Author’s POV
Pagi di Taman Safari selalu datang dengan keceriaan. Tempat wisata itu selalu menjadi pilihan terbaik liburan keluarga. Mobil keluarga Arsen melaju pelan memasuki kawasan Taman Safari.
Jendela dibuka setengah. Udara Puncak yang sejuk masuk bercampur bau tanah basah dan rerumputan. Gian berdiri di antara jok depan dan tengah, tangannya mencengkeram sandaran kursi dengan mata berbinar.
“Mas! Iat itu! Iat!” teriaknya sambil menunjuk ke arah sekawanan rusa yang mendekat tanpa takut.
Arsen refleks mengulurkan tangan, memeluk pinggang kecil itu agar tidak terlalu condong ke depan. Gina memegangi keranjang berisikan wortel dan sayuran lainnya yang mereka beli sebelum memasuki kawasan hutan safari. Sementara Sarfaraz, duduk di balik kemudi mobil dan menanggapi pertanyaan anak bungsunya dengan sabar.
Sarfaraz sebenarnya rindu.
Ia sesekali melirik ke kaca spion, memperhatikan Arsen yang di bangku belakang, di samping Gian. Anak pertamanya itu diam—seperti biasa. Bahunya tegak, tatapannya ke luar jendela, seolah perjalanan ini hanyalah perpindahan jarak, bukan momen keluarga.
Sarfaraz menarik napas pelan. Ia ingin bertanya, “Kamu mau kasi makan rusa, mas?” Atau sekadar berkata, “Terima kasih sudah ikut.”
Gian, sebaliknya, adalah kebalikan dari Arsen. Bocah itu tidak bisa diam. Matanya berbinar, mulutnya tak berhenti bertanya.
“Mas, itu onyet ya?”
“Mas, nanti kita iat cinga, kan?”
“Mas Alsen, Gian boyeh uduk ekat cendela?”
Arsen mengangguk setiap kali Gian memanggil namanya. Menggeser tubuhnya, memastikan adiknya nyaman. Tangannya juga bergerak begitu cepat untuk melindungi adiknya. Ada rasa bangga setiap ia melihat anak sulungnya. Ia bangga, Arsen begitu dewasa dan sabar, walaupun bersikap dingin.
Setiap kali ia melihat tingkah lucu Gian, hatinya terasa hangat dengan samar rasa sakit. Ia ingat, sangat ingat, dulu Arsen juga pernah seperti itu. Bawel. Penuh tanya. Selalu ingin dekat dengannya. Dulu, sebelum jarak tumbuh terlalu panjang.
“Gian, liat… jerapahnya tinggi banget,” ujar Gina lembut.
Gian menoleh, lalu spontan melompat mendekatkan diri ke jendela mobil, Arsen dengan sigap menjaga adiknya agar tidak terjatuh. “Mami, au woltel!” Serunya.
Gina mengulurkan keranjang wortel kepada Arsen, perempuan itu memberikan dengan penuh senyum, sama senangnya dengan Gian, “Ini ambil yang banyak, Mas juga kasih makan jerapahnya..” tawar Gina yang hanya dibalas anggukan oleh Arsen.
Arsen mengambil dua wortel, ia memberikan satu kepada Gian dan satu untuknya. Ia menurunkan kaca mobil sedikit lebih besar lalu mengangkat tubuh Gian untuk berdiri di pahanya. Gina diam-diam merekam dan memotret momen kakak-adik itu. Momen yang sangat jarang ia lihat langsung. Hatinya tenang saat melihat kedekatan Arsen dan Gian, walaupun ia tau Arsen belum menerima dirinya dengan alasan yang sangat ia mengerti, tapi setidaknya ia tahu Arsen menyayangi Gian. Itu sudah lebih dari cukup.
“Mas Alsen!” Pekik Gian yang tetap menjulurkan tangannya dengan mata yang tertutup. Ia mau tapi takut saat jerapah itu mendekat untuk memakan wortelnya.
“Aduh, katanya berani, tapi merem..” ucap Arsen lalu memegang tangan adiknya. Jerapah itu memakan wortel yang diberikan Gian lalu berjalan menjauhi mobil.
“Hebat! Ini baru adik mas, pemberani.” puji Arsen yang dibalas pelukan erat oleh Gian. Ia memeluk adik kecilnya lalu memangkunya.
Arsen menyadarinya. Selalu. Ia menyayangi Gian. Dengan cara yang tidak ia pelajari dari siapa pun. Ia hanya tahu, selama Gian ada, rumah masih terasa seperti rumah.
Mobil berhenti sejenak ketika seekor singa melintas malas di depan kap.
“Gian, kalau singanya lompat gimana?” tanya Gina, berniat menakut-nakuti anaknya.
Gian tertawa kecil lalu kembali berdiri diantara kursi kedua orang tuanya. “Gian nda akut, coalnya ada Mas Alsen, nanti mas yang lawan, cinganya pasti kabul! Aum!.” jawabnya spontan dan melompat mempraktikkan ‘Aum’ yang dimaksud, membuat suasana menjadi begitu hangat.
Gina dan Sarfaraz tersenyum haru, menyadari betapa kuatnya hubungan kakak-adik ini. Arsen juga merasa demikian mendengar jawaban polos adiknya, setelah sekian lama akhirnya ia merasa dirinya begitu dibanggakan.
Taman Safari ramai siang itu. Mobil-mobil terparkir cukup penuh, suara begitu ricuh, stawa bercampur teriakan anak-anak yang kagum melihat hewan mendekat.
Gian tidak sabar untuk turun dari mobil begitu pintu dibuka, hampir melompat. Arsen sigap meraih tangannya.
“Jangan lari,” katanya. “Tunggu Mas.”
“Iya!” Gian mengangguk, meski kakinya sudah siap melesat.
Gina tersenyum melihat mereka. “Mas Arsen memang paling bisa jaga Gian.”
Arsen hanya mengangguk kecil. Ia tidak terbiasa menanggapi pujian. Tidak tahu harus menaruh wajah di mana.
Arsen menggandeng Gian berjalan lebih dulu. Sarfaraz menyusul beberapa langkah di belakang anak-anaknya. Tangannya di saku jaket, langkahnya teratur, sementara Gina melingkarkan tangannya pada lengan Sarfaraz. Walaupun usia mereka cukup jauh, tetapi Gina merasa sangat mencintai laki-laki ini, keluarga ini. Mereka berjalan layaknya orang tua yang berlibur bersama anak-anak, membicarakan rute, jadwal, menu makan siang, dan menyelipkan candaan kecil diantaranya.
Semua terjadi cepat. Gian terlalu bersemangat dan melepaskan genggaman tangan Arsen saat ia lengah. Gian berlari kencang, tidak memperhatikan sekitar. Seorang pengunjung dewasa tanpa sengaja berbelok cepat, nyaris menabraknya.
“Gian!” panggil Arsen. Ia tidak berpikir. Ia hanya bergerak.
Tubuhnya merengkuh Gian, lengannya melingkari adiknya kuat, sesaat sebelum ia kehilangan keseimbangan. Bahunya menghantam pembatas besi rendah. Suara benturan terdengar cukup keras. Ia terjatuh dengan Gian di dalam pelukannya, aman.
Ia tidak memperdulikan telapak tangannya yang tergores atau lututnya yang cukup keras menghantam tanah. Rasa perih menjalar cepat, tapi ia tidak bersuara. Hanya menarik napas pendek, lalu segera berlutut di depan Gian.
“Kamu gapapa, ‘kan?” tanyanya panik, memeriksa adiknya. “Apa yang sakit? Bilang sama mas.”
Gian terkejut, lalu—menangis. Tangis yang keras, mengoyak. Anak kecil itu tidak apa-apa, ia hanya terkejut. Gina dan Sarfaraz langsung berlari mendekat. Gina tiba lebih dulu. Wajahnya panik. Tangannya langsung memeriksa kepala, lengan, kaki Gian tanpa henti. Sarfaraz menyusul di belakangnya, napasnya sedikit memburu.
“Gian kenapa, Mas?” tanya Gina cepat.
“Kaget,” jawab Arsen pelan. “Tadi hampir di senggol orang.”
Gina mengangguk mengerti, langsung menggendong Gian, memeluknya erat. “Gapapa, Nak… gapapa… mami di sini.” Tangisan Gian mulai mereda sedikit, meski isaknya masih terdengar.
Sarfaraz berdiri di hadapan Arsen.
Tatapannya turun—bukan ke lutut Arsen yang berdarah, bukan ke telapak tangan Arsen yang memerah. Tapi ke posisi mereka sebelumnya. Ke jarak. Ke kemungkinan.
“Kamu harusnya lebih hati-hati,” ucap Sarfaraz.
Nada suaranya bukan marah. Bukan juga keras.
Justru itu yang membuat Arsen terdiam.
“Tempat seperti ini ramai,” lanjut Sarfaraz. “Kamu seharusnya lebih awas.”
Arsen mengangguk kecil. “Iya, Pa.”
Gina menoleh ke Sarfaraz. Tangannya masih mengelus rambut Gian. “Pa… Gian gapapa. Itu yang penting.”
Sarfaraz menghela napas pendek. Seperti menahan kelanjutan kalimat yang ingin keluar.
“Kita tenangkan Gian dulu,” ujar Gina lembut. “Dia masih kaget.”
Ia tidak menarik Sarfaraz menjauh dari Arsen.
Ia hanya menyentuh lengannya—isyarat kecil agar cukup. Perempuan itu tau, anak sambungnya tidak salah, dan jika ia membiarkan suaminya bisa saja menegur lebih jauh.
Sarfaraz mengangguk.
“Gian,” katanya, nadanya melunak lalu menggendong Gian. “Yuk, kasih makan gajah.”
Mereka berdua berjalan fokus pada Gian.
Meninggalkan Arsen yang masih berdiri terdiam di tengah keramaian. Lututnya mulai terasa panas. Ada rasa basah di celana yang menempel ke kulit. Tidak ada yang melihat. Dan itu familiar.
Perasaan ini. Situasi ini.
Saat ia terluka, tapi bukan itu yang dilihat orang.
Saat ia menyelamatkan, tapi justru dianggap tidak lebih hati-hati. Arsen menurunkan pandangannya. Samar-samar, ada ingatan lain yang ingin muncul. Air. Panik. Napas yang terengah. Tangan yang menarik seseorang ke atas. Lalu suara lain yang datang terlambat—menilai dari potongan yang salah.
Arsen berjalan pelan ke kursi yang tersedia di halaman utama taman safari. Tempat biasa pengunjung akan berkumpul duduk untuk menyaksikan pertunjukan gajah. Ia memperhatikan Gian yang sudah kembali tertawa sembari memberi makan gajah, walau matanya masih sembab.
Ia menghela napas perlahan. Tidak apa-apa. Setidaknya orang yang ia sayangi baik-baik saja. Itu cukup.
Di sisi lain, Bell awalnya tidak menoleh karena penasaran. Ia menoleh karena suara. Bunyi benturan yang tidak keras, tapi cukup berbeda dari riuh taman safari. Seperti tubuh yang jatuh, bukan barang.
Refleks, langkahnya melambat.
“Bell, cepetan nanti ketinggalan show burung!” suara Angga terdengar dari depan, tapi Bell sudah berhenti.
Ia melihatnya.
Seorang laki-laki, tubuhnya berputar cepat, menahan anak kecil di dadanya. Mereka terhuyung. Lalu laki-laki itu jatuh. Bukan jatuh yang ceroboh. Jatuh yang disengaja.
Anak kecil itu menangis keras. Dua orang dewasa berlari menghampiri. Perempuan itu langsung menggendong si anak, panik. Laki-laki dewasa lainnya berdiri kaku, berbicara singkat.
Bell tahu kenapa ia merasa tidak nyaman. Karena laki-laki yang jatuh itu… tidak ada yang memperdulikannya. Bell membenci orang yang mengabaikan orang lain yang jelas lebih butuh pertolongan. Tidak ada yang melihat keadaannya. Tidak ada yang bertanya ia kenapa.
