3. Lukanya Ismi

1621 Words
Banyak manusia yang hanya ingin selalu bahagia hidupnya. Ketika ditimpa musibah sedikit saja, hidupnya serasa tidak adil. Padahal tidak seperti itu maksud Allah. Allah tahu yang terbaik bagi hamba-Nya. Tahu jalan hidup yang dapat dilalui dengan baik oleh hamba-Nya. Ismi merasa matanya membengkak. Dengan perlahan ia membuka netranya yang terasa begitu lengket. Cahaya lampu utama kamar yang lupa ia matikan tadi malam membuat netranya harus lekas ia lindungi dengan telapak tangan. Semalam ia tertidur setelah kembali menangis cukup lama. Lupa belum mencuci muka. Dan akibatnya matanya benar bengkak. “Ini semua nyata?” tanya Ismi dengan suara serak. Ia pandangi sekitar kamarnya. Menyadari bahwa tatanan kamarnya sudah tidak lagi sama dengan sebelumnya, Ismi sadar sesadar sadarnya bahwa kejadian kemarin sore nyata. Mendatangkan kembali rasa sesak dan nyeri di d**a. Ismi mengedarkan pandangan lebih menyeluruh. Melihat sudut demi sudut kamarnya. Hingga tidak terasa air matanya kembali mengalir deras membasahi pipi. “Ya Allah.. Apa memang ini yang terbaik menurut Engkau?” tanyanya lirih. Air matanya semakin menetes deras. Dengan cepat ia menghapus air mata itu. “Nduk.. Sudah jam lima. Kamu nggak Shubuhan?” tanya Hasan dari luar kamar sembari mengetuk pintu kamar Ismi pelan. Ismi mengambil napas dalam lalu mengembuskannya perlahan. Pikirnya, Hasan tidak boleh tahu jika ia sejatuh ini. Hasan hanya perlu tahu jika ia memang jatuh. Namun bukan jatuh yang benar-benar terperosok ke dalam jurang dengan luka-luka yang muncul di seluruh bagian tubuh. Hal yang berkebalikan dengan rasa yang saat ini sedang menimpanya. “Iya, Pak. Ismi habis ini Shubuhan,” sahutnya seraya merapikan pakaiannya yang sedikit kusut. Ismi lekas bangkit dari kasurnya. Lalu perlahan melangkah menuju pintu setelah menyambar kerudung instannya yang tergantung di salah satu sisi dinding. Begitu pintu terbuka, Ismi dapat melihat tatapan khawatir Hasan. Ismi melengkungkan senyumnya. Meyakinkan Hasan bahwa ia kuat dan baik-baik saja. “Habis Shubuhan langsung sarapan ya, Nduk. Kamu dari kemarin siang belum makan,” ujar Hasan dengan nada penuh kekhawatiran. “Mata kamu juga sangat bengkak. Bapak siapkan kompresnya, ya? Setelah itu lekas kamu kompres mata kamu,” imbuhnya. Ismi mengangguk. Rasa haru menyelinap memasuki relung hatinya. Perempuan itu lalu melangkah perlahan ke kamar mandi. Berjalan di belakang Hasan yang tampak menahan beban berat. Dan Ismi tahu bahwa dirinyalah sumber beban berat itu. Gegas ia melaksanakan kewajibannya untuk melakukan dua rakaat Shubuh. Mencurahkan segala resah di hatinya. Mencairkan sesak di d**a dengan tangis yang panjang dan menyayat hati selepas salam. Ia berdoa kepada Allah, Tuhan semesta alam supaya menguatkannya. Memberikannya ketegaran yang membumbung tinggi. Agar ia bisa tetap berdiri dengan tegak meskipun ombak besar kesakitan baru saja menerjangnya. Kamu boleh sedih. Tapi jangan sampai kamu membodohi badanmu. Lapar ya makan. Ngantuk ya tidur. Ucap batinnya penuh dengan keyakinan. Ia tak boleh kalah dengan rasa sakit yang sedang menyiksanya. Berdasar hal itu, kini Ismi tengah duduk di kursi makan yang ada di dapur. Seorang diri. Tidak ada Hasan atau pun Diana. Tidak ada pula sanak saudara dan tetangga yang kemarin sibuk membantu di rumahnya. Yang hilir mudik keluar masuk rumah. Namun ia tak peduli. Itu lebih baik. Ia bisa menjadi dirinya sendiri yang sedang terpuruk tanpa harus mengenakan topeng bahwa dirinya baik-baik saja. Dinikmatinya nasi rawon yang seharusnya akan dihidangkan kepada para tamu undangan pernikahannya. Mengingat itu rasa sesak kembali terasa di d**a. Menciptakan mimik wajah yang sendu dan menyedihkan. “Rawonnya nanti dibagikan ke tetangga saja, Mbak. Begitu juga sama nasi kotak dan snack-nya.” Disela menyuap nasi dengan potongan daging dan kuah berwarna hitam yang masih hangat itu, terdengar suara Hasan yang sedang memberi instruksi pada budhe dan para tetangga yang membantu persiapan pernikahannya. Orang-orang tampak sibuk di belakang rumah. Di dapur buatan yang sengaja di bangun di halaman belakang agar memudahkan mobilitas juga menyediakan ruang yang lapang. Ismi menghela napas panjang. Dasar merepotkan saja kamu ini, Is. Ejek batinnya. Miris. Nafsu makan yang sempat meningkat, perlahan mulai menurun. Tidak ada lagi gairah untuk menghabiskan salah satu makanan khas Jawa Timur itu. Namun ia terus memaksa menyendok sesuap demi sesuap nasi yang masih tersisa. Ia kembali teringat untuk tidak lagi menambah beban pikiran Hasan. Piring Ismi sudah bersih tak menyisakan nasi satu butir pun. Hanya sedikit kuah rawon yang masih menempel di permukaan piring keramik putih. Kini Ismi memandang pada gelas kaca yang masih menyisakan air putih setengah gelas. Pikirannya sedang sibuk merenung. Merenungi kisah hidupnya yang mengenaskan. “Mbak.. Kamu malu-maluin tahu nggak sih!” Diana tiba-tiba berucap dengan ketus seraya menarik kursi makan dengan keras. Menimbulkan decitan yang cukup menganggu telinga. Ismi melirik adiknya sekilas. Lalu kembali memandang pada gelas kaca yang tadi menjadi fokusnya. “Bapak sekolahin kamu tinggi-tinggi. Sampai dapat gelar sarjana pendidikan, nyatanya kamu nggak bisa mendidik diri kamu sendiri,” cecarnya dengan nada ketus. Netranya mendelik. Wajahnya tampak memerah. Ismi mengambil napas dalam. Lalu perlahan diembuskannya. Ia butuh ketenangan. “Memangnya ada yang mau kisah hidupnya kayak aku, Dek? Memangnya aku tahu kalau Mas Argantara ternyata sudah memiliki keluarga? Aku juga nggak tahu, Dek,” sahutnya tenang. Mencoba menjelaskan pada Diana bahwa ia memang tidak tahu apa-apa. “Ya karena kamu bodoh. Kamu dibutakan oleh cinta makanya mau-mau saja menikah dengan seorang laki-laki yang menjadi suami wanita lain!” Ismi diam. Tidak ada gunanya ia berdebat dengan Diana. Dirinya tahu bahwa ia bodoh. Namun memang siapa yang tahu jika selama ini Argantara adalah seorang kepala keluarga di sebuah keluarga? Ismi tidak tahu. Karena selama ini tidak ada gelagat yang aneh dari Argantara saat mereka menjalin hubungan. Semuanya seakan menunjukkan bahwa pria itu adalah pria yang single. Bukan seorang suami atau pun ayah. “Dan kamu tahu nggak, Mbak? Tetangga pada heboh nggosipin kamu. Malu-maluin banget. Belum lagi ditambah kamu yang minta tenda dibongkar pagi ini. Padahal kan harusnya pagi ini pernikahan kamu sama Mas Argantara,” decak Diana kesal. “Pernikahanku batal, Dek! Jadi buat apa tenda itu masih ada di depan rumah? Lebih baik segera dibongkar.” Tenda-tenda itu sengaja mengejekku. Apalagi dekorasi di ruang tamu yang dihias secantik mungkin untuk akad nikah itu sangat mencemoohku. Menyadarkanku bahwa aku wanita bodoh. Lanjutnya dalam batin. “Kamu memang dari dulu jadi beban Bapak, ya, Mbak? Sudah menghabiskan banyak uang untuk kuliah. Dan sekarang kamu membuang banyak uang Bapak buat pernikahan yang berujung dibatalkan ini,” ujar Diana ketus. Nyinyir sekali. Ismi diam. Ia sadar bahwa semakin ia membalas Diana, adiknya itu tidak akan diam. Ia memilih kembali meneguk air putihnya sebelum beranjak kembali ke kamarnya. Tidak perlu ia menjelaskan semuanya pada Diana. Biar itu menjadi rahasianya dan Hasan. “Pagi-pagi jangan marah-marah. Kalau kulit kamu cepet keriput nanti kamu nangis-nangis,” peringat Ismi dengan nada datar dan penuh sindiran. Gegas ia mendorong kursi yang didudukinya agar tubuhnya bisa bergerak bebas menuju kamar. Wajah Diana merah padam. Gadis itu dengan cepat mendorong kursinya dengan kuat. Menimbulkan bunyi yang mengundang perhatian banyak orang. Terutama orang-orang yang sibuk di dapur belakang rumah. “Kamu memang nggak tahu diri, ya, Mbak!?” ucapnya dengan geram. “Diana! Berhenti! Apa-apaan kamu!?” tegur Hasan. Pria paruh baya itu mendengar semuanya. Dan ia dibuat geram kala putri bungsunya semakin bertindak keterlaluan. Tangan Diana yang berniat menarik kerudung instan Ismi pun berhenti dan hanya melayang di udara. Wajahnya masih merah padam. Amarahnya masih terkumpul penuh di kepala. “Kamu kalau nggak tahu apa-apa mending diam. Jangan sok tahu dan menghakimi kakak kamu sesukamu!” tegur Hasan lagi. Suaranya masih tegas dan mencoba menahan amarah. “Bapak selalu membela dia!” “Hati kamu yang sudah terlanjur tertutupi rasa benci dengan mbakmu. Makanya kamu selalu berpikir seperti itu. Selalu negatif kepada mbakmu,” peringat Hasan tegas. “Tapi kenyataannya memang Bapak selalu membela dia. Selalu menyayangi dia. Dan menganggapku tidak ada.” Ismi hanya diam. Miris dan drama sekali pagi ini. Padahal belum sembuh luka yang baru saja tertoreh kemarin sore. Pagi ini sudah ditambah dengan drama baru yang semakin membuatnya pening. “Ismi ke kamar.” Perempuan itu tidak menunggu jawaban dari Hasan maupun Diana. Ia hanya butuh ketenangan. Ia butuh waktu untuk berpikir dan memberikan suntikan kekuatan agar ia bisa berdiri dengan tegak. Tanpa perlu menunduk hanya karena ia salah mengenal seorang pria. Pria pembohong. “Tuh.. Bapak lihat kan? Dia nggak ada sopan-sopannya. Begitukah orang yang selalu Bapak bela itu? Malu-maluin! Dan selalu merepotkan.” Diana masih terus mengoceh. Meluapkan segala amarah yang selama ini dipendamnya. Rasa benci kepada Ismi yang sejak lama tumbuh, semakin lama semakin besar. Apalagi Hasan selama ini selalu mengistimewakan Ismi. Sangat jarang memandang ke arahnya. “Diana!! Stop!! Kamu akan menyesal berkata seperti itu jika kamu tahu kenyataannya,” tegur Hasan dengan suara tegas dan tinggi. Hal itu membuat Diana terkesiap. Hasan tidak pernah semarah ini padanya. Dan saat melihat Hasan marah sebegitunya, Diana semakin membenci Ismi. Perempuan yang selalu dinomor satukan oleh Hasan. Melupakan keberadaannya yang juga ingin diberikan kasih sayang yang porsinya sama seperti pada Ismi. Hasan melangkah meninggalkan area dapur untuk menuju depan rumah. Ia perlu memantau jalannya para pekerja yang sedang membongkar tenda dan panggung pernikahan. Meninggalkan Diana yang memandang punggungnya dengan nanar. Lalu gadis itu berlari cepat menuju kamarnya. Membanting daun pintu dengan keras. Setelahnya ia menangis sekencang-kencangnya. Melampiaskan kesedihan karena kembali dinomorduakan. Ia kalah dengan Ismi. Sedang Hasan ia memandang prosesi pembongkaran panggung dan tenda pernikahan dengan pandangan nelangsa. Bapak mana yang akan baik-baik saja bila pernikahan putrinya yang sudah disiapkan begitu matang dan baiknya harus dibongkar tepat di hari pernikahan? Namun ia juga tidak mungkin menolak permintaan Ismi. Ia sangat tahu jika putri sulungnya itu tidak baik-baik saja. Apalagi kala Ismi meminta agar tenda pernikahan dan segala hal yang berkaitan dengan pernikahannya yang gagal itu untuk segera dibereskan. Doanya kepada Allah tidak henti sejak kemarin adalah meminta agar hati Ismi dikuatkan. Hati Diana dilunakkan. Dan ia bisa legowo menerima semua ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD