Divorce

1005 Words
Semua kegagalan dan keresahan yang mendarat di hidup Aldi membuat fisik dan mentalnya semakin memprihatinkan. Aldi membeli minum-minuman keras dan ia meminumnya sambil berbaring di bathub kamar mandinya. Ia stress, di balik dirinya yang bijaksana dan kelihatan periang. Aldi menyimpan banyak rahasia yang tidak diketahui orang, segala rasa sakit yang menimpanya hanya dirinya sajalah yang tahu.            Aldi merenungi nasibnya sambil memegang sebotol Vodka yang ia genggam di tangan kirinya, seteguk demi seteguk ia masukkan ke dalam lambungnya. Ia tidak mengucapkan kata apapun, tak bersuara sedikitpun.            Tak lama setelah ia mencoba menghubungi nomor istrinya, tiba-tiba nomor tak dikenal masuk ke ponselnya lalu menghubunginya melalui sambungan telepon. Aldi yang tengah menatap dengan mata yang kosong, hati yang hampa itu pun mengambil ponselnya dengan gerakan lamban dan malas tak bertenaga,            “Hey pria pecundang yang gagal. Aku ingin kita bercerai, berkas-berkas sudah kupersiapkan untuk ke pengadilan nanti. Dasar pria bangkru!”            Aldi menyengir mendengarnya, ternyata itu suara istrinya, ia melemparkan ponselnya ke lantai hingga tergores. Ia tertawa pelan seperti orang tak waras.            Ia menyirami kepalanya dengan minuman keras yang masih setengah botol itu, hampir-hampir ia ingin mencelakakan dirinya dengan memecahkan botol itu di kepalanya.            Kemudian ia menangis histeris seakan ruhnya ingin segera keluar dari tubuhnya, mood yang tadinya emosi berubah menjadi tangis yang memekik.            Keesokan paginya, hari Senin. Suara klakson Rahman berbunyi satu kali biasanya sebagai signal untuk Aldi agar tahu bahwa jemputan dari supir pribadinya telah sampai.            Rahman menunggu di luar sebagaimana mestinya, jam menunjukkan tepat pukul tujuh pagi, belum ada rasa menjanggal baginya.            Lima belas menit telah berlalu, Rahman tak kunjung mendapatkan informasi apapun terkait keberadaan bosnya, ia mulai merasakan gelisah ketika menunggu di halaman. Biasanya Aldi langsung keluar dan menuju mobil tidak lama setelah suara klakson itu dibunyikan.            “Pak…” katanya perlahan sambil mengetuk-ngetuk jendela depan.            “Pak, apakah hari ini anda akan masuk ke kantor?”            Rahman berdiri di teras, bersandar di pilar yang ukuran jari-jarinya begitu besar. Merogoh saku kanannya, mengeluarkan sebatang rokok dan membakar ujungnya.            Ia terus menunggu, satu batang hampir habis ia hisap namun belum ada tanda-tanda bosnya.            “Pak!” katanya dengan nada yang mulai sedikit meningkat.            Dirinya penuh rasa kecurigaan dan kekhawatiran.            “Pak! Jadi ke kantor?!”            Ia melemparkan puntung rokoknya kemudian bergegas masuk ke dalam rumahnya.            Ruangan tamu dan keluarganya terlihat biasa saja, tidak ada yang berserakan. Semua tampak normal karena telah dibersihkan oleh Aldi kemarin.            “Kok ada foto di atas meja kopi.” Rahman bersenandika.            Ia mengambil dan melototi foto itu namun ia keheranan dan tak tahu jika foto itu disalahpahamkan oleh mantan istri Aldi yang mengira bahwa wanita pada foto itu ialah selingkuhan Aldi.            “Oh, foto rekan bisnis kemarin, waktu itu si Bos sempat nyuruh antarkan ke Café.”.            Mendekat kea rah kamar mandi, Rahman mendengar suara air yang mengalir dan menetes deras ke atas lantai.            “Permisi, Pak?”            Pintunya tidak terkunci, begitu ia mengetuk pintunya terbuka sedikit.            Tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi, ia berpikir akan mematikan air yang terus terpancar itu.            “Tidak ada orang? Tapi suara kerannya menyala.”            Alangkah terkejutnya Rahman melihat bosnya yang terlelap di atas bathub kamar mandi dengan kemeja putihnya yang basah dan botol-botol minuman keras di lantai.            “Ya ampun, Pak!!! Apa yang terjadi?! Bangun, Pak!”            Rahman mencoba membangunkan bosnya yang terlelap itu, menggerak-gerakkan tubuhnya dan menampar-nampar pipi bosnya tersebut.            “Apa-apaan ini, Pak? Apa yang terjadi dengan anda?” ia melemparkan dan menjauhkan botol minuman keras yang berada di pelukan Aldi yang sedang terlentang di dalam bathub.            Mata bosnya mulai berkedip-kedip. Aldi kebingungan dan keheranan, ia merasakan lelah yang luar biasa.            “Mengapa anda meminum minuman keras itu, Pak?”            “Apa yang salah dengan diri anda?”            Aldi terus diguncang-guncangkan oleh Rahman yang sangat merasa tidak percaya atas apa yang dilakukan pemimpin perusahaan tempat ia bekerja itu.            Aldi yang loyo dan lemas terombang-ambing tubuhnya karena goncangan tersebut.            “Hmm…” Aldi mendesis.            Rahman melihat ke arah lain dimana terletak ponsel milik bosnya yang tergores di atas lantai, ia mendekatinya dan mengambilnya kemudian ia mencoba membaca notifikasi-notifikasi yang masuk di ponselnya itu.            Meskipun ponselnya dalam keadaan terkunci, tetapi di layar utama ia dapat membaca pesan tentang makian dan perceraian dari sang Istri.            Rahman merasa tidak percaya.            “Ini gak mungkin!” katanya dalam hati.            Ia segera bergegas menggiring bosnya ke sofa di ruang keluarga kemudian ia menunggunya hingga sadar.            Beberapa menit berlalu, Rahman mencoba menanyakan apa saja yang terjadi kepada bosnya. Aldi langsung menceritakan tentang kelakuan istrinya kepada Rahman sejak awal. Semua ia ceritakan tentang kepahitan hidup yang dia rasakan.            “Aku seorang pecundang…” Aldi meringis dengan raut wajah yang memprihatinkan sembari tangannya memeras kepalanya dan menjambak-jambak rambutnya.            “Aku seorang yang gagal…” lanjutnya merintih dengan tangannya yang tremor sambil menangis tersedu-sedu.            “Man, tolong jangan beritahu apa yang kau lihat hari ini kepada orang-orang siapapun itu. Kalau soal perceraian itu, orang-orang juga akan tahu nantinya. Tetapi jangan beritahu atau cerita kepada siapapun soal aku yang meminum minuman itu. Aku khawatir aku akan bertambah gagal dalam mempertahankan perusahaan.” Aldi melanjutkan kalimatnya tak lama setelah ia menyatakan gagal untuk menjadi pemimpin yang baik.            Dengan hati yang berawan, Rahman mengindahkan perintah Aldi. Ia sudah sangat dekat dengan keluarga bosnya sehingga rasanya ia kesal dengan kelakuan Rara. Rahman turut berduka dan menunjukkan rasa sedihnya yang mendalam kepada Aldi, ia mengelus-ngelus bahu bosnya yang sedikit berisi itu.            Rahman berjanji untuk tidak meninggalkan bosnya itu, banyak yang sudah dilakukan Aldi untuk keluarga Rahman, ia selalu membantunya sepenuh hati tanpa mengharapkan imbalan. Perlakuan Aldi pun menjadi alasan bagi Rahman untuk tetap setia berada di samping bosnya. Ia juga berupaya untuk membantu menyelamatkan perusahaan dengan cara apapun.            Setelah berlama-lama menemani bosnya, ia pamit dan pulang ke rumahnya karena istrinya pasti tengah menunggu Rahman pulang ke rumah. Hari itu Aldi tidak masuk ke kantor, ia juga menyuruh Rahman untuk mengambil cuti di hari itu juga sebagai pengganti ataupun kompensasi yang dia berikan untuk tanda ucapan terima kasih kepada anak buahnya ketika di hari Minggu kemarin Rahman terganggu oleh perintah bosnya untuk meminta jemputan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD