Author’s POV Tidak ada yang benar-benar menyadari perubahan itu di awal. Bell tetap datang ke sekolah dengan motor yang sama. Tetap ribut di kelas. Tetap celetukan tidak penting ke Jerry dan Daffa. Tetap tertawa keras bersama Romeo. Hanya saja ia tidak lagi lama. Bell datang. Bell tertawa. Bell pergi. Dan entah kenapa, setiap kali ia menghilang, arahnya selalu sama. Lapangan basket. Lorong kelas dua belas. Tangga belakang dekat ruang OSIS. Sudut kantin. Tempat-tempat yang… terlalu sering dilewati satu orang. Arsen. Romeo yang pertama kali menyadarinya. “Eh,” katanya sambil menyenggol Jerry dengan sudut sikunya pelan, “Lo sadar nggak sih, Bell jarang nongkrong bareng kita?” Jerry mengernyit. “Perasaan dari kemarin ada terus si Bell ga pernah absen.” “Iya ada, tapi bentar. Mana jara

