlebih dahulu tertutup. Amut pun melakukan sebuah lompatan sambil menembakkan pisau dengan tangan. Sayang, serangan tersebut hanya mengenai bagian terluar dari hewan penghuni kota tersebut. Mulut ular terbuka lebar untuk menelan tubuh Amut secara utuh. Lelaki tersebut terus melompat sambil mencari cara agar bisa menghindar dari kepala si ular. Kaki melangkah mendekati bagian ujung ekor ular. Tombak pun digunakan untuk melukai bagian ujung hewan melata yang telah bermutasi. Luka kecil di ujung anggota badan membuat hewan tersebut menggeliat kesakitan. Kesempatan Amut untuk melakukan sebuah serangan. Bukan untuk menyarang dengan pisau, dia berlari ke lantai atas. Beberapa benda diamati untuk bisa memberikan efek sakit yang lebih. Hanya saja gedung tersebut bekas hotel sehingga tak ada senjata sebagai sebuah peninggalan. Teringat jika masih ada alat yang menempel pada pinggang. Tali sepanjang lima meter dirasakan tak berarti sama sekali dengan tubuh si ular. Sebuah besi pun diambil. Ujung tali diikat dengan sangat kencang sehingga besi tak mudah terlepas. Amut pun mengayunkan dengan sangat ringan dan terampil. “Kalau berani majukan ke depan,” ucapnya sambil mengisyaratkan dengan pergerakan jari tangan. Entah paham atau tidak dengan perkataan Amut, si hewan mau saja menurut perintah lelaki yang akan menjadi mangsa. Mulut hewan buat tersebut terbuka lebar lagi. Sebuah serangan siap membuat Amut untuk berpindah alam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD