2. Kehangatan Sahabat

1500 Words
Keramaian yang sebelumnya memenuhi rumah Hasan—ayah Ismi, kini berganti sunyi. Perasaan bahagia yang semula membuncah, kini berganti duka yang tak terpatri. Sakit. Kecewa. Marah. Malu. Semua perasaan itu berkumpul menjadi satu. Tidak hanya bagi Ismi. Hasan dan Diana pun ikut merasakan perasaan itu. Begitu pula dengan keluarga Ismi lainnya. Kamar yang semula sudah disulap sebegitu cantik dan memukau, kini tampak dingin. Gairah yang sempat memuncak karena semerbak aroma mawar dan aromaterapi, kini terjun bebas tidak menyisakan apa pun. Pintu kamar berbahan jati yang terplitur mengkilap itu, kini tertutup rapat. Tidak dikunci. Namun semua penghuni rumah dan sanak saudara memahami bahwa sang calon pengantin wanita yang ‘tidak berkesempatan untuk melanjutkan menyandang gelar itu’ sedang tidak ingin diganggu. Wanita itu butuh waktu untuk sendiri. Butuh ruang untuk meluapkan segala rasa yang menyesakkan dadanya. Menghimpit d**a menciptakan rasa nyeri yang tak terpatri. Menangis sudah dilakukannya sejak kesadarannya kembali. Tidak henti ia menggeleng-geleng untuk mengusir peristiwa yang tak pernah diduga akan terjadi padanya. Menyesakkan? Tentu saja. Memalukan? Sangat memalukan. Namun itu semua telah terjadi. Rasanya ia tak kuasa untuk menopang hidupnya saat ini. Juga mungkin hidupnya ke depan. Kebahagiaan yang beberapa jam lalu menyelimutinya, saat ini telah berganti dengan selimut duka. Tubuhnya meringkuk membelakangi pintu. Tampak ringkih. Suara tangis putus-putus dan napas yang tersendat memenuhi kamar. Hingga suara pintu terbuka dengan cukup keras. Disertai dengan deru napas yang tersengal. Dan wanita yang masih setia dengan dukanya tidak peduli akan hal itu. Baginya, kini hidupnya telah hancur. “Ismi…!!!” Seruan seorang wanita yang baru saja membuka pintu itu tidak digubris oleh wanita yang sedang meringkuk. Memeluk dirinya sendiri di tengah kasur yang sungguh tidak layak dipandang. Selimut tak beraturan, acak-acakan. Bantal berada di segala ruang kasur yang spreinya pun mulai terlepas pada beberapa sisinya. Wanita yang telah mengubah posisinya menjadi duduk di atas kasur itu, meringkukkan tubuhnya semakin dalam, bersembunyi dalam tekukan lututnya. Mencari tempat ternyaman dan teraman. Dari segala suara yang kini tengah mengganggu pikirannya. “Wanita berpendidikan harusnya tidak seperti kamu! Dasar nggak tahu malu!” Kalimat itu terus berputar. Membuat kepalanya terasa pening dan sakit. Bukan kata-kata itu yang diucapkan Si Wanita tadi, tetapi ia bisa menarik kesimpulan bahwa dirinya perempuan yang seperti itu. Tidak tahu malu. Gegabah. Bodoh. Sabrina—wanita yang baru saja masuk ke kamar Ismi lekas memeluk Ismi dengan kuat. Air matanya ikut mengalir deras. Rasa sakit juga dirasakannya. Sesak menghimpit dadanya. Baru saja ia tiba di rumah dan membersihkan diri. Namun ada kabar yang tak mengenakkan yang menyerang Ismi. Membuatnya ikut kalut dan tidak tenang. Duka yang dirasakan Ismi seakan mengalir juga ke dirinya, membuat dadanya ikut sesak. Diana hanya mengatakan padanya bahwa pernikahan Ismi kemungkinan besar batal. Hal itu yang mengantarnya kembali ke rumah ini dengan cepat. Suara tangis Ismi terdengar semakin menyayat. Kamar berukuran 3,5 meter kali empat meter itu dipenuhi dengan suara tangis dua wanita yang saling berpelukan erat itu. Dinding bercat putih menjadi saksi pilunya tangis Sang Penghuni Kamar yang selama ini selalu setia membersihkannya dari debu atau pun rumah laba-laba. Sabrina tentu tak bisa merasakan sakit yang dirasakan Ismi. Ia berharap hal buruk seperti itu tak terjadi dalam hidupnya. Dan tugasnya saat ini adalah memberikan dukungan dan menyediakan dirinya sebagai seorang sahabat yang tak akan meninggalkan Ismi. Ia ingin menyadarkan pada Ismi bahwa masih ada dirinya yang peduli dan ada untuk Ismi. Selain Hasan, Diana, dan keluarga lainnya. Mereka masih bertahan dalam tangis. Pelukan Sabrina semakin erat. Membuatnya semakin dapat merasakan lara yang sedang Ismi rasakan. Mereka saling menguatkan. Terutama Sabrina. Air matanya semakin tak terbendung karena Ismi yang juga tidak berhenti menangis. “Aku harus bagaimana setelah ini, Sab? Aku telah melemparkan kotoran di wajah Bapak,” ucap Ismi setelah tangisnya reda. Namun setelah mengatakan apa yang ada dalam pikirannya, kini ia kembali terisak. Satu jam sudah mereka saling menangis. Satu jam waktu yang berjalan untuk mereka gunakan dalam berbagi tangis dan kekuatan melalui pelukan. Sabrina tidak mampu mengucap sepatah kata pun. Ia pun tidak tahu. Yang ia tahu, ia harus selalu ada di samping Ismi. Ia harus selalu untuk mendampingi dan menguatkan Ismi. Akhirnya ia hanya mampu memberikan pelukan hangat dan erat pada Ismi. Tidak ada kata-kata penyemangat yang bisa ia sampaikan bila ia pun tak tahu seberapa rasa sakit yang Ismi rasakan. Karena terkadang, seseorang tidak butuh kalimat panjang untuk menyemangati, tetapi hanya butuh pelukan dan telinga untuk mendengar. “Mas Argantara...” Isakan Ismi kembali menyesakkan. Menyebut nama mantan calon suaminya menyebabkan rasa sesak yang tak berperi. Ia kembali menangis. Menangis dengan sedu sedan yang semakin terdengar menyayat. Terbayang kembali anggukan Argantara saat Hasan bertanya mengenai kebenaran yang dibawa Si Wanita tadi membuat Ismi merasakan sesak yang semakin menghimpit. Membuatnya merasa kesulitan dalam menghirup oksigen. Sampai akhirnya ia mampu mengontrol dirinya. Ia mampu perlahan mengenyahkan rasa sakit yang menyesakkan dadanya. Dan ia yakin untuk kembali menceritakan kisah lara yang baru saja menimpanya. Bibirnya perlahan mampu menceritakan kisah sedihnya. Meskipun sesekali rasa sesak sering menghampirinya. Bilah bibirnya pun terasa sedikit perih. Tidak berbicara sejak tadi, hanya menangis, membuat bibirnya perih. Seakan-akan bibirnya tengah tertempeli oleh lem. Lem yang sangat kuat. Mungkin Lem G. Sabrina pun hanya menanggapi dengan anggukan dan gelengan setiap mendengar ucapan yang terlontar dari bibir Ismi. Sampai menjelang malam, Ismi akhirnya merasa sudah lega. Dadanya terasa tenang. Himpitan yang sejak tadi menyiksanya kini perlahan pergi. Sabrina berencana untuk menemani Ismi. Ia ingin memastikan bahwa sahabatnya dalam kondisi yang benar-benar lebih baik, stabil. Namun dengan tegas Ismi menolak. Ismi masih ingat dan sadar diri bila Sabrina memiliki keluarga. Ia tidak ingin merepotkan Sabrina terlalu banyak. “Sudah. Kamu pulang saja sana. In shaa Allah aku sudah merasa lebih baik,” ucap Ismi meyakinkan. “Tapi aku masih ingin di sini, Ismi. Kenapa sih? Kamu nggak mau aku temenin?” balas Sabrina tidak suka. “I’m fine. Really fine setelah menangis dan cerita sama kamu, Sab.” Ismi melengkungkan senyumnya untuk meyakinkan Sabrina bahwa dirinya telah benar-benar baik saja. “Senyum kamu lho masih kelihatan sendu.” Ismi pun berusaha menampilkan senyum terbaiknya. “Aku akan bangkit, Sab. Aku percaya bahwa aku pasti mampu melewati semua ini. Bukankah ada kamu, Bapak, dan Diana yang akan membantuku untuk menopang rasa sakit yang sedang kurasakan ini?” Sabrina tak mampu menutupi netranya yang kini tengah membentuk genangan air mata. Ia pun percaya. Sama percayanya seperti Ismi bila Ismi mampu melewati semua ini dengan lapang. “Yah meskipun pasti aku akan membutuhkan waktu yang lama agar bisa sembuh,” lanjut Ismi. Sabrina mengangguk dengan kuat. Ia pun mendekatkan tubuhnya pada Ismi. Mereka kembali saling berpelukan dengan air mata yang kembali tercipta. “Beneran aku pulang?” tanya Sabrina tak rela. “Iya, Sab. Kamu buruan pulang. Ini sudah malam. Sudah hampir jam 10.” Sabrina dengan tidak ikhlas akhirnya mulai bersiap untuk pulang. Sebelum pulang ia kembali memeluk Ismi dengan erat. “Besok aku ke sini, ya?” “Ngapain? Nggak usah!” “Is..” “Nggak! Pokoknya kamu jangan ke sini! Kita kembali ketemu saat di Malang saja, ya?” “Is..” Kali ini Sabrina menegur Ismi dengan lebih keras. “Kalau kamu percaya sama aku, kita ketemu setelah cutiku selesai, ya, Sab? Aku butuh waktu. Please,” mohon Ismi. Sabrina mengembuskan napas panjang. Ia akhirnya mengalah. Memaksa Ismi pun tidak akan mendatangkan ketenangan. Dan bila ia masih memaksa Ismi, maka sama saja bila ia tak percaya dengan Ismi. “Ya sudah aku pulang, ya?” Ismi tertawa geli. “Kamu sudah pamit pulang dari tadi, Sab.” “Wah.. kamu ngusir aku ini?” Tawa Ismi semakin lebar. Membuat Sabrina merasa lebih tenang. “Aku anter ke depan, yuk!” “No! No! Kamu di sini saja. Kamu butuh istirahat, Is. Jangan lupa makan juga.” “Cie perhatian.” Sabrina dibuat tertawa. Namun tawa itu tak bertahan lama saat melihat duka kembali tercipta di netra Ismi. “Mungkin teringat kembali atas perhatian-perhatian yang Mas Argantara berikan.” “Kutemani makan dulu, gimana?” Ismi menggeleng. “Sudah sana kamu pulang. Aku bisa makan setelah ini. Kamu juga jangan lupa makan. Minta makanan ke Diana, ya?” Sabrina hanya mampu mengangguk. Ia tidak mau mendebat Ismi lagi. Cukup sudah ia di sini. Ia tidak ingin kembali menorehkan duka dengan membuat Ismi kembali mengingat kenangan Ismi bersama Argantara. Sabrina akhirnya pamit pulang. Benar-benar pulang. Tidak mengucapkan banyak kalimat yang berpotensi menimbulkan banyak luka di hati Ismi. Kini tinggal Ismi yang kembali sendiri. Kembali sendiri dengan rasa duka dan sakit yang tak bisa ia bagi dengan orang. Selain hanya pada dirinya sendiri. Luka ini milikku. Dan aku harus mampu mengobati luka ini sendiri. Tidak melibatkan orang lain. Entah itu Bapak atau siapa pun. Begitu batinnya meyakinkan. Ismi mengamati kamarnya yang berantakan. Perlahan ia bangkit dari kasur. Menata kekacauan yang ia lakukan. Menyadari kebodohannya menghancurkan tatanan kamar membuatnya tersenyum miris. “Bodoh kamu, Is. Kamu berpendidikan tetapi malah menjadi orang bodoh.” Ismi menata kamarnya kembali diiringi dengan air mata yang terus melaju kencang. Hingga akhirnya ia kembali merebahkan diri dengan rasa sakit yang masih menyertai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD