Di Balik Layar (Rafael & Bastian)

1305 Words
Setelah Arsen menjelaskan misinya pada Bastian dan Rafael, kini mereka berdua duduk berhadapan di salah satu kelas ekstrakulikuler yang kosong. Mereka mengadakan rapat dadakan. Rapat yang hanya dihadiri oleh mereka berdua dan di temani dengan suara ... KRIK ... KRIK ... KRIK ... "Anjir! Lo matiin suara jangkrik di ponsel lo itu atau gue banting tuh HP!" umpat Bastian. Rafael justru nyengir lebar tak berdosa. "Selow, bro! Biar rame," kekeh Rafael yang dihadiahi pelototan oleh Bastian. "Jadi, gimana?" tanya Rafael setelah mematikan suara jangkrik di ponselnya. Dia memasukkan ponsel itu dalam saku blazernya. "Gimana apanya? Lo muqaddimah dulu sono, biar berkah!" sahut Bastian. "Gue muqaddimah? HAHAHAHA," Rafael tertawa sejenak lalu wajahnya kembali datar. "Lo pikir gue ustadz? Pelajaran agama gue aja paling mentok dapat empat." Bastian menatap Rafael dengan mata membulat tak percaya. "b**o' lo!" sindir Bastian. Rafael mendengus kasar. Diam sejenak, kemudian Bastian berkata. "Gue aja pelajaran agama nggak pernah dapat nilai lebih dari dua. Kalau beruntung ya dapet tiga. Itupun satu banding sepuluh kali ulangan," ucap Bastian dengan tampang tanpa dosanya. Rafael berdecak lalu menendang kaki Bastian yang berada di bawah meja. "k*****t! Lo lebih b**o' dari gue!" "Sesama orang b**o' nggak usah saling mencela, please. Gue terhina," ucap Bastian sambil memegang dadanya dengan wajah terluka. Rafael mendesis. "Jijik!" "Oke, back to the topic!" ucap Rafael kemudian mencoba fokus. "Gaya lo pake bahasa Inggris. Bahasa korea lo dapet berapa?" cibir Bastian seolah tak pernah puas mengolok Rafael. "Emang di sekolah kita ada pelajaran bahasa korea?" Dahi Rafael berkerut penuh tanya. "YA NGGAK ADA LAH!" teriak Bastian dengan sangat jelas. "t*i lo!" umpat Rafel. Tangannya mengepal ke samping seolah ingin menghajar Bastian. "Oke, sekarang kita serius!" desah Rafael pada akhirnya setelah menghela napas panjang. Bersama Bastian diperlukan kesabaran ekstra. Bastian mengangguk petuh. "Jadi-" KRIK ... KRIK ... KRIK ... Rafael mengumpat ketika ponselnya mendadak berbunyi memotong ucapannya barusan. Ia merogoh saku blazernya dan segera membuka pesan yang baru masuk. Rafael segera membalas pesan masuk itu dengan kecepatan kilat, melebihi kecepatan untuk kabur dari sang mantan. Setelah selesai, Rafael segera memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku blazernya. "Siapa?" tanya Bastian kepo. "Eva," jawab Rafael singkat. "Lo udah dapet cewek baru lagi?" selidik Bastian. Dengan bangga, Rafael menepuk dadanya berkali-kali. "Iya, dong! Ra-fa-el ...," ucapnya bangga. "Stress lo!" ucap Bastian. "Lah yang si Dina-Dina itu lo kemanain?" "Dina?" Rafael melambaikan tengannya ke depan wajahnya dengan santai. "Dia mah masa lalu." Bastian sedikit terperangah mendengar jawaban Rafael. Padahal setahunya, Dina adalah pacar Rafael sejak dua minggu yang lalu. "Kapan putusnya?" "Udah lama kali," decak Rafael. "Bosen gue sama dia. Montok, sih. Tapi oplas semua. Hahaha ...," tawa Rafael. "Sinting lo!" umpat Bastian. Dia menjitak kepala Rafael dengan keras. "Otak lo nggak beres, kotor dan penuh dosa. Perlu dicuci pakek Rinso terus direndem sama Vanish. Habis itu di kucek pakek kekuatan seratus tangannya Daia dan disiram Bayclin, biar putih kinclong ngalahin putihnya arang." "Arang itu warnanya hitam b**o'!" "YAIYALAH! BOCAH TK JUGA TAU KALAU ARANG ITU WARNANYA HITAM!" "Lo tadi bilang putih!" "Kapan?" "Tadi!" kesal Rafael. "Mana? Ada buktinya? Nggak ada, kan? Dusta lo!" Rafael mendengus. "Bacot lo." "Udah, ah! Ini kenapa jadi bahas hal nggak guna kayak gini, sih?" tanya Rafael begitu sadar topik utamanya sudah melenceng jauh. "Gara-gara lo, sih," ucap Bastian. "Ya udah. sekarang kita serius, oke? Nggak kelar-kelar nih rapat rahasia kita," dengus Rafael. Bastian mengangguk menyetujuinya. Setelah hening beberapa saat, Rafael membuka suara kembali. Wajahnya sudah kembali serius begitupula dengan Bastian. "Jadi gini, Bas. Nanti kita-" BRUUUUTT "Anjing! Kentut sembarangan!" bentak Rafael pada Bastian. Dia menutup hidungnya dengan kedua tangannya karena bau menyengat yang sempat diciumnya. Bastiam hanya meringis tak berdosa. "Hehehe ... Sorry." "Najis!" ucap Rafael masih dengan hidung tertutup dengan telapak tangan. "Alay lo! Bau kentut gue tuh harum tau," ucap Bastian sambil menghirup napas dalam-dalam. Hirup-keluarkan. Hirup-keluarkan. Hirup lagi-keluarkan lagi. "Bastian sinting! Kentut bau bangke gitu diendus-endus." "Eman-eman, Raf," jawab Bastian, membuat Rafael menatapnya tidak percaya. Ya Tuhan, udah m**o, pelit pisan! kentut aja dihirup karena sayang. Dosa apa gue punya temen kayak dia, batin Rafael dalam hati. Butuh beberapa menit untuk menetralkan kembali udara yang telah terkontaminasi dengan bau kentut Bastian. Rafael menghela napas lelah. Bastian mengikuti tingkah laku Rafael. "Kayaknya rapat kita beneran nggak berkah gara-gara nggak muqaddimah dulu, deh," ucap Rafael yang mulai putus asa. Bastian mengangguk. Tapi tak lama kemudian dia menyanggah ucapan Rafael. "Itu mah gara-gara lo aja yang mulai rapat ini. Coba kalau gue yang mulai, gue jamin rapat kita ini bisa berakhir dengan sukses!" Rafael mendengus, "Ya udah coba lo yang mulai!" Bastian mengangguk semangat. Dia mengatur posisi duduknya hingga tegap bak dewan parlemen. Bastian berdehem sesaat sebelum memulai. "Ehem! Jadi gini. Rencana gue-" KRIK ... KRIK ... KRIK ... BRUUUUTTT ... KRIK ... KRIK ... KRIK ... BRUUUTTT ... Saat itu juga Rafael dan Bastian berdiri dari duduknya dan mengumpat bersamaan. "BANGKE!" ''Udah ah! Kita langsung mulai aja tanpa rencana!" ucap Bastian frustasi. "Dasar rapat nggak guna!" Bastian dan Rafael pun mencak-mencak tidak jelas di dalam ruang ekstrakulikuler tersebut ditemani dengan suara kentut dan suara jangkrik yang terus bersahutan.   ***   Setelah misi penculikan itu telah berhasil, Bastian dan Rafael menuju tempat parkir mobil bersama. Gavin sudah pulang sedari tadi dengan supirnya karena ada urusan, sedangkan Arsen tadi pulang sendiri naik mobil ferrary milik Bastian. Sebenarnya Arsen juga dijemput sama seperti Gavin, tapi Arsen sudah mengusir supirnya terlebih dahulu. Ayah Arsen tidak mengijinkan Arsen berkendara sendiri lagi sejak kejadian dua hari yang lalu. Arsen menolak memenuhi keinginan ayahnya dan fasilitas mobilnya langsung diambil begitu saja. Tapi Arsen tidak terlalu keberatan dengan itu. Alasannya? Ketiga temannya nggak kalah kaya. Arsen bisa meminjam atau meminta apapun pada ketiga temannya. Bahkan tanpa memintapun ketiga temannya dengan senang hati memberikan apa yang Arsen butuhkan. Mereka berempat memang baru berteman satu tahun, tapi mereka sudah menganggap saling bersaudara. Yah, meskipun Bastian dan Rafael berubah jadi gembel miskin seantero sekolah jika di depan Arsen, Gavin dan cokelat-cokelatnya. Padahal jika mereka mau, mereka bisa membelinya sendiri lima truk bahkan lebih. Tapi begitulah Bastian dan Rafael. Dua pria gesrek yang abnormal. Prinsipnya; kalau ada yang gratis di depan mata, ngapain beli? Rafael membuka pintu mobilnya dengan remote controlnya. Tak butuh waktu lama, mereka berdua sudah duduk manis di dalam mobil. Rafael mengemudi, sedangkam Bastian di sampingnya. "ANJIR LO, RAF!" Bastian tiba-tiba berteriak ketika menengok ke kursi belakang. Mobil Rafael baru saja keluar dari gerbang sekolah dan mulai melaju di jalan raya. "Si b**o'! Lo ngagetin gue aja," ucap Rafael. Dia melirik ke Bastian sekilas sebelum kembali fokus melihat jalan di depannya. Bagaimanapun dia yang menyetir dan dia masih ingin hidup. "Kenapa lo?" tanya Rafael. "Lo gila! Anjir! Besok-besok gue nggak bakal nebeng lagi ke mobil lo. Jijik gue!" jawab Bastian dengan nada sedikit kesal. "Lo napa dah. Kayak cewek PMS aja banyak maunya." "Eh, sinting! Kalau habis 'main' itu dibuang balonnya. Jorok lo!" "Lupa gue," jawab Rafael santai. "Lagian suka-suka gue dong, mobil juga punya gue. Ngapain lo yang sewot." "Bukan sewot bego." desis Bastian. "Tapi men-ji-jik-kan!" "Kayak lo nggak pernah gitu aja," sergah Rafael. "Dih, sorry, ya. Gue mah orangnya bersih." "t*i lo!" Rafael mendengus. "Ya iyalah bersih! Mana ada batang kalau main sama batang pakai balon? Yang berbatang kan nggak bakal bisa bunting." "Babi!" umpat Bastian. Dia kesal setengah mati pada Rafael. Pria itu selalu bisa menjawab kata-katanya. "Lagian lo bacot amat. Numpang juga." "Eh, ini terpaksa ya! Nggak bakal lagi deh gue numpang." "Ah, yang bener?" goda Rafael. Bastian mendengus sesaat tapi kemudian dia menyeringai penuh arti. Dan benar saja, tak lama kemudian seringaiannya berubah menjadi senyuman simpul disertai dengan kedipan nakal. Bastian menggamit lengan Rafael dengan mesra, membuat bulu kuduk Rafael bediri seketika. Dia merinding. "Abang Rafael, mau nggak nyoba 'main' sama aku? Dijamin puas deh." Bastian menatap mata Rafael sambil berkedip-kedip manja. Lidahnya menjilat bibirnya sendiri, memberikan efek basah di sana. Bastian menggoda Rafael dengan senyuman nakal. Mampus! Rafael menatap jijik pada Bastian. "Jauh-jauh dari gue dasar penghuni neraka jahannam!" rutuk Rafael sambil menyentak lengannya agar lepas dari Bastian. Bastian mengerucutkan bibirnya tak suka. "Iiiih ... Abang Rafael mah jahat! Aku benci sama abang! Jahat, jahat, jahat!" Bastian memukul-mukul d**a dan lengan Rafael dengan pukulan pebuh cinta alias pukulan manja yang tak sakit sama sekali. Pukulan yang lemah lembut gemulai. "Malam ini, jangan harap dedek Bastian bakal ngasih jatah ke abang!" Bastian menghentikan pukulannya lalu bersidekap dengan bibir mengerucut ke depan sedangkan Rafael mendengus frustasi, menatap jijik ke arah Bastian. "DASAR m**o!" ucap Rafael. "MATI AJA SONO!" lanjutnya sambil mengacak rambutnya frustasi. Rafael sang pecinta wanita ini sama Bastian si m**o? NGGAK MUNGKIN! Oke, Bastian memang gila.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD