Author’s POV Pagi itu, Bell datang ke sekolah dengan langkah ringan. Terlalu ringan, bahkan untuk dirinya sendiri. Bukan karena tidak ada masalah, justru karena terlalu banyak hal yang ia pilih untuk tidak dipikirkan. Tentang Arsen yang menjauh. Tentang sikap dingin orang tuanya. Tentang kalimat-kalimat yang terdengar seperti rahasia tapi tak pernah benar-benar dijelaskan. Bell memilih satu hal yang paling ia kenal sejak kecil. Ivan. Ivan selalu ada dengan cara yang sama. Tidak berubah. Tidak rumit. Tidak membuat Bell harus menebak-nebak isi kepalanya. Ia datang dengan senyum lebar, candaan receh, dan gombalan yang selalu terdengar setengah bercanda, setengah sungguhan. "Bell," sapa Ivan begitu melihat gadis itu berjalan ke arah bangku taman sekolah. "Lo jalan kayak orang habis menang

