12

1358 Words
Author’s POV Bellvanya Aeryllin Hanne bukan tipe orang yang suka memperhatikan seseorang diam-diam. Biasanya kalau suka, ya terang-terangan. Kalau kesal, lebih terang lagi. Kalau penasaran—oke, yang ini agak abu-abu. Dan pagi ini, Bell melakukan sesuatu yang jelas-jelas masuk kategori tidak biasa. Mengikuti Arsen. Bukan mengikuti dalam arti menyeramkan, tentu saja. Ini lebih ke… berjalan dengan jarak aman. Jarak yang cukup untuk melihat, tapi cukup jauh untuk pura-pura tidak peduli. “Gue cuma kebetulan lewat,” gumam Bell pada dirinya sendiri untuk kesekian kalinya meyakinkan diri bahwa yang sedang ia lakukan ini bukan sengaja. Arsen berjalan di depan. Punggungnya tegak, langkahnya tenang. Tidak tergesa, tapi juga tidak santai. Seperti seseorang yang selalu tahu ke mana ia akan pergi. Bell memperhatikan satu hal kecil. Arsen selalu berjalan di sisi luar lorong. Memberi ruang bagi orang lain. Menghindari senggolan. Bahkan ketika ada siswa lain yang hampir menabraknya, Arsen yang mengalah lebih dulu. “Dih, Edward Cullen kah sampai senggolan sama orang juga takut”, pikir Bell. Terlalu lebay buat orang sok dingin. Ia berhenti di balik pilar ketika Arsen masuk ke area loker kelas dua belas. Bell pura-pura membuka ponsel, padahal matanya mengintip lewat pantulan kaca. Arsen membuka lokernya. Mengambil buku. Menutupnya dengan pelan. Tidak dibanting. Tidak diburu-buru. Ada dua siswi yang lewat, cekikikan. Salah satunya sengaja menjatuhkan pulpen tepat di depan kaki Arsen. Bell mendengus pelan tanpa sadar, menggerutu kesal melihat adegan cari perhatian itu di depan matanya. Terlebih saat Arsen memungut pulpen itu. Mengulurkannya kembali tanpa senyum. “Ini.” Cukup satu kata. Tanpa basa-basi. Tanpa tatapan berlebihan. Siswi itu tersenyum lebar. “Makasih, Arsen.” Arsen mengangguk singkat, lalu pergi. Bell mengerutkan kening, “Aneh,” bisiknya. “Kenapa dia nggak manfaatin situasi kayak gitu?biasanya ‘kan cowo seneng tu di modusin kayak gitu..” Kalau Ivan biasanya—Tidak, tidak, tidak, Bell menghentikan pikirannya sendiri. Tidak. Ini bukan tentang Ivan. Ia melanjutkan “kebetulan lewat”-nya ke arah lapangan basket. Dari kejauhan, Arsen berdiri bersama beberapa anak tim basket. Ia tidak banyak bicara. Tapi ketika salah satu anak tertawa terlalu keras, Arsen ikut tersenyum kecil. Kecil sekali. Hampir tak terlihat. Tapi Bell melihatnya. Dadanya terasa aneh. Seperti ada bagian dari dirinya yang berkata, kok gue ngerasa pernah lihat ini, ya? Bell mundur pelan sebelum ada yang menyadari kehadirannya. Ia berbelok cepat—dan hampir menabrak Ivan. “Whoa,” Ivan menahan bahunya. “Lo kenapa? Jalan sambil ngelamun.” Bell tersentak. “Hah? E-enggak. Gue—gue mau ke toilet.” Sambung Bell lalu berbalik untuk menghindari. Ivan menahan tangan Bell dan menyipitkan mata menatapnya penuh tanya. “Ke toilet lewat lapangan basket? Di dekat kelas lo kan ada..” Bell menepis tangannya. “Suka-suka gue dong.” Ivan tertawa. “Aneh.” “Iya, gue emang aneh,” Bell cepat-cepat pergi sebelum Ivan bertanya lebih jauh. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari seharusnya. Ia tidak mau Ivan tahu. Ia juga tidak mau teman-temannya tahu. Karena ia yakin, ini hanya perasaannya saja, cuma rasa penasaran. Pasti. ——- Jam istirahat pertama, Bell duduk di kantin bersama Romeo, Jerry, dan Daffa. Ivan ada di sana juga—terlalu dekat, terlalu hangat, terlalu biasa. Dan justru karena itu, pikiran Bell melayang ke satu orang yang tidak ada di meja itu. “Bell,” panggil Jerry. “Lo ngelamun lagi.” Bell tersentak. “Hah? Enggak.” Daffa menatapnya lama. “Lo keliatan kayak orang nyari sesuatu.” Bell mengangkat bahu. “Nyari jawaban hidup.” Romeo terkekeh. “Jawaban hidup lo cuma dua. Makan atau bolos.” Bell ikut tertawa, tapi matanya tanpa sadar melirik ke arah lorong. Kosong. Arsen tidak muncul. Dia biasanya ke mana pas istirahat, sih? Pertanyaan itu muncul begitu saja. Dan Bell membencinya. ——- Setelah jam pelajaran terakhir, Bell tidak langsung pulang. Ia berdiri di dekat tangga belakang, berpura-pura mengikat tali sepatu yang sebenarnya tidak lepas. Beberapa menit kemudian, Arsen muncul. Seragamnya rapi. Tas disandang di satu bahu. Langkahnya sama seperti pagi tadi. Bell menelan ludah. Ia mengikuti lagi. Kali ini lebih hati-hati. Arsen berhenti di depan papan pengumuman. Membaca sesuatu. Menghela napas pelan. Lalu mencoret sesuatu di ponselnya. Bell bersembunyi di balik tembok. Ya ampun, gue ngapain sih. Seolah membaca pikirannya, Arsen berbicara tanpa menoleh. “Lo nggak capek?” Bell membeku. “…apa?” Arsen menoleh pelan. Tatapannya tepat mengarah ke tempat Bell berdiri. “Ngikutin gue dari pagi.” Bell keluar dengan wajah tanpa dosa. “Siapa yang ngikutin? Gue cuma—” “Lo ga pinter bohong,” potong Arsen datar. “Kelihatan.” Bell membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Akhirnya mendecak. “Gue cuma pengen tau.” “Tau apa?” Bell menatapnya. Lama. “Apa gue pernah kenal lo, sebelum tantangan waktu, itu?” “Kita satu sekolah dari dulu, wajar kalau lo tau gue, dan gue tau lo.” jawaban Arsen aman dan masuk akal, tetapi tidak memuaskan untuk Bell. Bukan itu maksud pertanyaannya. “Bukan kenal karena satu sekolah, tapi.. akrab?” Kalimat itu menggantung di antara mereka. Arsen tidak langsung menjawab. Ada sesuatu di matanya yang berubah—bukan dingin, bukan hangat—lebih ke… waspada. “Kalo iya?” tanyanya pelan. Bell mengangkat bahu, sok santai. “Berarti gue yang lupa.” Hening sejenak. Arsen tersenyum kecil. Sangat kecil. Hampir tidak ada. “Lo selalu gitu,” katanya. Bell mengernyit. “Gitu apanya?” “Nyari jawaban tanpa sadar kalo lo udah deket sama jawabannya.” Bell menatapnya, kesal. “Lo bisa nggak sih jawab normal sekali aja?” Arsen tertawa pelan. Suara yang jarang Bell dengar. “Bisa,” katanya. “Tapi nanti.” “Nanti kapan?” “Nanti kalo lo inget sendiri.” Bell ingin memukulnya. Tapi entah kenapa, ia malah tersenyum kecil. Arsen melangkah pergi, tapi sebelum benar-benar menjauh, ia berhenti sebentar. “Oh ya, Bell.” Bell menoleh. “Cara lo ngikutin orang itu payah, harus lebih banyak belajar biar ga ketahuan kalau ngikutin gue diem-diem lagi.” ucap Arsen, menggoda Bell. Menurutnya, ekspresi kesal Bell sangat lucu dan polos. Bell mendengus. “Bilang aja lo seneng.” Arsen tidak menoleh lagi dan berjalan menjauh. Bell berdiri di sana beberapa detik setelah Arsen menghilang dari pandangan. Dadanya terasa hangat. Aneh. Tidak masuk akal. Ia mengerutkan kening. “Gue beneran pernah kenal dia, ya?” Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya, pertanyaan itu tidak terasa mengganggu. Tapi menunggu. Di sisi lain, Arsen masuk ke toilet lalu melompat, tersenyum lebar, dan tangannya melakukan gerakan “yes” berkali-kali. Ia mengekspresikan kegirangannya. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding, menghembuskan napas pelan. Tangannya terangkat tanpa sadar, menyentuh pergelangan kiri. Bekas itu masih ada. Garis tipis memanjang, warnanya lebih pucat dari kulit di sekitarnya. Luka lama. Terlalu lama untuk disebut kecelakaan. Terlalu nyata untuk dilupakan. Ujung jarinya mengusap bekas itu perlahan. Arsen menunduk, mengecup bekas luna di tangannya sendiri. Bertahun-tahun berlalu, luka itu tetap di sana. Tapi hari ini—untuk pertama kalinya—rasanya tidak sesakit biasanya. Bayangan Bell muncul lagi di kepalanya. Cara gadis itu bersembunyi setengah gagal. Cara ia pura-pura tidak peduli. Cara ia bertanya dengan nada cuek, padahal matanya serius. “Apa gue pernah kenal lo.” ucap Arsen menirukan Bell yang tadi bertanya dengannya. Arsen tersenyum. Bukan senyum puas. Bukan juga senyum kemenangan. Lebih seperti… lega. Akhirnya. Ia mengelus bekas lukanya lagi, kali ini sedikit lebih lama. Ada kenangan yang ikut terangkat bersama sentuhan itu—pantai, teriakan, air asin, rasa panik, dan tangan kecil yang dulu ia tarik sekuat tenaga. Arsen menghela napas. Lalu menggeleng. Ia menepuk pipinya dan mencuci mukanya. Seakan ingin menyadarkan dirinya bahwa belum saatnya ia merayakan. “Belum,” gumamnya pelan. “Belum waktunya.” Langkah kaki terdengar dari kejauhan. Arsen segera merapikan penampilannya, ekspresinya kembali datar. Wajah yang sama. Sikap yang sama. Arsen yang dikenal semua orang. Tak ada yang tahu bahwa di balik sikap dingin itu, ada hati yang sedang berharap—pelan, hati-hati. Bell mulai muncul di sekitarnya. Lebih sering dari seharusnya. Lebih dekat dari biasanya, namun, masih sukar untuk bisa ia raih. Tapi cukup dekat untuk membuatnya tersenyum diam-diam. Dan untuk Arsen, itu sudah lebih dari cukup. Untuk sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD