Misi Penculikan

1703 Words
Bastian dan Rafael saling menatap sengit satu sama lain. Manik mata mereka saling menyorot tajam. Bibir mereka berdua pun menyunggingkan senyum yang sama-sama licik. "Kali ini kita buktikan siapa yang lebih hebat di antara kita berdua," ucap Rafael menatap remeh pada Bastian. Bastian berdecih. "Tch, jangan yakin dulu lo bakalan menang dari gue. Lihat tuh badan lo! Kurus kering kerontang kurang gizi," sindir Bastian tajam. Rafael menyipitkan mata penuh dendam pada Bastian. "Biarpun gue kurus, jalan hidup gue lurus," jawab Rafael. "Dasar laki-laki penyuka batang!" "Sialan!" umpat Bastian. "Lihat aja, gue pastiin lo bakal ngemis-ngemis sama gue habis ini. Dan jangan harap gue bakal ngasihani lo! Eng-gak su-di! Cuih!" Bastian berlagak meludah ke samping. "Oke! Kita lihat aja," tukas Rafael. Matanya beralih pada sebuah meja keramat yang terletak beberapa meter di depannya, begitupun dengan Bastian. "Kita mulai sekarang," ucap Bastian, mengambil ancang-ancang dan diikuti oleh Rafael. "Tiga ... Dua ...," Bastian mulai mengaba-aba. Mata mereka berdua sempat beradu tajam sekali lagi. "Satu!" Kedua tubuh pria itu melesat, berlari ke depan melewati beberapa bangku hingga akhirnya ketika tangan mereka hampir sampai menyentuh benda suci di atas bangku keramat tersebut, Arsen dengan tampang tanpa dosanya menggeplak tangan mereka bergantian dengan cepat. Tak lupa menambahkan sebuah jitakan di masing-masing kepala mereka berdua dengan buku LKS matematikanya yang telah dia gulung. Plak! Plak! Jetak! Jetak! Bastian dan Rafael memekik bersama. Mereka memegangi kepala masing-masing yang dijitak oleh Arsen. "Sialan! Kita lupa ada penjaganya!" pekik Bastian dan Rafael bersamaan dengan wajah sok dramatis. Arsen mendengus geli dan sekali lagi menghadiahkan jitakan di kepala mereka masing-masing. "Aduh, Sen! Bisa jadi b**o' gue kalau lo pukul terus kepala gue," protes Rafael. "Emang lo udah b**o' kelesss. Lo kan pinternya cuma cari muka doang alias nampang," tukas Bastian. Rafael mendelik ke arahnya. "Diem lo m**o!" "Apa lo PK!" "Iya gue tau kalau gue PK. Pria Keren, Pria Kece, Pria Kaya. Bweee ..." Rafael menjulurkan lidahnya mengejek pada Bastian. "Nggak waras lo!" sungut Bastian. "Lo yang nggak waras! Doyan kok sama batang. Najis." "Batang cokelat? Lo juga doyan tuh," elak Bastian. Kali ini dia yang menjulurkan lidah, mengejek pada Rafael. "Berisik lo berdua!" bentak Arsen yang sudah tidak tahan dengan kelakuan gila kedua temannya. Arsen menoleh ke belakang menatap Gavin yang sedari tadi hanya diam memperhatikan tanpa ekspresi. "Vin, cokelat lo itu nganggur, kan?" tanya Arsen, menunjuk pada tumpukan cokelat di atas bangku Gavin. Selain Arsen, Gavin juga sering mendapat cokelat dari para siswi. Meskipun lebih banyak cokelat yang diterima oleh Arsen. Gavin menjawab dengan anggukan singkat dan ekspresi datarnya. "Gue ambil, ya?" pinta Arsen. Sekali lagi Gavin mengangguk datar. Arsen pun mengambil semua cokelat dari bangku Gavin dan menyatukannya menjadi satu dengan cokelat di atas bangkunya. "Wah! Nggak adil, nih. Lo jangan serakah dong, Sen. Bagi-bagi sama kita!" protes Bastian yang langsung diangguki oleh Rafael. "Gue bakal kasih semua cokelat ini ke kalian berdua kalau kalian berhasil nyelesaiin misi dari gue," tantang Arsen. Bastian dan Rafael berpandangan sejenak lalu beralih lagi menatap Arsen. "Misi apa?" tanya Rafael dan Bastian bersamaan. Arsen menyeringai licik sebelum mengatakan misinya. Tak lama setelahnya mereka bertiga terlibat pembicaraan serius. Rafael dan Bastian tampak mengangguk paham beberapa kali selama Arsen menjelaskan misi rahasianya. Sedangkan di bangku belakang mereka, tampak Gavin tetap diam dengan ekspresi datar, seolah-olah dia tidak pernah mendengar apapun. *** Fani mendesah untuk kesekian kalinya. Dia lelah, sungguh lelah. "Fan. Sumpah, gue capek. Besok lagi aja, ya?" mohon Rissa yang sejak tadi mengikuti Fani memutari semua kelas hanya untuk mencabut foto-foto yang memalukan bagi Fani. Fani mengangguk lemah. Dia menyeret sebuah kursi dan menghempaskan bokongnya di sana. Rissa pun mengikuti apa yang dilakukan oleh Fani. "Gila! Gue pikir mereka bercanda, ternyata mereka bener-bener nempel foto-foto terkutuk ini di setiap mading kelas," geram Fani. "Emang mereka tadi nggak capek apa nempelin ini di semua kelas sekolah ini? Gue aja capek banget," lanjut Fani sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya. Butiran-butiran keringat menetes di pelipisnya. Rissa menjawabnya dengan indikan bahu. Dia juga tidak habis pikir dengan empat sekawan aneh itu. "Kurang berapa kelas lagi?" tanya Fani kemudian. Ditanya seperti itu, bahu Rissa merosot ke bawah. "Kita udah nyabut semua foto ini di semua kelas yang ada di lantai dua dan tiga. Berarti tinggal lantai empat sama lantai satu. Jangan lupa juga ruang loker. Gila! Nggak kuat lagi gue," keluh Rissa. Fani juga ikut mendesah karenanya. Argh, Arsen benar-benar! Mereka masih mencoba menghilangkan rasa lelahnya sejenak ketika tiba-tiba ponsel Rissa berbunyi. Rissa segera merogoh saku blazernya dan menggeser tombol hijau di layar ponsel setelah melihat ID caller-nya. "Kenapa?" Fani sedikit mengernyit karena Rissa menjawab teleponnya tanpa menyapa terlebih dahulu melainkan langsung bertanya kenapa pada si penelepon. " ... " "Ha? Serius lo? Tapi kok nggak Mama sendiri yang telpon?" " ... " "Oooh." Rissa mengangguk mengerti. "Oke, gue langsung ke sana." " ... " "Iya, iya! Bawel lo!" Bersamaan dengan itu Rissa menutup teleponnya. "Udah dijemput?" tanya Fani meskipun dia tau yang menelpon tadi bukan orang tua Rissa. Rissa mengangguk. "Lo mau bareng sekalian?" tanyanya. Fani tersenyum dan menggeleng. "Nggak. Makasih, deh," jawab Fani. "Kenapa? Ayo, nggak papa bareng aja," desak Rissa, tak enak jika meninggalkan Fani sendirian. "Nggak." Fani menggeleng tegas. "Kasian nyokap atau bokap lo kalau harus muter dulu buat nganterin gue ke tempat kerja." "Yang jemput bukan bokap maupun nyokap gue kok, jadi selow aja," jawab Rissa, namun Fani tetap menggeleng menolak tawaran Rissa. "Ya udah, deh," desah Rissa pasrah. Rissa pun segera berdiri dan merapikan blazer serta ranselnya. "Gue duluan, ya, Fan!" lambai Rissa. Tapi baru saja Rissa sampai di pintu kelas, gadis itu berbalik sambil menepuk jidatnya keras-keras. "Kenapa?" tanya Fani heran. "Besok kan Sabtu." "Terus?" tanya Fani tak paham. Rissa mendesah. "Liburlah!" jelasnya. "Nah, terus?" tanya Fani lagi tetap tak paham, yang membuat Rissa menatapnya kesal. "Ya itu berarti besok kita belum bisa nyabutin foto sisanya." "Ooooh ...," jawab Fani manggut-manggut. Dia pun tersenyum simpul pada Rissa. "Gue lanjutin sendiri aja kalau gitu, lo pulang aja dulu." "Hah?! Lo gila?! Lo nggak capek apa?" sergah Rissa. "Capek, sih," jawab Fani. "Tapi mau gimana lagi?" "Fani-" "Udah lo pulang aja, kasihan yang jemput lo nungguin lama," usir Fani yang ditatap tidak enak dan serba salah oleh Rissa. "Sorry ya, nggak bisa bantu sisanya," sesal Rissa. "Yaelah, nggak papa kali. Udah sono cabut!" Rissa mengangguk pelan. "Ya udah gue duluan, ya. Bye, Fan." Kali ini Rissa benar-benar pergi meninggalkan Fani yang menghela napas berat. Fani menatap tumpukan foto di depannya. Gila! Habis berapa tuh cowok nyetak foto sebanyak ini? Dasar cowok nggak waras, umpat Fani dalam hati. Mana masih ada lantai empat, lantai satu dan ruang loker lagi! Arsen sialan! *** Setelah kurang lebih satu jam lamanya, akhirnya Fani bisa bernapas lega. Semuanya sudah beres. Foto-foto terkutuk itu telah aman berada di tangannya dan siap untuk dibakar. Fani tersenyum kecut tidak yakin karena dia tau jika Arsen pasti masih punya banyak stok foto cetakan itu, dan jangan lupakan dengan sumber aslinya. Fani mengumpat, bertanya-tanya siapa gerangan yang sempat memotret kejadian memalukan itu di ponselnya. "Ah, harusnya kemarin gue mikir dulu sebelum bertindak!" rutuk Fani. Ia memukul-mukul kepalanya sendiri menyalahkan otaknya yang tak berpikir panjang saat itu. "Aaargh! b**o, b**o! Dasar Fani b**o!" rutuknya sekali lagi pada dirinya sendiri. Puas merutuki kebodohannya sendiri, Fani memasukkan semua foto-foto memalukan itu ke dalam ranselnya. Di rumah nanti, dia akan membakar semua karena saat ini dia juga tidak membawa korek api. Koridor sudah sepi ketika Fani berjalan pulang. Hanya beberapa siswa yang masih berada di sekolah karena kegiatan OSIS maupun ekstrakulikuler yang mereka ikuti. Fani tidak pernah mengambil kegiatan ekstrakulikuler apapun karena selain harus bekerja paruh watu, kegiatan tersebut juga tidak diwajibkan oleh pihak sekolah. Walaupun begitu, banyak juga yang mengambil kegiatan ekstrakulikuler. Seperti Rissa yang mengambil kelas PMR dan juga seni lukis. Fani baru sampai di koridor aula ketika tiba-tiba dua orang laki-laki menghampirinya. Mereka berdua berdiri di sisi kanan dan kiri Fani, seoalah memang berniat mengapitnya. "Kalian ngapain di sini?" tanya Fani penuh curiga. Dua pria yang ditanya itu hanya nyengir lebar tanpa menjawab apapun. "Hai, Fani," sapa seorang laki-laki di sisi kiri Fani yang tak lain dan tak bukan adalah Rafael. "Mau pulang, ya?" kini, lelaki di sisi kanan Fani lah yang berbicara,  Bastian. Fani menatap mereka berdua bergantian dengan mata memicing penuh curiga. Pasalnya, sikap mereka benar-benar aneh. Tiba-tiba saja mendekati Fani dan bersikap manis. Terlebih, mereka baru bertemu langsung dan saling menyapa tadi pagi di depan mading. Oke! Berpikir jernih, Fani. Dua orang ini pasti punya maksud terselubung, batin Fani. Jangan-jangan mereka ... Fani tak menyelesaikan apapun pikirannya itu karena dia sudah memutuskan untuk segera kabur saja. Bastian dan Rafael terkejut, tak menyangka jika Fani telah berlari melesat meninggalkan mereka berdua. "Sial! Target kabur. Kejaaaarrr!" teriak Rafael yang langsung disahuti oleh Bastian. "Kejaaaaarrrr!!" *** S M L M *** Fani sedikit panik ketka Rafael dan Bastian semakin mendekatinya. Dia pun mempercepat larinya. Tapi semua sia-sia karena tak lama kemudian Rafael berhasil meraih tangannya, begitu pula dengan Bastian. "KYAAAA ... LEPASIN GUEEEE! TOLOOONG!!" teriak Fani sambil memberontak dari Bastian dan Rafael yang telah mengapit masing-masing lengannya. "BUJUBUSET! SUARA TOA NYA NGALAH-NGALAHIN LO, RAF!" teriak Bastian. "BACOT LO! BURUAN, SEBELUM ARSEN BATALIN PERJANJIAN!" balas Rafael dengan berteriak pula. "LEPASIN GUE, WOI! GUE LAPORIN LO BERDUA KE PAK GIONO (kepala sekolah)!" teriak Fani. "GUE LAPORIN LO BERDUA KE PAK KUNCORO (wakil kepala sekolah)!" "GUE LAPORIN LO BERDUA KE PAK GUNAWAN (guru BK)!!" "GUE LAPORIN LO BERDUA KE PAK PAINO (satpam penjaga gerbang sekolah)!" "GUE LAPORIN LO KE PAK KUSNO (tukang kebun sekolah)!" "GUE LAPORIN LO BERDUA KE MBOK JU DAN PAK JO (suami istri pengurus makan siang**)!" "GUE LAPORIN LO BERDUA KE MBAK WATI (anak Mbok Ju dan Pak Jo)!" "AAAARRGHH!! GUE LAPORIN LO BERDUA KE IBU KITA KARTINI!" Bastian dan Rafael saling berpandangan selama Fani menyebutkan semua silsilah penghuni sekolah sampai ke nama pahlawan pejuang emansipasi wanita yang sudah bertahun-tahun lalu telah tiada. Mereka saling bertelepati, mengatakan jika Fani adalah cewek yang nggak waras. Ya iyalah, mana jangankan tukang kebun, pak kepala sekolah saja yang derajatnya paling tinggi di sekolah tak berani dengan mereka. Fani terus saja berteriak dan memberontak sekuat tenaga. Namun, bagaimanapun juga tenaga seorang perempuan tak akan pernah bisa mengalahkan tenaga dua orang laki-laki. Kecuali Do Bong Soon, mungkin. :) Rafael dan Bastian menghela napas lega ketika telah sampai di depan gerbang sekolah. Di sana, sebuah mobil ferrary la ferrary berwarna merah telah menunggu. Bastian dan Rafael menyeret Fani ke arah pintu samping kemudi. Setelah sampai, Bastian langsung membukanya dan Rafael mendorong tubuh Fani untuk masuk ke mobil tersebut. Mereka berdua langsung menutup pintu mobil ferrary itu dengan cepat ketika sudah memastikan Fani masuk dan duduk manis di dalamnya. Sebelumnya, Bastian juga telah memasangkan seatbelt pada tubuh Fani meskipun harus rela terkena beberapa kali geplakan di kepalanya. Semua demi cokelat dan menikmati fasilitas hotel bintang lima gratis milik Arsen selama satu minggu. Hati senang, perut kenyang. Lagipula, dapat pahala juga kan jika membantu teman? Bastian dan Rafael saling menatap sejenak, dan tak lama kemudian mereka berteriak girang. "MISI PENCULIKAN, BERHASIL!" teriak mereka serempak sambil ber-tos ria.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD