Author’s POV
Kadang, pertemuan paling berkesan datang tanpa direncanakan.
Bell menyadari hal tersebut sore itu, saat ia berdiri di depan minimarket tidak jauh dari sekolah, menatap rak es krim dengan wajah ragu. Jerry baru saja kabur dengan alasan "ingat ada tugas", yang padahal ia tau, Jerry sedang ada kencan dengan anak kelas sebelah, meninggalkannya sendirian dengan dompet tipis dan perut lapar.
"Kenapa yang enak-enak mahal semua sih," gumam Bell sambil menyipitkan mata ke arah freezer.
"Karena lo kebanyakan mikir, bukan kebanyakan uang." Suara itu datang dari belakang.
Bell menegang.
Ia berbalik perlahan, dan di sanalah Arsen berdiri. Kaos putih dengan logo merek kecil di d**a kirinya, seragam sekolah yang sudah tidak berkancing, rambut berantakan seperti habis kehujanan.
"Lo ngikutin gue?" tuduhnya refleks.
Arsen mendengus pelan. "Pede amat. Gue mau beli air. Kantin udah tutup jam segini."
Ia mengambil botol mineral dingin dari lemari pendingin seakan bukti.
Bell berdecak, lalu kembali menatap freezer ice cream, berusaha tidak memperdulikan keberadaan laki-laki incaran perempuan di sekolah, "Terus kenapa komen."
"Karena ekspresi lo serius banget," jawab Arsen santai. "Kayak lagi milih masa depan."
Bell meliriknya. "Memilih rasa es krim itu penting, karena kalau enak nanti ga bisa dinikmatin."
"Rasanya yang dipikirin atau harganya?" celetuk Arsen yang sepenuhnya benar, membuat Bell tidak berkutik dan mendengus kesal.
Arsen tersenyum kecil. Senyum yang jarang. Yang selalu muncul tanpa izin dan selalu berhasil membuat Bell kesal sekaligus... hangat.
"Jadi, lo mau yang mana?" tanya Arsen tiba-tiba.
"Hah?"
"Es krim," ulangnya. "Pilih aja."
"Ini juga lagi milih... yang murah" gumam Bell sembari menyipitkan mata curiga.
"Ngapain cari yang murah, udah pilih aja, sekalian gue bayar." ucap Arsen lalu memberikan uang tunai kepada pemilik mini market. "Mas lebihnya buat es krim dia."
"Eh? Ga perlu gue juga ada duit.."
Arsen mengangkat bahu. "Udah terlanjur bayar."
Bell mendecak, tapi tangannya tetap mengambil es krim, tidak hanya satu, tapi dua. "Ambil dua ya yang ini, soalnya lo maksa." ketus Bell lalu menyerahkan es krim tersebut ke kasir.
Mereka berjalan bersama keluar dari minimarket, tidak ada bahasa saling ajak, tetapi mereka memutuskan untuk duduk di bangku kecil depan minimarket. Sore merambat pelan, langit jingga, angin tipis berembus.
Mereka duduk dalam diam.
Bukan diam yang canggung. Tapi diam yang entah kenapa terasa nyaman.
"Lo kenapa belakangan jarang keliatan?" tanya Bell akhirnya, pura-pura fokus ke es krimnya.
Arsen tidak langsung menjawab. Ia meminum airnya pelan, lalu berkata, "Kenapa? Ada atau ngga gue juga biasanya lo gatau"
"Basa-basi aja sih gue" elak Bell.
"Mulai kangen ya dengan gue?" goda Arsen yang membuat Bell agak salah tingkah sedikit karena ada bagian dari dirinya yang merasa Arsen mulai ada ruang dihidupnya.
"Dih, gajadi nanya kalau gitu.." ketus Bell lalu kembali diam fokus dengan es krimnya. Sedangkan Arsen, mulai terhipnotis dengan Bell. Cantik tanpa perlu alasan, lucu, dan polos. Tidak ada aura Bell tomboy saat ini. Hanya ada Bell dan Es krim serta sudut bibir yang belepotan.
"Lucu.." gumam Arsen yang dapat di dengar oleh Bell. tertawa kecil. Tertawa beneran. Yang bikin Bell menoleh tanpa sadar.
"Apa?" tanya Arsen seakan tertangkap basah, lalu menegakkan badannya. Mengatur wajahnya kembali datar.
"Dih, harusnya juga gue yang nanya kenapa ketawa sendiri," jawab Bell jujur. "Aneh."
"Jarang bisa kayak gini, jadi harus gue nikmati," balas Arsen ringan.
Bell tersedak kecil.
Arsen meliriknya panik. "Kenapa? Pelan-pelan makannya, minum dulu ini.." Arsen memberikan air mineralnya pada Bell lalu mengusap punggung perempuan yang sempat menjadi pacarnya beberapa hari belakang.
Bell meneguk air itu tanpa berpikir, tenggorokkannya terasa hampir terbakar, "Lo tuh ngomong suka seenaknya. Kaget kan gue, jadi keselek. Geli banget.." jawab Bell setelah berhasil mengatur nafas.
Arsen hanya tersenyum, lalu mengusap air di atas bibir Bell dengan punggung tangannya.
Bell terdiam, tetapi tidak melawan. Tubuhnya memberikan reaksi untuk menerima itu.
"Bukannya lo yang biasa begitu? Ngomong asal ceplos.." jawab Arsen lalu kembali duduk menghadap taman di depan mini market.
Bell terdiam, lalu mendengus. "Fair."
Saya
Hening kembali menyapa. Tapi kali ini, Bell merasa ingin bertanya sesuatu yang sejak lama mengganjal.
"Sen," panggilnya pelan.
"Hm?"
"Sebenarnya ada apa sih antara lo, papa, dan Ivan? Kalian kok bisa saling kenal?"
Arsen menatap langit. "Panjang ceritanya.."
Arsen diam cukup lama. Terlalu lama untuk jawaban kenal atau tidak.
"Kadang," ucapnya akhirnya, "Ga tau apa-apa itu lebih baik."
"Baik buat siapa?"
"Buat orang yang pengen gue lindungin." satu jawaban dari Arsen yang tetap enggan memberitahu apa yang sebanarnya terjadi.
Bell menoleh cepat. "Maksud lo?"
Arsen tersenyum tipis. "Udah ah, gue mau balik."
Bell menggertakkan giginya. "Ga asik lo, ngomong setengah-setengah."
"Kalau gue ngomong penuh," balas Arsen pelan, "lo belum tentu siap."
Kalimat itu membuat d**a Bell menghangat sekaligus sesak.
Bell mendengus. "Telat. Gue udah terlanjur penasaran, siap ga siap harus tau."
Arsen tertawa kecil. Ia mengangkat tangan, ragu sesaat, lalu menepuk kepala Bell pelan "Jangan mikir yang aneh-aneh," ucapnya untuk sesaat mampu membuat Bell merasa.. aman?
"Menjadi pacarmu kurang dari 48 jam," ucap Arsen pelan, "adalah kesempatan yang akan selalu gue syukuri."
Bell terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat dari seharusnya.
Arsen tersenyum kecil, lalu melangkah pergi sebelum Bell sempat berkata apa pun. Meninggalkan Bell yang masih duduk di bangku iti, dadanya hangat, kepalanya penuh.
"Bell."
"Hah—" Bell tersentak, refleks berbalik sambil hampir menjatuhkan es krim di tangannya yang mulai mencair, "ASTAGA, DAFFA! JANTUNG GUE!"
Daffa berdiri di belakangnya dengan kantong plastik minimarket di tangan, wajahnya menahan tawa. "Santai dikit napa. Gue manggil baik-baik."
"Baik-baik pala lo," gerutu Bell sambil menepuk dadanya sendiri. "Lo muncul kayak hantu jam magrib."
Daffa terkekeh, lalu melirik jam tangannya. Alisnya terangkat sedikit. "Tapi emang udah mau maghrib sih ini."
Pandangannya bergeser ke arah jalan kecil di seberang minimarket—tepat saat punggung Arsen terlihat semakin menjauh, langkahnya tenang, tanpa menoleh.
"Oh," gumam Daffa. "Abis ketemuan sama mantan, ya?"
Bell mengikuti arah pandangnya, lalu buru-buru mengalihkan wajah. "Apaan sih."
"Cinta datang terlambat kah manis?" ejek Daffa lalu duduk di sampingnya.
"Cinta apanya, ga sengaja ketemu doang dibilang cinta. Kebanyakan nonton drama cina lo" seru Bell menyangkal lalu melanjutkan memakan es krimnya.
"Lagi lo kayak orang kesemsem, bengong kayak patung, terus Arsen jalan pergi," Daffa menyeringai kecil. "Kombinasi yang... menarik."
Bell mendecak. "Lo kebanyakan mikir."
"Justru lo," balas Daffa. Ia ikut berdiri di samping Bell, membuka minuman yang baru dibelinya. "Dari tadi gue perhatiin dari dalem. Lo ga biasanya diem."
Bell tidak langsung menjawab. Matanya menatap aspal, pikirannya masih tertinggal beberapa menit yang lalu. Kalimat Arsen. Senyumnya. Cara ia pergi tanpa menunggu reaksi.
"Daf," ucap Bell akhirnya. "Menurut lo... orang bisa berubah total ga sih?"
Daffa meliriknya sekilas. "Berubah gimana?"
"Kayak... dari dingin, terus asik, terus dingin lagi. Keliatannya nyebelin, dingin, nyolot. Tapi sebenernya engga."
Daffa tertawa kecil. "Itu bukan berubah. Itu lo baru ngeliat sisi lainnya aja."
Bell terdiam.
"Eh," Daffa tiba-tiba bersuara, nadanya ringan seolah membicarakan hal sepele. "Yang ada juga lo kali yang berubah, dulu deket banget sama Arsen pas udah gede musuhan, mana kayak orang ga kenal lagi.."
Bell menegang tanpa sadar. "Maksud lo?"
Daffa mengaduk sedotan di minumannya. "Masa lo ga inget sih," katanya santai, "dulu waktu kita SD, lo nempelnya sama Arsen."
Bell menoleh cepat. "Lah? Salah kali lo, orang gue deketnya sama Ivan" sangkalnya.
"Lu yang lupa," lanjut Daffa, masih dengan nada yang sama. "Sebelum ada Ivan jadi bayangan lo ke mana-mana, lo tu apa-apa ngadunya ke Arsen. Yang ngajarin lo main basket sama bola kan si Arsen.."
Bell mengerutkan kening. "Gue ga inget."
"Wajar," Daffa mengangkat bahu. "Lo kan emang pikunan, nyimpen apa-apa dimana juga lo ga inget. Apalagi ingetan SD."
Ada sesuatu yang bergerak di kepalanya. Potongan kecil. Sangat samar. Seorang anak laki-laki. Duduk di ujung lapangan. Memberikan botol dengan ocehan yang samar.
"Lagi itu udah lama banget," tambah Daffa pelan. "Gue juga lupa deh kenapanya bisa sampai musuhan. Habis itu Arsen kayak... ngilang dari hidup lo. Dan lo jadi apa-apa Ivan."
Bell menelan ludah. Dadanya terasa sedikit sesak, tanpa ia tahu kenapa.
"Boong lu ah.. " sangkalnya lirih. "Kok gue ga inget sama sekali."
"Mungkin karena bukan hal penting buat lo," jawab Daffa jujur. "Atau mungkin... ada yang bikin lo lupa."
Bell terdiam lama.
Ia bangun dari duduknya menatap Bell, "Ayo gue anter pulang. Jangan pulang kemaleman."
Bell mengangguk pelan. Angin sore kembali bertiup. Bell menatap jalan yang tadi dilewati Arsen, pikirannya penuh oleh satu fakta yang baru saja mengetuk kesadarannya.
Kalau benar ia pernah sedekat itu dengan Arsen...
Maka yang hilang dari ingatannya... bukan sekadar kenangan kecil. Tapi awal dari sesuatu yang lebih besar.