Bell’s POV
Sejak tadi, ada sesuatu yang berubah.
Aku menarik pelan sudut jaketnya dan mendekatkan wajahku pada bahunya, “Lo baik-baik aja? Kayak yang bete gitu. Lagi berantem sama orang tua?” tanyaku.
Ada sedikit perasaan khawatir. Hawa dingin dan ketegangan yang sangat terasa saat pertemuan anak dan orang tua tadi.
Ia bergeming, tetap mengendarai motornya dalam diam. Tidak sedikitpun menjawab.
Motor berhenti tepat di depan rumahku, tapi cara Arsen mematikan mesin, melepas helm, bahkan hanya diam di sana, terasa… berbeda. Tidak ada lagi nada santai, tidak ada usil kecil yang tadi sore sempat muncul.
Ia Dingin. Lagi.
“Sampai,” katanya singkat.
Aku turun dari motor dan membuka helmku sendiri. “Makasih.”
Arsen mengangguk, “Nanti motor Jerry akan diantar oleh teknisi keluarga gue langsung,” jelasnya namun tetap tidak menatapku. Pandangannya justru tertuju ke arah pintu rumahku, yang tertutup rapat. Dapat kulihat wajahnya sedikit menegang namun hanya sekilas.
Aku mengikuti arah pandang Arsen. Abang Angga menatap kami dengan ekspresi yang sulit k****a. Bukan marah. Bukan juga ramah.
Arsen melangkah turun dari motornya dan sedikit menunduk. “Bang.” Sapanya.
Baru beberapa langkah ia mendekat, suara Abang Angga terdengar sangat dingin dan acuh. Nada bicara yang tidak pernah aku dengar sebelumnya, “Pulang.”
Satu kata. Datar. Tapi cukup membuat bahu Arsen menegang.
“Baik,” jawab Arsen pelan.
Dia menoleh padaku sebentar. Sangat singkat. Lalu kembali mengenakan helmnya.
“Gue pulang.” Pamitnya
Tanpa tambahan apa pun.
Motor itu melaju pergi, meninggalkan suara mesin yang semakin menjauh. Aku masih berdiri di sana ketika Bang Angga menepuk bahuku pelan.
“Masuk, jangan sampai papa tau lo balik dengan dia,” Aku menoleh. “Emang kenap—”
“Ya pokoknya jangan sampai tau” potongnya.
Malam itu, aku tidur dengan perasaan tidak enak. Otakku terus memutar ulang wajah Arsen. Cara bahunya menegang. Tatapan kosongnya. Seolah-olah sesuatu yang tadi sore sempat terbuka, kembali ditutup paksa. Dan yang lebih aneh, Arsen dan Bang Angga seakan saling menyiratkan sesuatu, seakan sudah kenal lama.
“Ada apa ya..” gumamku dalam hati.
~~~
Aku seharusnya sadar, pagi itu tidak akan berjalan normal sejak melihat dua motor terparkir rapi di depan rumahku.
Satu motor milik Ivan.
Satu lagi—yang hitam, bersih, dan terlalu tenang—milik Arsen.
Aku berdiri di balik pintu sambil menyilangkan tangan, menatap pemandangan itu dengan dahi berkerut. Dua laki-laki kelas dua belas. Dua nama yang selalu punya caranya sendiri untuk membuat hidupku ribet. Dan anehnya, mereka berdiri di tempat yang sama, dengan tujuan yang sama.
Menjemputku.
“Kenapa hidup gue akhir-akhir ini jadi kayak orang penting sih,” gumamku sebelum akhirnya membuka pintu.
Ivan adalah orang pertama yang menoleh. Seperti biasa, senyum lebarnya langsung terbit begitu melihatku. Senyum yang sudah kukenal sejak kecil, senyum yang selalu berhasil membuatku merasa aman.
“Pagi, Bell,” sapanya ringan. “Ayo berangkat, nanti telat.”
Aku tersenyum, mendekat ke motornya. “Udah biasa telat gue mah,”
Ia hendak membalas ketika suara lain menyela.
“Bell.”
Arsen.
Suaranya datar. Wajahnya juga. Tapi matanya—aku tidak tahu kenapa—selalu terasa berbeda jika menatapku terlalu lama. Seperti sedang menahan sesuatu yang tidak ingin keluar.
“Gue berangkat dengan Ivan, kan gue udah bilang kemarin, gamau berangkat sama lo” jelasku.
“Gaboleh,” jawabnya singkat. “Berangkatnya harus sama gue.”
Ivan menyandarkan tubuh ke motornya. “Santai aja. Bell bareng gue juga aman.”
Arsen menoleh ke arahnya. Tatapan itu dingin. Terlalu dingin untuk sekadar obrolan pagi.
“Dulu juga begitu,” jawab Arsen. “Nyatanya tidak aman.”
Aku langsung menoleh ke Arsen. “Dulu? Maksudmu?”
Ivan tertawa kecil, tapi senyumnya tidak sampai ke mata. “Masih aja sok pahlawan. Dari dulu juga tidak becus.”
Aku merasakan udara berubah. Seperti ada sesuatu yang tidak kelihatan, tapi jelas terasa. Bukan cuma soal aku. Ada sesuatu di antara mereka. Sesuatu yang sudah ada jauh sebelum aku berdiri di sini.
“Lo nggak berubah, Van,” ucap Arsen pelan. “Masih sama.”
Ivan mendekat satu langkah. “Dan lo masih jadi si paling baik.”
“Oke, stop,” potongku kesal. “Ini ada apa sih? Kalian saling kenal?”
Ivan menoleh padaku dan senyum itu kembali. “Ga ada apa-apa, Bell. Jadi berangkat, ‘kan? Yuk..”
Aku menghela nafas dan mengangguk. Bersyukur aku bukan orang yang kepo, jadi apapun yang mereka perdebatkan, selama bukan tentang aku, aku tidak akan ikut campur.
“Arsen, udah ya, gue ikut Ivan,” kataku tegas. “Gue bukan anak kecil yang harus diatur-atur.”
Arsen menatapku. Lama. Seolah mencari sesuatu di wajahku.
“Anya.”
Suara itu membuat kami bertiga terdiam.
Papaku—Abra—berdiri di ambang pintu. Tangannya bersedekap, wajahnya serius. Di belakangnya, Angga, kakakku, ikut berdiri dengan ekspresi yang sulit kuterjemahkan.
Tatapan papa langsung tertuju pada Ivan. Lalu ke Arsen. Dan berhenti di sana lebih lama dari yang seharusnya.
“Kalian berdua,” ucap Ayah pelan tapi tegas, “tidak perlu menjemput Bell.”
Aku menoleh cepat. “Pa?”
“Anya berangkat sama papa,” lanjutnya. “Hari ini.”
Aku mengerutkan kening. “Tapi pa—”
“Tidak,” potong papa. “Papa tidak mengizinkan.”
Arsen menegang. Ivan menghela nafas panjang. Dan Bang Angga melangkah maju satu langkah, berdiri di antara keduanya. Tatapannya ke arah Arsen tajam, lebih dari semalam.
“Kalian denger,” ucap Angga dingin. “Jangan memaksa hadir lagi di kehidupan adek gue.”
Aku melirik Angga. “Bang, apaan sih?” Entah kenapa kalimat itu yang membuatku kesal.
Arsen menatapku lagi. Kali ini berbeda. Ada sesuatu yang padam di sana. Ia menghela nafasnya.
“Maaf,” ucapnya pelan. “Saya hanya—”
“Cukup,” potong Papa. Tatapannya ke Arsen keras. “Kamu seharusnya tahu batas. Kalian semua.”
Kalimat itu seperti memiliki arti lain. Sesuatu yang hanya mereka berempat—Papa, Angga, Ivan, dan Arsen—yang mengerti. Aku tidak.
Dan aku membenci itu. “Ini ada apa sebenarnya?”
Ayah melangkah mendekat. “Arsen.”
Satu kata itu cukup.
Arsen menarik napas, lalu mengangguk kecil. Dia mengenakan helmnya, naik ke motor, dan pergi tanpa menoleh lagi. Ivan pun sama.
Aku masuk ke mobil Papa dengan perasaan campur aduk.
Dalam perjalanan ke sekolah, aku menatap keluar jendela. Bayangan Ivan masih ada di kepalaku. Aku marah karena Ayah melarang aku berangkat bersamanya, padahal aku sudah lama menantikan momen itu. Aku kesal karena Arsen harus ada di sana. Tapi di sela semua itu, wajah Arsen—tatapannya yang tertahan—terus muncul.
“Pa,” ucapku akhirnya. “Ada apa sih sebenernya?”
Papa terdiam beberapa detik. Ia mengelus kepalaku, “Jangan dipikirin, Papa cuman gamau anak perempuan papa ini kenal cinta-cintaan. Fokus belajar, fokus sama nilai kamu yang jelek itu” jawabnya yang tidak memuaskanku. Aku harus tau apa yang terjadi sebenar-benarnya, dan mungkin harus aku cari tau sendiri.
Di sekolah, Ivan menungguku di depan kelas. Senyumnya kembali seperti biasa.
“Next time, pasti bakal gue jemput lagi oke. Jangan sedih yaa pengagum kecilku. Ini hanya perlu komunikasi aja dengan om..” ejek Ivan.
“Siapa yang sedih deh, pede terus ni. Sana masuk ke kelas, belajar mau ujian..” jawabku dan Ivan mengangguk lalu berjalan meninggalkan kelasku.
Saat aku akan melangkah masuk, aku melihat Arsen melewati depan kelasku. Dingin. Fokus. Tidak menoleh sama sekali. Seolah pagi tadi tidak pernah terjadi. Tapi diriku seakan terdorong untuk menanyakan keadaannya, ada hal yang rumit dan rapuh yang dapat ku tangkap dari kejadian kemarin juga pagi ini.
“Lo baik-baik aja?” tanyaku.
Ia berhenti. Tidak menoleh. “Kenapa lo peduli?”
“Karena gue...” kalimat itu menggantung, karena aku pun tidak tau kenapa aku peduli.
“Ga perlu peduli, kalau memang lo ngga ngerasain itu.” sanggahnya lalu berlalu begitu saja, yang entah kenapa membuat hatiku terasa hangat dan nyeri sedikit. Agak sesak.
Aku mendengus. “Dasar menyebalkan.”
~~~
Aku baru sadar satu hal penting pagi ini. Arsen sepertinya memiliki kepribadian ganda, mungkin karena itu keluargaku tampak sangat marah tadi aku dekat dengannya. Mungkin ia memang berbahaya.
Hal ini sangat mendukung hipotesisku, versi pertama adalah Arsen yang aku lihat kemarin sore. Yang duduk santai di balik kemudi mobil golf, menertawakan Gian yang salah melempar bola, yang membiarkan adiknya memanjat tubuhnya seperti tiang panjat, yang tersenyum tanpa terasa dipaksakan.
Versi kedua adalah Arsen yang sekarang ada di sekolah. Dingin. Tegak. Tatapannya lurus ke depan seperti dunia ini tidak cukup penting untuk ditoleh sedikit saja.
Padahal harusnya aku bersyukur. Harusnya aku senang Arsen kembali menjadi Arsen yang biasa. Arsen yang tidak bikin dadaku berdebar tanpa izin. Arsen yang menyebalkan dengan caranya sendiri. Dan aku tidak perlu menjaga jarak karena tampaknya ia sudah menjaga itu lebih dulu. Seakan kembali ke awal sebelum tantangan itu terjadi.
Tapi nyatanya, aku justru merasa… kehilangan.
“Bellvanyaa,” bisik Jerry pelan dengan suara nafas yang dibuat-biat seolah sedang menakut-nakuti.
Aku tersentak. “Apaan sih.”
Jerry mendecak. “Dari tadi lo melamun. Dipanggil ga sadar-sadar, gue kira lo kesurupan.”
“Ngaco,” bantahku cepat, terlalu cepat sampai Jerry menyeringai curiga.
“Hmm, kalau ga kesurupan, berarti lo lagi banyak pikiran.” lanjut Jerry yang terus menatapku curiga.
“Banyak pikiran? Kepalanya kosong begitu gimana bisa mikir..” sahut Daffa mengejekku.
Aku hendak membalas ketika pintu kelas terbuka. Guru masuk dan pelajaran di mulai.
Tapi naas. Aku tidak bisa fokus karena terus memikirkan hal tadi pagi, arsen yang berkepribadian ganda, dan Ivan. Serta drama yang terjadi pagi tadi.
Jam istirahat, aku berdiri di depan kantin sambil menggigit sedotan minuman. Mataku otomatis mencari satu kepala hitam yang terlalu mudah dikenali.
Arsen duduk di meja pojok, sendirian, seperti biasa. Beberapa siswi berani duduk tak jauh darinya, berpura-pura tertawa keras agar diperhatikan. Arsen tidak peduli. Tangannya sibuk dengan ponsel.
Aku mendengus. Sombong.
Entah dorongan dari mana, kakiku melangkah mendekat. Aku berhenti tepat di depan mejanya.
“Nah gini, lega gue, balik ke setelan awal,” ucapku tanpa basa-basi menepuk bahunya seakan kami akrab.
Arsen mengangkat kepala perlahan. Tatapannya jatuh tepat ke mataku. Netral. Tenang.
“Lagi kita bukan pasangan sungguhan” jawabnya datar. Jawaban itu seperti air dingin disiramkan ke kepalaku.
“Oke,” kataku menyeringai sinis. “Berarti sekarang kita deal ya, hubungan kita berakhir. Putus..”
Arsen kembali menunduk, seolah interaksi barusan tidak berarti apa-apa. Tapi aku melihatnya. Dari sudut mataku. Senyum yang cepat hilang itu tidak muncul di sudut bibirnya. Seakan ia memang tidak menyukai akhir cerita kami.
~~
Hari ini aku berada lebih lama dari biasanya di sekolah. Yup, bukan Bell namanya kalau tidak membuat satu masalah untuk satu hari. Setelah tadi tidak salah target menumpahkan mie gelas yang harusnya ke Daffa, justru mendarat ke guru paling mematikan di sekolah. Lagi dan lagi, aku dipanggil lagi ke ruang bimbingan konseling untuk menerima omelan serta merta dengan hukuman. Saat keluar, langkahku terhenti ketika melihat Arsen berdiri di lorong dengan seragam basketnya dan ponsel di telinga.
“Iya, Gian,” ucapnya pelan, sangat berbeda dari nada dinginnya di sekolah. “Mas pulang agak telat. Nurut sama Bibi.”
Aku melambatkan langkah tanpa sadar.
“Udah makan? Jangan bohong,” lanjutnya. Ada nada sabar di sana. Hangat. “Nanti Mas bawain roti cokelat, tapi jangan bilang Mami.”
Aku terdiam.
Itu Arsen yang kemarin. Yang bicara lembut. Yang mengelus rambut Gian sambil tertawa kecil.
Aku hendak pergi saat Arsen menoleh dan menyadari kehadiranku. Ekspresinya berubah. Cepat. Terlalu cepat. Hangat itu menghilang, digantikan wajah datar yang kukenal.
Telepon dimatikan.
“Lo nguping?” tanyanya.
“Pede banget,” balasku. “Gue kebetulan lewat.”
Kami berdiri berhadapan dalam jarak terlalu dekat. Aku baru menyadari ada goresan tipis di pergelangan tangannya. Seperti bekas luka lama.
“Itu apa?” tanyaku spontan sambil menunjuk.
Refleks Arsen menarik tangannya ke belakang.
“Bukan urusan lo.”
Nada suaranya tidak keras. Tapi cukup membuatku tahu aku menyentuh batas yang tidak boleh kulewati.
“Gue cuma nanya,” kataku lebih pelan.
Arsen menatapku beberapa detik, lalu menghela napas. “Luka lama.”
“Karena berantem?” tebakku.
“Karena jaga orang ceroboh,” jawabnya tanpa menatapku. Ia melangkah pergi, meninggalkanku dengan rasa penasaran yang menggantung.
- to be continue -