Bell’s POV
Sore itu berjalan lebih lambat dari biasanya.
Entah karena matahari yang masih enggan turun, atau karena pikiranku terlalu sibuk memproses terlalu banyak hal dalam waktu singkat. Mobil golf Arsen melaju pelan menyusuri jalanan komplek yang rapi dan tenang. Di kiri kanan, deretan rumah mewah berdiri anggun, seolah ikut menjaga privasi penghuninya.
Aku duduk di kursi belakang, memangku Gian yang masih semangat meski sudah capek berlarian. Bocah itu sibuk menunjuk apa pun yang menarik perhatiannya.
“Mas Alsen! Liat! Kolam ikan lele!”
“Iya, Gian. Itu namanya kolam koi, bukan kolam lele,” jawab Arsen santai dari balik kemudi.
“Lele juga ikan.”
“Iya, tapi kalo ini isinya lele, rumahnya udah kabur semua.”
Aku tertawa kecil tanpa sadar. Gian langsung menoleh ke arahku dengan wajah puas, seperti baru saja berhasil membuat prestasi besar.
“Mas Alsen lucu an, Mba?” katanya bangga.
“Hmm dikit,” jawabku jujur. “Dikitt banget.”
“Dikit tapi mahal,” sahut Arsen cepat.
Aku melotot. “Pede banget.”
Arsen hanya tersenyum tipis, fokus menyetir lagi. Entah kenapa, senyum itu terasa berbeda. Bukan senyum mengejek yang biasa ia pamerkan di sekolah. Lebih ringan.
Mobil golf berhenti di dekat taman kecil dengan bangku kayu dan pepohonan rindang. Gian langsung minta turun.
“Mba, tulunin! Gian mau main kejal-kejalan ama Mas Alsen!”
“Main sama aku aja, aku juga jago lari” tawarku.
Gian menggeleng kuat-kuat. “Nggak. Mas Alsen ebih cepet.”
Aku mendengus. “Sombong amat.”
Arsen turun, lalu berjongkok di depan Gian. “Aturannya satu. Kalo Mas ketangkep, Gian boleh di gendong Mas kalau kita ke mall.”
“Deal!”
Aku menyilangkan tangan di d**a, menonton mereka berdua mulai berlari kecil di taman. Gian tertawa lepas, suara tawanya nyaring dan jujur. Arsen sengaja memperlambat langkahnya, sesekali menoleh ke belakang, berpura-pura panik saat Gian hampir menyentuh kaosnya.
“Mas, angan culang!” teriak Gian.
“Mas belum lari serius,” balas Arsen.
“Bohong!”
“Mas hitung tiga ya. Satu… dua—”
“Mas!” Gian langsung menyeruduk Arsen dari samping, membuat mereka berdua hampir jatuh ke rumput.
Aku tertawa lagi. Kali ini lebih lepas.
Pemandangan itu… aneh. Tapi hangat. Arsen yang kukenal selalu dingin, pendiam, dan seolah tidak tertarik pada dunia sekitar. Tapi di hadapanku sekarang, ia adalah kakak yang sabar, usil, dan jelas sangat menyayangi adiknya.
“Kok lo beda banget sama di sekolah?” celetukku tanpa sadar saat mendekati mereka.
Arsen menoleh, masih jongkok sambil memegang bahu Gian. “Beda gimana?”
“Ya… nggak nyebelin.”
“Gue nyebelin ke lo doang berarti.”
Aku ingin membalas, tapi Gian lebih dulu menyela. “Mas Alsen emang gitu cama orang lain.”
“Gue orang lain?” tanyaku sambil menunjuk diri sendiri.
Gian berpikir sejenak, lalu menggeleng. “Mba Bell beda.”
Aku mengernyit. “Bedanya apa?”
Gian mendekat, berbisik di telingaku, tapi cukup keras untuk didengar Arsen. “Mba Bell suka bikin Mas Alsen senyum-senyum cendili di umah.”
Aku membeku.
Arsen berdiri terlalu cepat.
“Gian,” tegurnya singkat.
Gian nyengir lebar, lalu berlari ke mini market yang tidak jauh dari taman. Aku bangkit perlahan, menepuk-nepuk celana, berusaha mengabaikan detak jantung yang mendadak tidak normal.
“Anak lo itu suka ngaco,” gumamku.
“Dia jujur,” balas Arsen datar.
Kami terdiam beberapa detik. Sunyi, tapi tidak canggung. Lebih seperti jeda yang nyaman. Kami mengikuti Gian yang membuka pendingin untuk mengambil minuman.
Gian menghampiri kami sambil membawa botol minum kecil. “Mas, Gian haus.”
Arsen langsung mengambil botol itu, memberikan ke kasir untuk di scan, lalu membuka tutupnya, lalu menyerahkan kepada Gian. “Minum pelan-pelan.”
Gian menurut, aku menatap Arsen lama. “Lo capek nggak?”
“Capek dikit.”
“Kalo tapek, ini minum Mas.”
Arsen terkekeh kecil. “Gian abisin aja, mas juga beli kok..”
Aku menahan senyum. Percakapan mereka terdengar sederhana, tapi terasa penuh. Tidak dibuat-buat. Tidak berisik dan akrab.
Kami melanjutkan keliling komplek, kali ini menuju lapangan basket. Gian minta bola kecil yang ada di bagasi mobil golf. Arsen mengeluarkannya dan langsung mengajarkan cara menggiring.
“Tangan jangan kaku. Santai aja,” katanya sabar.
Gian mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Arsen tidak memarahi, tidak mengejek. Hanya membetulkan posisi tangan dan memberi semangat.
Aku duduk di pinggir lapangan, memperhatikan.
Ada rasa familiar yang aneh. Seperti pernah melihat pemandangan ini sebelumnya. Seseorang lebih besar dariku berdiri di lapangan, mengajari aku yang lebih kecil darinya. Tapi setiap kali aku mencoba mengingat, kepalaku terasa kosong.
“Lo ngapain bengong?” tanya Arsen tiba-tiba.
“Ngapain nanya,” jawabku ketus. “Emang nggak boleh?”
“Boleh, gapapa malah. Biar kesambet sama gue.”Jawabannya asal tapi terdengar serius, namun tidak juga terdengar menyebalkan.
Gian akhirnya capek dan duduk di sampingku. Kepalanya bersandar di lenganku. Aku reflek membiarkannya.
“Mba Bell empuk,” katanya mengantuk.
“apanya?”
“Angannya.” jawabnya meremas-meremas lenganku dengan tangan kecilnya pelan. Aku tidak tersinggung sama sekali, dan justru aku rangkul ia agar semakin nyaman.
“Ngelantur ni, capek banget kayaknya” gumamku lalu merapihkan rambut Gian, mengelap keringat yang memenuhi wajah merahnya.
Beberapa menit kemudian, Gian tertidur di pangkuanku. Napasnya teratur, wajahnya damai. Aku mengangkatnya memindahkan ke pangkuanku, dan membetulkan posisinya agar lebih nyaman.
Arsen mendekat, lalu duduk di bangku seberangku. Tatapannya lembut saat melihat Gian.
“Dia mudah dekat dan percaya sama orang,” ucapnya pelan.
“Namanya juga anak kecil.”
“Iya,” katanya. “Tapi kadang orang dewasa juga.”
Aku menatapnya. Kali ini, Arsen tidak menghindar. Tatapan kami bertemu beberapa detik terlalu lama sebelum akhirnya aku berpaling.
“Udah sore. Gue harus pulang,” kataku akhirnya.
Arsen mengangguk. “Gue anter.”
“Nggak usah. Kan gue pake motor Jerry—”
“Kan belum beres dibenerin.”
Aku mendecak. “Seenaknya.”
Kami kembali ke rumahnya. Arsen menggendong Gian yang masih tertidur ke kamarnya, sedangkan aku mengambil helm dan menunggunya di depan rumah.
“Bell,” panggil Arsen mendekat ke arahku.
Aku melihatnya yang sudah siap dengan helm dan jaketnya, “Ayo.”
Arsen mengeluarkan motornya dari dalam garasi. Ia menyalakan mesin dan memanaskannya sejenak. Aku mengelus motor itu takjub, ini satu dari motor impanku. Akhirnya aku berkesempatan menaikinya walaupun harus di bonceng oleh orang yang seenaknya dan menyebalkan di depanku ini. Ia menaiki motor tersebut lalu menurunkan injakan motornya agar aku mudah menaikinya.
Saat Arsen akan memasukkan gigi motornya untuk mulai berjalan, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah. Dua orang dewasa turun dari sana. Elegan. Rapi. Aura mereka dingin. Lebih dingin dari yang biasa Arsen pancarkan.
Arsen langsung menghentikan motornya.
Wajahnya berubah.
Dari kaca spion dapatku lihat, tatapannya kembali datar. Rahangnya mengeras. Bahunya tegang.
“Papa, Mami,” sapa Arsen singkat.
Aku menelan ludah. Perubahan itu terlalu cepat.
“Ada tamu?” tanya wanita itu sambil melirikku. Wanita itu tampak muda, seakan usianya tidak jauh dari kami. Kalau aku taksir, mungkin seumuran dengan kakakku.
“Teman sekolah,” jawab Arsen dingin.
Tidak ada senyum. Tidak ada kehangatan. Arsen yang tadi tertawa bersama Gian, yang usil, yang santai—hilang.
“Om, Tante..” sapaku menunduk dan berniat turun dari motor untuk menyapa. Namun, Arsen menahan. Ia langsung memasukkan gigi motornya dan mengendarainya kencang meninggalkan rumah besarnya itu.
Tidak ada tambahan kata. Hening. Arsen kembali menjadi kaku saat di antara orang tuanya. Jarak yang tak terlihat tapi terasa.
Dan untuk pertama kalinya, aku sadar.
Arsen tidak sepenuhnya dingin.
Dia hanya… terbiasa membekukan diri.
-to be continue-