Bell’s POV
Akhir pekan itu, aku bangun dengan suasana hati yang anehnya... tenang.
Bukan karena masalahnya selesai. Justru karena untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, aku tidak memikirkan sekolah, tidak memikirkan Ivan, dan—yang paling mengejutkan—tidak memikirkan Arsen.
Setidaknya, aku berusaha.
"Bell! Bangun! Kalau lo masih belum siap, kita tinggal!" suara Bang Angga menggema dari luar kamar.
Aku mengerang, kembali menarik selimut sampai ke dagu.
"Lima menit lagi, Bang. Demi adik tersayang."
"Adik tersayang pala lo," balasnya. "Papa udah nyiapin manasin mobil."
Aku akhirnya bangun, dengan rambut yang masih berantakan, wajah setengah mengantuk. Begitu keluar kamar, aku langsung melihat pemandangan yang selalu sama sejak kecil.
Papa berdiri di ruang tengah, mengecek daftar barang di ponselnya. Mama duduk di sofa sambil melipat baju-baju Bell yang belum selesai ia packing tadi malam. Bang Angga yang mondar-mandir dengan tas ransel di punggung.
Ramai. Berisik. Hangat.
Papa mendengus ketika melihat anak perempuan bungsunya ini masih belum bersiap. "Ya ampun, kirain udah siap daritadi, nanti macet di jalan Bell. Pokoknya 5 menit lagi udah harus siap."
Aku memamerkan gigiku lewat senyuman tak bersalah, lalu tanpa ragu memeluk pinggang papa dari samping. "Ih, Papa galak banget sih sama anak kesayangan. Nanti numbuh keriput kayak oma."
Papa terdiam sesaat, lalu mengacak rambutku. "Galak karena anaknya bandel. Cepat siap-siap."
Liburan keluarga kami selalu datang tanpa aba-aba. Tidak pernah direncanakan jauh-jauh hari, tidak pakai itinerary ribet, dan hampir selalu dimulai dengan kalimat Papa yang terdengar santai tapi tidak bisa ditolak.
"Besok kita ke Puncak."
Dan begitulah liburan ini tercipta, pagi ini aku duduk di kursi belakang mobil keluarga, dengan bantal kecil di pangkuan, hoodie kebesaran, dan playlist jadul Papa yang entah kenapa selalu sama tiap perjalanan jauh.
"Pa," aku menyandarkan kepala ke sandaran kursi, "Kenapa tahun ini liburannya ke Puncak lagi? Ke Bali gitu, Singapura, Jepang mungkin.."
Papa melirik dari kaca spion. "Karena Mama kamu suka dingin-dingin romantis."
Mama mendecak. "Ih, bohong. Kamu aja yang males jauh-jauh."
Angga yang duduk di sebelahku terkekeh. "Padahal Mama tiap ke Puncak selalu minta difotoin di kebun teh."
Aku tertawa. "Dan hasil fotonya selalu blur."
Mama menoleh ke belakang dengan tatapan protes. "Itu karena Papa kamu nggak bisa motoin!"
Papa pura-pura tersinggung. "Dih, dulu Papa motret Mama pake kamera roll film, hasilnya bagus-bagus."
"Yaudah sih, mau gimanapun hasilnya, mama tetap cantik," sahut Angga cepat lalu mencondongkan badannya ke depan, mencuri ciuman ke pipi mama.
"Dih, itu istri papa, ga boleh sembarangan di cium" keluh papa lalu mengusap bekas ciuman Bang Angga dari pipi mama.
"Dih posesif banget.." ketus Bang Angga lalu bersandar ke pundakku.
Mama tersenyum bangga. Papa berdeham kecil, tapi aku tahu—dia senang.
Aku memperhatikan mereka sambil tersenyum kecil. Beginilah keluargaku. Ribut, ramai, penuh candaan receh, tapi hangat. Selalu ada rasa aman yang menyelimutiku setiap kali kami bepergian bersama. Dan aku, Bellvanya Aeryllin Hanne, gadis yang di sekolah terkenal tengil dan bermasalah, di mobil ini hanyalah anak bungsu yang masih suka disuapin cemilan dan manja.
"Bell," Angga menyenggol lenganku, "nanti kalau udah sampe, jangan kabur sendiri."
Aku mendengus. "Gue kan bukan anak TK."
"Kemarin lo nyasar waktu nemenin mama ke pasar."
"Itu beda kasus."
Mama menoleh. "Denger ya. Kita ke Taman Safari besok pagi. Hari ini istirahat, makan enak, jalan-jalan, terus malam api unggun. Oke?"
"Oke!" jawab Angga dan Papa bersamaan.
Aku mengangguk. "Ya, bolehlah."
Dan entah kenapa, di dadaku ada rasa ringan yang sudah lama tidak muncul.
Hotel tempat kami menginap berdiri megah di tengah kabut tipis Puncak. Bangunannya hangat dengan nuansa kayu, jendela-jendela besar menghadap pepohonan, dan udara dingin yang langsung membuatku ingin menarik hoodie lebih rapat.
"Wah," gumamku saat turun dari mobil. "Dingin banget."
Bang Angga merangkul pundakku dari belakang dan aku mengeratkannya, "Kesian, kedinginan ya?" ucapnya dan ku jawab dengan anggukan.
Saat kami masuk ke lobi, suasananya ramai tapi tenang. Banyak keluarga. Anak-anak berlarian. Beberapa pasangan muda sibuk berfoto.
Aku berhenti sejenak. Entah kenapa... aku merasa seperti melihat seseorang. Di dekat resepsionis. Tinggi. Rambut hitam. Postur yang terlalu familiar.
Aku melangkah setengah mendekat untuk memastikan kalau aku tidak salah lihat.
"Ar-" belum sempat aku memanggilnya, mama sudah lebih dulu memanggilku.
"Bell?" Mama memanggil.
Aku menoleh. "Iya, Ma."
Saat aku kembali melihat ke arah tadi—Kosong. Tidak ada siapa-siapa. Aku mengerutkan kening. "Aneh."
"Apanya?" tanya Angga.
"Enggak, tadi kayak liat temen di sekolah" jawabku cepat. "Tapi perasaan gue aja."
Aku menggeleng pelan, menertawakan diriku sendiri. Mungkin aku terlalu sering memikirkan satu orang belakangan ini.
Malam pertama di Puncak selalu jadi favoritku.
Makan malam bersama di restoran hotel, dengan view Kota Bogor yang hangat walau udaranya sangat dingin. Papa yang sibuk di suapi Mama dengan segala pilihan menu yang mama ingin coba tetapi tidak pernah habis, Bang Angga selalu usil, ia dengan sengaja mengambil lauk terakhirku, dan aku yang pura-pura marah padahal tahu nanti juga akan di jawab papa, 'Kan bisa nambah'.
"Anak papa udah pada gede," kata Papa sambil menyendok sup, "Nanti kita bakal jarang banget kayak gini..”
Mama mengangguk. "Angga sebentar lagi akan sibuk skripsi, Bell sibuk bikin masalah."
"Ma!" protesku.
Mama tertawa. "Uu.. sayangnya mama.”
Aku diam. Entah kenapa, panggilan sederhana itu membuat dadaku hangat. Setelah makan, kami duduk di area outdoor. Ada api unggun kecil, kursi kayu, dan suara jangkrik yang samar.
Angga bercerita tentang kampus dan rencana akan mengambil S2 di Eropa atau Australia ketika sudah lulus S1 nanti. Papa menyetujui dan menyambungkan dengan cerita masa mudanya yang juga berkuliah di Australia, tentu dengan cerita yang-jelas dilebih-lebihkan seperti bagaimana ia menjadi mahasiswa populer pada masanya. Mama tertawa sambil menyandarkan kepala ke bahu Papa.
Aku memperhatikan mereka.
Aku tahu, sekeras apa pun Papa di rumah, seketat apa pun aturan yang kadang membuatku kesal, semua itu datang dari satu hal—cinta.
Dan aku beruntung, tumbuh dengan sangat dicintai.
~~
Arsen’s POV
Perjalanan menuju Puncak selalu membuat kepalaku terlalu ramai. Mobil melaju pelan di jalur menanjak. Kabut tipis mulai turun, menyelimuti jalan dan pepohonan pinus di sisi kanan kiri. Udara dingin menyusup lewat celah jendela yang sedikit terbuka. Gian duduk di belakang, wajahnya menempel ke kaca, matanya berbinar seperti baru pertama kali melihat dunia.
"Catu... ua... iga... Masss, itu lusa ya?" tanyanya bersemangat.
"Bukan," jawab Papa dari kursi depan. "Itu kambing warga."
Gian mengangguk cepat, lalu kembali menghitung sesuatu yang hanya ia pahami sendiri.
Aku meliriknya sekilas.
Gian selalu seperti itu. Terlalu hidup. Terlalu penuh. Dan entah bagaimana, keberadaannya membuat ruang di mobil ini tidak terasa sepenuhnya asing. Kalau bukan karena dia, mungkin aku sudah memilih duduk diam dengan headphone atau pura-pura sakit agar tidak ikut liburan.
Aku menyandarkan kepala ke sandaran kursi, menatap jalanan yang terus menanjak. Pemandangan ini seharusnya menyenangkan. Liburan keluarga. Udara sejuk. Tidak ada sekolah, tidak ada lapangan basket, tidak ada tatapan orang-orang yang selalu menilai. Tapi aku merasa seperti orang asing yang ikut numpang.
Gina, Ibu tiriku, menoleh ke belakang. "Arsen, nanti kalau sampai hotel, kamu bantu Papa angkat koper ya?"
"Iya," jawabku singkat.
Ia tersenyum kecil. Senyum yang selalu berusaha ramah, seolah ingin memastikan aku merasa diterima. Aku tidak membalasnya. Bukan karena tidak menghargai. Aku hanya belum tahu caranya menaruh perasaan itu di tempat yang benar. Aku belum bisa menganggapnya ibu. Tapi aku tidak bisa menyangkal satu hal—dia memberiku Gian. Dan untuk itu, aku tidak sepenuhnya merasa kehilangan rumah.
Hotel itu ramai saat kami tiba. Mobil-mobil berjejer, suara anak-anak tertawa bercampur dengan koper yang diseret di lantai batu. Gian langsung turun begitu pintu dibuka, melompat kecil kegirangan.
"Masss! Ingin!" serunya sambil menarik jaketnya.
Aku tersenyum kecil tanpa sadar, lalu mengambil jaket lain dan memakaikannya. "Pakai yang ini juga." Aku mengacak rambutnya pelan sebelum mengambil koper dari bagasi dan Gian masuk lebih dulu ke hotel bersama Gina.
Saat aku membantu papa untuk check-in hotel di receptionist, suara tawa yang sangat aku kenali terdengar. Aku melihat ke sekeliling lobby mencari sumber tawa tersebut dan di sanalah aku melihatnya.
Bell.
Ia berdiri tidak jauh dari pintu masuk, mengenakan hoodie kebesaran dengan rambut diikat setengah asal. Ia sedang mengomel, nadanya khas, tangannya bergerak cepat. Angga berdiri di belakangnya, memeluk adik cerewetnya itu, dan mendengarkan dengan senyum.
Dadaku mengencang tanpa izin.
Aku bisa melihat jelas cara Bell tertawa, cara ia menepuk lengan Angga dengan gemas. Ia tidak melihatku. Dan anehnya, aku tidak tahu apakah aku ingin ia melihat… atau tidak sama sekali. Aku menarik napas pelan, menundukkan kepala, lalu melangkah mengikuti Papa dan Gina ke arah lift.
Saat pintu lift menutup, bayangan Bell masih tertinggal di kepalaku. Seperti sesuatu yang seharusnya tidak kutemui. Tapi terlalu berarti untuk diabaikan.
To be continue