Kegilaan Aurel

1134 Words
"Aku maunya dimandiin" Aku melotot saat mendengar ungkapan gila nya. Cobaan apalagi ini? Ya walaupun dia orang gila, tapi kalau secantik ini. Diriku tak bisa menjamin akan mampu menahan hasrat sebagai laki-laki normal. "Hei ... dengarkan aku..." dia menatapku dengan tatapan poppy eyes yang sangat menggemaskan. Aku pun mengusap rambut kecoklatan itu dengan gemas. "Mau jalan-jalan dengan ku?" "I'll.. Will we hangout? Where we go? (Aku mau... Kita akan pergi? Kemana?)" ucapnya semangat. Dia terlihat sangat bahagia. Sungguh aku menyukai senyum manisnya yang tampak natural. "Ke taman, may be happynest. (Mungkin menyenangkan)" ucapku kembali. "I'll, come on... (Aku mau... Ayo...)" ucap Aurel sambil menarik lengan ku. Namun aku menahan nya. Kemudian menariknya untuk duduk di ranjang yang didominasi warna ungu yang anggun. "Aurel, kalau mau jalan-jalan. Kamu harus mandi dulu, supaya cantik." aku membujuknya seperti sedang membujuk anak kecil. "Iya... aku mau mandi." Aurel bangkit lalu mulai membuka kancing kemejanya satu persatu. Tanpa sadar aku terpaku menatap benda kenyal yang mengintip di balik bra hitamnya. Ah... hal itu membuatku frustasi. Aku bisa melihat dengan jelas belahan dadanya yang menggoda iman. Aku segera menggeleng kuat untuk membersikan otakku yang terpapar polusi. Sungguh kotor sekali otak ini. Bagaimana mungkin aku bisa bernafsu melihat orang yang tidak waras. "Astagfirullah hal adzim..." "No Aurel... stop it... hentikan!!! Buka bajunya di kamar mandi, jangan di sini!!!" ucapku sedikit berteriak, agar dia hanya fokus pada ku. Aku panik melihat tubuhnya. "Kan mau dimandiin kakak ... aku maunya di mandiin kakak. Ayo bukain baju aku!" ucapnya merengek seperti anak kecil yang manja. Bahkan dia merentangkan tangannya. Hingga kemeja itu semakin melebar. Aku tak sanggup lagi. Aku ingin segera melarikan diri. Aku takut imanku pergi dan aku malah menyerang wanita ini. "Hah..." Aku kembali menghela nafas berat "Ini gila. Jika terus berlama-lama di sini, bisa-bisa aku yang menjadi tidak waras." Aku kembali membatin. "Aurel kan mau pergi sama Kakak. Kakak juga harus mandi. Aurel mandi sendiri ya?" aku tetap berusaha membujuk, tak mungkin aku memandikannya. Itu terlalu ekstrim. "Aku maunya mandi bareng aja sama Kakak ... kamar mandi aku kan luas." ucapnya kembali tanpa dosa. Haduuh??? Bukan masalah sempit atau luas, masalahnya adalah aku pria normal. Tak mungkin aku sanggup menahan hasrat, jika aku melihat wanita dewasa yang cantik naked di hadapan ku. Pakai pakaian lengkap saja tubuhnya terlihat seksi. Apalagi? Ah sudahlah!!! Membayangkan hal itu membuat tubuh bagian bawahku kembali ereksi. Aku merasa sesak di bawah sana. Sakit dan ngilu karena terhimpit celana yang ku gunakan. Yang harus aku lakukan saat ini adalah aku harus bisa membujuknya untuk mandi sendiri. "Ok ... kita ke dapur dulu yuk, Kakak haus ... mau minum." aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Aku harus segera menjauh dari wanita berbahaya ini. "Kakak takut hantu?" tanyanya dengan nada polos. Aku sudah kehabisan kata-kata, dan hanya bisa memijat pelipis ku. Sungguh sudah kehabisan akal. Ternyata pikiran orang gila itu luar biasa. "Iya Kakak takut hantu. Ayo temani kakak." ucapku asal agar dia tak banyak bertanya hal yang aneh. Lalu menggandeng tangan nya menuju dapur. Dia mengoceh dan bernyanyi sepanjang jalan menuju dapur. Mungkin sudah habis satu album lagu anak-anak. Mulai dari Edelweis hingga twinkle little star. Maklum saja mansion ini sungguh luas. Dari kamar Aurel sampai dapur saja butuh waktu berjalan 15 menit. Sedangkan aku hanya bisa tertawa mendengarnya bernyanyi seperti anak kecil. Tahukah kalian tentang apa yang menjadi pertanyaan dalam benak ku? Hal itu adalah bagaimana mungkin orang gila yang tak berbahaya dan manis seperti ini dipasung oleh ayah nya sendiri? Aku bahkan tidak percaya jika Aurel sampai hampir membunuh Mr. Felix. Karena Aku merasa, gadis ini cukup jinak. "Duduk disini dulu ya." aku meminta dirinya menunggu dan duduk di sebuah kursi di pantry. Kemudian bergerak ke arah kulkas besar dengan harga puluhan juta. Mengambil sebotol air mineral dan dua buah gelas. Aku bergerak kembali mendekat pada gadis yang sejak tadi menatap gerak gerik ku sambil terus bernyanyi dan tersenyum. Lalu menuangkan air mineral ke gelas. "Ini untuk mu ... minumlah!" ucapku sambil menyodorkan segelas air pada Aurel. Tapi gadis itu malah mengambil botol air mineral di tangan kiri ku, kemudian menenggak hingga separuh air pada kemasan 1,5 liter itu tandas. Luar biasa. Dan aku hanya bisa melongo. "Ahhhh.." Aurel nampak liar, berperilaku tanpa tata krama. "Eggghh." aku semakin syok saat dia bertahak, sungguh tidak sopan. Tapi ya sudahlahlah, nama nya juga orang gila. "Sudah minum nya?" ucapku dan dia mengangguk. "Ayo mandi bareng! Katanya mau jalan-jalan?" Aurel kembali bicara dengan nada manja nya. Aku menghela nafas panjang. Rupanya dia masih ingat permintaan gila itu. Aku membuang muka, karena tak sanggup melihat wajah polosnya yang cantik dengan permintaan yang menyebalkan. Dan saat itu aku melihat Bibi Ana. "Bibi Ana.." aku memanggil Bibi Ana. "Saya Tuan Muda, ehm Nona Aurel? Kok bisa keluar kamar?" Bibi Ana nampak terkejut. Sedangkan Aurel mengangguk senang. "Aurel mandi sama Bibi Ana saja ya?" aku berusaha membujuk. "Aku ga mau. Aku maunya dimandiin Kakak aja, hiks ... hiks..." Aurel kembali menangis dan hal itu membuatku semakin frustasi. Aku menoleh pada Bibi Ana untuk meminta bantuan. Tapi Bibi Ana malah mengangkat kedua tangan nya tanda bahwa dia tak bisa membantuku. "Anak cantik, cupcupcup ... jangan nangis dong, lebih baik Aurel mandi sama Bibi Ana saja ya? Kaka juga mau mandi, Aurel rapi, kakak juga rapi. Jadi kita bisa lebih lama jalan-jalan nya. Gimana? Mau kan?" "Nanti aku beli es krim ya?" ucapnya merajuk. "Iya. Nanti beli es krim, beli gulali, kita ke taman bermain. Mau kan?" "Iya aku mau." ucap Aurel bersemangat. Dan akhirnya aku bisa bernafas lega "Ayo Nona Aurel. Mandi di kamar Nona yuk." ucap Bibi Ana. "Iya Bibi." ucap Aurel mengikuti langkah Bibi Ana sambil mengaitkan lengannya. Tapi sayangnya rasa lega itu hanya sesaat. Karena Aurel kembali bicara. "Tapi aku maunya digendong Kakak sampai  kamar." ucap Aurel sambil merentangkan kedua tangannya. Haaah. Aku pun kembali menghela nafas. Tapi tak apalah, daripada memandikan gadis itu. Sungguh menguji iman. Seandainya sudah sah menjadi istriku, aku tentu tak akan menolak. Jika Aurel meminta bantuan ku untuk membuka pakaiannya sehari tiga kali pun tak apa. Bahkan jika dia meminta lebih dari mandi bersama tentu aku suka dan sangat ikhlas. Sungguh m***m otakku. "Ayo.." aku pun berjongkok sambil menunjuk punggungku pada Aurel. Dan Aurel segera melompat ke punggung ku. Membuat pinggangku seakan mau patah. Aku menggendong Aurel seperti anak monyet di punggungku. Lebih tepatnya anak gorila. Karena yang jadi gorila nya Mr. Felix. Semoga saja Mr.Felix bukan vampir yang bisa membaca pikiran orang. Dan kini aku merasa Mr. Felix memang seorang vampir yang bisa muncul tiba-tiba. Saat aku mengatakan Mr. Felix itu seekor gorila, pria arogan itu justru muncul di hadapanku. Dia mengenakan pakaian serba hitam berbahan kulit. Seperti mafia.. Mungkinkah dia seorang mafia? Pria itu menatapku tajam. Tapi aku tak peduli. Aku tetap berjalan menahan beban berat di punggungku. Aurel sungguh berat. Mungkin setelah ini aku harus minum Fiostin DS dan bila perlu minum Anlene. "Terima kasih Kakak..." ucap Aurel turun dari punggungku, setelah sampai di depan kamarnya. "Iya anak manis. Cepat mandi ya? Kakak tunggu." ucapku sambil mengusap kepala gadis itu. Aku tersenyum membalas senyuman manjanya. Cup.. Aku membeku. Karena ciuman Aurel di pipi kananku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD