Kelinci yang ditarget tapi banteng yang menjadi sasaran. Entah beruntung atau tidak, begitulah takdir yang harus dihadapi Amut. Tali sudah terlanjur terkoneksi dengan panah dan terbawa hewan yang sedang berlari kesakitan. Mau tak mau dia pun juga ikut terseret. Busuk dan anak panah sudah terlepas dari tangan. Tombak yang ditancapkan ke tanah tak berhasil menghentikan laju hewan yang kesakitan.
Tak habis akal yang digunakan untuk mengalahkan si hewan buas. Batu diambil kan dilemparkan ke hewan yang kini beralih menjadi target sasaran walau tak kena juga. Masih menjadi sebuah keuntungan dia melewati sebuah gundukan. Sebuah lompatan berhasil dilakukan dan bisa berdiri tegak. Pedang dilempar dan sedikit menyerempet kulit kerbau.
Amut masih tak mau menyerah begitu saja. Tali diputuskan dengan sebuah pisau. Dia pun melompat ke atas sebuah pohon. Pedang telah terlihat, dia pun turun sebentar sebelum naik kembali ke atas.
Mangsa tak begitu saja dilepas. Amut terus mengikuti kerbau yang sudah terluka. Dia pun turun ke tanah dan langsung berhadapan dengan si mangsa. Pedang berada di tangan kanan dan pisau berada di tangan kiri.
Kerbau sudah melihat tubuh si Amut. Serudukan pun mengarah pada lelaki tersebut mesti anak panah belum terlepas dari kaki.
Tiada niat Amut untuk berlari. Pisau ditusukkan ke tengah dahi kerbau, sedangkan pedang ditebaskan ke leher kerbau. Namun dia juga terkena serudukan hewan buas tersebut hingga mengenai sebuah pohon.
Amut dan hewan buas sama tumbang ke tanam. Keduanya sama-sama terluka dan berdarah. Namun, yang diderita Amut tak separah yang diderita si hewan buas. Lelaki tersebut menebaskan pedang berkali-kali hingga puas.
Tak semua bagian hewan dibawa untuk keluarga yang telah menantikan makanan. Hanya bagian kaki belakang yang dipotong dan diseret guna menghemat tenaga. Senjata dicari dan dikumpulkan kembali.
Hari telah semakin gelap. Penglihatan mata manusia kian menurun. Jangkau deteksi sensor penglihatan hampir mencapai atas bawah. Tingkat kewaspadaan Amut semakin tinggi. Sebuah api yang terlihat di datangi. Tak bukan dan tak lain tempat keluarga berada. Hanya ada api unggun, tak ada bangunan yang lain atau apapun itu.
“Amut, apa yang kau bawa?” tanya sang ibu.
“Hanya sedikit daging kerbau liar. Aku kurang pandai untuk mencari buah-buahan.” Amut menurunkan daging kerbau.
“Tak apa-apa.”
Beberapa batang ranting disusun sedemikian rupa untuk memanggang daging yang sudah terbagi menjadi beberapa bagian. Amut menusuk daging tersebut dengan ranting. Daging yang dirasa sudah matang ditiriskan sehingga agak dingin. Sang ibu yang bertugas memberikan makanan kepada anak-anak.
Tak lama kemudian muncul sesosok api dari jarak cukup jauh. Wajah seorang lelaki sudah terlihat sambil membawa sebotol air minum. Dialah Paron sang kepala keluarga. “Amut, yang kau lakukan ini akan mengundang banyak hewan buas untuk datang ke sini. Sebaiknya kita berjalan agar tak menjadi mangsa,” katanya.
“Tapi, aku bukan lelaki yang lemah,” sangkal Amut.
“Kau memang kuat. Bagaimana dengan adikmu? Ayo kita bergerak.” Sang ibu mengambil sepotong daging dan diberikan kepada sang ayah.
Para adik menjadi sebuah perhatian bagi Amut. Tak mungkin bisa melindungi semua anggota keluarga sendirian, apalagi dalam keadaan gelap. Kali ini dia memenuhi permintaan sang ayah. Batang kayu berapi diambil dan dibagikan kepada segenap anggota keluarga sebagai sumber penglihatan sekaligus senjata dalam keadaan darurat. Daging juga diambil untuk dimasukkan ke dalam tubuh sambil berjalan.
Beberapa jam sudah berlalu. Para adik tak kuat lagi berjalan. Masih beruntung ada sebuah gua yang dangkal. Setidaknya tempat tersebut bisa digunakan untuk beristirahat sementara waktu.
Seluruh anggota keluarga sudah berada di dalam gua. Amut sendiri yang berada di luar. Api dinyalakan agak membesar untuk bisa melihat dengan lebih jelas. Namun yang terjadi malas para hewan kabur menjauhi tempat tersebut. Tujuan utama penerangan malah menjadikan api tersebut sebagai sebuah perlindungi. Dia tetap menebang sebuah pohon sambil membuat kebakaran sedikit membesar agar keluarga lebih aman dari marabahaya.
Mentari telah menunjukkan cahaya di ufuk sebelah timur. Segenap keluarga Paron membuka mata. Mereka melanjutkan kembali perjalanan walaupun api masih saja terdapat di dalam hutan tersebut. Tiada sedikit pun kepedulian terhadap pusat energi panas dan cahaya, mereka terus melanjutkan perjalanan.
Dua jam sudah berlaku. Sebuah bukit telah berhasil dinaiki Amut sendirian. Mangsa yang ingin diincar tapi malah sebuah kota ditemukan. Dia pun kembali pada keluarga yang tak jauh darinya. “Ibu, Ayah, aku menemukan sebuah kota!” teriaknya.
“Amut, kau jangan gembira dulu. Mungkin kota itu peninggalan zaman modern dahulu,” kata sang ayah.
“Tak apa-apa, setidaknya kita bisa menemukan tempat yang kayak untuk tinggal. Jika tak ada manusia di sana maka kita yang akan menjadi pertama kali,” ajak sang ibu.
Keluarga tersebut memutuskan untuk pergi ke kota. Amut melompat dari satu pohon ke pohon lain untuk menunjukkan arah pada keluarga. Selain itu juga agar bisa melihat lebih jauh guna mengawas bahaya yang akan menyerang pada anggota keluarga.
Kota yang dilihat Amut ternyata hanya sebuah bangunan yang sepi tanpa ada sebuah yang berani tinggal di sana. Namun, di samping kota tersebut terdapat sebuah pemukiman besar. Bangunan tak menjulang tinggi seperti kota sehingga terhalang pohon tinggi yang mengakibatkan Amut tak bisa melihat dari jarak yang cukup jauh. Semuanya, maafkan aku yang salah,” ucapnya.
“Yang penting kau sudah berusaha sebisa mungkin. Lagi pula kita bisa bertemu dengan manusia lain,” kata sang ayah.
Arah perjalanan sedikit berbelok. Pemukiman para manusia dimasuki. Penjagaan dilakukan di setiap sudut pemukiman terlebih lagi pada bagian yang berbatasan langsung dengan kota. Paron menggandeng tangan Amut dengan maksud agar si anak tak terlibat di dalam urusan orang lain. Bangunan yang paling besar dan berada di tengah pemukiman mereka masuki bersama dengan beberapa orang yang lain.
“Bu, aku mau mencari sebuah rumah atau penginapan. Jika boleh tahu, apakah ada yang kosong di sini?” tanya Paron.
“Untuk berapa orang?” tanya seorang perempuan.
“Tujuh.”
“Mari ikut aku.”
Paron dan segenap keluarga diajak ke seorang yang berdiri di belakang meja dengan tempat khas yang tak boleh dimasuki sembarang orang. Perempuan tersebut pergi begitu saja setelah memperkenalkan petugas tersebut.
“Pak, butuh kamar untuk berapa orang?” tanya seorang petugas.
“Tujuh orang, kalau bisa sebuah rumah” jawab Paron.
“Harga rumah di sini lumayan mahal. Pikirkan dahulu sebelum membeli.”
Sebuah tas yang berada di punggung istri Paron diletakkan di atas meja terdekat. Tas dibuka, segala benda yang berada di dalam wadah tersebut bisa terlihat dari luar.
“Apa ini?”