Rekrutmen

1170 Words
Satu bulan setelah perceraian, Aldi kini mulai bisa belajar bagaimana caranya mengikhlaskan dan melupakan hal-hal yang telah berlalu namun tetap saja ia tidak bisa seratus persen melupakan segala memorinya serta kenangannya terhadap Rara konon lagi dalam waktu yang singkat. Perlu banyak cara agar dapat melupakan Rara meskipun dengan tempo yang lama.            Tepat pukul tujuh pagi di kantor, Aldi telah sampai di kantor, kali ini ia tak bersama Rahman tetapi ia dijemput oleh taksi. Kantornya terlihat sangat sepi akan pelanggan, hanya karyawanlah yang meramaikannya.            Aldi terus memendam semua kejadian yang menimpa rumah tangganya padahal seisi kantor telah mengetahui bahwa Aldi sudah tidak lagi berstatus suami-istri dengan Rara.            Suara pintu ruangannya diketuk tiga kali terdengar suara dari luar, “Permisi…”.            “Permisi, Pak. Apakah saya diperkenankan untuk masuk?”            “Silahkan.”            Orang tersebut pun masuk ke dalam ruangannya dan ternyata itu merupakan karyawan dalam bidang finansial bisnisnya.            “Ooh, Pak Husein. Bagaimana, Pak? Apakah profit kita dalam beberapa bulan ini sudah kembali normal?” tanya Aldi.            “Saya khawatir, Pak. Perusahaan anda sangat banyak mengeluarkan biaya untuk material dan bahan baku tetapi kita tak pernah mendapatkan proyek bahkan konsultan kita banyak mengalami kalah tender, itu tak sebanding dengan material yang kita beli. Saya khawatir jika kita terus-menerus membeli material-material yang belum kita pergunakan atau kita butuhkan saat ini, itu akan berdampak kepada finansial perusahaan yang semakin parah.”            Mendengar ucapan itu, Aldi merasa biasa saja dan tidak terkejut. Ia dengan santai berkata,            “Jangan khawatir, Pak. Jika hanya—”            “Perusahaan kita sulit diselamatkan, artinya kita akan bangkrut. Kerugian kita besar bahkan hampir minus.” Husein memotong kata-kata Aldi yang terdengar meremehkan masalah finansial itu.            “Oh, ya ampun!” kata Aldi sambil memegang kepalanya.            “Ada ide?” tanya Aldi kembali.            “Sejauh ini tidak ada, Pak.”            “Baiklah, Arslan. Panggil penasihat perusahaan.” seru Aldi memerintahkan Arslan yang merupakan ajudannya.            “Saya izin pamit, Pak.” ujar Husein.            Tak lama husein beranjak ke luar, masuklah penasihat perusahaan.            “Selamat pagi, Pak.” sahut penasihat perusahaan.            “Jam boleh menunjukkan waktu, tapi kita harus lebih cepat dari waktu saat ini. Selamat siang, Anna.” kata Aldi bijaksana.            “Saya ingin kamu mengatur jadwal rapat untuk semua karyawan, termasuk OB.”            “Izin bertanya, Pak. Untuk agendanya dalam rangka apa ya, Pak?” kata Anna seksama.            “Tulis saja agendanya, ‘Bisnis Kita Siaga Darurat’, begitu.”            Dengan wajah terheran dan tidak tahu maksud dari Aldi, Anna pun menuliskannya tanpa mempertanyakan apapun.            “Baik, Pak. Kita bisa mulai rapat di hari Rabu.”            “Jangan hari Rabu, Anna. Kita tidak tahu apakah Rabu perusahaan Aldichitecture ini masih ada ataukah tidak.”            Mendengar pernyataan Aldi, wanita itu termenung dan turut sedih.            “Baik, Pak. Bagaimana jika hari ini, sekarang ini, saat ini kita lakukan rapat mendadak ini.”            “Saya, setuju. Bisa kamu umumkan kepada kepala-kepala karyawan tentang rapat mendadak yang akan kita laksanakan?”            “Tentu, Pak. Saya bisa melakukannya sebaik mungkin.”            “Silahkan.”            Anna keluar dari ruangan bosnya menuju ke ruangan-ruangan kepala karyawan untuk memberikan informasi terkait rapat, termasuklah satpam penjaga kantor dan juga OB pembersih kantor.            “Perhatian tuan-tuan dan nyonya-nyonya, sekalian. Saya membawa berita penting bahwa hari ini Bapak Aldi ingin mengadakan konferensi atau rapat dadakan yang akan segera bergulir hari ini juga.”            “Apa, rapat?” kata salah seorang yang mendengarnya.            “Rapat apa, ya?”            Semua orang berbisik-bisik satu sama lain, mereka sibuk bertanya-tanya tentang keadaan tersebut. Tetapi tiba-tiba Aldi masuk ke ruangan mereka dan berkata,            “Perusahaan ini akan segera bangkrut jika kita terus bertanya dan berbisik-bisik terus menerus tentang ‘Rapat apa ya?’ sebaiknya segera kita lakukan sekarang juga di ruang meeting, waktu tidak dapat diputar ulang, atau direset dengan tombol CTRL+Z seperti di keyboard komputer kalian.” tegas Aldi dengan bijak.            “Siapapun yang tidak hadir dalam rapat ini, ia termasuk akar keruntuhan dari perusahaan ini.” lanjutnya tak lama setelah kalimat pertamanya.            David mengangkat tangannya, “Pak, rekan kami Rahman tidak hadir di hari ini karena istrinya sudah pecah ketuban dan saat ini ia berada di rumah sakit.”            “Seorang wanita hamil memanglah perlu dukungan seorang suami, Rahman telah menjadi suami yang baik.” pungkas Aldi dengan sedikit tarikan senyuman pada bibirnya.            Semua orang yang mendengarkan Aldi merasa kagum dan terkesan. Mereka merasa bahagia memiliki seorang pemimpin yang bijaksana seperti Aldi. Semua orang yang berada di dalam ruangan itu bergegas keluar dan menuju ke ruangan meeting.            Aldi tidak masuk terlebih dahulu, ia membiarkan semua karyawannya masuk dan duduk ke dalam ruangan meeting tersebut.            Setelah semua karyawan yang ditargetkan untuk mengikuti rapat telah berkumpul, Aldi masuk bersama penasihatnya, Anna.            Tidak perlu waktu yang lama, Aldi mengambil alat pengeras suara dan mulai menyampaikan sepatah dua kata.            “Tidak ada perubahan yang signifikan bahkan hampir tidak sampai sepuluh persen profit kita tidak ada peningkatan. Apa yang salah!” Aldi berbicara sedikit membentak.            “Bagaimana mungkin kita tidak bisa membawa pelanggan padahal kita sudah menyusun strategi pada rapat yang lalu tepat di bulan sebelumnya. Apakah keinginan konsumen berubah lagi?” sambung Aldi tak lama setelah itu.            Semua tampak terdiam dan hening, tidak ada yang berkata-kata. Tampaknya sangat sedikit orang-orang yang punya ide. Semuanya sibuk berpikir bagaimana cara menyusun strategi yang tepat.            Anna kembali memberikan nasihat kepada pemilik perusahaan, Aldi.            “Saya memiliki ide, kita tidak memiliki seseorang yang pintar dalam hal public speaking, kita harus bisa mencari seseorang yang pintar mendapatkan perhatian dari para pelanggan ataupun investor. Harap-harap orang tersebut nantinya dapat menggambarkan citra perusahaan ini di mata dunia.” katanya sambil memainkan pena di tangannya.            Semua orang tampak terkesan kecuali David.            “Kita membutuhkan orang baru? Artinya pengeluaran juga akan bertambah untuk membayar gajinya, bukankah begitu?” kata David sambil bertopang dagu.            Para hadirin rapat serempak berbisik-bisik tentang pendapat David,            “Wah iya juga. Ada benarnya.”            “Hmm, benar juga katanya.”            Aldi memotong keributan yang samar-samar itu.            “Tak mengapa bagi kita untuk mencari pegawai baru dan sepertinya memang sejak lama kita sudah membutuhkan sekretaris yang dapat melakukan tugas seperti yang disebutkan Anna walaupun hanya satu, lagian tidak begitu berdampak terhadap finansial jika kita mendapatkan seorang sekretaris.” kata Aldi dengan gesture tubuh yang sangat meyakinkan karyawan-karyawannya.            Semua orang berubah pikiran karena pencerahan dari Aldi, seakan-akan bos mereka memang memiliki kemampuan karismatik yang sangat tinggi.            “Kalau begitu tim rekrutmen segera buat agenda untuk rekrutmen sekretaris ini dan saya ingin orang itu harus benar-benar memahami segala hal tentang dunia bisnis dan dunia sekretaris, saya berharap dia dapat berbicara dengan baik dan pintar dalam mencari perhatian investor atau partner bisnis lain.” Kata Aldi menyambung setelah gemuruh tepukan tangan karyawannya.            Aldi berhembus lega, mengucap syukur bahkan Pak Husein yang memegang finansial bisnis tidak merasa keberatan akan keputusan rapat tersebut.            Tim rekrutmen segera meluncurkan brosur dan pamflet yang berisi informasi tentang lowongan pekerjaan itu.             Seperti biasa setelah rapat, Aldi pulang ke rumah untuk beristirahat namun ia baru ingat kalau supirnya tidak hadir pada hari itu sehingga ia menghabiskan beberapa menit untuk menunggu taksi datang menjemputnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD