Sebuah kapal dimasuki Amut. Segenap senjata dibersihkan bersama dengan sang ayah. Ombak yang mengombang-ambingkan benda terapung tersebut bukan menjadi sebuah masalah berarti.
“Amut, kita sudah memiliki uang yang cukup untuk hidup selama beberapa puluh tahun di kota. Kau tak perlu berburu lagi.” Paron meletakkan sebuah senjata yang telah bersih dan mengambil senjata yang lain.
“Jika ingin hidup di kota mengapa kita membersihkan senjata ini?” tanya Amut.
Anggap saja sebagai sebuah persiapan untuk mempertahankan diri.”
“Ayah, aku masih ingin berburu. Mohon hormati keputusan anakmu ini.” Senjata yang telah dibersihkan diambil Amut untuk ditaruh pada peti penyimpanan. Senjata yang lain diambil untuk dibersihkan bersama.
“Amut, aku mengerti perasaanmu. Tapi pikirkan lagi, apakah kau sudah yakin dengan keputusan ini? Tak ada manusia yang pernah kembali dalam petualangan berburu mutan. Zaman ini berbeda dengan zaman dimana manusia sebagai raja. Hewan mutanlah raja sekarang.” Aktifitas Paron membersihkan senjata sedikit berhenti ketika dia menyeruput segelas minuman hangat.
Seminggu sudah Amut dan para keluarga berada di dalam kapal yang super aman. Serangan para hewan kadang terjadi, tapi tak sampai bisa menggoyangkan kapal nan kuat tersebut. Sebuah keberuntungan karena mereka melewati sebuah perairan yang tenang dan sedikit hewan mutan.
Beberapa hari sudah kapal menyeberangi lautan. Sebuah daratan besar terlihat dari jarak yang cukup jauh. Paron dan segenap keluarga merasakan sebuah kesenangan sendiri. Mereka bersorak-sorai.
Hal berbeda dirasakan oleh Amut. Lelaki tersebut berada di atas atap kapal. Pedang ditarung dipunggung, tali diikat sebagai sebuah sabuk. Trisula pun berada di samping kiri. Pilihan sang ayah yang bertentangan dengan panggilan jiwa membuat dia gundah gelisah. Mata memandang ke air laut. Tiada sedikit pun pergerakan yang dilakukan para makhluk air.
“Nak, Kau sedang apa?” panggil sang ayah.
“Ayah, aku bingung harus berbuat apa. Yang Ayah katakana memang benar, tapi….” Amut melihat ada sebuah keanehan di dalam laut. Sebuah trisula diambil.
Ada apa, Nak?” tanya Paron.
“Mutan.”
Paron takut akan keselamatan dirinya dan juga sang anak. Tapi apa boleh buat, seekor ikan terbang berukuran besar telah melintas di atas kapal yang menjadi alat transportasi sekaligus tempat perlindungan. Ingin sekali menyelamatkan sang anak tap tempat tersebut terlalu berbahaya. Terpaksa dia meninggalkan si anak sendirian di dalam serangan ratusan ikan terbang sepanjang dua meter.
“Mata dan tangan saling bersinkronisasi dengan bagus. Amut bersiaga atas memungkinkan yang terjadi. Dia berguling untuk menghindari seekor ikan terbang yang sedang menyerang. Namun ikan tersebut tanpa berbalik arah, hanya lurus saja.
“Jika mereka tak menyerang manusia pasti ada sesuatu hal yang lebih buruk terjadi,” angannya.
Mata lelaki yang berada di atas kapal tersebut mengarah ke tempat para ikan berlarian. Semua tornado besar terjadi. Meskipun tempat tersebut masih jauh tetapi hawa sudah terasa. Tornado tersebut semakin mendekat kepada Amut. Secepat mungkin kaki melangkah menuju ke lubang kapal. Dia pun masuk ke dalam kendaraan tersebut untuk berlindung. Akses keluar di tutup total sehingga air tak bisa masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Nak, akhirnya kau tahu apa yang Ayah maksud,” kata Paron.
“Ayah, ada tornado raksasa.” Amut langsung berlari ke ruang kendali,
“Apa?” sang ayah mengikuti jejak si anak.
Kedua lelaki tersebut sampai di ruang pengendali. Namun tak banyak yang bisa mereka berbuat. Badai sudah terlalu dekat dan kecepatan kapal tersebut sangat lamban karena hanya mengandalkan panel surya. Tak ayal kapal yang mereka tumpangi tersedot ke dalam pusaran badai tersebut.
Meski aman dari ari laut, tapi guncangan yang berada di dalam kapal tersebut amatlah dahsyat. Mereka hanya bisa berpegangan dengan erat pada sebuah tiang sambil mencoba mengikat diri agar tak bergerak ke sana dan ke sini serta menghindari dari rasa mual. Tentu saja mereka harus bisa menghindari benda yang bergerak tanpa arah. Tak jarang beberapa benda menabrak salah satu bagian tubuh.
Benda tak lagi bergerak tanpa arah. Tornado dirasakan sudah selesai. Tali yang mengikat tubuh dibongkar. Mereka melihat kaca guna mengetahui kondisi di luar. Sebuah daratan nan luas mereka temui.
Paron dan keluarga berusaha untuk keluar dari tempat tersebut. Sebuah kaca terpaksa mereka pecahkan agar bisa keluar dari kapal yang mendarat dalam keadaan bagian kiri berada . Adik-adik Amut dan ibu dikeluarkan terlebih dahulu.
“Ayah, Amut, ayo keluar,” ajak ibu dari anak-anak.
“Bu, kami mau mengambil beberapa barang dulu. Jaga adik-adikku.” Amut mengeluarkan beberapa senjata.
“Hati-hatilah,” kata sang ibu.
Kedua lelaki dewasa itu kembali menelusuri kapal. Senjata dan benda berharga diambil sebisa yang diraih tangan dan dilihat mata. Paron hanya mengambil benda yang terjatuh saja, sedangkan Amut mengambil benda yang terletak cukup tinggi. Si anak tersebut melompat dari satu tempat ke tempat yang lain.
Sekiranya barang berharga sudah dikeluarkan semua, Amut dan Paron keluar dari kapal tersebut. Benda berharga diseleksi kembali. Setiap anggota keluarga membawa barang sekuat yang dimampu.
Sedikit berbeda dengan Amut. Kakak dari semua anak Paron itu membawa senjata yang mereka butuhkan. Hanya sedikit uang yang berada di dalam kantong khusus. Langkah yang ditempuh pun sedikit si belakang untuk menjadi semua anggota keluarga. Mata mengawasi ke semua arah. Entah beruntung atau apapun, tempat tersebut sepi dari mutan. Yang ada hanya hewan normal. Namun Amut tak menurunkan tingkat kewaspadaan sedikit pun.
Perjalanan yang mereka lakukan teramat lama. Meski Amut bisa membimbing keluarga agar tak tersesat di dalam hutan dengan memperhatikan sebuah gunung, ternyata perjalanan sangat lamban. Para adik tak memiliki kekuatan berjalan seperti yang dewasa. Belum lagi mereka tak memiliki makanan yang dibawa.
“Ayah, aku yang akan berburu.” Amut pergi begitu saja tanpa ada sebuah persetujuan.
Di dalam hutan terdapat beberapa hewan berukuran normal. Amut mengamati setiap pergerakan mereka. Anak panah diikat dengan kali kecil tapi kuat. Sebuah busur dipersiapkan. Tempat persembunyian yang tepat telah diambil. Anak panah dipersiapkan, sasaran dibidik. Target telah masuk ke dalam jangkauan. Tali busur ditarik bersama dengan anak panah. Mangsa sudah diyakini akan kena, anak panah pun dilepaskan. Benda tersebut melesat dengan kecepatan tinggi dengan membawa tali yang diikat pada ujung anak panah yang tumpul.
Yang menjadi sasaran adalah seekor rusa kecil. Namun, anak panah meleset dari mangsa yang menjadi target. Malah seekor banteng terkena anak panah tersebut.
Banteng merasakan kesakitan yang luar biasa. Hewan kuat tersebut tak bisa melepaskan anak panah yang bersarang pada kaki sebelah kiri. Ia pun berlari tanpa arah yang ditentukan. Tali yang terikat pada anak panah pun tertarik mengikuti anak hewan tersebut. Alhasil, Amut pun terseret.