10.

1255 Words
Author’s POV Pagi itu, Bell datang ke sekolah dengan langkah ringan. Terlalu ringan, bahkan untuk dirinya sendiri. Bukan karena tidak ada masalah, justru karena terlalu banyak hal yang ia pilih untuk tidak dipikirkan. Tentang Arsen yang menjauh. Tentang sikap dingin orang tuanya. Tentang kalimat-kalimat yang terdengar seperti rahasia tapi tak pernah benar-benar dijelaskan. Bell memilih satu hal yang paling ia kenal sejak kecil. Ivan. Ivan selalu ada dengan cara yang sama. Tidak berubah. Tidak rumit. Tidak membuat Bell harus menebak-nebak isi kepalanya. Ia datang dengan senyum lebar, candaan receh, dan gombalan yang selalu terdengar setengah bercanda, setengah sungguhan. "Bell," sapa Ivan begitu melihat gadis itu berjalan ke arah bangku taman sekolah. "Lo jalan kayak orang habis menang undian." Bell mendengus sambil duduk di sampingnya. "Ngaco. Gue cuma lagi good mood." Ivan menyipitkan mata, pura-pura menilai. "Karena ada gue, ya?." "PD amat," sahut Bell cepat. Ivan tertawa, lalu merangkul pundak Bell dengan santai, seperti kebiasaan mereka sejak dulu. Tidak ada canggung. Tidak ada jarak. Hanya keakraban yang sudah terbangun bertahun-tahun. "Eh, lo tau nggak," Ivan mencondongkan wajahnya sedikit, "kalau lo senyum, cantik banget, cocok jadi wallpaper HP." Bell mendorong dahinya. "Mana? Ga di jadiin wallpaper tuh." "Senyum dulu makanya." Bell tersenyum. Refleks. Alami. Seperti ketika ia kecil dan Ivan selalu berhasil membuatnya tertawa hanya dengan satu kalimat bodoh. "Gini bukan senyumnya?" tanya Bell lalu merubah ekspresi senyumnya menjadi wajah jelek yang dibuat-buat. Ivan tertawa. "Udah pinter ngelawak juga sekarang ya. Cocok jadi komeng" ejek Ivan yang membuat Bell ikut tertawa. "Spontan Uhuy!" sahut Bell yang membuat tawa keduanya pecah. Ivan tertawa sembari menjatuhkan kepalanya pada pundak Bell. Sentuhan Ivan terasa nyaman. Aman. Seperti rumah lama yang selalu terbuka pintunya. Tidak ada rasa gugup. Tidak ada jantung yang berdetak terlalu cepat. Tidak ada pikiran aneh yang membuat Bell ingin lari atau bersembunyi. Hanya nyaman. Ivan menyadari itu. Dan ia menyukainya. Ia menyukai fakta bahwa Bell tidak menolak ketika tangannya menggenggam pergelangan Bell sambil menunjuk sesuatu. Ia menyukai cara Bell membiarkannya merapikan rambutnya yang berantakan. Ia menyukai kebebasan itu. Terlebih lagi, Ivan tahu ada sepasang mata yang melihat. Arsen berdiri tidak jauh dari sana. Di lorong kelas dua belas, dengan seragamnya yang rapi dan wajah yang selalu tenang. Dari posisi itu, Arsen bisa melihat semuanya. Cara Ivan tertawa lepas. Cara Bell ikut tersenyum. Cara Ivan mencondongkan tubuhnya terlalu dekat. Ivan sengaja. Tangannya naik, menjepit pipi Bell pelan. "Makin gede kok makin lucu, sih." Bell menepis. "Ih, jangan cubit-cubit, ntar naksir." "Lho? Dulu juga gue udah naksir." "Dulu gue cantik, sekarang kan gue kayak komeng." "Sekarang juga masih," Ivan terkekeh. Bell memutar mata, tapi tidak benar-benar marah. Ia sudah terbiasa dengan Ivan yang seperti itu. Terlalu akrab. Terlalu bebas. Dari kejauhan, Arsen melihat bagaimana Bell tidak menjauh. Tidak menolak. Tidak menunjukkan ketidaknyamanan. Dan ia memalingkan wajahnya. Keputusan sudah diambil. Ia tidak akan masuk ke ruang yang jelas-jelas tidak ingin ia ada. —- Jika ada satu hal yang selalu konsisten dalam hidup Bell, itu adalah lingkaran kecilnya. Romeo dengan tawanya yang keras dan sikap dewasanya. Daffa dengan sikap kalem dan komentar pedasnya. Jerry yang polos dan selalu jadi korban keisengan. Dan pagi itu, ada satu nama yang kembali masuk ke lingkaran itu dengan mulus. Ivan. Mereka duduk di salah satu meja panjang di kantin, tertawa terlalu keras untuk ukuran jam pelajaran yang belum lama dimulai. Bell duduk di tengah, menyedot minumannya sambil mendengarkan pertengkaran tidak penting antara Romeo dan Jerry. "Gue bilang juga apa," ujar Romeo sambil menunjuk Jerry. "Kalau kapas 1 kg dengan besi 1 kg, kalau kena kaki ya sakitan besi la. Gimana sih? Otak ayam dasar!" "Eh! Ayam tuh pinter, Yo!" protes Jerry. "Lebih pinter dari lo!" Daffa terkekeh. "Dua-duanya ngaco. Yang bener itu, kalian berdua kayak ayam, berisik." Bell tertawa, dan tawa itu menular. Ivan yang duduk di sebelahnya ikut tersenyum, lalu tanpa ragu menyandarkan lengannya di bahu Bell. Gerakan yang terlihat natural, seolah memang sudah lama dilakukan. "Gue kangen momen gini," ucap Ivan santai. "Ribut, tapi berasa hidup. Ga kayak di sekolah lama gue, pada apatis." Romeo melirik mereka berdua, lalu menyeringai lebar. "Nah, ini baru lengkap. Dari dulu juga Bell paling cocok sama lo, Van." Bell mendecak. "Apaan sih." "Tuh kan," sambung Jerry polos. "Dari kecil juga Ivan mulu yang di buntutin Bell. Gue sampe hafal." Ivan terkekeh. "Karena gue kan kesayangan." Daffa mengangguk setuju. "Tapi serius," katanya sambil menatap Ivan. "Kalau lo ada di sini, suasananya beda. Lebih... nyatu." Ivan mengangkat alis, pura-pura bangga. "Berarti gue lulus seleksi circle dong." "Lulus," jawab Romeo cepat. "Asal jangan tinggalin Bell ke luar negeri lagi aja, bisa galau berbulan-bulan nanti dia." Ivan menoleh ke Bell, lalu tersenyum lembut. "Oh iya? Masa sih? Mana mungkin." Bell menatap wajah Ivan yang terlalu dekat. Tetap tidak ada getaran aneh. Tidak ada jantung yang melonjak. Yang ada hanya rasa aman, seperti duduk di bangku lama yang sudah hafal bentuk tubuhnya. Nyaman. Ivan menyadarinya. Dan ia memanfaatkannya dengan cara yang tidak terlalu halus. Tangannya naik, merapikan poni Bell yang jatuh ke dahi. "Rambut lo makin panjang." Bell menepis pelan. "Ya kalau makin pendek, ntar dikira buci lagi." Jerry terkekeh. "Ih, jangan deh Bell, geli gue ngebayanginnya." "Ya gausah dibayangin keles," balas Romeo tanpa dosa. Tawa pecah lagi. Di kejauhan, Arsen berdiri di tepi kantin. Tidak ikut duduk. Tidak ikut tertawa. Ia hanya melihat. Dari jarak yang aman. Dari jarak yang ia pilih sendiri. Ia melihat bagaimana Bell tertawa lepas. Bagaimana Ivan menyatu dengan lingkaran itu tanpa usaha. Bagaimana sahabat-sahabat Bell menerimanya tanpa curiga. Arsen tahu, ia tidak akan pernah berada di posisi itu. Bukan karena tidak mau. Tapi karena tidak diberi ruang. Ia memalingkan wajah, melangkah pergi sebelum rasa itu semakin dalam. --- Jam pelajaran berjalan lambat. Tapi jam istirahat kedua terasa cepat, karena Bell kembali menghabiskannya bersama kelompok yang sama. Mereka duduk di taman belakang sekolah. Ivan berdiri di belakang Bell, menekan pundaknya pelan. "Pijet gratis," katanya. "Lo emang niat atau cari kesempatan?" Bell menyeringai. "Dua-duanya." Romeo menggeleng. "Ck. Gombalnya alami banget." "Jam terbang," jawab Ivan santai. Daffa memperhatikan dari jauh, lalu bersuara, "Bell keliatan lebih... santai." Bell berhenti sebentar. "Maksud lo?" "Biasanya lo ribut. Sekarang ributnya beda," jawab Daffa jujur. Bell terdiam, lalu mengangkat bahu. "Mungkin karena lagi capek mikir." Ivan mencondongkan tubuh. "Makanya jangan mikir. Gue ada." Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi cukup membuat Jerry bersiul menggoda. Namun, di sela kehangatan itu, Bell tanpa sadar melirik ke arah lapangan basket. Kosong. Arsen tidak ada. Dan entah kenapa, itu membuat dadanya terasa sedikit... hampa. --- Dari kejauhan, Arsen berdiri di balkon lantai dua gedung sekolah. Seragam basketnya belum diganti. Tangannya bersedekap, punggungnya bersandar pada pagar besi. Tatapannya jatuh ke taman. Ia melihat semuanya. Cara Ivan duduk terlalu dekat. Cara tangan mereka saling menggenggam. Cara Bell tersenyum kecil, meski tidak selebar biasanya. Arsen tidak bereaksi. Tidak ada rahang yang mengeras. Tidak ada tinju yang mengepal. Tidak ada langkah yang bergerak mendekat. Ia sudah membuat pilihannya. Menjauh. Bukan karena tidak peduli. Justru karena terlalu peduli. Arsen mengalihkan pandangan. Tangannya meraih ponsel. Ada pesan dari Angga yang belum dibaca sejak pagi. Gue tau masalah itu bukan salah lo, tapi terlalu sulit untuk meyakinkan ke Papa kalau itu bukan salah lo, jadi tolong jaga jarak dari Bell dulu. Arsen menghela napas pelan. Ia memasukkan ponsel kembali ke saku tanpa membalas. Di balik sikap dinginnya, ada sesuatu yang berat mengendap. Sesuatu yang berkaitan dengan masa lalu. Dengan janji. Dengan kesalahan yang tidak pernah benar-benar selesai. Ia tahu satu hal dengan pasti. Jika Bell tahu semuanya, ia akan terluka. Dan Arsen tidak akan membiarkan itu terjadi. Bahkan jika itu berarti ia harus mundur sepenuhnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD