Setelah kejadian yang menguras tenaga dan emosi pada malam kemarin, Aldi kelelahan ia sangat letih sampai-sampai ia ketiduran di atas sofa ruang tamu. Rumahnya kacau, berantakan bahkan dirinya tampak kacau. Kurang tidur dan matanya merah, bajunya compang-camping bahkan ia tak mandi sejak pulang malam kemarin.
Saku celananya bergetar-getar, terus bergetar tak hanya satu kali sampai membangunkannya.
“Hmm, hoamm…” Aldi terbangun, tangannya mengusap-usap kelopak matanya.
Begitu ia terbangun, ia meraba bagian saku celananya.
“Oh, ternyata cuma panggilan tak terjawab.”
“Bentar, jangan-jangan ini Rara yang nelpon.”
Segera ia membuka pola ponselnya kemudian mengeceknya, ternyata ada puluhan panggilan tak terjawab beserta belasan pesan yang masuk ke ponselnya.
“Yth. Bapak Aldi, perusahaan kita darurat, perusahaan kita akan segera bamgkrut. Kami butuh perintah dari Bapak segera.”
“Yth. Bapak Aldi, hutang perusahaan anda sudah mencapai dua ratus lima puluh juta rupiah. Mohon segera dibayar bunganya terlebih dahulu.”
“Yth. Bapak Aldi, finansial perusahaan kacau, konsultan kita kalah lelang dan bahan-bahan yang kita beli menganggur begitu saja tidak pernah terpakai, sangat sedikit konsumen yang menghubungi kita bahkan hampir tidak ada beberapa hari ini. Segera ke kantor, Pak.”
“Yth. Bapak Aldi, Kami dari perusahaan Ruflish menyatakan bahwa sepertinya kita tidak bisa melanjutkan kerja sama antar perusahaan. Kami mendengar perusahaan anda tengah kacau-balau.”
Membaca pesan-pesan tersebut Aldi segera bergegas, ia tidak membereskan rumahnya tetapi ia segera ke kamar mandi, membasuh wajahnya dan mandi beberapa siraman air saja, ia mencoba menyembunyikan lebam-lebam yang ada di bagian tubuhnya dengan bersih, ia malu jika terlihat oleh orang-orang yang berada di kantornya nanti.
“Halo, Rahman. Kamu sudah dimana?”
“Maaf, Pak. Saya tidak mengerti maksud anda, saya saat ini berada di rumah dengan keluarga, Pak.”
“Kenapa kamu lupa menjemput saya? Sudah jam segini, Man.”
“Pak, tapi ini hari Minggu, bukankah saya mendapatkan cuti hari Minggu, Pak?”
“Oh iya, Maaf. Rahman bisa tolong antarkan saya? Maafkan saya sudah menyuruh kamu tapi ini penting dan sangat-sangat vital, sangat-sangat urgent.”
“Baik, Pak. Saya segera menjemput.”
Sesampainya di kantor, Aldi segera melakukan rapat terbatas dan dadakan kepada semua karyawan-karyawannya meskipun saat itu hari Minggu, tetapi karyawan kantor tetap berada di sana beserta karyawan lainnya juga selalu ada apalagi mereka telah mengetahui kabar buruk yang melanda perusahaannya, ternyata semua karyawannya telah menunggu Aldi tiba di dalam ruang meeting.
Dari kejauhan, Aldi melewati lorong-lorong kantornya bersama Rahman dengan berjalan sedikit cepat, mereka mendengar,
“Kita kacau-balau, semuanya selesai. Hutang kita banyak dan kita tidak dapat membayarnya, kita tak punya pelanggan. Bagaimana ini?” kata salah seorang karyawan.
“Kita tidak punya harapan, selesai sudah masa depan perusahaan ini. Hanya keberuntungan yang dapat menghindari kita dari bangkrut.” kata yang lainnya.
Semua terdengar seperti keributan dan kericuhan dari lorong kemudian Aldi masuk dengan tegap bersama Rahman sembari mengucapkan, “Selamat pagi semuanya!” dengan nada yang sedikit tinggi menunjukkan citra kepemimpinannya.
Tiba-tiba Aldi memerintahkan Rahman beserta karyawan yang lainnya untuk segera duduk dan Aldi berdiri di depan papan presentasi.
Ia berdiri semangat seakan-akan ia memiliki semangat tersendiri dan karisma yang memikat semua orang yang hadir pada saat itu.
“Keributan, kericuhan dan saling menyalahkan di dalam ruangan ini tidak akan menyelamatkan perusahaan kita, apalagi jika kalian pesimis dan selalu mengeluh. Kita sudah pernah melewati masa-masa sulit. Kita berhasil, tetapi barangsiapa yang saat ini terus mengeluh karena keadaan ini saya tunggu surat pengunduran dirinya dan segera hengkang dari perusahaan ini. Kita saat ini membutuhkan orang-orang yang loyal kepada perusahaan dan memberikan kontribusi terbaiknya untuk perusahaan ini.”
Mendengarkan Aldi berpidato semuanya tampak pucat, ketakutan dan malu.
“Mana penasihat perusahaanku? Silahkan ke depan dan presentasikan keuangan kita, segala pemasukan dan pengeluaran.” Pintanya.
Penasihat perusahaan pun maju ke depan tanpa diiringi tepukan tangan ataupun suara-suara lain yang biasanya menghiasi ketika rapat. Kemudian Aldi meminta karyawannya di bidang finansial perusahaan untuk ikut maju bersama Anna.
“Silahkan dipresentasikan.” Aldi memohon mereka berdua.
“Dari catatan yang kita dapatkan sejak minggu lalu, drastis tidak ada orang yang mau menggunakan jasa konsultan kita untuk mengerjakan proyek-proyek pembangunan mereka.” kata ahli finansial perusahaan.
Aldi mengangkat tangannya dan berkata dengan tenang, “Apa alasannya?”
Kemudian langsung dijawab kembali, “Mereka beralasan bahwa harga tender yang diajukan konsultan tidak sesuai dengan keperluan material yang mereka inginkan alias terlalu mahal untuk mengerjakan proyek mereka.”
Seorang konsultan di antara mereka berkata, “Kami menggunakan harga standard pasar, dan hanya kami naikkan sedikit sebab kami tidak ingin hal-hal buruk terjadi kepada proyek mereka. Safety merupakan hal yang penting dalam proyek, kita memiliki banyak barang-barang yang mendukung keselamatan tersebut. Seharusnya mereka mengetahuinya!”
Kemudian Aldi bertanya, “Apakah saat tender kamu pernah menjelaskan kepada konsumen bahwa kita selalu menggunakan bahan-bahan pilihan dan terbaik mutunya?”
“Sudah pak, kami selalu mengatakannya, tetapi mereka selalu mencari yang termurah.”
“Silahkan dilanjutkan, Pak Husein dan Anna.” pinta Aldi.
“Secara teknis keuangan dan marketing, kita sangat mengalami kekalahan dalam membawa pelanggan ataupun konsumen, boro-boro kita mendapatkan investor jika pelanggan saja kita kesulitan mendapatkannya.” kata Anna.
Aldi kemudian menggosok-gosokkan jidatnya yang mulai terasa pusing karena memikirkan beban-beban yang ia terima belakangan ini.
“Apakah kamu ada ide, Anna?”
“Begini saja, menurut hemat saya. Kita harus bisa bersaing dengan pasar jika mereka menginginkan harga murah silahkan saja demi kita mendapatkan proyek. Tetapi kita tetap menggunakan barang berkualitas dan bermutu baik. Siapa yang tidak ingin murah tapi berkualitas?” kata Anna sambil melihat ke sekeliling para hadirin, semua orang memperhatikannya.
“Idemu memang patut diperhitungkan. Mungkin itu sangat membantu.” sambung Aldi.
Semua hadirin bertepuk tangan karena ide yang Anna lontarkan, tetapi tak berlangsung lama. Husein beranjak dari tempat duduknya kemudian ia berdiri dan menjelaskan argumennya kepada para hadirin.
“Bagaimana jika kita tidak mengalami kerugian? Harga yang kita tawarkan murah, tetapi kita membeli dan membuat bahan yang berkualitas. Saya tidak mengerti, bisa jadi keuangan nantinya bisa bertambah minus!” katanya.
Aldi mengangkat tangannya kemudian berdiri, disaksikan semua yang hadir di sana, “Tidak masalah apabila kita menggunakan bahan yang berkualitas tinggi atau membuat bahan yang bermutu tinggi tetapi kita tender dengan harga murah. Yang terpenting perusahaan ini dapat dikenal kembali di dunia konstruksi dan siapa tau menarik peminat investor apabila ada proyek besar yang akan segera dibangun. Intinya kita amat perlukan konsumen saat ini.”
Semua orang tercengang seakan-akan mereka tidak berpikiran hingga ke sana, termasuk Husein. Kemudian semua orang memberikan tepuk tangan kepada Aldi dan rapat pun selesai.
“Semoga berhasil, semoga berhasil, segala yang terbaik untuk perusahaan ini, Pak.” kata karyawannya yang lain.
Aldi beranjak keluar dari ruang meeting dan kembali membacakan semua pesan-pesan yang masuk.
Ia ingin memastikan tidak ada pesan yang terlewat yang belum ia bacakan karena baginya itu sangat berharga untuk mengetahui segala informasi ataupun berita terkini terkait perusahaannya.
Ketika semua ingin keluar dari ruang meeting. Husein sibuk mengejar Aldi dari belakang, ia memotong semua barisan orang-orang yang ingin keluar ruangan, “Pak, Maafkan saya. Saya tadinya berpikir kalau ide Anna tidak dapat dilaksanakan tetapi setelah mendengarkan pidato dari anda, saya langsung berubah pikiran. Semoga sukses!”
Husein memberi salam kepada Aldi dengan kedua tangannya dan harapan yang ia letakkan di telapak tangan Aldi untuk menyelamatkan perusahaan tersebut.
“Bukan masalah, sebuah pelajaran berarti bagi kita semua. Jangan selalu mengambil segalanya dari sisi buruk jika kita dapat memanfaatkan sisi baik dari yang ada. Dan semua masalah pasti akan ada solusi. Terima kasih atas loyalitas anda, Pak Husein.” kata Aldi.
Sesampainya di luar ruangan, Aldi tidak masuk ke ruang kerjanya. Ia duduk di bangku lorong sambil menggeser-geser, mengusap-usap layar ponselnya.
Saat itu ia kembali teringat dari apa yang menimpanya, ia seketika kembali merasakan pikiran yang stress.
Aldi termenung dan terhanyut lebih dalam. Rahman yang tengah melintas mendapati bosnya yang tiba-tiba terlihat kosong, letih dan lesu.
“Pak, maaf. Ada yang bisa saya bantu pak?” kata Rahman.
Dengan senyum simpul yang ditarik sedikit terpaksa dari bibir Aldi, “Tidak ada apa-apa, Man.”
“Apa anda yakin, Pak?”
“Saya yakin, sudahlah tidak usah khawatir. Bagaimana istrimu?” Aldi mencoba mengalihkan cerita.
Mendengar pertanyaan itu, seketika Rahman melupakan keingintahuannya terhadap bosnya yang kerap melamun, ia begitu bahagia karena mengingat istrinya akan segera melahirkan.
“Baik, Pak. Saya sangat berharap anaknya laki-laki.”
“Kenapa demikian?” tanya Aldi melihat wajah Rahman.
“Saya ingin kelak, anak saya menjadi pribadi yang baik seperti anda dan bijaksana.”
“Jangan jadi seperti saya, biarkan anakmu tumbuh dan mendapatkan lebih daripada saya saat ini.” Aldi memberikan semangat dan seketika hening beberapa saat.
Memecahkan keheningan, Rahman berkata “Oh iya, Pak. Maaf pak tadi saya menjemputnya agak sedikit terlambat.”
“Tidak apa-apa, Man. Kamu udah berusaha mengantarkan saya. Kamu tahu kan saya jarang membawa kendaraan sendiri. Saya suka kerja keras kamu untuk hari ini.” Aldi memuji.
Aldi beranjak dari tempat duduknya, “Man. Mari antarkan saya pulang.”
Rahman segera mengindahkan perintah yang telah dititahkan oleh bosnya itu, Aldi pun berpamitan dengan semua karyawan-karyawan kantornya dengan menebar semangat kepada mereka semua agar tetap konsisten menjalankan tugasnya.
Di perjalanan, Rahman merasa heran melihat bosnya yang biasanya mengajaknya bicara sewaktu dalam perjalanan tetapi sekarang tidak. Aldi diam seribu bahasa selama perjalanan pulang.
Sesampainya di rumah. Aldi membereskan semua barang-barang yang berserakan dan membersihkan rumahnya sendirian. Baru kali itu ia memegang tangkai sapu dan kain pel yang basah, ia mengepel lantai dan menyapunya sendirian.
Aldi amat merasakan susah, tidak hanya keuangan perusahaannya saja yang menipis tetapi keuangan pribadinya pun sangat memprihatinkan. Aldi mulai menyusun strategi untuk dapat survive di kehidupan yang pahit dan getir.
Ia kembali mengingat bayangan-bayangan istrinya ketika masih berada di rumah itu, tak kuasa ia pun ingin kembali menangis. Air matanya jatuh dari sudut hingga ke pipi bahkan sampai menyentuh bibirnya.
Aldi melihat ke arah foto-foto yang dihamburkan Rara ketika itu, ia memperhatikannya dengan seksama dalam tatapan yang tajam. Betapa kecewanya ia bahwa Rara tidak mau mendengarkan penjelasan darinya kalau wanita di foto tersebut hanyalah rekan bisnisnya saja.
Aldi mencoba menghubungi Rara kembali melalui ponselnya,
“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.”
Aldi menghembuskan nafas sesak dari dadanya kemudian ia lepaskan seakan-akan ingin melepaskan semua ikatan yang ada pada dadanya.
Seakan-akan ia ingin bebas dari segala masalah yang menimpanya itu.
“Ah sial…” katanya bersenandika.