Saat itu, keluarganya terus berjalan. Tawa Mama dan Papa semakin menjauh. Bell tidak langsung sadar ia berhenti mengikuti mereka. Matanya terkunci. Laki-laki itu berdiri dengan gestur yang tidak nyaman. Sesekali ia terlihat menekan lututnya sendiri. Gerakannya pelan, terkontrol. Seperti sudah biasa menahan sakit.
Dan saat ia sedikit menoleh—Bell membeku.
Laki-laki itu, Arsen.
Dadanya turun satu kali, dalam.
Tanpa berpikir lebih jauh, Bell menoleh ke kiri. Ada kios kecil tak jauh dari sana. Bell berlari. Langkahnya cepat, terburu-buru, sampai napasnya sedikit terengah. Tangannya meraih dua botol air dingin dari dalam boks es.
“Mas, dua,” katanya singkat sambil mengeluarkan uang.
Tidak menunggu kembalian, Bell berbalik.
Ia kembali mengikuti Arsen. Langkahnya melambat ketika jarak mereka tinggal beberapa meter. Arsen duduk di bangku menghadap sekumpulan keluarga yang sedang memberi makan gajah.
Bell berhenti tepat di belakangnya.
“Ini,” katanya, menyodorkan botol air tanpa basa-basi dari belakang Arsen, botol itu sedikit menempel pada pipi Arsen membuat laki-laki itu sedikit terkejut.
Arsen menoleh, tatapan mereka bertemu. Bell tersenyum lalu duduk di sebelah Arsen.
Ia membuka botol mineral tersebut lalu memberikannya kembali ke Arsen, “Ini minum dulu.. biar ga kaget, abis jatoh kan tadi.” ucapan Bell terasa begitu menenangkan di telinga Arsen.
Arsen mengambil botol tersebut lalu meminumnya. Sementara Bell, ia memperhatikan Arsen dalam diam. Dari atas kepala hingga ke ujung kaki.
“Siniin tangan lo” ucap Bell lalu menarik tangan Arsen.
Bell membuka air mineral dingin lainnya lalu menyiramkannya pada lengan dan telapak tangan Arsen yang tergores. Arsen mengerang kecil saat rasa perih itu terasa dan Bell meniup lukanya pelan.
“Biar ga kotor lukanya, jadi ga makin parah lukanya.” Sambung Bell. Ia menepuk-nepuk pelan membersihkan pasir yang masih melekat pada baju Arsen.
“Kenapa lo bantuin gue?” tanyanya akhirnya.
Bell mengangkat bahu. “Gue liat lo jatoh, terus tergerak aja hati kecil gue buat nolongin.”
Arsen tersenyum kecil. Sangat kecil. Hampir tidak terlihat.
“Gue kira orang cuek kayak lo ga akan peduli kalau ada orang asing terluka,” katanya.
Bell mendengus. “Kita ini manusia, harus saling tolong menolong.”
Bell kembali duduk di sebelah Arsen, memangku tangan itu di atas pahanya, lalu memasangkan plaster luka pada telapak tangan Arsen yang lecet. Untung ia selalu membawa plester luka di dalam dompetnya sebagai pertolongan pertama, mengingat dirinya juga sering terluka baik karena kecerobohan ataupun aduk fisik.
“Terima kasih,” ucap Arsen pelan. Bell mengangguk lalu tersenyum lega ketika plaster tersebut sudah terpasang sempurna.
Ada jeda.
Bell baru sadar sesuatu. Ia menoleh ke sekelilingnya. Keluarganya sudah tidak terlihat. Terlalu jauh untuk dipanggil. Ia berdiri panik lalu berlari tanpa berkata apa-apa pada Arsen bagaikan Cinderella yang meninggalkan pangerannya sebelum benar-benar sempat berbincang.
Arsen tersenyum melihat punggung Bell yang mulai menghilang. Ini mimpi yang menjadi nyata. Tak terbayangkan, tetapi itu terjadi. Bell memperhatikannya setelah sekian lama ia selalu tidak terlihat.