18

1298 Words

Author POV Suasana halaman belakang rumah Arsen masih dipenuhi tawa. Bell masih tersenyum, pipinya terasa hangat setelah terlalu banyak tertawa karena cerita Arsen yang sengaja dilebih-lebihkan di depan Gina. Gina sendiri tampak jarang sekali tertawa sebebas itu—bahunya sedikit bergetar, matanya menyipit geli melihat dua remaja yang jelas sama-sama gengsi, tapi tidak bisa menyembunyikan kedekatan mereka. Untuk sesaat, rumah itu terasa… hidup. Dan Arsen—untuk pertama kalinya—tidak bersembunyi di balik wajah datarnya. Namun semua itu berhenti ketika suara langkah kaki terdengar dari arah pintu samping. Langkah yang berat. Terukur. Familiar. Gina lebih dulu menoleh. Senyumnya melembut. “Sayang, kamu sudah pulang?” Sarfaraz berdiri di sana dengan pakaian yang masih rapi, dasinya sudah

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD