14

1405 Words

Bell’s POV Akhir pekan itu, aku bangun dengan suasana hati yang anehnya... tenang. Bukan karena masalahnya selesai. Justru karena untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, aku tidak memikirkan sekolah, tidak memikirkan Ivan, dan—yang paling mengejutkan—tidak memikirkan Arsen. Setidaknya, aku berusaha. "Bell! Bangun! Kalau lo masih belum siap, kita tinggal!" suara Bang Angga menggema dari luar kamar. Aku mengerang, kembali menarik selimut sampai ke dagu. "Lima menit lagi, Bang. Demi adik tersayang." "Adik tersayang pala lo," balasnya. "Papa udah nyiapin manasin mobil." Aku akhirnya bangun, dengan rambut yang masih berantakan, wajah setengah mengantuk. Begitu keluar kamar, aku langsung melihat pemandangan yang selalu sama sejak kecil. Papa berdiri di ruang tengah, mengecek daftar

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD